Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 5: Apa fungsi rasa sakit?


__ADS_3

Beberapa hari ini kembali ku isi dengan berbaring dan menatap langit langit kamar. Aku tak bisa melakukan hal lain karena kondisiku ini. Sakit itu sangat tidak menyenangkan, dan aku tak pernah tau apa fungsi dari rasa sakit ini.


Jika aku boleh memohon kepada tuhan, aku ingin segala rasa sakit dihapus saja dari dunia. Sakit hanya menimbulkan penderitaan. Lantas memunculkan kematian dan perpisahan. Ini memang sebuah ironi.


Tak hanya sakit pada fisik. Ada juga yang pernah mengatakan istilah sakit hati. Seperti pada cerita di buku yang pernah kubaca. Seorang tokoh mengalami sakit hati setelah ditinggalkan sahabatnya. Atau seorang gadis yang sakit hati karena diputuskan oleh pacarnya.


Kurang lebih seperti itu. karena sama sama mengandung kata sakit, sepertinya sakit hati juga merupakan hal yang serius. Kata orang, sakit hati itu terkait perasaan.


Jadi, apa definisi sakit itu sebenarnya? Jika aku hanya mengartikannya sebagai kerusakan pada jaringan tubuh, lantas di manakah posisi sakit hati ini?


Hei, beritahu aku. Apa kau pernah merasa sakit hati? Mungkin aku juga pernah mengalaminya. Hanya saja aku tidak sadar dengan apa yang kurasakan. Kau tau, kan? Dulunya aku adalah orang yang sangat bodoh yang bahkan tak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.


Memikirkan arti dari sakit membuat kepalaku semakin pusing. Sudah dua hari kakek berkutat di ruang kerjanya. Aku hanya bertemu dengannya ketika makan dan tidak pernah menyinggung soal obat yang dijanjikannya.


Mungkin aku berharap terlalu banyak, memang sedikit sulit menemukan obat yang cocok dengan gejalaku ini. Terlebih lagi, dia tak pernah tau kebenaran dari sakitku ini dengan tali masa lalu.


Apa aku harus memberitahunya sesuatu? Tapi aku sudah tak ingin mengingatnya lagi. Semua itu sudah ku kubur di bagian terdalam memoriku, aku tak mau manggalinya lagi.


Klek


Pintu kamarku terbuka, kakek masuk dari balik pintu sambil membawa sesuatu yang ku prediksi sebagai obat.


Dan benar saja, dia berhasil. Ada beberapa butir pil di dalam cawan porselen kecil. Aku langsung disuruh menelan obat berbentuk pil itu dengan doronagn dari seteguk air. Pil itu meluncur di tenggorokanku yang kering bersama air minum.


Setelah dua jam, efek obat itu mulai terlihat. Rasa nyeri di sekujur tubuhku hilang dan suhu tubuhku sudah kembali normal. Tapi tak bisa dibilang sembuh seutuhnya. Bisa dibilang ini seperti obat penahan rasa sakit. Tapi syukurlah..., aku bisa berhenti makan bubur sekarang.


Kakek juga tak bisa berkata apa apa melihat keadaanku yang pulih dengan cepat. Sisa hari ini diisinya dengan senyum kebanggaan karena berhasil menyembuhkanku.


"Ini semua berkat kakek, aku bisa sembuh karenamu. Aku berhutang budi." Aku menyusun kalimat yang pantas sebagai tanda terima kasih.


"Apa yang kau katakan? Seolah aku ini orang lain saja." Dia tertawa kecil, lalu mengusap rambutku untuk yang kesekian kalinya.


"Setelah kupikir, ada yang harus kukatakan pada kakek." Aku kembali memulai pembicaraan.


Di tempat itu, hanya ada kami berdua dan suasana lumayan sepi karena sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam.


"Tapi kakek berjanjilah untuk tidak membenciku atau membuangku setelah ini." Aku mengajukan syarat yang bisa membuatku tetap berada di garis aman.

__ADS_1


"Apa kau mencuri roti dari lemari seperti dulu lagi?"


Wajahku memerah, kenapa kakek malah membahas itu? Aku jadi kelihatan seperti orang bodoh.


"Bu..bukan. Pokoknya kakek berjanjilah dulu padaku."


"Iya, aku berjanji. Jadi, sekarang katakanlah."


Aku bingung harus mulai dari mana. Aku juga merasa sedikit tidak nyaman akan mengatakan ini. Tapi... aku sudah terlanjur memulainya. Jadi untuk sekarang, mungkin akan ku katakan sebagian kecilnya saja.


"Aku...sebenarnya, berasal dari sebuah tempat yang bernama chincilla."


"Chincilla? Bukankah itu nama sejenis hewan pengerat?"


"ya, itu benar. Dan chincilla adalah sebuah pusat penelitian. Mereka menamainya chincilla karena ketatnya pengawasan di sana. Sama halnya dengan bulu hewan chincilla yang begitu rapat sehingga tubuh mereka tak bisa ditinggali kutu."


Aku menghela napas panjang untuk memikirkan apa yang harus kukatakan selanjutnya. Kakek terlihat antusias. Aku bisa melihat pupil matanya yang sedikit membesar.


"Dan sebenarnya...aku..."


aku ragu untuk mengatakannya. Tapi karena sudah sejauh ini, mungkin sedikit kebohongan akan kugunakan lagi.


aku menghembuskan napas perlahan, karena merasa sedikit khawatir terhadap reaksi kakek terhadap perkataanku.


"Jadi begitu. Lantas, kenapa mereka membuangmu?" Kakek masih terlihat sedikit kebingungan.


"Aku adalah salah satu objek mereka. Dan mereka membuangku, mungkin karena aku percobaan yang gagal. Lagi pula bukan masalah besar, aku tak pernah suka di sana."


Jantungku berdebar debar mengatakan itu, tiba tiba aku malah teringat beberapa kejadian dari masa laluku ketika aku masih di sana.


"Di sana itu adalah neraka. Setiap hari selalu ada jeritan dan kematian. Yang kudapatkan hanya rasa sakit, dan aku hanya bisa menerimanya. Setiap minggu aku mengalami sakit itu selama satu sampai dua hari, setelah itu sembuh dan sakit lagi."


Aku menundukan kepala, semua kenangan buruk itu berputar putar di kepalaku.


"Kau sudah mengalami hal yang sulit ya. Aku tak masalah dengan masa lalumu. Sekarang kau punya seorang kakek yang siap menjagamu, jadi jangan khawatir."


Dia merangkulku ke dalam pelukan. Ini pertama kalinya aku dipeluk seperti ini. Aku bisa mendengar suara detak jantungnya dari posisi ini. Tapi ini terasa sedikit memalukan.

__ADS_1


"Dan aku ingin mengatakan satu hal lagi." Aku melepaskan pelukannya.


"Dulu ketika masih di sana, mereka memasukan cairan cairan aneh ke tubuhku sekali tiap minggu. Lalu rasa sakitnya akan muncul setelahnya. Saat itu gejalaku mirip seperti tadi. Dan aku... juga tak bisa tumbuh dewasa."


Aku mengakhiri kalimat dengan ragu ragu.


"Kenapa tak bisa tumbuh dewasa? Haru, sekarang berapa usiamu?"


"empat belas tahun. Itu juga adalah hasil dari percobaan mereka. Dan itu malah menghambat pertumbuhanku." kataku singkat.


"Benarkah? ku pikir usiamu lebih muda dari itu. Benar benar tak bisa dipercaya."


Kakek menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sepertinya ia tak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Jadi apa karena mengira aku terlihat lebih muda, makannya dia suka mengusap rambutku?


"Tapi karena mereka sudah berhenti memasukkan cairan aneh itu, jadi kupikir... aku sudah bebas. Maaf tak memberitahumu sebelumnya."


" Tak apa, tidak usah dipikirkan. apa kau mau aku melakukan sesuatu pada orang orang di chincilla itu?"


Itu adalah ide yang bagus, tapi jika melihat kondisi sekarang terasa tak mungkin. Mereka yang di pusat penelitian itu benar benar berbeda. Lagi pula, jika mereka tau keberadaanku, mungkin aku akan diseret kembali ke sana.


"Aku mohon jangan lakukan. Ah..maksudku mereka itu berbahaya. Mereka tak hanya sekedar peneliti, tapi...orang gila."


"Oh, jadi sekarang kau mengkhawatirkanku ya? Haru, kau manis sekali."


Sepertinya aku salah bicara. Tapi biarlah begitu. Dengan ini, hubungan kami jadi lebih dekat sebagai sebuah keluarga.


Setelah itu, kakek memutuskan untuk melanjutkan penelitiannya karena tau aku akan sakit lagi dan aku juga memintanya mencari cara agar aku bisa tumbuh dewasa.


Dan setelah sebulan, dia menemukan sebuah cara mempersingkat masa sakitku dari satu sampai dua hari menjadi satu jam. Lalu disempurnakan lagi menjadi setengah jam dan akhirnya berhasil dipersingkat menjadi lima belas menit.


Metodenya sama seperti yang aku alami di pusat penelitian dulu, hanya saja tujuannya adalah untuk mempersingkat masa sakit dengan mengumpulkan beban pada satu waktu dan mengurangi zat penghambat tumbuh kembang pada darah.


Kakek juga sudah mulai menjabarkan senyawa yang mereka gunakan padaku. Lalu menemukan senyawa yang cocok untuk menjadi penghambatnya.


Maka sejak saat itu, pengobatanku dimulai. Kami menyebutnya sebagai terapi. Meski begitu, ternyata hal ini diluar dugaanku. Lima belas menit dari rasa sakit yang terkumpul untuk sehari ternyata sangat sakit. Hal ini membuatku sampai meronta ronta sehingga kakek harus mengikat tubuhku ke tempat tidur saat melakukan terapi ini.


Kakek sudah mengatakan padaku bahwa dengan metode ini tingkat kematianku jadi meningkat sebesar 15% saat melakukan terapi ini, tapi bagiku itu adalah angka yang kecil.

__ADS_1


Lalu kami terus melakukan metode terapi ini setiap minggunya dan berharap aku bisa berhenti merasakan sakit setiap minggu dan aku bisa tumbuh dewasa kelak.


Tuhan...aku serius, cabutlah semua rasa sakit yang ada di dunia. Aku sudah tidak mau menderita lagi...


__ADS_2