Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 28: Akan dimulai


__ADS_3

Mungkin belum genap satu menit bel berbunyi. Tapi aku sudah siap untuk pulang sejak tadi. Semuanya sudah ku bereskan.


"Hey, tunggu dulu. Jangan buru buru begitu. Kita pulang bareng ya."


Sementara itu, Arya memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas dengan tergesa gesa. Langkahku terhenti karena teriakannya.


Dengan segera, dia menyusulku yang sudah berdiri di depan pintu kelas.


"Ayo!" ajakku begitu dia sampai.


Kakiku yang pendek melangkah cepat melewati siswa lainnya yang juga baru keluar dari kelas mereka.


"Kenapa buru buru begitu? Apa kau khawatir tentang sesuatu?" Tegur Arya.


Dia mengikuti langkah kakiku yang ku buat sebesar mungkin agar jalanku semakin cepat.


"Apa kau khawatir tentang kedua orang itu? Kau tau maksudku, kan?" Tambahnya.


Aku mengangguk pelan, mengakuinya. Itu benar, aku khawatir akan bertemu Evan dan Gavin lagi. Aku tak mengerti kenapa, tapi aku marasa khawatir sepanjang hari.


Aku khawatir jika seandainya bertemu mereka lagi. Padahala ku pikir aku sudah memutuskan hubungan dengan mereka semenjak aku dibawa ke panti asuhan waktu itu.


"Kau tidak melakukan sesuatu yang salah, kan? Jadi jangan khawatir. Meski aku tak tau apa masalah kalian, tapi aku akan tetap membelamu. Kita ini berteman, kan?" Tutur Arya.


"Umm..., kurasa begitu." Jawabku ragu ragu.


"Kau tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu..., aku percaya kok."


Sisa waktu kami habiskan dengan diam. Tidak banyak yang bisa dikatakan sekarang, atau mungkin aku hanya takut untuk bicara.


"Arya, aku duluan ya."Ucapku begitu kami sampai di depan gerbang.


Arya mengangguk, sementara aku berlari lari kecil meninggalkannya.


***


"Bagaimana sekolahmu?" Tanya kakek sembari mengambil gelas berisi air di samping piringnya.


"Baik." Jawabku singkat.


Malam ini, kami makan malam bersama. Makanan tersaji di atas meja. Ada aku, kakek dan Allen di sini. Allen sedang gila gilanya memasak. Entah sejak kapan dia suka memasak.


Padahal saat kakek tidak di rumah beberapa hari yang lalu, kami lebih sering membeli makanan cepat saji, atau jika kami terlalu malas untuk keluar, solusi terakhirnya adalah merebus mie instan.


Mie instan selalu menjadi penyelamat di saat saat genting atau saat kau malas melakukakn sesuatu. Aku bukannya pemuja mie instan, meski rasanya enak sih. Tapi aku mau jujur, mie instan sudah seperti nyawa kedua jika tidak ada makanan di rumah.

__ADS_1


Tapi itu tidak baik untuk kesehatan. Itulah yang selalu dikatakan oleh kakek karena dia seorang peneliti yang tau tentang banyak hal. Makanya, terkadang aku juga makan roti jika ada di lemari.


"Jadi, Haru. Apa keputusanmu? Apa kau benar benar yakin akan mengikuti metode yang kuberitahukan kemarin?" Kakek kembali membahas tentang metode penormalan pertumbuhanku lagi.


"Ya, akan aku lakukan. Jadi, kapan kita bisa mulai?" Tanyaku sambil mengambil tumis kangkung yang ada di dalam mangkuk porselen putih.


"Besok siang? Apa kau siap?" Kakek meletakkan sendok yang dipegangnya ke pinggir piring, lantas menatapku sejenak.


"Besok siang? Sekolahku bagaimana?" Jawabku refleks.


Bagaimana dengan sekolahku? Apa gurunya akan memperbolehkanku untuk tidak datang? Bagaimana dengan PR untuk besok? Ah, pertanyaan pertanyaan itu langsung membanjiri kepalaku.


"Kau bisa libur dua atau tiga hari, tidak masalah. Jika kau khawatir akan ketinggalan pelajaran karena itu, kau bisa minta Allen untuk membantumu belajar, dia lumayan pintar." Terang kakek.


Aku mengangguk takzim. Jika kakek bilang tidak masalah, berarti tidak apa apa. Dan kenapa harus sampai dua atau tiga hari? Apa akan makan waktu lama?


"Lumayan? Kakek, aku lebih dari itu. Aku mahasiswa pertama yang menantang dosennya semester ini dan aku adalah mahasiswa pertama yang lulus dengan nilai sempurna semester ini." Protes Allen.


Aku baru ingat, dia pernah bilang kalau dia bisa datang kemari karena menantang dosennya berduel persentasi seputar materi kuliahnya. Entah bagaimana dia memulainya sampai bisa menantang dosennya sendiri.


Dan beginilah akhirnya, dia mengalahkan dosennya dan bisa liburan lebih cepat 2 bulan dari mahasiswa lain.


Sangat nekat, bukan? Apa jadinya jika dia kalah saat itu? Mungkin dia harus berkata selamat tinggal pada kampusnya dan berhenti dari sana.


"Tidak perlu merepotkan Allen, aku bisa belajar sendiri atau minta tolong Arya saja." Gumamku sambil menyuap nasi.


"Tidak bisa, kau meremehkanku, kan? Akan aku tunjukan betapa hebatnya kakakmu ini. Dan kenapa kau malah mau diajari oleh temanmu kalau kau punya aku?" Tutur Allen.


Dia menambahkan air ke dalam gelasnya dengan hati hati, tidak ada barang setetes pun yang tumpah menyentuh permukaan meja.


"Tidak butuh." Kataku iseng sambil memasang ekspresi wajah datar.


"Awas saja nanti, saat aku kembali kuliah, akan ku buat kau menangis karena merindukanku." Balas Allen sambil melirikku sambil menyipitkan matanya.


"Tidak akan." Ucapku.


Belakangan ini, rasanya menyenangkan sekali memancing Allen untuk marah. Yah, walau ujung ujungnya dia jugalah yang duluan mengajakku bicara setelah itu.


Aku mulai berpikir kalau hidupku akan jadi lebih baik setelah ini.


***


Jam sembilan pagi, aku sedang bersantai di kamarku, duduk sembari membaca buku tebal tentang mitokondria, yang katanya sebagai tempat respirasi sel.


Aku menemukan buku ini di rak buku besar milik kakek yang sudah sedikit berdebu karena buku bukunya jarang dibaca. Aku meminjamnya dan mulai membacanya halaman demi halaman.


Jendela ku buka lebar agar cahaya matahari pagi bisa masuk, dan udara segar juga bisa mengalir ke dalam. Sebuah pagi yang tenang dan menyenangkan, membaca buku sambil mendengar cicitan Brownis, burung kenari yang ada di teras rumah.

__ADS_1


Kemarin sore, aku menambahkan makanan burung ke wadah makannya. Burung itu dibeli oleh kakek dua bulan yang lalu, dan diberi nama Brownis.


Entah kenapa kakek memberi nama yang aneh itu, padahal warna atau bentuknya tidak seperti kue brownies. Tubuhnya kecil dan bulunya berwarna kuning cerah.


Begitulah, berhubung jendela kamarku yang posisinya langsung menghadap ke halaman depan, aku bisa mendengarkan suara cicitannya. Hari ini aku meliburkan diri dari kegiatan sekolah, dan sekarang Allen sedang mengurus bagian itu.


Dia datang ke sekolah dan meminta izin ke pihak sekolah untuk meliburkanku selama dua sampai tiga hari. Aku yakin sekarang sekolah sedang heboh karena kedatangannya.


Saat dia mengantarku ke sekolah setiap pagi saja orang orang pasti akan berhenti untuk melihatnya sejenak. Beberapa orang akan memperhatikan dari jauh, atau ada juga yang berbasa basi meminta nomor telponnya.


Aku pernah melihatnya dua atau tiga kali saat dia menjemputku saat pulang sekolah. Beberapa gadis di sekolahku juga pernah bertanya langsung padaku tentang Allen dan itu cukup menyebalkan.


Apa segitu luar biasanya Allen? Tapi aku bisa mengerti itu, rambut pirang, mata hijau, postur tubuh yang tinggi dan bagus juga wajah yang tampan. Banyak orang yang menyukai kriteria yang seperti itu dan itu wajar saja.


Dan aku muali berpikir kalau aku dan Allen bagaikan dua sisi yang berbeda. Allen dengan segala kelebihannya (kecuali sifatnya) dan aku yang hanya seorang anak lelaki biasa berumur 14 tahun.


Lima belas menit kemudian, Allen kembali. Aku berlari lari kecil menghampirinya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana? Apa tidak masalah kalau aku libur?" Tanyaku begitu dia duduk di sofa ruang tamu.


"Ça marche." Jawab Allen sambil mengancungkan jempolnya.


"Apa artinya?"


"Artinya 'berhasil' dalam bahasa prancis."


"Kau bisa berbahasa prancis?" Tanyaku.


"Tentu saja, ibuku orang prancis, makanya aku juga bisa bahasa prancis. Bukannya sudah aku katakan sebelumnya? Apa kau tak mendengarkanku saat itu?" Sahutnya.


Aku mengangkat bahu, pura pura tidak tau.


"Mau ku ajari bahasa prancis sedikit?" Tawar Allen.


Aku mnegangguk.


"Kalau begitu, akan aku ajarkan yang gampang saja. Bonjour artinya 'halo' atau 'selamat pagi'.Merci artinya 'terima kasih', pardon! artinya 'maaf'. Lalu... Un frère artinya 'kakak'." Jelasnya sambil tersenyum.


"Kenapa sulit sekali mengucapkannya?" Ujarku ketika aku mencoba mengucapkannya satu persatu.


"Benarkah? Kau hanya belum terbiasa." Jawabnya ringan sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Apa kakek masih belum kembali?" Tanyaku sambil ikut menyandarkan punggung di sampingnya.


Tadi pagi, kakek pergi ke rumah temannya, tempat mereka meneliti formula yang akan aku gunakan. Kata kakek, formula itu ada di sana, jadi ia datang untuk menjemputnya.


Aku jadi tidak sabar untuk segera memulai metode ini. Aku ingin segera tumbuh tinggi, segera tumbuh dewasa.

__ADS_1


Semoga aku tidak akan kecewa.


__ADS_2