
Matahari sudah naik dan berada di titik tertingginya. Sekarang tengah hari, sekitar jam dua belas siang.
Aku menguap untuk yang kesekian kalinya, lalu kembali menoleh ke jam dinding. Mataku terasa berat, ingin sekali aku pergi tidur sekarang juga. Tapi tidak bisa, ada hal lain yang harus dilakukan sebentar lagi.
Aku menunggu kakek kembali, dia sedang menjemput formula untuk pengobatanku ke rumah temannya, tempat di mana ia mengerjakan formula itu beberapa hari yang lalu.
Kau tau, aku benar benar sudah tak sabar untuk jadi lebih tinggi, lalu tumbuh dewasa. Pertumbuhanku sudah tertunda cukup lama. Aku ingin segera jadi dewasa.
"Mau makan dulu? Aku sudah selesai memasak."
Allen muncul dari arah dapur, tangannya masih memegang spatula penggorengan.
Dia sudah ada di dapur sejak satu jam yang lalu, berbekalkan pisau dan penggorengan, dia bisa memasak apa saja. Dan jujur, apa yang dibuatnya selalu enak.
Seharusnya dia mengambil jurusan tata boga saja. Dia bisa jadi idola dan mendirikan restoran atau kafe berkelas dibanding mengikuti jejak kakek atau pun ayahnya yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Aku sampai gemas ingin menyuruhnya ikut kompetisi memasak di televisi yang sering aku tonton. Atau untuk versi kerennya, kenapa dia tidak ikut shokugeki saja sekalian? Dia bisa membuat semua orang jatuh cinta dengan masakannya.
Oh, dia bahkan tak membiarkanku ikut membantunya di dapur. Aku jadi curiga jika seandainya dia memasukan sesuatu yang aneh ke masakannya. Tapi mana mungkin, kan?
"Allen, kau tak pernah memasak ikan. Jika ku ingat ingat, kau hanya memasak ayam atau daging." Itulah komentarku ketika melihat meja yang sudah terisi dengan beberapa piring makanan.
"Itu...sedikit sulit." Jawab Allen sambil nyengir.
"Kenapa?" Jawabku sambil mengisi piring dengan nasi.
"Kau bisa memasak apa saja, kan?" Tambahku.
Uap dari nasi mengepul saat sebagian nasi itu kupindahkan ke atas piring, masih panas. Tapi sayangnya aku tak lagi bisa menahan diri untuk makan. Allen duduk di kursi kosong di depanku.
"Ikan itu...jika kau menggorengnya...minyaknya akan menciprat ke mana mana. Kau tau, aku sedikit khawatir terkena cipratannya." Jawabnya kikuk.
"Laki laki sepertimu takut terkena cipratan minyak? Tak bisa dipercaya, kau payah." Ucapku sambil sedikit menahan tawa.
Aku senang bisa meledeknya, karena biasanya dia selalu meledekku pendek, kecil atau sebutan menyebalkan lainnya. Aku menemukan kelemahannya, takut terkena cipratan minyak. Lucu sekali, kan?
"Ahh, bukan begitu. Kalau kau memang ingin makan ikan, akan aku memasakannya nanti malam." Tukasnya.
"Tidak perlu, buat saja seperti yang kau suka. Apa pun yang kau masak akan aku makan." Balasku sambil menyuap makanan ke mulut.
Beberapa saat kemudian pun masih lengang. Tenang, tak ada keramaian atau suara kendaraan. Yah, karena rumah ini berada di kompleks yang cukup jauh dari jalan raya, bahkan untuk mencapai halte terdekat saja, aku harus berjalan kaki sekitar sepuluh menit.
Mataku melirik jam dinding yang berdetak pelan detik demi detiknya. Sudah jam satu lewat lima menit. Kenapa kakek masih belum kembali? Apa ada sesuatu yang terjadi?
Baru saja aku memikirkannya, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah.
Allen sudah duluan beranjak dari posisi duduknya, lantas membuka pintu. Dan benar saja, kakek sudah kembali dengan menumpang taksi.
"Apa aku terlalu lama? Tadi ada sedikit masalah." Jelas kakek.
"Masalah?"
__ADS_1
"Ya, obat yang sudah disiapkan untuk melakukan metode itu hilang, tapi sudah ketemu lagi. Mau mulai sekarang?" Tawar kakek.
"Ya, aku siap." Jawabku dengan percaya diri.
Kakek mengambil sesuatu dari dalam tas yang dibawanya, lantas mengeluarkan sebuah botol kaca berukuran sedang. Seperti botol paracetamol, tapi berwarna bening, isinya terlihat dari luar.
Isi botol itu tak lebih dari cairan berwarna biru, seperti petamax yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Tunggu dulu, itu bukan pertamax, kan?
"Minumlah." Ujar kakek.
Eh? Aku harus meminumnya? Ku pikir cairan yang mirip pertamax itu akan dimasukkan ke tubuhku melalui selang infuse seperti yang biasa aku lakukan sekali seminggu.
"Sekarang? Apa tidak apa apa? Ku pikir..." Ucapku ragu ragu.
"Kau khawatir kalau kau akan diikat di tempat tidur karena terus terusan mengamuk setiap kali cairan itu dialirkan ke tubuhmu?" Tanya kakek sambil tersenyum tipis.
Biasanya memang begitu, saat tubuhku dipasangi banyak selang di beberapa titik, kaki dan tanganku akan diikat ke sisi tempat tidur.
Biasanya, aku akan terus bergerak gerak, meronta dan berteriak sampai aku terjatuh dari tempat tidur saking sakitnya. Tak hanya sakit, tubuhku biasanya jadi sangat panas, seperti sedang demam.
Ditambah nyeri dan seperti ada ratusan jarum yang menusuk tiap simpul nadiku. Setiap saluran darahku rasanya mau putus.
"Tidak perlu, rasa sakitnya tidak instan seperti biasanya. Butuh waktu sekitar lima belas menit sampai tubuhmu menyerapnya. Dan untuk metode ini, rasa sakitnya memang lebih sakit seperti yang aku katakan sebelumnya. Tapi karena ini lebih sakit, kau bahkan mungkin tak bisa mengamuk atau meronta saking sakitnya." Jelas kakek panjang lebar.
Aku menelan ludah, merasa sedikit khawatir. Jika sangat sakit sampai aku tak bisa mengamuk atau meronta, apa itu berarti memang benar benar sakit?
Nyaliku ciut duluan. Apa tidak usah saja ya? Jika saat seperti biasanya aku serasa hampir mati, apa dengan melakukan ini aku akan mati sungguhan? Oh, dan bagaimana jika tubuhku menolaknya? Hidupku bisa tamat.
"Akan aku minum." Tuturku.
Maka, tutup botol kaca itu ku putar perlahan sampai terbuka. Mulut botol itu ku dekatkan ke mulutku untuk segera ku minum.
Aku menahan napas, ada sedikit kecemasan yang aku rasakan. Tapi sayangnya, ini bukan waktu yang tepat untuk mundur. Mulut botol itu sudah menyentuh bibirku.
Perlahan, cairan biru mirip pertamax itu kutuangkan ke mulut, masuk melalui kerongkongan dan akan segera bermuara ke lambung.
Glek...
"Uhuk...ah, aku tersedak." Ucapku panik saat sebagian cairan biru itu menyembur dari mulutku.
"Kau baik baik saja?" Allen segera bertanya.
Aku menyeka mulut dengan lengan baju. Aku tak sengaja menyemburkannya karena baunya yang sedikit aneh, lalu ada sedikit rasa panas di kerongkonganku saat cairan itu melewatinya.
"Uhuk...uhuk..uhuk.."
Batukku semakin menjadi jadi, padahal baru setengah dari isi botol itu berhasil ku minum.
Lupakan tentang isi botol itu, aku sudah memuntahkan sebagian dari yang aku minum bersama makanan yang aku makan tadi siang. Perutku jadi terasa tidak nyaman.
"Haru, kau baik baik saja?"
__ADS_1
"A...aku...uhuk...baik baik saja."
Setengah botol dari cairan yang tersisa itu harus aku habiskan. Mungkin dengan begitu, masalah terselesaikan.
"Haru?! Sudahlah, jangan diminum lagi. Sepertinya ada yang salah." Sergap Allen.
Dia segera merebut botol yang kaca yang kupegang. Kakiku terasa gemetar, sampai aku hampir kehilangan keseimbanganku untuk berdiri. Rasanya aku lemas sekali.
"Kakek, katakan sesuatu. Apa memang efeknya akan seperti ini?" Tanya Allen cemas.
Kakek terlihat tidak kalah cemasnya, atau mungkin dia terlihat terkejut? Kedua matanya masih menatapku bingung.
Lantai sudah terlanjur kotor terkena isi lambungku yang tak sengaja keluar. Uh... saat melihatnya, aku jadi merasa mual, padahal itu milikku sendiri.
"Haru, apa yang kau rasakan? Katakanlah." Kakek menyentuh pundakku sambil mengusapnya perlahan karena aku masih merasa mual.
"Aku merasa...lemah. Semuanya jadi sakit. Apa obatnya sedang bekerja?" Jawabku.
"Sepertinya bukan, aku akan meneliti sisa yang di botol ini. Allen, bawalah Haru ke kamarnya, lalu tolong bersihkan ini, ya." Perintah kakek.
"Eh, kok aku?" Protes Allen.
Mungkin dia merasa jijik melihat lantainya. Jangankan dia, aku saja yang melakukannya juga merasa jijik.
"Apa kita Harus meminta Haru untuk membersihkannya?" Tawar kakek. Aku tau maksud pertanyaan kakek, tidak mungkin kalau aku yang akan melakukannya, kan?
Allen balas menatapku yang sudah terduduk lemas di sofa. Aku mengangkat bahu.
"Aku mengerti." Ucapnya.
Kakek segera pergi ke ruang kerjanya.
"Sini, biar ku gendong." Allen jongkok di depanku, lalu mengaitakn telapak tangannya ke ketiakku. Lantas, dengan mudah mengangkat tubuhku dan membawanya ke pelukannya.
Aku pasrah saja, rasanya sedikit memalukan saat dia melakukannya, mengingat kalau aku laki laki yang sudah berusia empat belas tahun. Tapi sayangnya, aku merasa terlalu lemah untuk berjalan sekarang. Entah kenapa tenagaku tiba tiba hilang.
"Oh, tubuhmu juga sedikit lebih panas." Celetuk Allen sambil meraba pipi dan dahiku.
Dia menurunkanku tepat di tempat tidur, lalu bergegas membuka lemari pakaian. Tangannya gesit menyambar sehelai baju, lantas menyuruhku segera mengganti bajuku yang terkena luapan lambungku yang menyembur tak terkendali.
"Istirahatlah, panggil aku jika butuh sesuatu. Aku akan membersihkan laintainya dulu." Ucap Allen.
Aku menarik selimut, membungkus diriku sendiri dalam kehangatan. Meski Allen bilang kalau tubuhku terasa agak panas, tapi aku merasa agak kedinginan, terlebih ujung kakiku.
Mataku jadi berat sekali, badanku mulai terasa sakit saat digerakkan. Apa mungkin yang aku minum barusan adalah racun? Bukannya obat?
Aku jadi semakin takut. Jikalau benar, apa aku akan berakhir dengan seperti ini?
Apa kakek memberiku obat yang salah? Apa sebenarnya sejak awal aku sudah ditipu olehnya? Apa sejak awal, ini sudah direncanakan oleh kakek?
Aduh...kenapa aku malah berpikiran buruk tentangnya? Dia hanya ingin membantuku. Lalu kenapa aku jadi begini? Apa ini memang obatnya atau ini sesuatu yang lain?
__ADS_1
Aku benar benar tidak mengerti. Apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya? Apa aku akan baik baik saja?