Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 16: Hang out


__ADS_3

Sekarang sudah sekitar pukul sepuluh pagi, aku melintasi zebracross setelah turun dari bus kota. Aku memegangi tali tas selempangku, takut kalau tas itu akan terlepas. Hari ini jalanan cukup ramai, mengingat hari ini adalah hari minggu. Orang orang dengan pakaian bagus nan berwarna warni memenuhi setiap sudut kota.


Banyak orang yang ingin menghabiskan hari libur yang hanya dapat diperoleh setelah enam hari bekerja atau bersekolah. Mereka biasanya keluar bersama keluarga atau teman. Pusat perbelanjaan, kafe atau kolam renang adalah beberapa destinasi pilihan yang umum dikunjungi.


Semalam, aku berusaha mati matian membujuk kakek. Berbagai kalimat yang seolah meyakinkan aku lontarkan kepadanya agar aku diizinkan pergi 'hang out' bersama Arya. Dan ketika aku bilang akan pergi bersama Arya, dia langsung memberi izin.


"Haru, jangan pergi terlalu jauh ya. Ingatlah agar tetap berada di area sepuluh kilometer. Kau tidak mau mereka menemukanmu, kan?"


Saat itu, kami sedang ada di meja makan. Aku bilang aku akan baik baik saja, siklus demam dan sakit mingguanku seharusnya masih lusa. Jadi aku tak akan tiba tiba jatuh sakit di sana.


Itu semua aku lakukan demi memenuhi janjiku dengan Arya. Dia mengajakku keluar kemarin dan itu sangat berarti. Dia teman pertamaku selama empat belas tahun aku merasakan hidup. Aku serius, memang itulah yang terjadi.


Jika aku ceritakan bagaimana masa kecilku yang tanpa seorang pun teman padamu, mungkin kau tak akan percaya. Bahkan jika kau percaya, itu akan memakan banyak waktu untuk mengatakannya sekarang. Jadi, mungkin akan ku katakan nanti nanti saja.


Maka, sekarang di sinilah aku. Menoleh ke kiri dan kanan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Aku mencari Arya, kemarin aku menelponnya menggunakan telpon rumah. Kami berjanji akan bertemu tepat di depan air mancur yang ada di taman kota.


Aku pernah kemari sebelumnya bersama kakek. Kami duduk dan makan crepes yang sangat enak setelah pulang dari pusat perbelanjaan.


Dan di sinilah tempat seharusnya kami bertemu. Seharusnya kami bertemu di sini jam sepuluh pagi. Oh, lupakan. Sekarang sudah jam sepuluh lewat lima belas menit.


Lucu sekali kalau dia terlambat, mengingat dia hampir sempurna di segala aspek. Dan ini mulai membuatku sadar bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya sempurna. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Kata sempurna itu tak pantas disandingkan dengan manusia.


Akhirnya aku memilih duduk di depan kolam ikan koi itu. Air mancurnya menyembur, membuat air di sekitarnya beriak riak tak pernah tenang. Taman ini ramai, ada lebih banyak truk makanan dari yang terakhir kali ku ingat.


Anak anak kecil bermain di arena bermain, sementara itu ada banyak orang dewasa yang duduk di bangku taman. Beberapa bahkan membawa tikar sendiri dan menggelarnya di bawah naungan pohon besar, seperti sedang piknik. Beberapa remaja seusiaku juga terlihat berjalan jalan dengan santai.


"Apa sudah lama menunggu?"


Seseorang menepuk punggungku dari belakang. Akhirnya dia datang. Ayolah, ini sudah hampir setengah jam aku menunggunya. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi, lalu dia beranjak duduk di sampingku.


Dia memakai baju kaos lengan panjang berwarna coklat dan abu abu di bagian bawahnya. Dia terlihat sedikit berbeda jika di bandingkan dengan penampilannya di sekolah. Sementara aku memakai sweater warna hitam polos, lengkap dengan celana panjang.


"Maaf, aku sedikit terlambat. Haru, kau tau kan, jalanan sedikit padat hari ini."


Dia segera bersandar pada sandaran kursi. Beberapa gadis mulai melirik kami. Bukan, maksudku melirik Arya. Dia selalu jadi populer di mana pun. Para gadis itu hanya melirik beberapa kali, lalu saling berbisik dan tertawa cekikikan.


"Sepertinya mereka ingin bicara denganmu."


Aku menyenggol bahunya, memberi kode bahwa para gadis itu sedang memperhatikannya. Berada di dekatnya jadi terasa aneh.


"Atau mungkin ingin bertemu denganmu." Arya menimpali.


"Mana mungkin." Aku tak terlalu mempedulikan, lebih asyik menatap kolam yang dipenuhi ikan koi yang sedang berenang dengan lincah.


"Kenapa tidak? Kau punya wajah yang manis, dan kau juga terlihat imut." Arya ikut menyenggol bahuku.


"Aku tidak imut, hanya sedikit pendek. Tunggu saja, beberapa tahun lagi aku akan jadi lebih tinggi darimu."

__ADS_1


Aku menyenggolnya dengan sedikit lebih keras. Dia hanya tertawa. Setelah duduk beberapa menit, kami akhirnya memutuskan untuk pergi.


Mengenai destinasi acara 'hang out' kali ini, kami sudah menentukan destinasi yang cocok. Apa kau ingin tau tempat apa itu? Apa kau berpikir bahwa itu adalah mal? Kafe? Arkade game? Kolam renang?


Maaf, semua tebakan itu salah. Tempat yang akan kami kunjungi adalah perpustakaan kota. Mungkin terdengar membosankan, tapi aku suka buku dan Arya sama sekali tidak keberatan dengan itu.


Lagi pula kami juga punya beberapa tugas yang harus di selesaikan. Maka karena itulah, perpustakaan jadi tempat yang pas untuk hang out sekaligus mengerjakan tugas. Setelah ini kami bisa pergi ke arkade game dan juga makan siang di restoran terdekat.


Perpustakaan ini besar, lebih besar dari yang ku bayangkan. puluhan bahkan ratusan ribu judul buku tersimpan rapi di setiap rak yang tinghinya sekitar dua meter. Semua di tata sesuai kategorinya. Dinding ruangan dominan warna putih dan lantai pualamnya juga terlihat mengkilap.


Kami duduk di meja panjang di salah satu sisi ruangan. Rasanya menyenangkan dikelilingi banyak buku seperti ini. Mataku bahkan masih tak puas untuk menyapu setiap sisi dan sudut ruangan.


Selama dua jam, kami fokus pada tugas yang harus dikerjakan. Dan setelah itu, berkeliling dan melihat lihat jadi pilihan kami.


"Ayo kita berfoto." Arya menarikku tanganku. Dia memperlihatkan smartphone miliknya.


"A...aku tidak usah, kau saja." Aku buru buru menolak. Kakek juga pernah sebelumnya mempotretku dengan kamera smartphonenya, tapi itu terasa sangat memalukan.


"Jangan begitu, kita sudah berteman selama seminggu ini, kan? Ayolah, kita tak punya foto berdua. Ini tidak akan lama, kau diam dan tersenyum saja ke arah kamera."


Arya masih tak mau melepaskanku. Akhirnya aku mengalah. Aku berdiri di dekatnya dan melakukan seperti yang dia minta.


"Jangan kaku begitu, sekarang ayo tersenyum." Dia merangkulku. Kami berfoto begitu dekat, sampai terlihat seperti kakak adik yang akur.


"Lihat! foto yang bagus, kan? Ayo kita ambil beberapa gambar lagi." Dia terlihat senang sekali, dan aku tak ingin merusak kesenangannya itu.


"Setelah ini, ayo ke arkade game. dekat, kok." Arya menyuap makanannya. Berada di perpustakaan itu selama beberapa jam membuat kami lapar dan energi kami harus segera diisi. Aku hanya mengangguk.


Kami beranjak dari sana setelah makanan yang kami santap habis. Arkade game adalah tujuan kami selanjutnya. Arya benar, arkade game itu lokasinya tidak terlalu jauh dari restoran cepat saji tempat kami makan tadi. Hanya sekitar seratus meter dari sana. Tapi perasaanku jadi sedikit tidak enak, aku harap tidak ada hal buruk yang akan terjadi.


Kami akhirnya sampai di sana. Ada banyak orang di sana, mulai dari yang muda sampai yang dewasa. Mereka terlihat asyik dengan berbagai mesin permainan yang ada di sana.


"Ayo!" Arya kembali menarikku untuk masuk ke dalam.


"Haru, apa pernah main ini sebelumnya?"


Dia mengajakku ke salah satu mesin permainan. Aku hanya menggeleng. Bahkan ini adalah pertama kalinya aku ke mari. Lalu , dia mengajariku bagaimana cara memainkan permainan ini. Aku hanya perlu membidik sasaran dengan pistol yang tersambung dengan perangkat elektronik, ini tidak terlalu sulit.


Kami berdua hanyut dalam kesenangan itu, tapi tiba tiba aku menyadari seusatu. Aku yakin ada seseorang yang memperhatikan kami. Aku buru buru meletakkan pistol untuk membidik itu ke tempat semula dan menarik Arya ke dekat salah satu mesin permainan yang lebih besar sehingga tubuh kami tertutupi dengan sempurna.


"Ada apa, Haru? Apa ada yang ingin kau coba?" Arya menatapku bingung.


"Ti... tidak, tapi tolong tetaplah di sini sebentar."


Aku kembali melihat keadaan sekitar. Sudah kuduga, ada seseorang yang sepertinya aku kenali. Seorang wanita dengan jas berwarna putih lengkap dengan kaca mata. Wanita itu menoleh ke kiri dan kanan, seperti mencari sesuatu dan aku tau persisi apa yang dia cari.


Dia adalah salah satu petugas penelitian di tempatku dulu. Tepatnya di chincilla, sebuah pusat penelitian besar yang nyaris tidak bisa ditembus sembarang orang. Aku ingat wajahnya, wanita itulah yang biasanya selalu mengantarkan makanan untukku.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, wanita itu pergi. Aku menghembuskan napas lega. Perasaanku jadi sedikit tenang, jika saja wanita itu benar benar menemukanku tadi, maka semuanya akan berakhir. Hidupku yang sudah bebas, keluarga, sekolah dan pertemanan. Semuanya akan kandas.


"Haru, apa kau... berusaha menghindari seseorang?" Arya akhirnya kembali bicara setelah melihatku menghembuskan napas lega. Aku hanya diam, bagaimana aku harus menjelaskan semuanya sekarang?


Kami akhirnya keluar dari arkade game itu, dan duduk di kursi yang tersedia di pinggir jalan.


"Nih..."


Arya menempelkan salah satu kaleng minuman dingin yang dibelinya di mesin penjual minuman otomatis tepat di pipiku. Aku buru buru menyambarnya, kaleng minuman itu terasa dingin. Aku membukanya, lantas meneguknya hingga isinya berkurang separuh.


"Jadi...apa yang kau hindari tadi?" Arya kembali mencomot topik pembicaraan sebelumnya. Aku berpikir sejenak. Apa yang harus aku katakan padanya?


"Apa kau tidak percaya padaku? Bukankah kita berteman?" Dia meminum minuman kaleng yang dipegangnya, masih menunggu jawabanku.


"Itu...aku percaya padamu. Yang ku hindari tadi hanya teman masa sekolah dasarku saja. Aku tak ingin bertemu mereka." Aku buru buru menjawab.


"Bohong..."


"Haru, kau berbohong. Kau tidak terbiasa berbohong dan malah melakukannya. Caramu berbohong buruk sekali. Lagi pula aku yakin bahwa kau, Haru Miguel tidak pernah sekolah sebelumnya." Arya tersenyum sinis, salah satu sudut bibirnya terangkat.


Bodohnya aku, kenapa aku malah memilih kalimat itu untuk menyembunyikan kebenarannya? Sekarang dia akan mulai menaruh curiga padaku.


"Baiklah. Tapi pertama tama tolong percayalah bahwa aku bukan orang jahat." Aku sedikit menundukan kepala. Arya hanya mengangguk.


"Aku percaya kok. Jadi?"


"Jadi, yang aku hindari itu adalah seseorang yang pernah mencoba menculikku."


Aku sebenarnya berbohong. Tidak mungkin aku katakan padanya bahwa yang kubindari adalah seorang wanita yang dulunya adalah salah satu asisten peneliti yang bertugas mengawasiku setiap saat.


Dan sepertinya Arya percaya pada perkataanku. Dia tidak bertanya lebih jauh. Aku benar benar seseorang yang hina. Dia percaya padaku, padahal aku berbohong padanya. Sepertinya akulah yang munafik.


"Aku mengerti, pasti kau merasa trauma setiap kali melihatnya. Kenapa tidak lapor polisi?" Arya memainkan kaleng minuman yang dipegangnya.


"Tidak perlu, lagi pula penculikannya gagal. Entah kenapa dia mau melakukan itu, lagi pula apa yang dia harapakan dariku." Aku asal menjawab.


"Mungkin saja dia akan menjualmu pada om om pedofil yang menyukai remaja berpenampilan anak anak seperti dirimu. Kau punya wajah yang manis dan penampilan imut. Dia bisa mendapat untung jutaan, dan aku jadi berpikir untuk menjualmu."


Aku mencubit lengannya, enak saja dia bilang seperti itu. Arya tertawa, itu sama sekali tidak lucu buatku. Dia salalu saja mengubah banyak hal jadi bahan candaan.


"Berhentilah mengatakan itu atau aku akan menjualmu pada tante tante penyuka laki laki muda berwajah tampan sepertimu." Aku membalasnya sambil menirukan gayanya, semua ketegangan itu terasa menguap begitu saja.


"Berarti kau mengakui bahwa aku tampan, kan?"


"Arya, kau menyebalkan." Aku menatapnya dengan ekspresi berpura pura jengkel, lalu aku kembali tertawa kecil.


Sisa hari itu kami habiskan dengan mengobrol dan candaan. Tak terasa waktu terus berjalan dengan cepat. Sudah jam setengah empat sore, kami akhirnya pulang. Aku menumpang bus kota untuk kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2