
Pernahkan terpikir olehmu sepenting apa keberadaanmu di dunia ini?
Jangankan dunia, cukup bagi orang di sekelilingmu saja. Apa kau begitu berharga bagi mereka sehingga pantas untuk dicintai? Atau apakah mungkin kau sangat tak berguna sehingga semua orang memasang tatapan jijik saat melihatmu?
Seberapa penting dan berhargakah dirimu? Atau seberapa bergantungkah orang orang padamu?
Terkadang seseorang berpikir untuk mencintai dan terkadang mereka juga merasakan cinta. Sebagian lainnya hanya dapat menerima luka, meski tak pernah tau apa salah mereka.
Cara pandang juga mempengaruhi seperti apa dirimu di mata mereka. Apakah kau seseorang yang pantas dicintai? Atau seseorang yang pantas mati.
***
Semuanya gelap, lalu beransur terang ketika aku membuka mata. Bahkan terlalu terang sampai mataku silau dibuatnya. Mataku berkedip kedip pelan, menyaring kelebihan cahaya yang masuk. Lantas pupil mataku mengecil sehingga silaunya berkurang.
Aku kembali bisa merasakan tubuhku sendiri. Rasanya panas dan sakit di berbagai bagian. Entah itu tangan, kaki atau punggung. Sepertinya gejala sakitku kumat lagi.
Aku adalah salah satu hasil ekperimen seseorang. Berbagai hal buruk telah kulalui sampai ke titik ini. Meski berhasil kabur, gejalanya masih terbawa, tak bisa ditinggalkan di sana.
Aku mulai menyadari situasi saat ini. Aku sedang berada di sebuah ruangan bercat putih, terbaring di sebuah tempat tidur ukuran kecil. Sepertinya ini masih di lingkungan sekolah. Mungkin ini adalah ruang kesehatan.
Seseorang duduk di sebelahku, asyik memainkan ponsel di tangannya. Ia sangat asyik sampai tidak sadar kalau aku sudah bangun. Matanya sangat fokus pada layarnya dan jarinya bergerak mulus mengetik sesuatu.
Aku segera duduk untuk melihat siapa yang ada di sebelahku, pandanganku masih sedikit buram. Maka barulah orang itu sadar kalau aku sudah bangun dan sedang menatapnya.
"Eh, kau sudah bangun? Membuatku khawatir saja."
Itu adalah Arya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menoleh padaku lagi.
"Apa apaan tadi itu?! Kau tiba tiba ambruk setelah mendahuluiku mencuri tempat pertama. Kau membuatku terlihat tidak berusaha sama sekali! Dan kupikir kau tersinggung dengan ucapanku tadi pagi sehingga segitunya kau berusaha mendahuluiku. Kau membuatku serba salah. kau..."
Kata katanya terputus. Dia kelihatan kehabisan napas karena berbicara dengan nada cepat. Apa dia marah? Dia menatapku dengan lebih intens. Matanya masih memandangku dengan awas, lalu perlahan kembali terlihat melunak dan lebih bersahabat. Aku hanya diam karena kaget mendengar ucapannya.
"Maaf..."
"Aku hanya khawatir padamu..., aku takut kau marah padaku karena pembicaraan kita sebelumnya."
Dia menurunkan pandangannya. Terlihat jelas bahwa dia khawatir dan merasa serba salah. Padahal aku sama sekali tak mempermasalahkannya.
"Tidak apa apa." Aku menggeser posisi dudukku agar sedikit lebih dekat dengannya. Wajahnya terlihat semakin jelas. Aku bahkan bisa mencium bau keringat yang keluar dari tubuhnya.
"Aku senang kau mengkhawatirkanku. Terima kasih, dan maaf sudah membuatmu khawatir." Aku berusaha membesarkan hatinya.
"Tapi aku tidak terima kau mendapat posisi pertama itu. Kau benar benar gila. Saat beberapa meter terakhir kau berubah drastis."
Dia tertawa, dirinya yang lama akhirnya kembali. Tangannya langsung menyambar kepalaku, mengusapnya perlahan. Aku juga tertawa. Tiba tiba rasa sakit di tubuhku kembali mencuat cuat. Rasanya nyeri dan panas. Aku tiba tiba linglung seolah melayang. Seperti bangunan tanpa pondasi, aku oleng dan ambruk.
"Ah, apa kau masih sakit? Apa mau pulang sekarang? Aku akan menelpon keluargamu."
Arya buru buru membantuku berbaring kembali. Dia menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. Dingin..., berbeda denganku yang terasa begitu panas.
"Arya, bisa tolong ambilkan tasku di kelas?"
__ADS_1
"Tentu saja, tunggu sebentar."
Dia melesat secepat kilat meninggalkanku, lalu kembali lagi dengan membawakan tasku. Aku berusaha membukannya dan mencari sesuatu. Aku mengeluarkan sebuah botol kecil dan membukanya. Beberapa pil obat keluar dari dalam. Langsung saja ku minum dua butir di antaranya tanpa air.
Arya hanya terdiam melihatku sedikit sulit menelan pil obat itu. Itu adalah obat yang dibuatkan kakek untukku sebelumnya. Dia menyuruhku membawanya jika seandainya hal seperti ini terjadi.
"Jadi..., kau punya semacam penyakit? Maaf, aku tidak tau dan malah membuatmu berkompetisi seperti itu." Dia memasang wajah menyesal.
"Tidak, ini hanya semacam vitamin kok. Tak usah khawatir, tadi aku memang sedikit kurang vit, hanya itu saja."
Aku berusaha mengelak. Tak mungkin aku mengatakan bahwa itu gejala rutin karena ada semacam zat atau serum dalam tubuhku.
"Arya, kembalilah ke kelas. Aku sudah tidak apa apa."
"Apa kau mau pulang sekarang?"
Aku berpikir sejenak. Kalau tidak salah kakek pergi ke tempat temannya. Aku tidak mau mengganggunya, jadi aku akan menunggunya menjemputku jam dua siang seperti biasa.
"Aku akan pulang jam dua. Kakekku sedang pergi ke suatu tempat. Aku sudah tidak apa apa, lagi pula aku yakin ada seorang guru kesehatan di sana."
Aku menunjuk ke arah tembok. Aku yakin ada seseorang di balik ruangan itu. Ada suara napas pelan dan suara langkah kaki yang bergesekan dengan lantai marmer.
"Begitu, ya. Kau bahkan bisa menyadarinya. Tapi sayangnya aku tidak mau pergi." Arya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa?"
"Karena aku mau bersamamu di sini." Dia tertawa.
"Aku mau bolos saja, aku lupa mengerjakan pr." Dia menyeringai. Itu hal yang curang.
"Haru bodoh! Kau sakit, nanti tambah parah." Dia langsung mencegatku.
"Tapi aku harus mengumpulkan pr ku."
Arya menepuk jidatnya. "Besok saja, kita bisa menyerahkannya bersama. Aku mohon..."
Dia menatapku penuh harap, aku akhirnya setuju. Dialah teman pertamaku, Arya. Seorang laki laki yang bahkan lebih tua sekitar dua tahun dariku. Dia tampan, cerdik dan bersahabat. Aku lupa, dia juga cukup tinggi.
Dialah Arya, seseorang yang mau mendekatiku dan berteman denganku. Seseorang yang mungkin penting. Dialah Arya, seseorang yang berharga untukku.
***
Sekitar jam dua siang, kakek menjemputku. Arya mengantarku sampai ke gerbang sekolah. Kondisiku sudah membaik, sudah bisa berjalan dengan benar.
"Kakek..." Aku menyapanya dengan suara yang lemah. Bersusah payah aku berjalan menuju ke arahnya. Dia juga segera mengahmpiriku, lalu langsung mendekapku perlahan. Tangannya langsung mengecek suhu tubuhku.
"Haru, ada apa denganmu? Apa kau sakit? Apa ini karena..." Kakek langsung menyambutku dengan pertanyaan, tapi dia langsung berhenti ketika menyadari aku bersama seseorang.
"Halo, selamt siang. Saya Arya, temannya Haru." Arya menyapa terlebih dahulu. Senyumnya mengembang sehingga pesonanya menyebar kemana mana. Sialnya, angin juga ikut ikutan berhembus sehingga rambutnya bergoyang goyang, seperti di film. Singkat kata, Pesonanya meningkat.
"Ah, selamat siang. Terima kasih sudah mengantar Haru." Kakek ikut tersenyum.
__ADS_1
"Apa kau temannya Haru yang mentraktirnya makan siang kemarin?" Arya langsung mengangguk perlahan. Senyumnya masih kokoh di sana.
"Terima kasih sudah berbaik hati mentraktirnya. Dia ceroboh sekali sampai lupa membawa uang saku." Arya terlihat menahan tawa. Aku tak memberi tahunya soal itu. Ini akan jadi bahan olok olokannya dalam waktu dekat.
"Ti...tidak masalah. Anda Arias Miguel kan? Saya adalah penggemar anda. Penelitian anda luar biasa."
"Begitukah? Aku merasa tersanjung. Sekali lagi terima kasih karena sudah menjaga Haru selama di sekolah. Untuk selanjutnya juga tolong jaga dia, ya. Aku percayakan cucuku padamu."
Kakek tersenyum lebih lebar. Arya malah sedikit tertawa. Kenapa kesannya jadi aneh? Aku malah terlihat seperti anak kecil yang tak bisa apa apa. Atau mungkin terkesan seperti seorang ayah yang mempercayakan anak perempuannya pada seorang lelaki. Ini tidak benar.
"Kalau begitu kami pergi dulu. Arya, rumahmu di mana? Biar ku antar." Kakek menawarkan tumpangan.
"Ah, tidak perlu. Rumahku hanya dua ratus meter ke depan sana. Lagi pula aku ada urusan lain." Arya menolak dengan sopan.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa."
Mobil kami melesat di jalanan. Aku lebih banyak diam karena masih lemas. Syukurlah hari ini jalanan tidak macet. Tuhan masih sayang padaku. Dia sedikit meringankan penderitaanku.
"Dia baik sekali ya." Kakek memulai percakapan.
"Siapa?" Aku refleks bertanya.
"Tentu saja Arya. Dia juga lumayan tinggi." Kakek memutar kemudi.
Kenapa semua orang suka membahas tinggi? Aku jadi semakin benci dengan orang orang di Chincilla, tempat aku dikurung dan dijadikan eksperimen dulu. Karena mereka pertumbuhanku terhambat. Karena mereka aku tetap pendek dan terlihat seperti anak kecil. Kenapa mereka membiarkan ini terjadi padaku?
"Haru, kenapa gejalamu muncul lebih cepat? Seharusnya masih sekitar dua hari lagi." Kakek menekan rem. Mobil yang kami naiki berhenti sejenak karena melewati lampu merah. Beberapa orang menyebrangi jalan lewat zebra cross.
"Aku juga tidak tau, tadi aku hanya lari. Tiba tiba saja pusing setelah itu." Aku mengusap wajah. Rasanya masih agak panas, tapi jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Hanya karena lari? Haru, kau tidak sedang berbohong kan?" Lampu merah berganti dengan hijau, mobil kembali berjalan. Kakek menekan gas sehingga mobil maju lebih cepat.
"Ti..tidak. Hanya saja beberapa saat sebelum itu, tubuhku jadi terasa sangat ringan dan cepat. Kekuatanku berlipat ganda sehingga aku jadi yang pertama samapi di finish."
"Kau benar benar melakukannya?" Kakek tertawa. Apa aku terlihat sangat tidak menjanjikan? Aku hanya bisa memasang wajah cemberut.
"Hanya bercanda. Kakek percaya padamu. Lagi pula kau bahkan bisa lari dari chincilla kan? Aku tak akan heran seperti apa pun dirimu." Kakek tersenyum. Dia selalu berhasil mengendalikanku.
"Lagi pula, kau sangat penting bagiku. Kau lebih dari hanya sekedar cucu adopsi. Kau jauh lebih dari itu. Haru, bagiku kau sangat berharga."
"Berharga? Kenapa?"
"Kenapa, ya? Itu...rahasia." Kakek kembali tertawa, begitu juga aku. Aku senang dia berkata seperti itu. Dia membuatku merasa berharga.
"Kalau begitu, kakek juga berharga bagiku."
"Kenapa?" Kakek lalu bertanya.
"Itu...rahasia." Aku tertawa karena berhasil membalasnya. Dia juga tertawa. Mobil terus membelah jalanan kota. Angin sepoi sepoi terus bertiup membelai mata, membuat kantuk menjadi jadi. Aku mulai mengantuk dan terlelap dalam posisi duduk.
***
__ADS_1
Aku adalah orang yang berharga. Seseorang yang pantas mendapat cinta. Dan aku juga punya seseorang yang berharga. Pada dasarnya, semua orang itu berharga. Sebuah nyawa juga berharga.
Cara pandang kitalah yang kadang melupakan harganya. Jangan terlalu berkecil hati, aku tau kalau kau juga berharga. Kau juga pantas mendapat cinta. Orang yang tak berharga hanyalah seseorang yang menciptakan penderitaan bagi orang lain. Maka, buatlah dirimu berharga. Jangan sampai kau menjadi orang yang tak pantas dihargai.