Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 12: Menjadi seorang teman


__ADS_3

Seperti musim yang terus berganti. Kadang hujan dan kadang cerah. Meski sudah tau seperti apa siklusnya, tapi kau tetap tak tau kapan waktu pastinya.


Sama halnya dengan nasib. Kadang kau mendapat keberuntungan. Dan kadang kau hanya cukup puas dengan kesialan. Itulah yang disebut dengan roda kehidupan. Ia terus berputar dan menggelindingkan nasib.


Meski begitu, kadang keberuntungan ikut menyertai mereka yang bersabar. Kau pasti pernah mendengarkannya, kan?


***


Sekarang sudah sekitar pukul 10.30. Kelas telah usai untuk pagi ini dan digantikan dengan jam istirahat yang menyenangkan bagi sebagian orang.


Kau bisa melakukan banyak hal ketika jam istirahat seperti mengobrol, menyelesaikan pr yang lupa dikerjakan atau pun makan siang. Dan poin terakhir itulah yang ingin aku lakukan ketika mendengar suara bel panjang sebagai tanda jam pelajaran berakhir tadi.


Tapi tak bisa. Aku meninggalkan uang yang diberikan kakek tadi pagi di atas meja kamar. Aku jadi tak bisa membeli makanan dan harus bertahan dengan perut yang sudah tak tahan ingin diisi dengan beberapa suap nasi.


Kenapa aku bisa seceroboh ini? Aku akan mati kelaparan di hari pertamaku bersekolah. Sekolah akan berakhir jam dua siang nanti dan itu berarti masih ada sekitar tiga setengah jam lagi sebelum kakek menjemputku. Ditambah lagi perjalanan pulang butuh waktu sekitar setengah jam dengan mobil. Aku juga khawatir jika seandainya nanti macet di jalan.


Tuhan...tolong kirim seseorang untuk menyelamatkan perutku...


Aku akhirnya memilih duduk saja sendiri di kursiku sambil memegangi perut yang sudah bawel sejak tadi.


"Miguel...Miguel...Haru Miguel, hai."


Seseorang menghampiriku. Seorang anak laki laki yang berambut hitam dengan senyum ramah. Dan kupikir dia juga tampan.


"Hai, tolong panggil aku Haru saja."


Aku membalas sapaannya. Ternyata dia yang duduk di sebelah kananku, tapi aku tak terlalu memperhatikan sebelumnya.


"Baik, Haru. Kupikir kau orang jepang melihat dari penampilan dan namamu. Namaku Mario Aryana. Singkatnya panggil Arya saja ya."


"Iya Arya. Aku bukan orang jepang. Senang berkenalan denganmu."


Aku mengulurkan tangan, lalu kami berjabat tangan. Sepertinya kami bisa menjadi teman baik nantinya.


"Mau ke kafetaria? Aku yang traktir sebagai ucapan selamat datang untukmu."


Dia tersenyum menatapku. Oh tuhan, apa dia jawaban atas doaku?


"Tapi, aku tidak bisa menerimanya." Sedikit basa basi akan mambuatmu terlihat sopan. Bukankah begitu? Meski sebenarnya aku tidak akan menolaknya.

__ADS_1


"Ah, jangan begitu. Ayo, ikut aku." Dia menarik tanganku sambil berlari lari kecil menuju pintu kelas. Siapa pun yang melihat kami mungkin bisa sedikit salah paham. Genggaman tangannya kuat sekali sampai aku tak bisa lepas.


"Hei, tunggu dulu !"


Seorang gadis dengan rambut terurai sepanjang dada menghentikan kami. Wajahnya terlihat sedikit masam. Dia mendekatiku dengan wajah masamnya itu. Aku refleks mundur perlahan sampai kakiku menyentuh salah satu meja di barisan terdepan. Aku tak bisa mundur lagi.


"Kau...bagaimana kau melakukannya?"


Gadis itu masih menatapku dengan ekspresi marah. Ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan? Aku hanya memilih diam. Berurusan dengan gadis galak seperti dirinya bukanlah pilihan yang bagus.


"Kutanya sekali lagi. Bagaimana kau melakukannya?"


apa sih yang dikatakan gadis ini?


"Maaf aku tak mengerti maksudmu."


"Bagaimana kau bisa masuk ke kelas tanpa seseorang pun tau kalau kau ada di dalam?!"


"Aku hanya berjalan saja, kok." Aku berusaha tetap tenang. Aku tak mengerti cara menangani seorang gadis yang sedang berapai api seperti ini. Bisa bisa dia meledak.


"Sudahlah Yuna, jangan begitu. Kau mambuatnya takut. Ayo, kau juga ke kafetaria dan kita bisa mengobrol sambil makan."


"Nih, makanlah. Aku yang traktir."


Arya meletakkan set makan siang di atas meja. Dia terlihat sedikit kesulitan karena membawa dua nampan sekaligus.


Aku duduk di bangku yang sama dengan Arya, seadangkan Yuna duduk di seberang meja. Kafetaria di sini cukup luas. Meja meja panjang berbaris dengan rapi. Makanannya juga lumayan enak. Tak salah kalau tempat ini selalu ramai setiap jam istirahat.


"Kau hebat sekali tadi. Pak guru saja sampai tidak sadar kalau kau ada di dalam." Arya tertawa sambil menikmati makan siangnya.


"Harusnya aku yang marah karena kalian tidak menganggap keberadaanku." Aku pura pura cemberut sambil membuka tutup botol air mineral yang masih tersegel rapat. Maya hanya diam tak berkomentar menanggapi percakapan kami.


"Maaf soal itu, aku benar benar tidak sadar. Padahal kau ada di sebelahku. Dan ngomong ngomong apa orang tuamu penggemar sains?" Arya memasukan sesuap nasi ke mulutnya dengan lahap.


"Entahlah, aku juga tidak tau. Kenapa kau bertanya tentang itu?"


"Soalnya nama belakangmu adalah Miguel. Kupikir orang tuamu adalah penggemar berat Arias Miguel. Kau kenal dia, kan?"


"Sebenarnya itu adalah nama keluarga dan dia adalah kakekku."

__ADS_1


Baru saja aku selesi bicara, Arya langsung tersedak makanannya sendiri. Dia sedikit terbatuk batuk sehingga aku harus menepuk punggungnya dan memberinya air.


"Haru, apa aku tak salah dengar? Kau adalah...cucunya?" Aku mengangguk. Arya menatapku lebih dekat. Sepertinya dia tidak percaya pada perkataanku. Begitu juga Yuna yang tadinya terlihat tak acuh kini jadi sedikit lebih tertarik.


"Tapi hanya adopsi, sih." Aku menjawab ragu ragu, tapi itu tetap tidak mengubah ketertarikan mereka.


"Kau penuh dengan kejutan. Dan kalau tak salah usiamu juga baru 14 tahun. Usiaku sekarang adalah 16 tahun, berartia aku lebih tua darimu." Arya tersenyum lebar. Tangannya jahil menggosok kepalaku. Mungkin seperti inilah nasib anak pendek berusia 14 tahun di sekolah menengah atas. Sepertinya kami jadi akrab terlalu cepat.


"Hey, kau pindahan dari mana?"


Akhirnya Yuna juga ikut masuk kepembicaraan. Sebelumnya dia hanya diam dengan tampang masamnya.


"Aku bukan siswa pindahan, tapi siswa baru." Makananku sudah berkurang hampir setengahnya. Rasa laparku sudah terobati.


"Kau ini benar benar aneh, bagaimana bisa seorang siswa baru masuk dibulan keempat semester satu?" Dia sepertinya tak senang dengan keberadaanku. Aku hanya bisa tersenyum saja. Dan kalau dipikir pikir, bukankah dia yang memberi aba aba saat pagi tadi? Jadi, Yuna adalah ketua kelasnya. Mungkin dia kesal karena tidak tau kalau aku masuk kelasnya tanpa ijin.


"Hey Haru, aku suka padamu." Arya tersenyum jahil menatapku.


"Jangan bilang yang tidak tidak." Yuna langsung mempelototinya.


"Aku menyukainya sebagai seorang teman. Apa kau cemburu?" Arya mengalihkan pandangannya pada Yuna.


"Ten...tentu saja tidak. Mana mungkin." Yuna terlihat terbata bata. Sepertinya mereka cukup dekat.


"Mengaku saja, kau tak pernah bisa lepas dariku, kan? Kita sudah berteman sejak SD. Jadi bukan tak mungkin kau suka padaku." Arya kembali memanas manasi.


"Anu...apa aku boleh tau di mana perpustakaannya?"


Aku segera memotong pertengkaran mereka walau sebenarnya cukup menarik untuk ditonton.


"Kau ingin ke perpustakaan? Aku akan mengantarmu." Arya memperlihatkan senyum terbaiknya.


"Sebelum itu, bisa kau tunjukan aku toiletnya juga?" Sebenarnya aku sedang sedikit kebelet. Karena tidak tau di mana toiletnya, jadi kutahan saja.


"Kau ingin ke toilet? Ayo!" Arya kembali menarik tanganku sambil berlari lari lari kecil. Mulai sekarang aku harus berhati hati memposisikan tangan ketika berada di dekat Arya. Dia suka sekali menarik narik orang.


Aku bersyukur untuk hari ini. Meski terasa sedikit aneh dan tiba tiba, tapi semuanya berjalan dengan baik. Aku berhasil berteman dengan Arya dan mungkin juga dengan Yuna jika dia berhenti memelototiku dengan wajah masamnya.


Semoga hal baik terus mengikuti langkahku. Bukan berarti aku akan berpikiran naif dan menganggap segalanya sebagai hal yang baik. Seperti roda yang berputar, hal buruk mungkin juga akan segera datang.

__ADS_1


Jadi, jangan lengah dan tetap buka kedua matamu. Atau seseorang mungkin akan menerkammu.


__ADS_2