
Sesampainya di rumah...
Aku dan kakek sedang berada di ruang tamu, duduk di atas sofa tua. Kakek menungguku untuk mengatakan semuanya. Tapi aku tak tahu harus mulai dari mana. Rasanya sangat tidak menyenangkan.
Saat kau harus membuka kembali lembaran masa lalu yang tak ingin kau ingat, maka kau akan merasakan sedikit rasa sesak di dadamu. Seolah tenggorokanmu menyempit dan ada sebuah katup yang menghalangi udara pernapasan.
"Jadi, Haru. Kau akan memberi tahuku semuanya kan? Pelan pelan saja. Aku juga tak mau kau merasa tak nyaman." Kakek menegurku yang terus terusan melamun memandang lantai.
"Ah, iya. Tapi... Apa pun yang akan aku katakan, tolong jangan serahkan aku pada mereka. Aku janji kalau aku bukan penjahat. Aku..."
"Sudah aku katakan, kan? Sekarang kau adalah cucuku yang manis. Mana mungkin aku memberikanmu pada mereka. Jadi, kau tak perlu takut. Katakan saja semuanya."
Kakek berpindah duduk di sebelahku yang sebelumnya ia duduk berhadapan dan hanya dibatasi dengan sebuah meja. Ia mengelus kepalaku, membuatku merasa sedikit lebih tenang. Cara itu selalu berhasil mengendalikanku.
"Ah, baiklah. Aku...bukan berasal dari sini." Aku mulai bercerita.
"Aku berasal dari tempat yang jauh. Aku tinggal di sebuah panti asuhan saat usiaku sekitar tujuh tahun. Aku cukup senang di sana, tidak terlalu buruk. Setidaknya aku bisa sedikit bebas dan bertemu anak lain sepertiku."
Aku menghembuskan napas perlahan, mengambil sedikit jeda dari kalimat yang ku ucapkan. Suara tik tok dari jam dinding terdengar cukup jelas di ruangan yang kini hening.
"Aku senang di sana, tapi aku tetap tak punya teman. Mereka seolah tidak merasakan keberadaanku. Aku jadi kesepian."
Aku menaikan lengan baju yang sedikit melorot. Baju kemeja warna merah berpola kotak kotak ini masih aku kenakan.
Ya, kami baru saja pulang dan kakek langsung menahanku di ruang tamu untuk ditanyai. Baca: introgasi.
"Lalu, ada seorang kakak yang selalu menghampiriku saat itu. Namanya adalah Hana. Dia sangat baik padaku. Dia mengajariku banyak hal dan dialah juga yang memberiku nama." Aku melanjutkan kembali kalimatku.
Sedikit senyum mengembang saat aku mengingat tentangnya. Dialah oang pertama yang menyambutku dan memperlakukanku sebagai seorang manusia setelah sekian lama.
"Jadi, Haru itu bukanlah nama aslimu?"
Kakek bertanya secara spontan, membuatku sedikit mendongak melihat dirinya yang penuh tanda tanya. Aku mengangguk perlahan. Itu benar, itu bukanlah nama asliku.
"Aku tak ingat siapa namaku. Jadi, dia memberiku sebuah nama. Dia selalu ingin pergi ke negara empat musim. Jadi dia memberiku nama Haru, yang artinya musim semi. Dia selalu bilang saat musim semi, bunga bunga akan bermekaran dan semuanya akan terlihat indah seperti surga."
__ADS_1
Tok...Tok...Tok...
Sepertinya ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Aku dan kakek segera bangkit dari sofa tua yang nyaman di ruang tamu.
"Kita lanjutkan lagi nanti. Sekarang kau boleh bermain dulu di kamarmu. Nanti aku akan ke sana."
Maka, langsung saja aku menuruti perkataan kakek. Aku pergi ke kamarku sembari kakek membukakan pintu untuk tamu. Aku tak tau siapa yang datang, tapi sepertinya seseorang yang dikenal oleh kakek. Aku hanya bisa melihatnya sekilas.
Aku duduk bersandar di tempat tidur sambil memeluk kakiku sendiri. Tanganku tak bisa diam, ujung jemariku terus memainkan seprei yang permukaanya sedikit kusut.
Aku belum memberitahu bagian terburuk dari ceritanya. Itulah yang membuatku sedikit takut. Tapi aku sudah janji akan mengatakan semuanya. Tentang bagaimana aku bisa terperangkap di pusat penelitian itu dan tentang bagaimana kejadian selanjutnya.
Bagaimana jika ia melanggar janjinya padaku? Aku masih takut kalau dia tiba tiba ingin menyerahkanku kepada orang orang di pusat penelitian. Walau berapa kalipun dia berkata kalau aku adalah cucunya, aku masih belum terlalu yakin.
Aku yang masih muda ini sudah sering ditipu dan dipermainkan oleh orang dewasa.
Mereka pandai memberi janji manis dari mulut mereka. Lalu ketika mereka merasa ada sesuatu yang lebih menguntungkan, maka saat itu juga aku akan dibuang dan dimanfaatkan sesuka hati.
Mungkin itu bukan salah mereka. Mungkin hanya karena aku berada di tempat dan waktu yang salah, maka itulah yang terjadi.
Tapi, aku rasa...kakek sedikit berbeda. Dia mengingatkanku pada kak Hana. Dia sangat baik, walau pada akhirnya...dia...membenciku juga.
Pintu kamarku terbuka perlahan.
"Kau menungguku?"
Kakek muncul dari balik pintu, lalu menghampiriku yang duduk di atas tempat tidur. Dia lantas duduk di sebelahku.
"Ah, tidak juga. Apa yang datang tadi adalah seseorang yang penting?"
Aku sedikit memajukan tubuh, berusaha untuk sedikit lebih relaks. Jika terlalu tegang, aku akan terlihat seperti sedang berbohong, kan? Dan aku tak mau terlihat seperti itu.
"Bukan sesuatu yang penting. Jadi, bagaimana kalau kita lanjutkan ceritamu?"
"Sampai mana yang sudah aku katakan?"
__ADS_1
"Sampai gadis yang bernama Hana, kurasa sampai situ."
Aku mengangguk, memikirkan kalimat pembuka yang cocok sambil menatap dinding yang bercat putih polos.
"Selama satu setengah tahun aku tinggal di sana dengan tenang. Setiap hari aku selalu membantu kak Hana mengerjakan apa saja. Sampai suatu hari, segerombolan orang datang ke panti kami."
Aku menghembuskan napas yang terasa berat, lalu menggeser tubuhku kebelakang untuk bersandar ke tempat tidur.
"Mereka ingin menggusur panti kami karena pada dasarnya tanah panti adalah milik mereka. Kepala panti kami memohon agar panti itu jangan digusur. Akhirnya mereka setuju dengan mengajukan sebuah syarat."
"Sebuah syarat?"
"Ya, mereka menginginkan seorang anggota panti untuk dibawa dan nantinya akan dipekerjakan. Awalnya yang mereka pilih adalah kak Hana karena dia sudah cukup umur. Lalu, aku dengan bodohnya memohon agar kak Hana tidak dibawa dan sebagai gantinya, aku menawarkan diriku."
Sedikit tawa keluar dari mulutku ketika mengingat hal itu. Ya, terdengar sedikit konyol. Aku bertingkah seolah aku adalah seorang pahlawan.
"Kenapa kau mau mengajukan dirimu?" Kakek mengusap dagunya. Sepertinya dia juga berpikir kalau aku orang bodoh karena tak berpikir sebelum mengatakan sesuatu.
"Aku hanya...tak ingin seseorang yang berharga bagiku pergi bersama mereka. Tapi untungnya mereka setuju untuk membawaku."
"Lalu mereka menipumu dan membawamu ke pusat penelitian bernama chincilla yang kau katakan sebelumnya?"
Tangan kakek menyentuh bahuku sehingga aku bisa melihat gestur wajahnya dengan lebih jelas.
"Tidak, awalnya mereka memang mempekerjakanku sebagai tukang cuci piring, di sebuah gedung perkantoran besar. Mungkin...sekitar tiga bulan."
Ngiiing...
Ada sebuah suara suara. Sepertinya berasal dari dapur. Suara kecil itu cukup jelas.
"Suara apa itu,kek?"
Aku yang pertama kali menyadari suara itu langsung bertanya pada kakek.
"Suara? Astaga, aku lupa. Aku sedang memanaskan air di dalam ketel untuk membuat teh. Haru, tunggulah sebentar, aku akan kembali."
__ADS_1
Kakek bergegas menuju dapur dan meninggalkanku sendiri di dalam kamar.
Hah...apa dia serius ingin mendengarkan ceritaku?