
Hey, dengarkan aku. Menurutku, belakangan ini waktu berjalan terlalu cepat jika aku bersenang senang. Dan menurutku, waktu terasa sangat lambat jika aku melakukan hal yang tak aku sukai.
Maksudku seperti ini, aku bisa merasakan tiap detik waktu yang aku lewati jika duduk di mobil. Itu menggambarkan seberapa bencinya aku melakukannya.
Dan saat aku makan atau menonton tv, semuanya berlalu tanpa aku sadari. Semuanya terasa cepat, dan ketika aku sadar, semuanya sudah selesai.
Apa seperti ini yang disebut dengan teori relatifitas?
Aku bahkan mulai curiga bahwa ada sesuatu yang sengaja memperlambat atau mempercepat waktu. Atau apa mungkin seseorang yang melakukannya?
Apa kau pernah berpikir seperti itu? Saat aku kecil, aku bahkan pernah berpikir kalau waktu yang kita alami diatur oleh jam dinding yang selalu berdetak.
Dulu, aku selalu berpikir, jika jam dinding itu dipercepat satu jam, maka kita sedang ada di waktu yang ditunjukkan jam itu. Begitu pun sebaliknya. Jika jam dinding itu diperlambat satu jam, maka kita sedang ada di masa sebelumnya.
Jika mengingat hal seperti itu, aku mulai berpikir kalau diriku sangat bodoh. Aku selalu ingin menjalani hal yang aku sukai dalam jangka waktu yang aku mau.
Kenapa kita tak bisa hanya melakukan hal yang kita suka? Kenapa kita juga harus menghadapi hal hal yang tidak kita sukai? Aku tau, pertanyaan itu hanyalah pertanyaan egoisku.
Dan apa kau tau kenapa aku terus memikirkan hal hal seperti itu?
Jujur saja, belakangan ini aku merasa ada banyak hal tak menyenangkan yang akan segera datang. Perasaanku terasa tak enak.
Dan menurutmu apa penyebabnya? Ada banyak hal yang terus mengganggu pikiranku. Pertama, tentang pengobatanku agar aku bisa kembali tumbuh dewasa.
Setelah kakek menjelaskan beberapa hal lainnya tadi, aku jadi memikirkannya terus beberapa jam terakhir ini. Aku tak bisa tidur.
Kata kakek, resiko kematianku bisa meningkat sampai 67 persen jika ini gagal, dan bisa naik sampai 74 persen jika tubuhku menolaknya.
Angka yang lumayan tinggi, kan? Dan kau tau apa yang aku khawatirkan tentang itu? Ya, kematian. Aku takut jika itu gagal. Formula itu bisa menghancurkan tubuhku sendiri jika tubuhku menolaknya.
Aku takut kalau aku akan mati, konsekuensinya terlalu besar. Tapi sayangnya, aku sudah berkeras kepala kalau aku akan melakukannya.
Entah dari mana datangnya kepercayaan diriku saat itu. Dan sekarang, rasa percaya diri itu sudah menciut, lalu hilang entah kemana.
Aku berdiri di depan jendela kamar yang masih terbuka. Ku biarkan hembusan udara malam masuk dari sana. Terasa sedikit dingin, tapi menenangkan.
Aku menyentuh pipiku sendiri dengan telapak tangan. Rasanya dingin, telapak tanganku tak kalah dinginnya dengan angin malam yang bertiup pelan.
Tak ada apa pun yang terlihat di langit, tak ada bulan atau pun bintang. Hanya suara dengungan serangga yang bisa aku dengar, dan nyamuk tentunya.
Klekk...
Aku menoleh begitu sadar seseorang membuka pintu kamar.
"Haru? Kenapa belum tidur? Sudah terlalu larut, tidurlah. Besok kau harus bangun pagi, bersekolah." Allen langsung berceloteh ketika melihatku.
Lelaki itu berjalan masuk, lantas menghampiriku.
"Aku tak bisa tidur." Jawabku singkat.
Kini dia berdiri persis di sampingku, ikut menatap keluar jendela.
"Langitnya gelap sekali ya. Apa kau khawatir tentang yang tadi? Kau tau maksudku, kan? Tentang metode itu." Ucap Allen.
Tangannya terangkat, lalu menyentuh puncak kepalaku. Dia mengelus kepalaku perlahan.
Allen seolah membaca pikiranku, itu benar. Aku memang sedikit khawatir tentang itu.
Belakangan ini, aku mulai berfikir kalau hidupku berharga. Padahal dulunya, aku merasa santai saja jika seandainya aku akan benar benar mati. Aku mulai tak mengerti dengan diriku sendiri.
"Tidak juga." Imbuhku.
"Jika kau tidak mau, tidak usah memaksakan dirimu. Sebenarnya aku juga tidak setuju jika kau melakukannya. Resikonya terlalu besar jika hanya demi pertumbuhanmu." Tukasnya.
"Bagiku tak masalah jika kau terus kecil seperti ini. Kadang jadi dewasa itu tidak terlalu penting, yang terpenting jadilah dirimu sendiri." Tambahnya.
"Terima kasih, tapi aku akan baik baik saja."Jelasku.
"Apa kau takut jika kau mati karena ini? Apa kau tidak akan menyesal melakukannya nanti?" Tanya Allen.
__ADS_1
Itu juga benar, aku memang takut akan kematian. Siapa pula yang tidak takut akan hal itu? Rasanya hidupku baru saja dimulai. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi.
"Ya, aku takut. Tapi, aku akan lebih menyesal jika aku sama sekali tak pernah melakukannya." Timpalku.
"Itu persisi seperti dirimu." Ungkapnya sambil tersenyum.
"Allen, apa aku bisa minta tolong sesuatu?" Tanyaku sambil memperhatikan langit yang gelap.
"Ulangi." Jawabnya.
Aku menhembuskan napas pelan. Allen mulai tidak mau mendengarkanku jika aku tak mau memanggilnya kakak.
Aku masih belum terbiasa, terkadang aku memanggilnya dengan namanya, dan di lain waktu, aku menyebutnya kakak.
"Kakak, apa aku bisa minta tolong sesuatu?" Ulangku dengan penekanan yang kuat pada kata 'kakak'.
"Tentu, katakan saja. Apa pun itu akan aku usahakan." Balasnya.
Inilah sisi lainnya Allen. Dia mulai mau melakukan banyak hal untukku belakangan ini. Bukan hal yang buruk, tapi terkadang dia juga berlebihan.
Terkadang aku juga senang bermanja manja padanya. Bisa dibilang, kalau aku memanfaatkannya. Contohnya, aku bisa minta apa saja, aku bisa minta dia melakukan banyak hal juga.
"Apa kau bisa membuatkan bekal untukku besok?" Tanyaku ragu ragu.
"Kenapa ingin membawa bekal? Apa makanan di sekolahmu tidak enak?" Katanya heran sambil menoleh padaku.
"Bukan begitu, masakan di sana enak. Tapi kurasa, aku mulai bosan saja. Lagi pula yang kau masak tadi sore juga enak. Jadi...apa kau bisa?"
"Baiklah, akan aku buatkan sesuatu yang enak." Sambutnya bersemangat.
"Kalau begitu, pergilah ke tempat tidur sekarang. Sudah terlalu larut." Suruhnya.
Aku melihat jam dinding yang berdetak pelan. Sekarang sudah jam sebelas malam, sudah terlalu larut. Aku segera naik ke tempat tidur, lantas menarik selimut.
"Mau ku temani sampai tertidur? Apa sekalian mau ku bacakan dongeng pengantar tidur?" Ucapnya sambil tertawa kecil.
Aku memelototinya, lalu aku bangkit dari tempat tidurku.
Pintu kamar itu ku tutup segera, lantas aku kembali ke tempat tidurku. Hari baru akan segera menungguku, yang perlu dilakukan hanya tidur untuk sekarang.
Dan masalah yang lainnya bisa menunggu sampai besok.
***
Keesokan Harinya...
Bel tanda jam istirahat baru saja berbunyi beberapa detik yang lalu. Namun para siswa di kelasku sudah riuh seperti sekawanan lebah.
Baiklah, ini jam istirahat. Siapa pula yang tidak senang akan waktu seperti ini? Kau bisa makan, mengobrol atau menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai untuk jam pelajaran berikutnya.
Tanganku gesit membereskan buku dan alat tulis di atas meja, lalu menyimpannya di laci.
"Haru, ke kafetaria bareng yuk." Ajak Arya.
Temanku itu sudah berdiri di samping meja, menungguku untuk pergi bersamanya.
"Maaf, Arya. Hari ini aku membawa bekal dari rumah." Jawabku ragu ragu.
Semalam aku sudah meminta Allen untuk membuatkanku bekal untuk dibawa ke sekolah. Dan ada alasan khusus aku memintanya untuk membuatkanku bekal.
"Tumben sekali."
"Allen sedang bersemangat memasak. Jadi dia membuatkanku bekal, hanya itu saja." Jawabku.
"Kalau begitu aku akan segera kembali. Jangan mulai makan tanpaku." Perintah Arya. Dia segera melesat keluar kelas.
Sekitar lima menit kemudian, Arya kembali lagi ke kelas. Dia membawa makanan dari kantin. Bukan set makanan yang biasa dimakannya, tapi beberapa roti dan sebotol air.
"Ayo kita makan." Ujar Arya sambil menarik kursinya ke mejaku.
__ADS_1
Aku membuka bekal yang ku bawa, dan isinya sedikit melenceng dari yang kubayangkan. Aku benar benar tak mengerti apa yang dipikirkan Allen. Tapi...mungkin ini agak sedikit berlebihan.
Berbagai makanan tersusun dengan segala macam nilai estetika. Ada nasi putih, telur dan sosis yang dipotong berbentuk gurita. Sayuran disusun di sela sela sosis.
"Di mana Yuna?" Tanyaku.
"Di kafetaria bersama Lily." Jawab Arya sambil memakan roti miliknya.
"Kenapa kau tidak makan bersama mereka?" Tanyaku lagi
"Dan kenapa kau tak mau ikut makan bersama mereka?" Timpal Arya.
"I...itu karena aku membawa bekal."
"Atau mungkin karena kau menghindari sesuatu?"
"Aku tak menghindari apa pun."
"Tapi ekspresimu wajahmu tidak bilang begitu."
"Aku hanya..." Aku bingung untuk melanjutkan kalimatku.
Apa mungkin Arya se-peka itu? Aku jadi bingung harus bagaimana. Aku memang menghindari sesuatu. Sebisa mungkin, aku tak ingin keluar kelas.
"Apa karena kejadian di belakang sekolah kemarin?" Arya langsung bicara pada intinya.
Apa pikiranku selalu mudah untuk ditebak? Kenapa orang orang bisa dengan mudah mengetahui apa yang aku pikirkan?
"Hmm...mungkin begitu." Jawabku pelan.
Aku menyuap makanan yang ada di kotak bekalku. Sosis berbentuk gurita itu ku kunyah perlahan. Enak, tapi sayangnya ada perasaan yang sedang mengganjal, rasa enaknya jadi berkurang.
"Bisa beritahu aku apa masalah mereka denganmu? Maksudku Evan dan senior kita, kak Gavin. Kau janji mau membahasnya hari ini." Celetuk Arya.
"Kapan aku bilang begitu?" Jawabku.
"Sudahlah, katakan saja." Desaknya.
"Tapi, aku tidak bisa. Aku..."
"Kenapa? Mereka mengancammu?"
"Tidak, hanya saja..."
"Hanya saja?"
"Aku tak bisa mengatakannya."
"Ahh..kau membingungkan sekali." Jawab Arya frustasi.
"Maaf..." Kataku pelan.
"Kenapa minta maaf?"
"Karena kau terlihat kesal?"
"Aku tidak kesal, kau saja yang menyebalkan."
"Itu artinya kau kesal."
"Jika tak mau memberitahuku sekarang, berjanjilah akan memberitahuku dalam minggu ini. Atau apa mau aku tanyakan langsung pada mereka?"
"Jangan! Baiklah, akan aku pikirkan." Sahutku.
Kenapa Arya ingin tau sekali tentang ini? Aku juga tak bisa membiarkan Arya bertanya pada Evan atau pun Gavin. Semuanya bisa jadi kacau.
Itulah hal lainnya yang mengganggu pikiranku. Itulah hal lain yang membuatku takut sampai terus memikirkannya.
Aku punya beberapa masalah dan ada banyak hal yang aku takutkan. Manusia tak pernah luput dari itu semua.
__ADS_1
Aku ingin mengeluh saja, tapi...Aku ini laki laki, kan? Tidak boleh ada takut di dalam kamusku, tapi jika rasa takut bisa membuatmu jadi lebih baik, maka bukanlah hal yang buruk untuk merasa takut.