Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 35: Panti asuhan


__ADS_3

Berdiri di depan bangunan panti asuhan ini seperti sebuah nostalgia. Bentuk luarnya tak banyak berubah, nyaris sama persis. Hanya saja catnya sudah pudar dan mengelupas, terlihat mulai tak terurus.


Bangunan besar itu dikelilingi oleh pagar besi setinggi satu setengah meter, permukaannya terlihat berkarat karena dimakan usia. Sementara itu, pintu gerbangnya masih tertutup rapat, disegel oleh


gembok.


Dari luar sini, suara tawa anak-anak kecil terdengar, ditimpali beberapa teriakan anak-anak lain yang merengek atau bertengkar. Suatu hal yang normal untuk panti asuhan.


"Apa kita harus masuk?"


Allen membuyarkan lamunanku. Sudah hampir lima menit kami hanya diam sambil melihat-lihat bangunan tua itu. Tak ada satu pun orang dewasa yang mungkin bisa membukakan gerbang besi itu untuk kami.


Dari belakang, suara langkah kaki yang sedikit berat terdengar. Seseorang sepertinya menghampiri kami. Aku menutupi kepala dengan tudung sweater karena suatu alasan.


"Selamat pagi, apa kalian ingin berkunjung?"


Seorang wanita paruh baya menyapa kami. Ada banyak kantong belanjaan yang dibawanya, diikuti seorang wanita lainnya yang sama-sama membawa beban.


"Ah, ya. Selamat pagi. Maaf mengganggu, ada seseorang yang kami cari."


Allen yang menjawab sapaan wanita itu. Dia selalu bisa diandalkan jika masalah bersosialisasi dengan orang baru. Sementara aku hanya diam dan menunduk.


Aku mengenal wanita yang menyapa barusan, sangat tidak asing. Tapi aku tidak tau siapa yang satunya lagi. Mungkin orang baru. Dan mereka tidak boleh sampai mengenaliku.


"Tidak masalah, silakan masuk..."


Wanita yang berjalan paling depan itu menurunkan kantong belanjaan di salah satu tangannya ke bawah. Lantas tangannya yang sedang kosong mengaruk isi saku dan mengeluarkan sebuah kunci. Gerbang yang hanya setinggi satu setengah meter itu dibukanya.


Kami masuk, berjalan mengikuti kedua wanita itu dari belakang.


Begitu pintu dibuka, suara anak-anak terdengar semakin ramai. Beberapa diantara mereka berlarian di dalam ruangan luas dengan banyak mainan berserakan di lantai, dan ada lebih banyak lagi yang sedang bermain dengan mainan mereka.


"Maaf, tempat ini berantakan. Kami sedikit kewalahan dengan mereka," ucap salah satu wanita itu sambil menunjuk ke segerombolan anak-anak yang tertawa lepas, asyik bermain.


"Hahaha..., namanya juga anak-anak," timpal Allen berusaha terlihat senatural mungkin, saat dia berkata seperti itu, dia benar-benar terlihat seperti orang dewasa.


"Silakan duduk dan melihat-lihat dulu, saya akan menaruh belanjaan. Sebentar lagi saya akan kembali," ucap wanita itu.


Kedua wanita paruh baya itu pergi meninggalkan kami di tengah kerumunan anak-anak kecil yang sedang bermain.


"Hei, Haru. Lepaskan tudung sweatermu, apa tidak gerah?" tegur Allen.


Dia menarik ujung tudung sweaterku, tapi aku menahan tangannya. Jangan sampai ini dilepas sekarang.


"Tidak, aku tidak mau. Jangan sampai mereka melihatku," balasku

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku tidak mau orang yang aku cari tau siapa aku dan malah tidak mau bertemu denganku."


"Kau rumit sekali. Apa kau mengenal wanita tadi?"


"Ya, tentu, tapi yang satunya lagi aku tidak tau."


"Jadi yang mana orang yang kau cari?" tanya Allen langsung pada intinya.


Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Anak-anak kecil itu tidak mempedulikan kami dan masih asyik bermain. Sementara beberapa yang sudah remaja atau mungkin seusiaku sedang menonton televisi di sisi lain ruangan, dan ada juga yang sedang sibuk dengan buku dan tulisan mereka.


Yang sudah lebih dewasa terlihat hilir mudik mengerjakan pekerjaan rumah, mengangkat setumpuk besar pakaian dan ada juga yang merapikan barang yang berserakan. Hal yang bagus untuk berbagi tugas karena seingatku, panti ini hanya punya tujuh orang dewasa yang menangani sekitar lebih dari enam puluh anak tanpa orang tua dari berbagai usia.


Di sepanjang penglihatanku, masih tak aku temukan orang yang aku cari, mungkin dia sedang pergi atau ada di tempat lain.


"Tidak ada di sini," ucapku.


"Seperti apa dia?" tanya Allen.


"Kenapa kau ingin tau?"


"Bagaimana kita menemukannya jika kau tidak memberithuku seperti apa orangnya?" keluh Allen.


Klek...


Pandangan matanya yang teduh, gurat senyumnya yang halus dan cara berjalannya yang khas. Mataku tak bisa berhenti memandanginya.


Ya, dialah yang aku cari. Gadis itu, orang yang pernah menyelamatkan hidupku, orang yang pernah begitu dekat denganku di sini dulunya.


Perasaanku langsung berkecambuk, ini bukan tentang aku yang menyukainya. Tidak, ini bukan hal yang seperti itu. Hanya saja dia sangat berharga buatku, dia seperti peri penjagaku.


Ingin rasanya aku berlari ke arahnya dan memeluknya erat, aku rindu belaian tangannya yang hangat dan suaranya yang lembut, tapi aku tidak bisa. Dia tidak boleh tau kalau aku di sini untuk sekarang, dan sepertinya dia juga tidak mengenaliku. Jika dia samapai mengenaliku di sini, pasti akan langsung heboh. Aku tidak bisa bicara dengannya di sini.


"Oh, kalian tamunya? Silakan ikuti aku, kita duduk di ruang tamu saja, di sini terlalu ramai."


Hatiku langsung bergetar saat mendengar suaranya, seperti sebuah melodi yang mengalun di gendang telinga. Sudah lama sekali aku tak mendengar suaranya. Dan fakta bahwa dia terlihat sehat dan baik-baik saja membuatku senang tak terkira.


Dia sudah seperti seorang kakak bagiku, atau mungkin juga seperti seorang ibu meski dia masih sangat muda. Dulunya dia selalu mengurusku, menemaniku, dan juga mengajariku banyak hal.


Seolah baru kemarin, berbagai memori tentangnya menghambur keluar dari kepalaku. Tapi aku tak bisa langsung menyapanya dan mengatakan kalau aku merindukannya. Semuanya baik-baik saja dulu, tapi masa-masa itu sudah berakhir.


Gadis itu mengajak kami ke ruang tamu panti asuhan dan mempersilakan duduk. Ruang tamu ini tidak terlalu besar dengan sofa dan meja kayu kecil di tengah-tengahnya. Tidak ada banyak barang, hanya ada foto-foto lama yang menghiasi dinding.


Sofa yang aku duduki terasa sedikit keras, sangat berbeda dengan sofa di rumah yang masih sangat empuk dan enak dipakai untuk malas-malasan. Tapi itu hal yang normal, biasanya panti asuhan lebih mengutamakan pangan anak-anak penghuninya dari pada perabot seperti ini. Lagi pula aku juga tau betul kalau dana panti ini sangat terbatas.

__ADS_1


Tak banyak yang berubah dari yang aku ingat karena aku memang pernah beberapa kali masuk ke ruangan ini. Semakin lama di sini, aku merasa bahwa inilah rumahku yang sebenarnya, sebuah panti asuhan yang penuh dengan kenangan. Rasanya aku ingin berteriak "Aku pulang!".


"Maaf sebelumnya, hanya ini yang kami punya. Silakan diminum."


Gadis itu mempersilakan kami untuk minum teh yang disuguhkannya. Air teh yang ada di dalam cangkir itu terlihat masih panas, uap air naik dari permukaan airnya. Allen meminumnya, dan aku tidak menyentuhnya sama sekali. Jika aku membuka tudung sweater ini dan dia melihat wajahku maka semuanya selesai.


"Mm... nona, sebenarnya kami mencari seseorang."


Allen memulai percakapan, tapi sebenarnya dia tak perlu melakukannya. Orang yang aku cari sudh duduk di hadapannya. Aku ingin segera memberitahunya, tapi bagaimana?


"Begitukah? Bibi Eni juga bilang begitu tadi, dia wanita yang tadi membawa kalian masuk, dan yang satunya lagi bibi Yen. Aku harap mereka segera kemari dan menemani kalian duduk," ucap gadis itu.


"Oh, sebelumnya, perkenalkan. Namaku Hana, dua puluh empat tahun. Aku sudah tinggal di sini sejak umurku sepuluh tahun," jelasnya.


"Oh, dan kau? Sepertinya kau mahasiswa jika melihat tampangmu. Apa kau datang untuk wawancara atau semacam tugas?" tambahnya.


"Ah, ya. Aku mahasiswa. Panggil aku Allen saja. Dan ini bukan tentang wawancara atau tugas. Ada seseorang yang ingin ditemui oleh anak ini."


Allen menyenggol bahuku, memberi kode agar aku bicara. Tapi apa yang harus aku perbuat? Waktunya tidak tepat, karena memang dialah yang aku cari.


"Kak Hana!" seruku dengan suara sedikit keras.


Mulutku sudah tak tahan untuk bicara dan memanggil namanya. Kata-kata itu melompat begitu saja dari mulutku tanpa aku perintahkan. Selesai sudah, aku memang gegabah, seharusnya aku pakai metode pendekatan dulu.


Apa jadinya jika langsung seperti ini.


"Ini...aku," lanjutku dengan suara bergetar.


Ku lepaskan tudung sweater yang menutupi kepala dan sebagian wajahku. Akhirnya dia tau kalau aku sedang ada di sini, duduk di depannya.


"Eh? Jadi dia yang kau cari?" tanya Allen.


Aku mengangguk, balas menatap Allen sekilas. Kak Hana memandangiku seolah tak percaya. Matanya membesar, seolah benar-benar terkejut melihatku ada di sini. Dan perlahan, ekspresi terkejut itu memudar dan wajahnya kembali seperti semula. Lantas semakin lama malah terlihat semakin datar, wajah ramahnya menghilang.


"Aku..."


"Kenapa kau kembali lagi kemari? Bukannya sudah aku katakan kalau aku tidak ingin melihatmu lagi?" selanya sebelum aku sempat melanjutkan kalimatku.


Suasananya jadi sangat canggung. Dia memang membenciku. Harusnya aku sudah tau sejak awal, tapi kenapa? Kenapa harus seperti ini?


"Kau tidak ingat apa yang sudah kau lakukan? Apa kata yang lain jika melihatmu di sini?" lanjutnya.


Aku semakin menunduk, merasa serba salah. Bukan ini yang aku harapkan.


"Pergilah! Aku akan membiarkanmu pergi dengan tenang kali ini. Ini yang terakhir kalinya, kau sudah tak diterima lagi di sini."

__ADS_1


Hah...selesai sudah.


__ADS_2