
Kau tau, kadang segalanya tak bisa berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan. Dalam permainan yang disebut dengan kehidupan ini, ada begitu banyak quest yang harus dikerjakan. Dan tak semuanya akan bisa sesuai rencana yang kau rancang.
Ketika hal yang kau harapkan dan kau impikan mulai terkikis oleh waktu. Dan pada akhirnya, ketika kau semakin dekat dengan tujuanmu itu, badai besar akan datang dan menghadang jalanmu. Dan pada akhirnya, tak ada apa pun yang bisa kau dapat. Hanya ujung jalan setapak yang kosong dan rata, tanpa apa pun di sana.
Binggo! Begitulah akhir dari ceritaku. Saat aku pikir semuanya akan baik-baik saja, dan saat aku mulai menaruh harapan, dan ternyata aku salah. Aku terlalu naif, berfikir kalau diriku sudah dimaafkan dan pantas untuk dinantikan.
"Sekarang, pergilah! Aku tak akan buka mulut soal kau yang datang kemari hari ini," tegas Hana, gadis dua puluh empat tahun itu memalingkan wajahnya.
Dadaku terasa sesak saat mendengar penolakannya, padahal aku belum mengatakan apa-apa. Dia sangat berbeda, dia bukan orang yang sama dengan yang dulu ku ingat. Dia sudah berubah jauh sekali.
"Hei nona, dia sudah datang jauh-jauh kemari hanya untuk menemuimu, dan kau malah mengusirnya? Setidaknya dengarkan dia dulu," protes Allen. Dia terlihat tak terima dengan perlakuan Hana.
"Orang luar tidak usah ikut campur! Orang sepertimu yang selalu hidup senang tak akan mengerti apa pun!"
Hana balas kalimat itu dengan sedikit amarah, aku hanya bisa menundukan kepala lebih dalam.
Harusnya aku tau kalau dia masih membenciku, harusnya aku tau kalau aku tidak akan bisa dimaafkan. Harusnya aku tau...tapi kenapa aku masih berfikir kalau aku akan dimengerti olehnya?
"Maaf..." ujarku pelan.
"M-maafkan aku, tapi setidaknya dengarkan aku dulu..." pintaku dengan suara sedikit tertahan di tenggorokan.
Rasanya berat untuk bicara jika dia tak mau mendengarkanku, dan mungkin sebagian besar mungkin memang salahku. Apa seharusnya aku tak perlu lari dulunya? Rasa bersalah itu selalu menghampiriku setiap saat.
"Tidak ada yang perlu kau katakan. Sudahlah, pergi saja dari sini sekarang," tegasnya.
"Hei nona, dia hanya..."
"Sudah ku bilang pergi saja dari sini!"
"Aku memang tak akan tau apa pun jika terus seperti ini. Memangnya apa yang anak sepertinya lakukan sampai kau bicara seperti itu?"
Flashback Sehari setelah aku lari dari pusat penelitian...
Semakin aku pikirkan, maka otakku semakin tak bisa diajak berfikir. Semuanya benar-benar sudah terjadi, aku benar-benar sudah melakukannya. Aku berhasil, aku lari dari pusat penelitian bernama Chincilla, semuanya sudah selesai.
__ADS_1
Entah apa yang aku lakukan sampai bisa keluar dari sana dengan sedikit konsekuensi pada diriku sendiri. Luka, memar dan rasa sakit tak berkesudahan.
Aku tak perlu memikirkan apa pun lagi. Dan sekarang aku bisa kembali. Kehidupanku yang lama sudah menantiku, tak ada gunanya lagi memikirkan hal lain. Semuanya sudah jelas, aku sudah bebas.
Air mata terus menetes dari sudut mataku, perlahan-lahan jatuh ke pipi. Mataku sudah sembab karena menangis tak henti-henti. Bahkan mata yang sebelah kiri sudah mulai iritasi dan memerah karena terus-terusan ku gosok dengan tangan. Aku tak tau cara mengakhiri tangisan ini, bahkan aku tak tau apa sebabku menangis.
Entah ini air mata bahagia karena berhasil lepas dari sana, atau mungkin air mata kesedihan karena menahan sakit dari luka di sekujur tubuh. Aku tak tau, semuanya terus berputar dan bersatu padu. Sudah tak jelas lagi bedanya kebahagiaan dan kesedihan.
Ketika aku memandangi diriku sendiri di kaca jendela sebuah toko yang merefleksikan diriku, aku malah jadi ingin tertawa. Aku terlihat menyedihkan sekali. Sudah tak bisa disebut lagi sebagai manusia.
Pakaian kumal, rambut yang sebagian warnanya terlihat putih menyebar tak beraturan, bercampur dengan rambutku yang masih hitam dan berdebu. Tubuh penuh luka dan memar, benar-benar menyedihkan.
Aku tertawa dalam diam, menertawakan keadaan diriku sendiri dan menertawakan apa yang sudah aku lakukan. Aku mulai sadar kalau aku benar-benar konyol
Dalam setiap langkah kakiku yang kotor dan tak beralas, kepalaku terus memproses apa saja yang sudah aku lakukan. Semuanya samar-samar, tapi aku yakin kalau diriku sendiri yang membawaku sampai sejauh ini.
Semuanya buram, seperti ditutupi semacam kabut tebal yang menghalangi neuron di otakku untuk memprosesnya. Tapi aku berhasil, dan memori itu mulai datang kembali.
Sejauh yang ku ingat, setelah beberapa kali melakukan percobaan yang berat itu, aku berhasil pergi jauh dari sana. Dengan begitu banyak darah dan air mata yang aku korbankan, maka sudah cukup bagi mereka untuk melakukannya. Sudah cukup, aku tak mau lagi.
Untuk beberapa hari ini, aku hidup di jalanan. Tidur di kursi-kursi taman dan menahan lapar tanpa apa pun yang bisa dimakan.
Terkadang beberapa orang merasa iba begitu melihatku dan bertanya apa yang sedang aku lakukan dengan tubuh penuh luka dan pakaian yang kotor dan berdebu. Tapi aku hanya bilang kalau aku baik-baik saja.
Mereka bersikeras ingin membawaku ke rumah sakit, tapi aku tidak mau. Aku punya tempatku untuk kembali, aku harus ke sana. Ya, sebuah panti asuhan tempatku bernanung beberapa tahun yang lalu saat aku masih sangat belia.
Dengan berbekal harapan, aku bertanya pada orang-orang yang aku temui di jalan. Dari menumpang mobil barang sampai berjalan kaki, semuanya ku tempuh, kakiku bahkan jadi super lecet penuh luka karena tak memakai sepatu atau sandal. Salah satu kuku kakiku bahkan sudah hampir terlepas karena beberapa kali aku tak sengeja menendang batu.
Setelah delapan hari, aku berhasil menuntut diriku sendiri ke tempat yang ingin aku datangi. Setelah sekian lama, aku yakin kalau aku bisa tersenyum kembali.
Aku sampai di depan panti dengan wajah berseri-seri. Tapi wajahku berubah gugup begitu melihat sebuah mobil bagus terparkir di depan panti.
Tapi berbagai spekulasi negatif segera aku singkirkan, tidak apa-apa. Aku hanya ingin kembali ke sini, tidak kurang dan tidak lebih. Tapi tetap saja, perasaanku tak enak. Sepertinya ada sesuatu yang mungkin akan segera terjadi.
Dengan polosnya, aku mendekati pintu gerbang yang terbuka lebar, tanpa gembok atau kunci. Begitu kakiku hendak melangkah, seseorang muncul dari dalam panti, lantas berlari menghampiriku yang termanggu memandangi dirinya.
__ADS_1
Meski dari kejauhan, tapi aku tau persis siapa dia. Dan meski pun aku sudah lama tak melihatnya, ingatanku tentang rupa dan aromanya tak pernah hilang. Ya, dialah cahayaku. Kak Hana, yang sudah ku anggap seperti kakak atau mungkin juga sosok seorang ibu.
Begitu dia sampai di tempatku, dia terdiam untuk sesaat. Menatapku dengan ekspresi yang tak ku mengerti. Perlahan-lahan, tangannya terangkat ke atas.
plakk..
Dalam satu gerakan, sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiriku, membuatku sedikit terhuyung. Aku kaget bukan main. Kenapa dia menamparku? Apa yang sudah aku lakukan?
Gadis itu masih menatapku, lantas perlahan menggigit bibir bawahnya, dan mulai terisak-isak. Tanpa sebab yang jelas, air matanya jatuh ke tanah seperti air hujan yang tak terbendung. Diusapnya air matanya sendiri, tapi itu tak bisa menghentikan tangisnya.
"Kakak, kenapa?" tanyaku pelan. Ini sangat membingungkan, dia menamparku dan menangis dalam waktu yang nyaris bersamaan. Apa ada sesuatu yang terjadi?
"Kenapa...kenapa kau kembali? Kenapa?!" jawabnya masih terisak-isak.
Aku masih tak mengerti. Kenapa dia bicara begitu? Apa aku melakukan sebuah kesalahan? Kenapa dia menamparku? Kenapa dia menangis?
"Kakak... aku..."
"Sudahlah, kalau sudah seperti ini sebaiknya kau pergi saja. Selamatkan saja hidupmu. Ayo, pergilah!" perintahnya.
"Kenapa? Aku ingin di sini bersama kak Hana. Aku ingin bersamamu," jawabku dengan nada sedikit takut kalau seandainya saja kalimatku bisa membuatnya semakin menangis.
"Sudah, cepatlah pergi sebelum mereka kemari. Ayo, tidak apa-apa, pergilah. Cepat, aku mengerti apa yang kau rasakan. Memang lebih baik kau pergi, aku mengerti. Ayo, pergilah."
Gadis itu menarik pergelangan tanganku dan membawaku kembali ke gerbang, lantas tangannya segera mendorong punggungku agar segera pergi. Masih dalam keadaan bingung, aku mulai panik dibuatnya. Aku...diusir? Tapi kenapa?
"T-tidak mau. Kenapa? Kenapa kakak menangis?"
Aku masih tak mengerti dan terus menanyakan pertanyaan yang sama.
Dari kejauhan, aku bisa melihat seorang pria dengan jas keluar dari pintu depan bangunan panti. Jalannya sedikit tergopoh-gopoh karena badannya yang sedikit kelebihan berat.
"Hei ! Itu dia, pegangi dia nona ! Jangan sampai dia lari !" teriak pria itu dari kejauhan.
Aku mulai mengerti situasinya. Sepertinya ini akan berakhir buruk.
__ADS_1
Bagaimana sekarang?