
"Jadi, seperti apa sekolah itu menurutmu?"
Kakek yang baru masuk ke dalam rumah setelah memasukan mobil ke dalam garasi langsung melemparkan sebuah pertanyaan.
Dia terlihat baik baik saja setelah melewati kemacetan yang gila tadi. Padahal aku hampir muntah karena berada terlalu lama di dalam mobil. Aku menderita mabuk darat jika terlalu lama di mobil.
Apa saja yang sudah ku makan tadi siang dan saat sarapan rasanya akan melompat keluar jika kami terus terkurung dalam kemacetan gila itu.
"Hebat, tidak serumit yang ku bayangkan. Semuanya lancar."
Aku menjawab dengan singkat dan sekarang aku duduk di sofa tua ruang tamu. Kepalaku pusing sekali. Mungkin besok aku akan pulang sendiri, berjalan kaki. Memaksakan diri untuk naik mobil dalam waktu yang lama hanya akan membunuhku secara perlahan.
"Jadi, semuanya lancar? Baguslah. Tapi kurasa kau melupakan sesuatu." Kakek merogoh saku bajunya dan mengeluarkan dua lembar uang. Dia menatapku sambil nyengir.
"Haru, kau kacau sekali. Masa lupa membawa uang untuk makan siang." Kakek terkekeh melihatku. Aku hanya bisa menurunkan pandangan karena malu yang seakan menggelitik perut. Aku ketahuan meninggalkan uang itu di meja. Baiklah, itu memang salahku.
"Lalu, apa kau mau makan sekarang? Nanti tubuhmu benar benar tidak akan tumbuh barang semili pun. Kau tidak mau kecil selamanya, kan?" Kakek menggodaku. Pembicaraan tentang tubuhku yang tak bisa tumbuh besar selalu digunakannya untuk membuatku makan sesuatu.
Aku menggeleng. "Tidak masalah, seseorang mentraktirku makan siang." Setidaknya sekarang aku tidak terlihat terlalu bodoh. Sebuah alasan yang bagus.
"Seorang teman? Mungkin nanti kau harus membawanya kemari. Aku ingin bertemu dengan teman pertamamu itu. Atau mungkin kita bisa makan di luar bersamanya." Wajahnya terlihat antusias. Apa itu adalah hal yang penting?
"Kakek, kau berlebihan. Dia memang sangat baik. Aku senang dia mau berteman denganku. Dan aku ingin tau sesuatu."
Aku ragu ragu menoleh padanya dan dia sudah siap mendengar setiap kalimat yang mungkin akan aku katakan.
"Mengenai mereka yang mencariku, apa tidak apa apa seperti ini? Maksudku, bagaimana jika seandainya mereka menemukanku ketika aku sedang berkeliaran di sekolah dan kakek juga sedang tidak bersamaku? Itu membuatku sedikit takut."
"Itu tak akan terjadi. Mereka tak akan bisa masuk ke daerah ini dan sekitar sepuluh kilometer dari sini. Itu juga mencakup sekolahmu." Kakek ikut duduk di sofa dan bersandar ke sandarannya yang nyaman.
"Kenapa?"
"Karena ada sesuatu yang membatasi mereka. Kau akan aman jika tak pergi terlalu jauh. Dan pusat perbelanjaan waktu itu tidak termasuk ke dalamnya."
Itu menjelaskan banyak hal. Tidak masalah bagiku jika tidak keluar dari area yang dimaksud kakek. Semuanya akan baik baik saja. Hidup baru yang telah lama ku impikan akan tetap berlanjut. Seperti sebuah kapal yang berlayar di samudra. Kapal itu akan terus bergerak ke mana pun asal tak menyentuh daratan.
"Dan tentang sesuatu itu? Apa aku boleh mengetahuinya?"
Kakek tersenyum, lalu tangannya segera mengincar rambutku. Lantas ia mengusapnya naik turun secara perlahan.
"Mungkin nanti. Sekarang beristirahatlah, kau lelah, kan?"
__ADS_1
Aku menurut, lalu berjalan menuju kamar. Aku segera berganti baju dan mengerjakan pr setelahnya. Aku tak mau harus tergesa gesa mengerjakannya besok pagi di sekolah seperti kebanyakan orang. Itu sangat tidak elit. Lagi pula itu adalah PR pertamaku, akan sangat konyol jika aku sama sekali tak mengerjakannya.
***
Pagi ini cuacanya cerah. Burung burung berkicau ria di sekitar dahan pohon yang tinggi. Matahari menunjukan pesonanya lebih awal. Tak ada awan yang menghalangi sinarnya yang menerpa bumi.
Akhirnya ada hari yang cerah dibulan ini setelah beberapa hari langit ditutupi mega dan gerimis yang menyertainya. Langit sedang bersahabat. Bahkan aku jadi ingin melukiskan pelangi sebagai hiasan tambahan agar keindahannya terlihat semakin sempurna.
Hari ini adalah hari kedua aku bersekolah. Aku sudah mulai hafal beberapa tempat di sini. Tapi tetap saja diriku selalu dibuat kagum jika melihat betapa luas dan hebatnya tempat ini. Tapi memang tak mengherankan, sekolah ini bertitel swasta.
Semuanya lengkap. Apa saja yang kau bayangkan tentang definisi sekolah yang sempurna ada di sini. Ruang kelas yang nyaman, kantin yang besar, kolam renang dan lapangan olah raga. Dan jangan lupakan perpustakaannya yang lengkap. Aku baru saja mengintipnya kemarin bersama Arya. Dan mungkin tempat itu akan segera jadi favoritku.
Dan sepertinya si pemilik sekolah ini juga memiliki selera yang bagus dalam mengembangkannya. Itu tergambar jelas dari interior sekolah ini secara keseluruhan. Memang tak bisa dipandang sebelah mata.
"Hai, Haru. Selamat pagi."
Seseorang menepuk punggungku dan menyapaku dengan santai. Postur tubuhnya yang tinggi, rambut hitamnya yang rapi dan senyum khas yang terukir jelas di wajahnya.
"Ah, selamat pagi, Arya."
Aku membalas sapaannya. Lalu mengusap punggungku yang ditepuknya tadi. Agak sedikit sakit karena dia menepuknya agak keras. Dia segera mengambil tempat tepat di sebelahku karena memang di situlah posisinya.
Hari ini aku datang sedikit lebih pagi dari kemarin, kakek ingin mengunjungi temannya jam delapan. Jadi dia mengantarku lebih awal. Jalanan terlihat sama lengangnya dengan kemarin, lalu akan berubah jadi mengerikan jika sudah berangsur siang. Kau tau, kan? Sebuah kemacetan yang bisa membuatmu frustasi jika terjebak di dalamnya.
Arya bersandar pada kursinya dan melipat tangan ke belakang kepala untuk menyangga kepala.
"Tidak apa, Arya. Tak perlu mengkhawatirkanku. Aku hanya pendek, bukannya lemah." Aku menopang dagu dengan telapak tangan. Beberapa orang masuk ke kelas yang masih lengang. Jam dinding bergerak pelan sekali sampai aku malas melihatnya.
"Aku tidak bilang kalau kau pendek. Tapi memang sih, kau agak imut. Ah, bukan begitu maksudku. Yah, kau tau, kau mungkin hanya sedikit terlambat untuk tumbuh. Bukan hal yang buruk kok. Lagi pula kau lebih muda dua tahun dariku."
Arya buru buru memperbaiki kalimatnya, takut aku akan marah atau tersinggung. Tapi sama sekali bukan masalah. Dirinya yang sudah mau menyapaku dan berteman denganku sudah lebih dari cukup. Saat di panti dulu, aku selalu duduk sendiri di sudut ruangan. Tak ada yang mau mengajakku bermain, tak ada yang mempedulikanku.
Bisa dibilang diriku yang sekarang sudah ada perkembangan. Semua hal bisa berkembang jika ada kemauan. Bahkan kecambah yang rapuh pun bisa tetap tumbuh jika ada cahaya matahari.
***
"Tubuhmu bahkan lebih kecil dari yang kuduga." Arya menceletuk saat aku melepas baju seragamku. Kami sedang ada di ruang ganti, bersiap untuk mengikuti pelajaran olah raga. Ternyata benar apa yang dikatakan Arya, ada tes lari di jam pertama.
"Begitukah?" Aku memunggunginya, lalu memakai baju olah ragaku. Aku tak terlalu menghiraukan perkataannya. Dia hanya sedikit senang menggodaku soal tinggiku. Kami terlihat dekat dalam waktu super singkat.
"Ya, aku tak tau sebesar apa badanmu karena kau selalu memakai jaket di sekolah." Dia nyengir, lalu ikut menyarungkan baju olah raganya.
__ADS_1
"Itu karena cuacanya dingin." Aku melipat pakaianku, lalu menaruhnya di loker. Setelah itu segera berpindah menuju lapangan olah raga.
Seorang guru olah raga sudah berdiri dengan baju kaos lengan pendek lengkap dengan peliut menggantung di lehernya seperti, seutas kalung. Tubuhnya tinggi dan sedikit kekar. Memang begitulah cerminan seorang guru kebugaran yang seharusnya.
Semuanya berbaris di lapangan mengikuti instruksinya. Gerakan pemanasan menjadi awal yang bagus dalam memulai kegiatan olah raga, tidak sulit karena tubuhku kecil dan cukup lentur. Gerakan seperti mencium lutut atau menyentuh ujung kaki sudah biasa untukku. Bahkan aku sudah bisa melakukan gerakan yang sedikit lebih sulit seperti split dan kayang.
Pemanasan selesai. Sang guru memberi instruksi mengenai rute lari yang akan ditempuh. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima kilometer. Rutenya akan melewati beberapa tempat di kota yang tidak terlalu ramai.
"Anak baru, kau diberi waktu tambahan dua menit lebih lama dari yang lain karena kau tidak mengikuti latihan sebelumnya. Jadi, jangan sampai tidak lulus dari tes ini."
Guru olah raga itu memberiku sedikit dispensasi. Tapi siapa yang tau apa yang akan terjadi nanti. Aku hanya pendek, bukannya lemah. Aku akan segera tumbuh tinggi dan besar nantinya.
Maka, lari itu pun dimulai. Suara peluit panjang yang memekakkan telinga terdengar menjadi jadi. Para siswa yang ada di posisi start berhamburan saling mendahului. Semuanya ingin lulus, tidak ada yang ingin gagal. Itu adalah salah satu sifat manusia. Memang sebuah hal yang lumrah. Tidak pernah ingin gagal, selalu ingin berhasil apa pun caranya.
Dan terkadang, manusia juga jadi lupa akan siapa dirinya. Dia jadi begitu gila akan tujuannya. Apa pun dilakukan demi hal itu, tak peduli baik buruknya. Yang terpenting adalah keberhasilan.
Sudah sekitar sepuluh menit sejak kami lepas start. Cahaya matahari yang awalnya menerpa setiap inci tubuh dengan lembut kini sedikit berubah. Ia mulai terik dan menjadi jadi. Manyengat tiap sisi kulit dengan panasnya. Padahal sekarang masih sekitar pukul setengah sepuluh.
Beberapa orang mulai melambat dan tertinggal. Beberapa diantaranya masih konstan dengan kecepatannya sendiri tanpa harus khawatir akan gagal. Keringat sebesar biji jagung mulai terbentuk dan menetes jatuh ke tanah, lalu mengering karena angin atau diterpa panasnya mentari.
Beberapa siswa perempuan sudah mulai berjalan karena tidak sanggup lari. Beberapa diantaranya bahkan duduk sejenak di kursi yang tersedia untuk halte bus.
Sementara itu, aku masih pada kondisi yang baik. Sekarang aku bahkan termasuk lima terdepan. Rasanya aku ingin sekali menyumbangkan dua menit tambahan itu pada seseorang yang tertinggal jauh di belakang. Sudah kubilang, kan? Aku hanya pendek, bukannya lemah.
Sekarang hanya siswa laki laki yang berada di posisi terdepan, karena stamina mereka lebih baik dari perempuan. Ah, ternyata aku salah. Masih ada Yuna yang lari di sampingku. Dia satu satunya gadis yang masih konstan dengan kecepatannya, meskipun wajahnya sudah merah karena panas matahari.
Lalu di depanku ada tiga anak laki laki, Arya memimpin. Tak heran karena dia punya kaki yang panjang. Jika diibaratkan, dia seperti kuda perang. Cepat, tangkas dan gagah. Tapi aku tak mau kalah. Panasnya sinar matahari sudah membuatku mabuk akan kemenangan, walau aku tau ini bukanlah sebuah pertandingan.
Sepertinya sudah tiga perempat bagian yang sudah kami selesaikan. Napasku juga sudah mulai sesak, tapi sayangnya aku tak punya keinginan untuk kalah.
Beberapa saat kemudian aku mulai merasa panas. Bukan hanya panas dari sinar matahari, tapi juga panas dari tubuhku sendiri. Entah kenapa langkahku terasa lebih ringan, tapi sebagian tubuhku mulai tak bisa kurasakan lagi. Tapi tak masalah, lariku jadi semakin cepat dan langsung berada di posisi kedua. Seorang siswa laki laki berada di depanku dan Arya berada di posisi ketiga. Yuna hanya harus puas ada di posisi kelima setelah seseorang menyalipnya.
Sekolah kami mulai terlihat dari kejauhan, dan pak guru sudah bersiap di sana dengan stopwatch di tangan. Hanya tersisa tiga puluh meter lagi. Aku menambah kecepatan, sedikit mencondongkan badan kedepan agar berat tubuh dapat mempengaruhi kecepatan lariku, sehingga posisiku yang sekarang menjadi nomor satu.
Tapi tak kusangka Arya malah ikut menyalip dan kini kami berlomba lomba mencapai titik akhir. Hanya tersisa beberapa meter sampai akhirnya aku memberikan sedikit tekanan pada kaki. Beberapa langkah terakhir itu jadi lebih cepat dan aku berhasil mengamankan tempat pertama.
Pak guru menekan stopwatchnya, lalu melihat dengan ekspresi wajah tak percaya. Arya berada di posisi kedua, diikuti seorang siswa laki laki dan diikuti Yuna, satu satunya gadis yang mengalahkan belasan laki laki lainnya.
Aku puas dengan hasilku, sementara pak guru masih memandangku dengan wajah tak percaya. Seolah dia berkata. "Mana mungkin bocah pendek seperti dia bisa lari secepat ini."
Tiba tiba semua bagian tubuhku jadi ringan sampai aku tak bisa lagi berpijak di atas tanah. Kepalaku tiba tiba pusing seolah berputar putar. Tubuhku masih panas dan kini aku seolah bisa melihat bintang bintang.
__ADS_1
Kesadaranku mulai hilang dan tubuhku ambruk. Semuanya menjadi gelap dan hening.