
Kau tau, aku mulai berpikir tentang konsep yin dan yang. Tau apa yang aku maksud? Mungkin kau pernah beberapa kali melihatnya di film atau buku komik.
Dan apa kau tau apa artinya itu? Baiklah, akan ku jelaskan sedikit, sebenarnya aku juga tidak begitu tau. Setahuku, artinya adalah ada kebaikan dalam kejahatan dan ada kejahatan dalam kebaikan. Dan jika keduanya bersatu, maka akan terbentuk sebuah keseimbangan.
Sebuah konsep yang menarik, bukan? Bahkan paham ini sudah ada sejak dulu sekali. Ini tentang keseimbangan dan sikap, bukankah itu adalah hasil pemikiran yang hebat?
Mudah untuk mengatakannya, tapi nyatanya, aku nyaris tidak menemukan adanya kebaikan dalam kejahatan. Apa sisi bagus dari kejahatan? Yang ada hanya membawa kehancuran, kekacauan dan permusuhan.
Yang ku lihat hanyalah jahat adalah jahat, dan baik adalah baik. Pikiranku mungkin terlalu sempit untuk memahaminya. Benar, usiaku masih empat belas tahun, pemahaman itu mungkin masih terlalu awam bagiku.
***
Masih hening, dan pistol berjenis desert eagle itu masih kokoh di genggaman tanganku. Sepertinya masih tersisa satu atau dua peluru lagi di dalamnya. Sayang kan kalau tidak dipakai.
Mataku memindai keadaan sekitar, orang-orang mengintip dari kejauhan. Beberapa bahkan menatapku jeri. Dan mungkin hampir semua orang di sini berpikir kalau aku adalah iblis yang menembaki mayat yang sudah tak bernyawa. Dan mungkin juga mereka berpikir kalau aku bisa menembaki mereka dari sini kapan saja.
Tapi itu tidak akan terjadi, mereka tak melakukan apa pun. Aku hanya akan mengembalikan peluru ini pada pemiliknya secara langsung. Apa kau tau maksudku ketika aku bilang secara langsung? Ya, akan aku tembakan sisa peluru ini padanya.
Jari telunjukku hendak bergerak halus. Angin bertiup pelan dan dedaunan kering mulai berguguran dari pepohonan tua yang tumbuh tak terurus. Dengan sedikit sentakan di jari, aku bisa menembakan sisa peluru ini kapan saja menembus kulit dan dagingnya.
Tidak ada yang bisa menghentikan seseorang yang sedang memegang senjata, bukankah begitu? Ini terbukti, tak ada yang menghentikanku ketika dua peluru sebelumnya aku lepaskan. Aku maju satu langkah, membidik lebih dekat.
Tapi niat itu langsung batal. Kak Hana langsung bangkit dari posisinya secepat mungkin, dan merebut pistol yang aku pegang begitu dia sudah ada di depanku. Lantas tanpa aba-aba, dilemparkannya benda terkutuk pelubang kulit itu sejauh mungkin. Pistol kecil itu jatuh menghantam tanah yang kering dan gersang, debu berterbangan di sekitarnya ketika ia menyentuh tanah.
Ritme napas kak Hana berubah sedikit cepat. Dan dari caranya menatapku, sudah bisa dipastikan kalau dia sedang marah. Matanya yang masih sedikit berair dan mimik wajahnya menggambarkan itu semua. Itu bukanlah sebuah senyuman hangat yang biasa ia suguhkan.
Kami saling pandang, tatapan mata kami bertemu. Tapi aku yakin dia sedang tidak senang menatapku. Dalam keheningan yang mulai terasa mengganggu itu, akhirnya aku buka mulut duluan, melemparkan sebuah kata dari kedua belah bibir.
"Kenapa?" ucapku datar tanpa nada.
Plakk!!
Baru saja satu kata ku ucapkan, sebuah tamparan kembali mendarat tepat di pipi kiriku. Aku tidak terkejut sama sekali, ini sudah yang kedua kalinya hari ini. Baiklah, apa lagi salahku? Aku hanya bertanya, kan? Aku menyentuh pipiku sendiri yang baru saja ditampar olehnya. Dan jujur, ini memang sedikit sakit.
"Kau masih tanya kenapa?! kau sudah keterlaluan, kau membunuhnya!"
Kak Hana manatapku semakin tajam, seolah matanya bisa menusuk dan mencabik-cabik tubuhku menjadi potongan-potongan kecil. Dia tak pernah terlihat seperti ini sebelumnya, bahkan aku bisa bersumpah kalau dia adalah gadis yang sangat lembut seperti kue bolu.
Dulunya dia seperti seorang malaikat, sampai aku kagum dan tak ingin berpisah darinya. Namun sepertinya aku berharap terlalu banyak. Masa lalu adalah masa lalu dan masa sekarang adalah masa sekarang. Kedua masa itu tidak sama, semuanya berbalik dan jadi dua kutub yang berlawanan.
Waktu bisa mengubah seseorang, bukankah itu sangat menakutkan?
"Aku hanya ingin membantumu. Dia mau membunuhmu. Lagi pula..." jelasku membela diri.
"Aku tidak peduli jika aku mati. Kau tidak mengerti! Dengan yang kau lakukan tadi, semuanya akan benar-benar hancur. Kenapa kau tidak mendengarkanku?" potongnya seketika.
Aku semakin bingung dibuatnya, hembusan angin semakin kuat di antara kami, membuat rambut dan pakaian yang kami kenakan menari-nari. Bahkan mungkin ini sudah semakin dingin, matahari sudah mulai turun.
__ADS_1
Aku balas menatapnya tidak terima. Kenapa dia bicara seolah apa yang aku lakukan itu salah? Oke, baiklah. Mungkin itu memang sedikit berlebihan, tapi lelaki itu pantas mendapatkannya.
"Ya! Aku tidak mengerti, kau selalu menangis dan marah setiap kali aku bertanya. Kau hanya menyuruhku pergi, sudah aku bilang kalau aku ingin bersamamu," bantahku.
"Kau keras kepala. Sejak kau lari dari sana minggu lalu, mereka datang lagi kemari dan mengurangi uang makan panti, banyak yang berhenti sekolah karena kau pergi," ceritanya masih berapi-api.
Mataku membulat masih tidak percaya. Eh, tunggu dulu. Apa hubungannya panti dengan orang-orang itu? Semuanya jadi semakin jelas. Pikiranku terbang ke mana-mana, berusaha membayangkan apa maksud kalimatnya.
"Tapi mereka tidak memperbolehkanku menemuimu. Aku juga bertemu dengan anak lain dari sini. Mereka berbohong, itu semua..."
Gadis di depanku itu menghela napasnya, seolah tidak mau kalah.
"Memang begitulah kenyataannya. Setiap tahun ada yang diambil dari sini. Dan sebagai gantinya mereka akan membiayai kehidupan panti. Bahkan tempat ini adalah milik mereka, tidak ada yang bisa hidup tanpa mereka," jelasnya sambil mengatur napas. Kalimatnya yang tidak terorganisir dan berapi-api membuatnya ngos-ngosan.
"Kau seharusnya berterima kasih dengan cara menuruti mereka. Mereka memberimu makan. Dan kau malah menyia-nyiakannya," tambahnya.
Hahh...
Sekarang aku yang menghela napas meniru gaya bicaranya. Lantas membalas perkataannya. Perdebatan tak berguna ini tak akan ada habisnya.
"Sepertinya kau yang tidak mengerti! Kakak tau, di sana itu adalah neraka, orang yang di bawa ke sana ada banyak dan aku selalu melihat mereka mati hampir setiap hari."
"Kalau begitu pergi saja dari sini dan selamatkan hidupmu itu. Jika benar di sana adalah neraka, maka di sini juga adalah neraka. Semua tempat adalah neraka! Aku membencimu, aku benar-benar membencimu,"
"Tapi..."
"Tapi, aku..."
"Aku membencimu. Aku berharap kalau aku tidak pernah bertemu denganmu sama sekali,"
Deg...
Kalimat terakhir itu terasa seperti sebotol racun yang menghentikan peredaran darah di seluruh saluran nadiku. Kupikir seseorang sedang menancapkan belati tepat di ulu hatiku, namun tidak ada darah atau pun luka di sana. Napasku tercekat, terasa sulit untuk membawa udara masuk ke paru-paru. Setiap simpul sarafku seolah terputus dibuatnya.
Mataku mulai berkaca-kaca. Bukankah itu terlalu kejam untuk diucapkan oleh seorang gadis pada anak laki-laki yang masih berumur empat belas tahun sepertiku? Terlebih lagi dia lebih dewasa sepuluh tahun dariku.
Aku mulai kehilangan akal, emosiku masih tak bisa diproses. Dan dalam sepersekian detik, aku merasakan kehampaan. Apakah ini bisa disebut sebagai patah hati? Hai, ini sensasi yang tak kalah buruk dibanding ketika tubuhku disuntikan zat aneh setiap hatinya. Warna dunia seolah memudar sekarang, hanya menyisakan hitam putih seperti film produksi tahun 90-an.
Ku putar balik tubuhku dan mengambil langkah pertama yang terasa berat. Perlahan-lahan langkah itu ku percepat dan akhirnya aku kembali berlari tanpa menoleh lagi. Aku pergi, aku sudah dibenci olehnya.
Sejak awal, keberadaanku sudah salah. Bahkan dibenci sudah jadi makanan sehari-hariku. Tapi kenapa kali ini rasanya begitu menyakitkan? Apa karena dulunya ia orang yang sangat baik?
Aku pergi, lalu mulai hidup dan tinggal di jalanan sampai aku menemukan sebuah tempat yang bisa menerimaku.
Sudahlah, aku sudah selesai.
Flashback selesai, kembali ke masa sekarang.
__ADS_1
Sedikit cekcok masih berkoar-koar antara kak Hana dan Allen. Yang satu menyuruhku untuk segera pergi dan yang satunya lagi masih mempertahankan keinginanku untuk menemuinya.
Suara mereka bercampur dengan suara anak-anak kecil di panti yang sedang bermain di ruangan sebelah. Meski dibatasi ruangan, suara mereka tetap terdengar kuat sampai kemari.
Udara di sini sedikit pengap, tidak ada kipas angin atau pun AC. Bahkan semua jendela tertutup rapat tanpa celah. Dalam keadaan ini, akhirnya Allen menawarkan sebuah solusi.
"Baiklah, kita buat kesepakatan saja. Jika kau mau memberikan kesempatan, maka kami akan pergi setelahnya. Bagaimana?" usul Allen.
Sepertinya ia menyadari kalau berdebat dengan seorang wanita tidak akan menghasilkan apa pun. Atau mungkin dia merasa tidak diuntungkan karena memikirkan paham sesat yang menyatakan kalau "Perempuan selalu benar."
"Apa untungnya bagiku?" balas kak Hana. Terpampang senyuman licik dari wajahnya, dan entah sejak kapan dia mengubah caranya tersenyum. Aku tidak suka.
Kalimat barusan juga dibalas oleh Allen dengan senyuman yang bentuknya sama persis, terkesan tak kalah licik. Orang dewasa memang menakutkan.
"Nona, jika kau membahas masalah untung-untungan, bagaimana kalau kita bicara tentang kehidupan anak-anak di sini?"
Untuk beberapa saat, lawan bicaranya berusaha mencerna kalimat yang dilontarkannya barusan.
"Apa maksudmu?"
"Sejak awal aku tau kalau ada yang salah dengan tempat ini dan bagaimana kalau aku melaporkannya pada dinas sosial? Mereka bisa menyediakan tempat yang lebih layak untuk anak-anak ini, bukannya ini sangat tidak layak?"
Allen memperlihatkan tatapan menantang dan dengan santainya ia mengangkat dagunya, bertingkah sedikit sombong. Apa yang direncanakannya?
"Sayangnya mereka tidak akan mau pergi, contohnya saja anak yang ada di sampingmu itu. Aku bersusah payah membuatnya pergi dan dia malah kembali lagi," balas kak Hana sembari melirikku sekilas.
Aku menelan ludah, dia membuatku teringat akan kejadian itu.
"Itu tidak benar!" bantahku.
"Kau masih tidak jujur dengan dirimu sendiri, aku selalu menyuruhmu untuk berkata jujur, kan?" jawabnya sambil menyipitkan mata.
"Asal kau tau saja, nona, aku bisa menjamin kalau sekarang dia merasa sangat jijik denganmu juga tempat ini. Oh, dan apa kau tau nona, aku sedikit tau tentang rahasia gelap tempat ini. Jadi jangan kau pikir aku kemari tanpa alibi."
Oke, baiklah. Percakapan ini mulai membosankan. Aku tidak suka menyaksikan perdebatan konyol antara mereka.
"Kau...tau? Apa dia memberi tahumu?"
Kak Hana terlihat sedikit risih, ia merapikan rambutnya yang menyentuh wajah dan menyelipkannya ke belakang telinga agar tidak mengganghu pandangannnya. Atau apa mungkin ia risih dengan perkataan Allen barusan?
"Hmm? Sekarang aku adalah kakaknya, tidak ada yang bisa disembunyikannya dariku. Dan asal kau tau, mungkin memberi kami kesempatan bukanlah pilihan yang buruk," jawab Allen.
Aku memilih diam tidak berkomentar. Orang dewasa itu menakutkan, tapi mereka juga berbelit-belit. Mereka tidak bisa langsung mengatakan apa yang mereka mau. Dan dalam beberapa saat kemudian, kak Hana mengangguk.
"Baiklah, katakan apa yang kau inginkan."
Dia menyetujuinya.
__ADS_1