Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 26: Beberapa fakta


__ADS_3

"Jadi, apa kau mau mencoba metode ini?"


Kalimat terakhir itu menggema di telingaku. Seolah itu akan menjadi awal yang baru buatku.


"Metode ini akan seperti apa? Apakah itu sulit?" Tanyaku.


Kakek meraih setumpuk kertas yang ada di atas meja, lalu menyatukannya dengan staples.


Dia membukanya satu dua halaman terdepan dari lembaran kertas itu. Matanya membaca cepat kalimat kalimat di dalamnya. Entah apa yang tertulis di sana.


"Tidak jauh berbeda dari yang biasa kila lakukakan selama sekali seminggu dalam beberapa bulan terakhir ini. Hanya saja, dengan formula yang lebih bagus." Jawab kakek dengan mantap.


"Selama seminggu ini, aku bersama beberapa orang rekanku telah mengembangkan formula ini. Kami mempelajari sampel darahmu lebih lanjut." Terangnya.


"Ah, jangan khawatir tentang identitasmu. Aku tak memberitahu mereka apa pun. Lalu, ada beberapa fakta tentang tubuhmu yang baru aku peroleh." Lanjutnya.


Ketika mendengar kalimat itu, kepalaku langsung dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.


Apakah aku akan senang mendengar fakta itu? Apakah itu hal yang penting? Dan apakah itu adalah hal yang buruk?


"Kau tau kan, kalau kau tidak bisa tumbuh dewasa karena ada zat yang menghambat pertumbuhanmu?" Ucap kakek sambil meraih mug porselen di samping komputernya.


Dia meminum isi mig tersebut satu teguk, lantas meletakannya lagi ke posisi semula.


Aku mengangguk, mengiakan pertanyaan kakek sebelumnya. Dan kakek jugalah yang pertama kali mengatakan hal itu padaku dulu. Tentu saja aku selalu mengingatnya.


Karena itu, tubuhku jadi tidak tumbuh, padahal usiaku sudah empat belas tahun. Tubuhku pendek dan penampilanku terlihat seperti anak berusia dua belas tahun.


Biar aku beritahu satu hal lagi. Sampai sekarang, aku masih memiliki beberapa gigi susu yang belum berganti menjadi gigi dewasa.


Itu sangat menyebalkan, orang orang terus mengataiku imut. Dan aku ini laki laki, tidak semua laki laki senang jika dirinya dianggap seperti itu.


Jika aku seorang gadis, mungkin aku akan senang jika beberapa orang memanggilku imut atau manis. Tapi, hey! Aku laki laki sungguhan.


"Jika diteliti lagi, sepertinya itu bukan zat penghambat pertumbuhan. Bisa dikatakan bahwa itu... adalah sejenis penghambat penuaan berdosis tinggi." Jelas kakek.


Kedua bola mataku membesar. Tak pernah terpikir olehku akan hal seperti itu. Lalu, apa maksudnya dengan penghambat penuaan berdosis tinggi?


Apa orang orang di chincilla yang menjadikanku eksperimen mereka sudah gila? Apa mereka hanya mau membuat sejenis kosmetik anti penuaan dini atau apa?


Padahal aku sudah berpikir tentang hal hal yang lebih serius yang menjadi target operasional mereka.


Yah, anggap saja seperti pengembangan serum kesehatan atau obat untuk meningkatkan kekuatan tubuh.


Apa aku hanya berpikir terlalu jauh kalau diriku ini penting?

__ADS_1


"Hanya itu?" Akhirnya aku buka suara.


Pikiranku sudah terbang ke mana mana. Dan hal yang terpenting yang ingin aku ketahui bukanlah tentang efek efek seperti itu.


"Ada beberapa hal lagi, kau ingat bagaimana kau bisa lari dari chincilla dulu? Dan apa kau ingat bagaimana keadaanmu saat aku menemukanmu dalam lemari?" Kata kakek lagi.


Oh, bagaimana aku bisa lupa tentang kedua hal itu. Lari dari pusat penelitian besar seperti chincilla itu bukan pekerjaan yang mudah.


Ada banyak hal yang harus dipertaruhkan untuk itu. Aku berhasil lari dari sana dan itu bukan dengan kesadaraanku.


Sudah aku katakan sebelumnya, kan? Saat aku lari dari sana, seperti ada yang mengendalikan diriku. Bisa dibilang bahwa diriku dituntun oleh sesuatu yang aku tidak tau apa itu.


"Aku ingat, tapi apa hubungannya dengan saat kakek menemukanku di lemari?" Ucapku bingung.


Ruangan kerja kakek lengang karena hanya ada aku dan kakek di sini. Suara jarum jam yang berdetik terdengar lebih jernih saking sunyinya.


"Sederhana saja, kau bilang kau sudah tinggal di dalam lemari selama seminggu, kan? Dan ada hal lain yang tak kita sadari." Lanjut kakek.


Itu benar, aku bersembunyi dalam lemari sekitar seminggu di sana. Aku tinggal di sana dengan tubuh penuh luka dan rasa sakit yang terus ku tahan selama berhari hari.


"Begini, aku tidak bisa menyadari keberadaanmu saat itu, padahal kau ada di rumahku. Dan aku masih ingat kalau tubuhmu penuh luka yang masih belum sembuh meski kau sudah lama memilikinya. Dan ketika aku mengobatinya, mereka sembuh dengan cepat." Jelas kakek.


Apa itu adalah hal yang bagus? Aku bahkan tak pernah memikirkannya. Apa itu semua juga efeknya?


"Dan apa kau tau apa maksud dari itu semua?" Sekarang kakek yang melontarkan pertanyaan padaku.


Eh, tunggu dulu. Sepertinya ada seseorang selain aku dan kakek di ruangan ini.


Mataku memindai ke segala penjuru ruangan, dan benar saja, aku melihat ada ujung rambut berwarna pirang mencuat dari dekat pintu ruangan.


Sepertinya aku tau siapa orang itu.


"Allen?"


Lelaki berambut pirang itu akhirnya keluar dari balik pintu. Biar aku tebak, dia pasti menguping pembicaraan kami.


Apa dia tau semuanya? Apa ini akan berakhir rumit? Dan apa aku akan baik baik saja?


Dan bukan hal yang sulit untuk mengetahui jika seseorang sedang memperhatiaknmu atau tidak.


Aku pernah membaca sebuah buku. Di dalam buku tersebut, ditulis bahwa manusia bisa merasakan jika ada sesuatu yang memperhatikannya secara sadar atau tidak.


Sepertia ada gelombang yang terpancar dari orang yang memperhatikanmu. Kau pasti pernah tiba tiba merasa seseorang melihatmu atau memperhatikanmu, kan?


Dan terkadang ketika kau menoleh ke orang itu, dia ternyata memang memperhatikanmu. Dan apa kau pernah tiba tiba terbangun tengah malam tanpa suatu alasan yang jelas?

__ADS_1


Itu karena tubuhmu menerima gelombang yang ku maksud, yang artinya ada yang sedang memperhatikanmu. Dan jika kau tidak bisa melihat siapa pun di sana, berarti yang memperhatikanmu itu bukanlah manusia.


Lalu, menurutmu apa yang memperhatikanmu saat itu? Entahlah, aku tak ingin menakut nakutimu. Hanya saja...berhati hatilah.


Dan sebuah tanda tanya bagiku, kenapa kakek tak pernah memberi tahu Allen tentang masalahku?


"Kau menyadariku, ya. Sudah kuduga kau memiliki sebuah rahasia, dan kau menyembunyikannya." Ucapnya sembari melirikku.


"Tak mungkin kakek mengadopsimu dari panti asuhan hanya karena dia kesepian." Allen melirikku.


Kakek yang mengadopsiku menjadi cucunya karena ia kesepian sudah dijadikan alasan tentantang kenapa kakek mengadopsiku. Dan tentang aku yang diambil dari panti juga adalah kebohongan.


Lucu bukan? Bahkan dalam sesama keluarga, berbohong adalah hal yang lumrah. Banyak hal yang terkadang kita sembunyikan.


Dari hal yang kecil sampai hal besar, ada banyak kebohongan yang terus menerus kita lontarkan. Satu dua dari kebohongan itu bukan hal yang penting, dan beberapa lainnya adalah masalah besar.


Tentang baik atau buruknya tujuan berbohong, tidak ada yang bisa membedakannya. Kebohongan adalah kebohongan.


Aku tak tau harus berkata apa untuk menaggapi Allen. Jika sudah seperti ini, apa mungkin kakek akan memberi tahunya?


"Dan kakek, kenapa tak pernah memberitahuku?" Ucapnya bersungut sungut.


Dari pancaran matanya, aku tau kalau dia sedikit marah tentang hal ini. Dia mungkin kesal bahwa kakeknya menyimpan sebuah rahasia darinya.


Dan rahasia itu juga adalah tentangku. Apa mungkin dia akan membenciku lagi setelah ini? Apa mungkin dia berpikir semenjak aku ada di sini, aku sudah mengambil salah satu keluarganya?


Ku pikir, kakek adalah keluarga terdekat Allen. Ayah dan ibunya selalu berada jauh darinya, yah, itulah alasannya.


"Ini bukan sesuatu yang harus kau tau." Kakek menjawab perkataan Allen dengan tenang.


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh tau? Hal yang seperti ini, menurut kakek apa yang orang orang inginkan darinya? Ini hal besar." Allen jelas jelas terlihat tak terima jika dirinya tak diberitahu.


"Kau sudah dengar semuanya?" Aku ikut bicara.


Allen mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang kini terlihat datar, persis seperti pertama kali aku bertemu dengannya.


"Karena aku sudah terlanjur dengar, kenapa tidak katakan semuanya saja?" Tambah Allen.


"Tapi, Allen. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, ada hal lain yang harus aku selesaikan dengan Haru." Kakek berusaha memberi penjelasan.


Dan sepertinya, itu tidak mengurangi keras kepalanya Allen yang masih ingin tau tentang apa saja yang sudah ia lewatkan selama ini.


"Kalau begitu, lanjutkan di depanku. Biarkan aku tau hal ini. Ini menyangkut adikku, aku harus tau." Tegas Allen.


Oh, dan aku nyaris tak percaya pada apa yang baru saja aku dengar. Dia menyebutku adiknya? Apa dia benar benar serius?

__ADS_1


Aku pikir dia akan segera membenciku. Tapi, dia malah bicara begitu, apa dia benar benar menganggapku? Ayolah, bahkan belum genap seminggu aku mengenalnya.


"Baiklah, jika itu yang kau mau." Kakek menghembuskan napas perlahan, akhirnya ia mengalah dengan Allen.


__ADS_2