
Siang ini cuacanya cukup panas, padahal tadi pagi langitnya mendung. Awan tebal yang menutupi sinar matahari sudah pergi entah ke mana.
Setelah berganti pakaian, aku pergi ke dapur dan mengecek lemari es. Biasanya ada puding yang biasa aku makan sepulang sekolah. Dengan semangat, aku berlari lari kecil dan membuka lemari es itu.
Tapi, pudingnya tidak ada. Aneh, padahal kemarin masih ada beberapa cup puding yang baru dibeli oleh kakek untukku.
Aku menggeledah kulkas dan menyusuri setiap lemari yang ada di dapur. Siapa tau pudingnya diletakkan di tempat lain.
"Apa yang kau cari?"
Allen yang muncul dari balik pintu menatapku heran.
"Pudingku." Kataku singkat, lalu aku terus mencarinya.
"Apa puding coklat yang ada di lemari es?" Katanya lagi.
"Iya, apa kau melihatnya?" Aku langsung berhenti mencari dan menghampirinya.
"Sebenarnya, sudah ku makan semua sih." Katanya sambil nyengir.
"Semuanya?" Aku kembali memastikan.
Allen mengangguk, lalu aku pergi ke kamarku dengan perasaan super kesal. Kenapa tidak? Dia makan pudingku, puding kesukaanku pula.
Menyebalkan...
Kenapa dia memakannya? Puding itu kan untukku. Kakek selalu memberiku puding setelah makan atau untuk cemilan sore. Kenapa malah dia yang makan?
Hah...
Pudingku yang berharga....
Aku akhirnya memutuskan untuk membaca saja di ruang tamu. Aku baru meminjam buku di perpustakaan sekolah dan aku ingin langsung membacanya. Suasana yang tenang ini membuatku nyaman untuk duduk berlama lama.
Setelah membaca dua halaman, Allen datang dan ikut duduk di sebelahku. Dia menyalakan televisi dan bersandar di sandaran sofa.
Aku langsung berdiri meninggalkannya. Keberadaannya membuatku tak bisa konsentrasi. Dan suara televisi itu juga mengganggu.
Setelah itu, aku pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Satu gelas penuh itu habis sekali minum, aku benar benar haus. Allen malah ikut ikutan mengambil air. Kenapa dia seolah mengikutiku?
Aku kembali pergi dan memilih tetap di kamar. Pintu kamar ku kunci dari dalam agar aku bisa tenang membaca buku.
"Hey...Haru, kenapa pintunya dikunci." Dia mengetuk pintu kamarku dari luar.
"Ayo buka! Aku mau mengambil tasku di dalam." Katanya lagi.
Aku melihat area sekitar kamar dan ternyata benar, tasnya ada di kamarku. Tas itu besar dan sepertinya cukup berat. Aku membuka puntu kamarku dan membiarkan dia mengambil tasnya.
"Allen, kalau sudah selesai cepatlah keluar." Ucapku padanya.
"Kau mengusirku? Kau tidak ada imut imutnya. Sudah kubilang panggil aku kakak. Aku lebih tua darimu, kenapa tidak mengerti juga?" Dia menggendong tas besarnya.
"Kau menyebalkan." Kataku sambil menggembungkan pipi.
__ADS_1
Dia akhirnya keluar juga. Aku lalu menutup pintu dan kembali membaca.
Sekitar sepuluh menit kemudian, hujan turun dari langit dengan derasnya. Padahal tadi cuacanya panas sekali. Kenapa tiba tiba hujan? Tapi sudahlah, tidak apa apa.
Cuaca mudah sekali berubah ubah, pagi mendung, siangnya cerah dan saat sore malah hujan lebat. Seperti perasaan manusia saja, selalu berubah ubah tanpa bisa diprediksi.
Awalnya menyebalkan, lalu cuek dan mungkin nantinya malah jadi sangat baik. Seperti itulah hati manusia, mirip seperti cuaca.
Sekarang sudah jam tujuh malam. Mungkin sudah waktunya keluar dan makan malam. Aku rindu masakan kakek. Dia masih belum kembali dari tempat temannya. Kalau tidak salah, kakek akan menginap selama seminggu.
Padahal baru dua hari kakek pergi, aku sudah rindu padanya. Biasanya dia selalu mengusap kepalaku setiap saat, membuatkanku susu dan juga membelikan cemilan. Aku benar benar rindu.
Ruang makan kosong. Belum ada makanan yang tersaji di atas meja. Aku berkeliling rumah mencari Allen. Bukankah seharusnya dia memasak untuk makan malam menggantikan kakek? Dia tak ada di mana pun.
Sepuluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu depan rumah. Apa mungkin itu kakek? Atau Allen? Siapa saja tidak masalah.
Aku membuka pintu, dan benar saja, Allen berdiri di sana sambil membawa sebuah kardus dan beberapa kantong plastik.
Tubuhnya basah karena hujan lebat yang masih belum berhenti sejak sore tadi. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semua penuh dengan tetesan air.
Dia masuk dan meletakkan kardus yang dibawanya ke lantai. Kardus itu dibukanya lebar lebar dengan tangan kosong.
Aku yang hanya berdiri diam memperhatikannya langsung kaget ketika melihat isi kardus itu. Isinya penuh dengan puding coklat, persis seperti yang biasa aku makan.
"Ini semua untukmu, maaf aku makan semua pudingmu tadi siang. Kau menghindariku karena itu, kan?" Ucapnya.
Suaranya sedikit bergetar. Mungkin dia kedinginan, tubuhnya dipenuhi air. Dia benar benar tidak waras, nekat sekali melewati hujan lebat seperti itu. Aku sampai tak bisa berkata kata melihat dirinya.
"Kau bisa makan semuanya. Memang sulit menemukannya di beberapa toko, tapi aku berhasil dapat satu dus penuh untukmu." Katanya sambil memaksakan sebuah senyuman.
"Untuk makan malam, aku sudah membeli sesuatu di restoran cepat saji. Malam ini kita makan ini saja." Katanya lagi.
Dia menyodorkan kantong plastik yang dibawanya tadi padaku. Aku menerimanya.
"Aku akan ganti baju, tolong pindahkan makan malamnya ke piring." Dia berlalu, meninggalkanku yang masih penuh dengan tanda tanya.
Aku memindahkan makanan ke dalam piring. Dia membeli makanan yang terlihat asing bagiku. Bentuknya seperti sosis dan penuh dengan bumbu berwarna merah. Sepertinya pedas.
Aku duduk dan menunggu Allen. Dia datang lima menit kemudian setelah berganti pakaian. Dia menarik salah satu kursi dan duduk di sana.
"Selamat makan..."
Aku mencomot makanan itu dengan garpu dan langsung memasukannya ke dalam mulut. Awalnya tidak apa apa, seelah beberapa saat, rasa dari bumbunya semakin kuat dan mulutku serasa terbakar.
"Pedas..."
Kataku sambil meraih air minum dan langsung minum sebanyak banyaknya. Kenapa pedas sekali? Siapa yang bisa tahan makan makanan seperti ini?
"Kau tidak suka makanan pedas?" Tanya Allen.
Aku menggeleng. Allen ikut memakannya. Dia menelannya seolah rasanya baik baik saja, tapi itu tidak berlaku untukku.
__ADS_1
"Apa namanya? Kenapa pedas sekali?" Kataku sambil menyeka mata. Ya, air mataku sampai keluar saking pedasnya.
"Tteokbokki, belum pernah memakannya ya?" Aku mengangguk. Lidahku masih serasa terbakar. Aku tak bisa memakannya.
"Akan ku masakkan yang lain." Allen bangkit dari kursinya.
"Tidak usah, aku mau makan roti saja." Kataku sembari bangkit dari kursi.
Keesokan paginya...
Aku terbangun dari tidur pulasku setelah mendengar suara cicitan burung kenari dari luar. Suaranya cukup nyaring sampai terdengar ke dalam rumah.
Ku buka jendela kamar agar udara segar dapat masuk. Cahaya matahari pagi menerpaku dengan lembut begitu jendela dibuka. Pagi yang cerah setelah hujan lebat semalam.
Kalau tidak salah, hari ini sekolah diliburkan. Kemarin, aku mengecek kalender dan menemukan bahwa hari ini tanggal merah.
Aku tak perlu pergi ke sekolah dan bisa bersantai seharian di rumah. Buku buku sudah menumpuk untuk ku baca. Aku bisa menghabiskan hariku dengan itu.
Tapi pertama tama, mari mengisi tenaga dulu. Setidaknya aku harus makan sesuatu sebelum menikmati hari ini.
Kakiku melangkah ringan, keluar dari kamar. Sambil berjalan, terbayang olehku akan makan apa aku pagi ini? Apa roti? Atau sereal? Jika kakek di rumah, aku bisa minta buatkan bubur atau kue.
"hatchi...hatchi..."
Langkahku terhenti ketika mendengar sebuah suara. Sepertinya suara bersin seseorang yang berasal dari kamar yang ditempati oleh Allen sekarang.
Aku mengintip dari balik pintu, seseorang sedang berbaring di tempat tidur.
"hatchi...hatchi..."
Itu adalah suara bersinnya Allen. Dia mengusap hidungnya dengan tisu.
"Mau berapa lama berdiri di situ?" Ucapnya sambil mengambil tisu lainnya di samping tempat tidurnya. Jadi, dia sepertinya tau kalau aku sedang mengintip.
Aku membuka pintu kamarnya dengan sedikit lebih lebar sehingga aku bisa masuk. Dengan sedikit ragu, aku menghampirinya yang sedang terbaring di sana.
"Kau sakit?" Ucapku.
"Seperti yang kau lihat, aku hanya sedikit pilek. Dan...demam." Katanya sambil menyentuh dahinya sendiri.
Bisa kulihat bahwa wajahnya terlihat merah dengan bibir yang sedikit pucat. Bahkan napasnya terdengar sedikit berat. Suranya juga terdengar lebih serak dari biasanya.
Matanya terlihat agak merah dan dia hanya bisa berbaring tidak berdaya. Aku jadi sedikit kasihan, hanya sedikit karena dia sudah memberiku satu dus penuh puding coklat semalam.
Dan mungkin, dia sakit karena itu. Dia pulang dengan keadaan basah kuyup, aku jadi merasa tidak enak.
Tapi, kurasa dia pantas mendapatkannya. Dia pernah mendorongku dan mengunciku di lemari. Jadi, akan aku anggap ini sebagai penebusan dosa untuknya.
"Akan aku ambilkan kain basah untuk mengompres panasmu." Kataku sambil berlari lari kecil dan keluar dari ruangan itu.
"Mau makan seusatu?" Kataku setelah memberinya kain kompres.
"Tidak, aku tidak lapar. Kau makan saja duluan." Balasnya.
__ADS_1
Aku keluar dan meninggalkannya sendirian. Aku tak perlu mengkhawatirkannya, kan? Lagi pula itu salahnya karena berjalan di bawah hujan.
Ah, lupakan. Yang terpenting sekarang adalah sarapan dulu.