Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 1: Kebohongan


__ADS_3

  Membahas masalah kepercayaan, pengkhianatan terbesara apa yang pernah membuatmu merasa sangat kesal?


  Dibohongi temanmu?


 


  Diselingkuhi oleh pacarmu?


  Atau keberadaanmu yang telah dilupakan oleh sahabatmu sendiri?


  Kau tau, manusia itu adalah makhluk paling licik yang bahkan bisa kau sandingkan dengan sesosok iblis. Dan entah apa jadinya jika manusia bekerja sama dengan iblis. Sebuah kombinasi yang sangat sempurna bukan?


  Hari baru telah datang kembali, aku yakin sekarang sudah pagi karena kudengar brownis, burung kenari kecil di teras rumah sudah bercicit ria. Jangan tertawa, bukan aku yang memberinya nama. Padahal kupikir aku baru saja tertidur beberapa menit yang lalu setelah menjalani terapi mingguanku yang sangat tidak menyenangkan. Bahkan semalam kupikir... aku akan mati.


  Dengan sedikit malas, aku bangun dari tempat tidur dan duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawa. Aku mengucek mata dan menggaruk kepala yang tidak gatal.


  Aku menoleh ke cermin besar yang berada tepat di samping tempat tidur, lalu menatap diriku sendiri yang terlihat nyaris tidak kunjung tumbuh tinggi dan dewasa. Ini serius, apa menurutmu adalah suatu hal yang normal bagi seorang anak laki laki berumur empat belas tahun yang memiliki tinggi 152 cm dan berat badan sekitar 33 kg? Dan kata kakek pipiku masih sering memerah seperti anak perempuan berusia delapan tahun.


Huft..menyebalkan


  Ayo lupakan masalah tinggi badan, kupikir setidaknya rambutku masih tetap tumbuh dan semakin panjang. Mungkin sudah sekitar 2 bulan lebih aku tidak memotongnya. Sekarang rambutku sudah menyentuh pundak. Bisa bisa ia menutupi mataku dan membuatku semakin terlihat aneh.


   Klek


  Pintu kamar terbuka. Seorang pria tua masuk ke kamarku dan menghampiri diriku yang masih setengah sadar. Nyawaku belum terkumpul seluruhnya dan aku masih sangat mengantuk.


  "Haru, kau sudah bangun ya. Ayo sarapan bersama," kata pria tua yang kupanggil kakek itu. Ia mengusap rambutku perlahan. Aku bisa merasakan kasih sayang yang mengalir dari tangannya yang besar.

__ADS_1


"Mungkin seharusnya kita keluar sebentar setelah sarapan dan memotong rambutmu, bukankah ini terlihat sudah terlalu panjang? dan mungkin kita bisa bersenag senang sebentar setelah itu."


Sepertinya ia memikirkan hal yang sama seputar rambutku dan aku sama sekali tidak keberatan dengan bagian bersenang senangnya. Aku hanya diam sambil menganggukkan kepala perlahan.


"Dan semalam, aku juga sudah memikirkan sesuatu untukmu. Kupikir aku akan mendaftarkanmu ke sekolah untuk anak seusiamu," katanya lagi masih dalam posisi mengusap usap rambutku.


Mataku membesar mendengarnya. Aku tak pernah terpikir untuk bersekolah karena sejak awal aku memang tak pernah merasakan seperti apa rasanya bersekolah.


"Apa kau mau, Haru? Aku tidak akan memaksamu, tapi mungkin itu bukanlah hal yang buruk. Ku lihat kau suka membaca buku buku lamaku. Jadi mungkin kau akan senang jika bisa bersekolah. Lagi pula aku yakin kau sering merasa bosan karena hanya di rumah terus."


Tak kusangka kakek akan memikirkan diriku sejauh ini. Hal inilah yang dulunya tak pernah aku dapatkan.


"Terima kasih, kek. Aku senang kakek memikirkanku."


Aku segera menjawab dengat semangat. Aku tak akan menolak kesempatan bagus ini. Mungkin aku akan benar benar bisa belajar dari seorang guru dan bertemu orang banyak.


Dengan segera, aku turun dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi. Cuci muka dan gosok gigi, setelah itu lansung sarapan. Itu sudah menjadi jadwal tetapku setiap pagi kurang lebih selama dua bulan ini.


  Tanpa perlu diperintah, kakiku segera berjalan menuju dapur. Aku lapar, dan semoga saja makanan enak sudah menungguku di sana.


  Kakek tersenyum melihatku yang datang dari seberang ruangan dan dia melakukan rutinitasnya terhadapku, yaitu mengusap rambutku. Entah kenapa ia suka melakukannya, padahal usiaku sudah 14 tahun dan aku ini laki laki.


  "Seharusnya tadi kau tidak perlu bangun sepagi ini. Yah, kau tau,  mengingat dirimu yang semalam membuatku sedikit takut," katanya sambil meletakkan mangkok porselen di hadapanku.


  "Ya, aku tidak apa apa, sungguh," kataku singkat sambil memperlihatkan senyum tipis di bibir. Tidak, itu bohong. Aku tidak baik baik saja. Aku tidak akan senang jika disuruh mengingat itu semua. Tapi begitulah caraku. Aku tidak mungkin bilang aku merasa sangat sakit dan menangis seperti bayi yang kehilangan permen. Akan terkesan sangat memalukan nanti.


  Lagi pula, aku bukan siapa siapa kan? Aku bukan cucu kandungnya dan dia juga bukan kakek kandungku. Bisa dibilang aku ini hanya seekor anak kucing yang ditemukannya sedang bersembunyi di dalam lemarinya atau mungkin aku adalah pencuri nakal yang diam diam masuk kerumahnya dan tanpa malu mengambil beberapa makanannya untuk bertahan hidup.

__ADS_1


  Dan sekarang, aku berusaha menjadi anak manis dan penurut yang bisa membuatnya senang. Meskipun dengan sedikit kebohongan. Bukan masalah, kan? Aku yakin bahkan kau juga sering melakukannya.


Ruang makan yang kami tempati tidak terlalu besar. Ada sebuah meja makan persegi dengan empat buah kursi yang semuanya menghadap ke meja.


Warna dominan ruangan ini adalah putih. Hal ini tercemin dari cat dinding dan beberapa perabotnya yang juga berwarna putih. Sepertinya kakek sangat suka dengan warna ini.


Oh, dan jangan lupa, ada sebuah jam dinding tua dari kayu dengan bandul yang bergerak ke kanan dan kiri. Suara detaknya terdengar cukup jelas dari meja makan.


  Aku menatap mangkok porselen yang telah terisi makanan. Bubur gandum dan pisang ditemani segelas susu. Kupikir ini adalah hari yang baik. Tanpa menunggu lama, aku segera menghabiskan sarapanku.


Suapan demi suapan ini terasa begitu lezat. Entah karena aku yang kelaparan atau memang bubur gandum buatan kakek yang terasa begitu enak. Aku bisa makan sebanyak yang aku mau karena kakek selalu membuat banyak makanan untukku.


Tapi jangan salah, sebanyak apa pun yang aku makan tidak akan membuat tubuhku gemuk. Kau tau kenapa? Karena aku punya sebuah rahasia.


Sebuah rahasia yang menyebabkan tubuhku tidak akan bertambah besar atau pun menjadi lebih tinggi. Ini seperti sebuah rahmat bagiku karena tak perlu khawatir tubuhku akan jadi gemuk dan obesitas.


Tapi hal ini juga adalah sebuah kutukan dimana aku tak bisa bertambah tinggi dan tumbuh besar. Berapa pun usiaku nanti, penampilanku tidak akan berubah. Mungkin aku akan tetap menjadi Haru kecil untuk selamanya.


Dan apa kau ingin tau kenapa bisa begitu? Apa kau ingin aku memberi tahumu? Hmm... baiklah, kupikir untuk sekarang akan ku jadikan sebuah rahasia saja.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2