Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 6: Kesenangan dalam sehari


__ADS_3

Kembali ke masa sekarang…


Sekarang aku ada di sini. Di dalam sebuah mobil berwarna hitam bersama kakek yang dengan tenang mengemudikannya.


Mobil yang kami tumpangi melaju membelah jalanan kota. Aku menoleh ke luar kaca mobil. Ada banyak kendaraan lain yang ikut berpacu pacu.


Udara masuk dari sela sela kaca mobil, membuat paru paruku penuh dengan udara dingin. Rambutku menari nari karena tertiup angin. Senyuman terus terpampang di wajahku, mengingat ini adalah pertama kalinya aku pergi ke luar setelah sekian lama berada di rumah.


Mataku tak pernah berhenti terkagum kagum melihat ke luar jendela. Ada banyak bangunan dan gedung tinggi.


Pengalamanku naik mobil tak ada yang pernah sebaik ini. Sebelumnya, aku pernah naik mobil beberapa kali dan semua itu hanyalah mimpi buruk. Aku selalu duduk di kursi belakang dalam keadaan takut dan cemas.


Kakek menyalakan radio pada dashboard mobil, lalu mencari saluran dan menyetel volumenya. Lagu klasik mulai mengalun memanjakan telinga.


Jalanan tak begitu ramai, mengingat sekarang sudah pukul sepuluh. Para pegawai dan anak sekolahan tak akan terlihat pada waktu seperti ini. Yah, kecuali kondisi tertentu. Kau tau maksudku kan?..Bolos.


Kami sampai dalam setengah jam. Aku melihat sebuah gedung super besar, apakah ini sebuah pusat perbelanjaan? Banyak orang yang hilir mudik melewati pintu depan gedung itu.


Mobil yang kunaiki masuk ke area yang gelap. Ada tulisan ‘area parkir’ di depannya, jadi aku yakin ini adalah tempat memarkirkan mobil. Hanya ada lampu yang berpendar secara remang remang sebagai penerangannya.


Aku keluar dari mobil, berdiri planga plongo seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ini serius, di sini sangat gelap dan ini pertama kalinya aku ke tempat seperti ini.


Ada sesuatu yang menyentuh bahuku dari belakang. Dan itu membuatku sedikit terkejut walau aku tau itu hanya kakek. Entah kenapa diriku ini langsung berubah jadi bocah penakut di tempat yang gelap seperti ini.


“Apa kau takut?”


Kakek berjalan sambil memegang pundakku, mengisyaratkan untuk segera pergi. Aku menggeleng pelan.


“Baguslah, ayo ke barbershop dulu, setelah itu kita bisa berbelanja.”


Aku menurut tanpa berkomentar. Aku tak pernah terbiasa berada di tempat ramai seperti ini. Baru saja kami masuk lewat pintu depan yang ku lihat tadi, keramaian langsung terlihat semakin jelas di sana.


Aku tak bisa berkata kata melihat ruangan luas di dalamnya. Ada banyak lantai yang dihubungkan oleh tangga tangga berjalan yang disebut ekskalator. Ditambah lagi dengan adanya air mancur di tengah tengah ruangan.


Leherku bisa sakit jika aku terus menoleh ke sana kemari.


“Kau seperti orang bingung saja, apa kau benar benar tak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?”


Kakek menegurku. Apa tingkahku terlihat sangat aneh?

__ADS_1


“Tidak, ini… adalah pertama kalinya untukku. Aku selalu berada dalam ruangan selama ini. Bisa dibilang bahwa aku sangat jarang keluar.”


“Kau aneh, aku jadi penasaran seperti apa dulunya kau hidup. Tapi jika kau tak ingin menceritakannya, aku juga tidak akan memaksamu.”


Setelah itu, kakek langsung membawaku ke tempat yang disebutnya sebagai barbershop. Tempat ini diurus oleh seorang pria yang usianya sekitar dua puluh tahunan.


Aku diminta duduk di kursi tinggi berwarna hitam, lalu tiba tiba saja sekeliling tubuhku ditutupi kain. Sepertinya ini memang bagian dari prosedur memotong rambut yang benar. Aku juga tak tau.


Setelah kakek mengatakan sesuatu pada pria yang mengelola tempat ini, pria itu lalu fokus pada diriku. Di depanku ada cermin besar, dan sebagian tempat ini memang ditutupi oleh cermin.


Pria itu memulainya dengan gunting di tangan. Sedikit demi sedikit rambutku dipangkas olehnya. Lalu tiba tiba saja ada sedikit suara berdengung di telingaku. Aku merasakan ada sesuatu yang bergetar di dekat leher. Aku menutup mata rapat rapat karena takut.


“Apa anda baik baik saja?”


Pria yang memangkas rambutku kelihatan sedikit heran sambil tertawa kecil. Apanya yang lucu? Apa aku bertingkah aneh lagi?


“Ya, tapi apa aku boleh tahu benda bergetar apa itu tadi?”


“Oh, itu hanya mesin cukurku. Apa anda tak pernah datang ke barbershop atau sejenisnya sebelum ini?”


“Tidak…,aku selalu memotong rambutku sendiri dengan gunting sambil menghadap cermin.”


Pria itu tertawa mendengar jawabanku. Entah sebanyak apa hal yang telah kulewatkan selama ini. Bahkan aku tak tau tentang mesin cukur. Apa aku bisa mengejar ketertinggalan atas pengetahuan dunia?


Penampilanku sudah berubah drastis hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Rambutku yang menggantung sampai pundak sudah tak ada lagi dan poni panjang yang sering menutupi mataku sudah berhasil disingkirkan.


“Haru, sekarang kau terlihat makin tampan saja.”


Kakek menggodaku dengan penampilan baruku ini. Bukankah agak memalukan jika tiba tiba kau dipuji seperti itu? Aku mematut diri di cermin. Potongannya tidak terlalu pendek dan tetap menyisakan sedikit poni di area dahi. Jadi, tak ada istilah jidat lebar untukku.


Aku masih terlihat seperti diriku dengan versi rambut pendek yang rapi. Ya, aku masih haru kecil yang tak bisa jadi dewasa dalam waktu dekat. Sangat menyedihkan jika mengingat itu.


“Selanjutnya bagaimana kalau ke pertokoan? Ayo beli beberapa pakaian untukmu. Dan kau juga akan butuh seragam. Kau ingat?”


“Sepertinya tak usah membelikanku pakaian. Pakaian yang kakek berikan padaku ada banyak dan masih bagus. Kalau seragam aku mau.”


Mungkin terlalu serakah jika aku mendapat pakaian baru. Bagiku begini saja sebenarnya sudah cukup.


“Haru, yang kau pakai itu adalah pakaian bekas cucuku dulu, dan itu terlalu besar untukmu. Salah satu lengannya selalu turun saat kau memakainya. Lagi pula aku kan sudah berjanji memberikan apa pun yang kau butuhkan. Dan itu artinya apa pun, termasuk pakaian.”

__ADS_1


Kakek menghembuskan napas perlahan. Aku hanya bisa menurut. Tak kusangka dia memperhatikanku sedetail itu.


Apa aku boleh berharap hal yang lebih besar nantinya? Seperti mimpi saja. Bukan, ini seperti…mimpi di dalam mimpi. Atau mimpi ganda? Uh…, bagaimana mengatakannya?


Selanjutnya adalah pertokoan. Kakek membelikanku beberapa pasang seragam sekolah. Dia sepertinya sudah tau saja apa yang harus dibeli, seperi seorang ibu yang belanja di pasar tradisional saja.


Tak hanya itu, aku juga dibelikan beberapa pakaian dan juga sepatu. Kini tangan kami penuh dengan tas belanja di kanan dan kiri. Sepertinya kakek sedikit berlebihan.


“Ayo kita taruh ini di mobil dulu, lalu kita bisa makan siang di restoran.” Itu adalah ide bagus, tak mungkin kami bisa berkeliling dengan menyeret ini semua. Lagi pula aku juga sudah agak lapar.


Kami kembali lagi ke dalam. Kakek mengajakku ke restoran ayam goreng dan aku sangat menikmatinya. Kakek juga membelikanku es krim setelah kami selesai makan.


Apa aku malah jadi terkesan sebagai anak manja? Terserah apa katamu, aku tak peduli. Aku sudah mulai menemukan kebahagiaanku.


Setelah membeli beberapa benda lainnya, kakek mengajakku untuk pulang. Saat itu sudah sekitar pukul tiga siang. Tanpa terasa, sudah cukup lama aku berada di tempat ini.


Maka area parkir akan menjadi destinasi kami selanjutnya. Lantai gelap itu membuat pupil mataku membesar karena kekurangan cahaya.


Tepat di dekat mobil hitam kakek, aku melihat pantulan bayangan dari dua orang yang sepertinya ku kenal. Oh tidak, ini gawat.


“Kakek, maafkan aku. Aku harus pergi sebentar saja, aku akan segera kembali.” Aku segera berlari ke sisi berlawanan, berusaha bersembunyi di antara mobil lainya.


“Haru, tunggu!” Dia berusaha menghentikanku, tapi aku sudah cukup jauh. Dia menarik napas, lalu menghembuskannya lagi.


Dari jarak delapan meter, ada dua orang lelaki yang berjalan ke arah kakek. Aku sangat tidak ingin bertemu dengan mereka.


“Sudah kuduga memang anda, selamat petang tuan aries.” Kata salah seorang dari mereka.


“Oh, hai. Bukankah kau maheer? Salah satu anak buahnya nona Agnes.”


“Wah, anda masih mengingat saya? Saya merasa sangat tersanjung.” Pria itu menunjukan rasa hormatnya.


“Ada perlu apa kau di sini? Tak mungkin Agnes memberi kalian libur kan?” Kakek tersenyum melihat kedua orang itu dan dibalas oleh tawa dari keduanya.


“Ah, tidak tuan. Kami sedang menjalankan perintah dari nona Agnes. Ada seorang anak yang kabur dari tempat kami. Ini sudah empat bulan dan kami masih belum menemukannya.” Orang itu memasang wajah lelah.


Aku terus mengamati percakapan mereka dari jauh, tersembunyi di antara sela sela mobil lain. Tempat ini cukup sunyi, suara mereka bisa terdengar sangat jelas.


“Sepertinya dia sangat penting. Agnes tak mungkin langsung menyuruh asisten pribadinya turun tangan jika ini bukan hal yang penting.” Kakek memberi tanggapan. Orang itu sedikit tertawa.

__ADS_1


“Ya, anak ini sangat penting. Karena dia adalah objek terbaik kami untuk sekarang dan kami harus segera menemukannya.” Pria yang dipanggil maheer itu memasang tampang serius.


Tidak…ini gawat. Apa aku akan segera berakhir di sini? Keajaiban, kumohon datang dan bantulah aku…


__ADS_2