Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 40: Sebelah tangan


__ADS_3

"Aku mengerti, tapi sebelum itu...ada hal terakhir yang ingin aku katakan padamu,"


Aku sadar kalau matahari semakin naik dan waktu yang kumiliki tak banyak lagi. Kak Hana bilang, akan ada orang-orang dari Chinchilla yang datang jam sebelas tepat. Maka, langsung saja aku lanjutkan ke intinya.


Kak Hana terdiam, menunggu kalimatku yang selanjutnya sementara kakak laki-lakiku yang duduk di sebelahku masih dalam mode menyimak dan tidak banyak berkomentar.


"Apa kak Hana ingat saat kakak berharap tidak pernah bertemu denganku?" tanyaku.


Gadis yang menjadi lawan bicaraku itu terlihat berpikir sejenak, lantas menganggukan kepala perlahan sehingga poni yang sedikit menutupi dahinya ikut bergoyang pelan.


"Aku ingat, dan setelah aku mengatakan itu, kau langsung lari, kan?" balasnya.


Ku anggukan kepalaku pelan sebagai persetujuan. Itu juga benar, aku yang terlanjur patah hati dan berpikir kalau aku benar-benar sudah dibenci langsung lari begitu saja. Dan aku tau aku memang dibenci, sejak awal tidak ada yang menyukaiku, aku hanya beban dan pengganggu.


Dan aku tidak akan menyangkal fakta itu, aku pantas mendapatkannya mengingat seberapa tidak bergunanya aku. Tapi, kenapa aku masih bisa percaya diri begini? Datang minta penjelasan dan berniat minta maaf, entah hal konyol apa lagi yang bisa aku lakukan.


"Ya, benar. Dan aku belum menjawab ucapan kakak yang mengatakan bahwa kau berharap tidak pernah bertemu denganku, kan?" lanjutku.


Kak Hana kembali mengangguk untuk kedua kalinya.


"Dan apa kau mengharapkan hal yang sama? Kau juga berharap tidak pernah bertemu denganku?"


Senyuman getir mulai terbentuk di bibirnya yang sedikit pucat dan kering. Namun senyuman itu sarat akan sebuah arti.


"Bukan, bukan itu yang ingin aku katakan," jawabku cepat.


Aku tidak mengerti kenapa dia berpikir kalau aku mengharapkan itu, aku...tidak pernah mengharapkannya.


"Aku...bersyukur bisa bertemu denganmu. Aku sama sekali tidak menyesal,"


Kalimat itu kuiringi dengan senyum terbaikku, meski aku tidak tau apa aku terlihat baik atau tidaknya. Tapi untuk sekarang hanya itu yang bisa aku katakan.


Kak Hana terdiam sejenak, masih menatapku dari seberang meja kayu yang memisahkan kami. Untuk sesaat, kupikir dia akan sedikit terkesan. Dan mungkin...bisa sedikit mengubah pandangannya.


Tapi jujur saja, setelah mengetahui semuanya, aku jadi tidak yakin dengan diriku sendiri. Di satu sisi dia adalah orang baik, tapi di sisi lainnya dia adalah seorang penipu besar. Dua hal yang mungkin tak bisa dijadikan satu. Apakah ini yang dimaksud kebaikan dalam kejahatan? Atau mungkin ini seharusnya dikategorikan sebagai kejahatan dalam kebaikan? Ini...membingungkan.


"Haru, kau serius? Setelah tau bahwa dia hanya berpura-pura agar seseorang mau dikirim ke tempat penelitian itu, kau masih berkata begitu padanya?"


Kakakku Allen sudah protes duluan, padahal tadinya ia lebih memilih untuk diam dan tak banyak komentar terhadap beberapa hal. Salah satu alisnya terangkat dan memandang dengan pandangan tidak suka.


"Umm... ya, aku serius. Meski kak Hana mengaku kalau dia hanya berpura-pura, tapi aku yakin apa yang dilakukannya untukku dulu itu tulus. Jadi kupikir...aku tidak pernah menyesal," lanjutku.


Kakak lelakiku itu menggeleng perlahan, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


"Haru...aku...tidak tau mau bilang apa. Tapi kurasa itu tidak benar, kau mengertikan kalau aku hanya berpura-pura. Bahkan jika kau membenciku pun, itu akan terasa lebih baik,"


Akhirnya kak Hana angkat bicara. Gadis itu tidak terlihat puas sama sekali, bahkan dari sorot matanya pun terlihat sama. Kupikir kalimatku bisa membuatnya sedikit tersentuh, tapi sepertinya tidak ada yang berubah, semua sama saja.


"Aku serius dengan apa yang aku katakan, aku tidak pernah membencimu," jelasku. Namun dia hanya diam, tak memperlihatkan reaksi lebih lanjut.


"Terima kasih tapi...maaf, aku sama sekali tidak berubah pikiran tentangmu, aku masih berharap untuk tidak pernah bertemu denganmu,"


Kalimat terakhir itu seolah menjadi belati yang menusuk tepat di perutku. Rasanya sakit, tapi aku juga jadi ingin tertawa. Aku sudah mengerti, ternyata aku terlalu percaya diri.


"Aku akan pergi sekarang," lanjutku.


Aku bangkit dari sofa tua yang kududuki, diikuti oleh Allen. Suara berderit terdengar dari gesekan lantai dengan kaki sofa yang sudah tua. Suara yang bisa menimbulkan ngilu dan mungkin bisa membuatmu mendapatkan mimpi buruk jika mendengarnya saat tengah malam.


Ku pasang lagi tudung sweaterku sampai menutupi kepala dan sebagian wajah. Memang kedengarannya konyol memakai sweater beserta tudungnya di cuaca yang sepanas ini, tapi apa boleh buat. Aku tidak mau ada yang mengenaliku dan jadi salah paham.


Perlahan, kutinggalkan ruangan itu dalam diam. Langakah demi langkah terasa begitu aneh, seolah aku tidak terbiasa dengan kakiku sendiri. Gejala macam apa ini?


Setelah sampai di luar, aku menatap bangunan tua itu sejenak. Semakin lama dilihat semakin terlihat kusam, bak film hitam putih tanpa warna.


Beberapa detik kemudian, suara deru mesin mobil terdengar dari kejauhan. Semakin lama, suara itu semakin jelas dan akhirnya wujud dari mobil itu pun terlihat. Warnanya hitam mengkilap, dengan dua orang penumpang di dalamnya beserta seorang supir yang mengendarainya dengan cakap.


Mobil itu melintas anggun melewati gerbang panti yang sudah berkarat. Keempat rodanya yang kokoh melindas tanah yang mengelupas di halaman panti.


Aku terus berjalan semakin jauh, melewati jalan kecil yang hanya bisa dikategorikan satu lajur bagi kendaraan. Dari kejauhan, aku masih sempat mencuri pandang. Dua orang penumpangnya beserta sang supir keluar bersamaan, namun setelah itu, aku tidak bisa melihat mereka lagi karena sudah terlalu jauh.


Itulah mereka, orang-orang dari Chinchilla yang merupakan salah satu pusat penelitian dengan julukan tempat dengan tingkat keamanan paling tinggi.


"Hei, Haru. Kau baik-baik saja?"


Allen membuyarkan lamunanku. Dalam setiap langkah yang ku ambil, ada banyak hal yang kembali terpikirkan, rasanya sangat mengganggu.


"Hmm? Aku baik. Kenapa kau bertanya?" jawabku.


"Tunggu, boleh aku tertawa?"


"Tertawa? kenapa? apa ada yang lucu?"


"Boleh ?"


Aku mengangguk, mengiakan pertanyaannya. Ku lepaskan tudung sweater yang menutupi kepalaku, ini sudah cukup jauh, seharusnya sudah tidak apa-apa. Lagi pula terlalu gerah memakainya sekarang.


"Satu lagi, kau jangan marah apa pun yang aku katakan ya, berjanjilah," tambahnya.

__ADS_1


"Iya, aku tidak akan marah. Jadi katakan," pintaku.


"Baiklah Haru, dengar. Tadi itu...lucu sekali,"


Allen mulai tertawa sambil memegangi perutnya. Tunggu, aku masih tidak mengerti. Apa maksudnya? Kenapa dia tertawa? Memangnya apa yang terjadi tadi?


"Saat melihatmu tadi, kau terlihat seperti baru saja ditolak saat mengungkapkan perasaan. Meski aku tau kau menganggapnya seperti kakakmu sendiri, tapi itu lucu sekali, perasaanmu bertepuk sebelah tangan,"


"Kau merasa senang telah mengenalnya, tapi dianya nggak. Apa sekarang Haru kecil ini jadi patah hati? Kenapa diam saja? Itu sangat menghibur, seharusnya aku merekammu tadi," lanjutnya.


Tangannya usil menggetuk-ngatuk kepalaku, tawanya semakin pecah, setiap kata yang diucapkannya terdengar semakin menyebalkan. Sial, dia malah mengejekku. Rasanya ingin ku layangkan kepalan tanganku ini ke mulutnya sampai dia tidak bisa tertawa lagi.


"Tertawa saja sepuasmu, aku mau pulang sendiri. Jangan ikuti aku,"


Ku percepat langkah kakiku, lantas meninggalkannya yang masih sedikit tertawa dengan nada yang menyebalkan. Dia membuatku kesal saja.


"Dasar kakak tak punya akhlak," umpatku dalam hati.


"Haru, tunggu. Yang tadi cuma bercanda, selera humormu buruk sekali. Haru, jangan cepat-cepat begitu,"


Di depan sana, jalanan besar sudah membentang. Suara klakson bersahut-sahutan menggema di mana-mana. Kendaraan berbagai jenis lalu lalang, bergerak tak beraturan.


Aku baru sadar kalau aku harus naik angkot lagi untuk kembali ke penginapan. Baiklah, masalah besar berikutnya siap menunggu. Mungkin angkot di sini sudah menjadi musuh alamiku. Aku berhenti tepat di pinggir jalan, menunggu angkot yang lewat.


"Jangan berjalan cepat-cepat begitu. Bagaimana kalau kau sampai tertabrak? Kakek bisa mengirimku ke akhirat lebih cepat dari yang seharusnya," keluh Allen yang ikut berdiri di sampingku.


"Itu tidak akan mungkin, kakek sangat baik. Apa lagi kau adalah cucu kandungnya, dan aku hanya...,"


"Itu tidak benar, cara kakek memperlakukanmu sama persisi seperti kakek memperlakukanku. Aku juga menganggapmu sebagai adikku, maka biarlah tetap begitu. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak,"


Sebuah angkot dengan nomor yang kami tunggu melambat, lantas berhenti tepat di depan kami.


"Ayo pergi," ajaknya begitu angkot itu berhenti sepenuhnya.


Baru saja satu kakiku naik ke pijakan angkot tersebut, perasaanku mulai tidak enak. Terlihat tidak asing, tapi aku tetap melanjutkan langkahku dan duduk di kursi panjang yang kosong. Dan pada akhirnya, aku sadar kalau ini adalah angkot yang sama yang aku naiki tadi pagi, bahkan supirnya juga sama.


Dengan penumpang mayoritas ibu-ibu dan suhu panas yang menyengat kulit, ini benar-benar menyiksaku. Semuanya jadi paket komplit karena sang supir tadi pagi suka ugal-ugalan memegang kemudinya. Baiklah, aku menyerah.


"Kak, kau tau apa yang aku pikirkan?" bisikku pada Allen yang baru saja duduk di sebelahku.


"Ya, kali ini kita sepemikiran," bisiknya.


Angkot kembali bergerak, melintasi jalan yang ramai dan padat. Dan dengan lihai menyalip sana-sini tanpa memikirkan penumpangnya.

__ADS_1


Baiklah, ini bagian tidak enaknya. Bisakah kita lampaui saja? Aku tidak ingin membahasnya.


__ADS_2