Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 3: Kesempatan kedua


__ADS_3

klek...


Pintu lemarinya terbuka perlahan, mungkin ini adalah akhir dari hidupku. pria itu sepertinya akan menemukanku.


Aku tak mungkin bisa lari lagi, aku tak mungkin bisa sembunyi lagi. Aku... terjebak.


Anggota tubuhku sudah tak bisa diajak bekerja sama. Mungkin masa kontraknya sudah habis karena aku tak merawat diriku dengan benar. Rasanya seperti mati rasa. Entah kalimat apa yang cocok menggambarkan perasaanku saat ini.


Apa mungkin ini adalah akhirnya? Mati karena sakit dan ketidakmampuan untuk bertahan? Bukankah aku terkesan seperti orang yang menyedihkan?


Sepertinya aku sudah mulai berhalusinasi. Ada cahaya yang memantul di mataku. Mungkinkah itu cahaya surga? Tapi apakah orang sepertiku ini pantas kesana?


Sungguh, aku tak peduli lagi. Apa pun yang akan terjadi nanti, kupasrahkan saja. Takdir apa pun yang akan menyambutku setelah ini, aku benar benar sudah tak peduli lagi.


Bahkan jika benar hari ini adalah hari terakhirku, maka aku akan merasa sangat senang karena tak berakhir di tempat yang ku benci. Setidaknya aku sudah berjuang, setidaknya aku bisa mati dengan tenang.


Maka di saat itu juga, aku sudah tak memiliki alasan untuk lari. Sepertinya sudah cukup aku berjuang. Dan saat itu juga, aku kembali kehilangan kesadaranku. Apa pun yang akan terjadi setelah ini, aku tak akan peduli.


***


Hei, jika kau gagal memperjuangkan apa yang telah kau yakini, maka apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan berhenti di sana dan mencari hal lain yang mungkin bisa kau perjuangkan? Atau mungkin kau masih akan memperjuangkan keyakinan dan harapanmu itu?


Bukankah pilihan pertama terlihat lebih menggiurkan bagimu? Kau bisa melupakan masa lalu dan memulai segalanya dari awal. Dan untuk pilihan kedua, kau masih harus memikul beratnya masa lalu. Namun jika kau sanggup, kenapa tidak? Itu adalah pilihan yang bagus.


Manusia adalah makhluk yang rumit. Mereka tak pernah merasa puas hanya dengan satu pilihan. Mereka selalu menginginkan pilihan lain. Semakin banyak pilihan maka akan semakin menguntungkan. Mereka bisa memilih apa yang mereka anggap terbaik. Kupikir itu adalah hal yang lumrah bagi tiap manusia


Dan dalam menghadapi pilihan kedua untuk memperjuangkan keyakinanmu itu, kau membutuhkan sebuah keajaiban yang bisa membuatmu bangkit kembali. Keajaiban ini bisa kau sebut sebagai kesempatan kedua.


Kesempatan kedua inilah yang akan memberimu keyakinan dan kekuatan. Jalan yang diterangi cahaya harapan pun akan terbentang di depan matamu. Dan kesempatan kedua inilah yang akan mengubah jalan hidupku.


***


Aku membuka kedua kelopak mata. Untuk sesaat, silaunya cahaya membuatku kembali merasa pusing, seperti gejala migrain. Tapi aku yakin betul aku tak pernah menderita penyakit itu.


Tapi bukan itu masalahnya. Aku masih... hidup? Dan tengah berbaring di ruangan yang nyaman. Tepat di atas kasur empuk bersama selimut yang hangat.


Sepertinya keajaiban dari kesempatan kedua telah menyelamatkanku. Kenapa begini? Padahal kupikir aku sudah siap untuk pergi, dan aku juga sudah muak hidup di dunia yang kejam ini. Aku sudah tak butuh kesempatan kedua. Yang kuinginkan hanya beristirahat dengan tenang.


Atau apakah yang sebelumnya itu hanya mimpi? Tapi hal itu tidak mungkin. Aku yakin masih berada di rumah pria tua itu. Dan semua bayangan kematian itu adalah hal yang nyata.


Sekilas, aku melihat diriku sendiri. Bekas luka karena lecet dan memar di tubuhku sudah mulai hilang. Rasa sakit di kepalaku nyaris tak kurasakan lagi. Pakaian yang kupakai juga sudah berubah bentuk. Bukan pakaian yang compang camping itu, namun pakaian yang bersih dan lebih layak.


Ada apa ini? Apakah pria tua itu menyelamatkanku? Mungkin sekarang aku harus pergi. Diriku ini sudah menyusahkan orang lain. Aku harus berterima kasih padanya karena telah merawatku dan sekaligus minta maaf karen sudah menyelundup ke dalam rumahnya.


"Kau sudah bangun, ya. Apa kau merasa baik baik saja?" Pria tua itu menghampiriku begitu ia masuk ke dalam ruangan. "Apa ada yang masih terasa sakit? Apa kau butuh sesuatu?" Pria tua itu kembali bertanya.

__ADS_1


Apa ini? Dia adalah orang baik. "Aku baik baik saja, tuan. Terima kasih sudah mau merawatku. Maaf aku sudah menyelundup ke rumahmu dan mencuri roti di lemarimu. Aku mohon maafkan aku," kataku sambil menundukan kepala.


"Aku harap kau tidak membawaku ke pengadilan atau memukuliku setelah ini," kataku lagi sambil memelas.


"Jangan khawatirkan hal itu, aku senang kau ada di sini dan aku tak akan memukulimu," jawabnya sambil tersenyum ramah.


Dia menyodorkan segelas air, lantas mengisyaratkan untuk meminumnya. Sensasi dingin mengalir di kerongkonganku, rasanya lega sekali.


"Tapi, kenapa kau mau menolongku, tuan?" aku akhirnya kembali bersuara.


"Jadi kau tak mau ku tolong?" Jawabnya. Aku hanya terdiam. Pertanyaan klise seperti itu membuatku tak bisa berkata apa apa. Tapi aku masih menginginkan jawaban lain.


"Tak ada alasan khusus untuk melakukannya." Dia meraih gelas yang kupegang dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur.


"Tapi ketika aku melihat wajahmu, aku teringat akan cucuku. Sekarang dia sudah dewasa, tapi aku masih ingat bahwa dia juga memiliki wajah yang manis sepertimu saat dia masih kecil," katanya lagi.


Aku mengangkat kepala menatap matanya. Apa hanya karena itu? Aku tak bisa memikirkan hal lain dibuatnya.


"Jadi kau tak senang sudah ku tolong?"


uhh... pertanyaan itu lagi


"Bukan begitu, hanya saja... kupikir aku tak pantas mendapatkannya."


"Jadi begitu, sepertinya kau sudah melalui banyak hal yang sulit."


"Jadi, siapa namamu?" Dia melirikku sekilas. Angin sepoi sepoi kembali bertiup perlahan, membuat ujung bajunya menari nari.


Aku terdiam sesaat. Akhirnya aku berkata. "Namaku... Haru."


Dia menatapku dengan seksama. Yah, mungkin karena nama ini kedengaran agak aneh, tapi ini adalah nama yang kusuka. Nama yang telah diberikan oleh seseorang yang berharga.


"Dan apa kau baru kabur dari rumah atau sejenisnya?"


" Yah... mungkin bisa dibilang begitu. Aku sudah tidak punya tempat untuk pulang. Dan setelah ini... mungkin aku akan pergi menelusuri jalanan yang ada."


Aku menjawabnya setelah memikirkan untaian kata yang tepat. Untuk sekarang, itu benar. Tak ada tempatku untuk kembali.


"Bagaimana jika kau tetap tinggal disini?"


"Apa?"


"Yah, maksudku kau bisa tinggal disini bersamaku. Lagi pula kau sudah tak punya tempat untuk pulang, kan?"


Tak bisa kupercaya. Apa pria tua ini adalah jawaban atas takdirku? Apa boleh aku menerima tawaran ini? Tapi apa aku bisa mempercayainya?

__ADS_1


"Aku tak akan memaksamu. Kupikir itu adalah pilihan yang bagus untukmu sekarang. Aku bisa membuat hidupmu lebih baik. Tapi bukan berarti hidupmu yang sekarang buruk. kau mengerti maksudku kan?"


"Apa kau yakin dengan itu, tuan? Aku bisa saja membuatmu kesulitan nanti."


Akhirnya aku memilih kalimat yang lebih bersifat netral. Sebenarnya jantungku berdetak lebih cepat saking tak percaya atas apa yang baru kudengar.


"Ya, tentu saja. Tapi aku ingin mengajukan sebuah syarat sebagai gantinya."


"Sebuah syarat?"


"Jadilah permata kecilku "


Aku terdiam. Kaliamtnya sedikit membingungkan. Apa itu berarti permata yang sebenarnya atau sebuah perumapamaan? Aku tak begitu suka permainan kata, ia selalu berhasil membuatku terjebak.


"Maksudku, jadilah cucuku. Aku bisa memberikan apa pun yang kau butuhkan. Jika aku memintamu menjadi anak angkatku, sepertinya tidak cocok karena aku sudah terlalu tua."


Dia sedikit tertawa mendengar kalimatnya sendiri. Aku sudah salah sangka menilai dirinya. Penampilan fisiknya telah membutakanku dari melihat sifat aslinya. bodohnya aku sudah berfikir hal yang tidak tidak.


Dia berjalan semakin dekat ke arahku, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Sekarang aku bisa melihat dirinya dengan lebih jelas.


Semakin kuperhatikan, semakin terbukti bahwa aku salah. Ia tak semengerikan yang kubayangkan. Wajahnya bersahabat dan bersih dari kumis. Matanya sedikit sayu, sepertinya itu adalah efek dari begadang.


"Kupikir akan sangat menyenangkan jika kau mau tinggal di sini. Aku...akan memberikan kasih sayang padamu sepenuhnya, seperti cucuku sendiri."


Dia pandai berkata kata manis. Setiap kalimatnya menancap tepat di dada. Aku tak bisa memikirkan apa pun dibuatnya.


Jantungku berdetak begitu cepat. Kalau terus seperti ini aku jadi ingin menangis saking tak percaya akan kalimatnya. Seperti sebuah mimpi mustahil yang akan menjadi nyata.


Suasananya hening. Hanya ada suara desir angin yang merambat dari jendela. Sepertinya ia menunggu jawabanku.


"Baiklah... kakek."


Aku menjawabnya sambil berusaha menunjukan senyum terbaikku. Pipiku sudah terasa panas karena tak percaya atas apa yang aku lakukan.


Pria tua itu menatapku seakan ada hal luar biasa yang telah terjadi. Wajahku semakin memerah karena malu menyebutnya kakek. Aku lantas menundukan kepala.


Ini sangat canggung, sampai sampai aku tak berani mengangkat kepalaku lagi.


"Terima kasih, itu sangat berarti untukku."


Pria tua yang akhirnya kupanggil kakek itu angkat bicara. Dia mengusap kepalaku perlahan. Ada kehangatan yang mengalir di tangannya. Aku jadi semakin malu.


"Mulai sekarang, bersikap manislah seperti ini dan panggil aku seperti itu, ya."


Aku menganggukan kepala perlahan, masih dalam posisi menunduk karena malu. Mungkin akan ada sebuah kebahagiaan nantinya.

__ADS_1


Maka pada hari itu, aku menerima kesempatan kedua yang awalnya kutolak. Keberuntungan telah berpihak padaku dan takdir pun bisa kubuat bertekuk lutut.


__ADS_2