
Akhirnya aku pergi.
Suara kereta hilir mudik datang dan pergi, memenuhi langit-langit stasiun yang super ramai. Tapi tetap saja tak bisa mengalahkan suara kerumunan orang-orang yang sudah seperti sekawanan lebah.
Hiruk pikuk itu disertai dengan suara pengumuman jadwal kedatangan dan keberangkatan yang disiarkan oleh pengeras suara.
Hanya dengan melihat keramaian ini sudah cukup untuk merusak moodku. Keramaian yang sudah seperti lautan manusia itu membuatku merasa pusing seketika.
"Baru pertama kali naik kereta?"
Allen menyenggol lenganku ketika aku berhenti untuk yang kesekian kalinya. Aku tersenyum kecut, menjawab dengan sebuah isyarat. Keramaian bukanlah kata yang cocok untukku, kalian boleh mengataiku lemah mental atau semacamnya, aku tak peduli.
Tapi begitulah adanya, aku punya pengalaman buruk dengan banyak orang. Bahkan jika aku diberi pilihan untuk dapat menentukan kemampuan superku sendiri, maka aku akan memilih untuk jadi tembus pandang sehingga tak ada yang bisa melihatku atau pun menemukanku.
"Ayo, jangan berhenti setiap lima meter, nanti kalau sampai ketinggalan kereta, kau harus pakai baju maid seharian," ancam Allen, dia tertawa mendengar kalimatnya sendiri.
"Kejam!" seringaiku. Meski begitu, aku tetap tertawa mendengarnya. Apa sih isi pikirannya? Aneh-aneh saja.
Kereta yang dituju sudah ada di depan mata, aku berdiri di belakang garis seperti ratusan orang lainnya. Begitu pintu dibuka, ratusan orang keluar dari dalamnya, lantas ratusan orang lainnya berganti masuk.
"Jangan sampai terpisah, kalau kau sampai hilang, aku yang bakal repot."
Allen memegangi tanganku begitu kami masuk ke lorong kereta bersama ratusan orang lainnya. Sedikit berdesakkan, namun tak terlalu buruk begitu kami sudah duduk.
Kereta berangkat, meninggalkan stasiun yang penuh hiruk pikuk. Kursi berbaris di sisi kiri dan kanan, tersusun rapat. Dari kaca jendela yang besar, pemandangan baru mulai disuguhkan. Tapi tak begitu menarik, kurang lebih masih seperti sebelumnya.
Baru seperempat jam, tapi aku sudah menguap untuk yang ketiga kalinya. Membosankan sekali, hanya duduk tak melakukan apa pun. Allen kakakku sibuk dengan telepon pintarnya, tak mengacuhkanku.
Setengah jam berlalu, rasa bosan mulai menyiksaku. Kenapa aku tak bawa sesuatu untuk dibaca? Aku malah kesal pada diriku sendiri dibuatnya.
"Apa masih jauh?" tanyaku bosan.
"Yah, lumayan,"
"Berapa lama lagi?"
"Mungkin satu setengah jam lagi. Ayolah, kita bahkan belum setengah jalan. Kita harus naik kereta dua kali lagi setelah ini," jelas Allen.
Paham akan rasa bosanku, ia malah menyuruhku tidur. Baiklah, mungkin tidak apa-apa kalau tidur sejenak. Itu akan mengusir kebosananku.
***
Hah...
Aku menghembuskan napas lega begitu tiba di stasiun terakhir. Setelah dua kali bergonta-ganti kereta, kota tujuan akhirnya sudah di depan mata.
Aku hanya tidur di sepanjang jalan, begitu juga saat pergantian kereta sebelumnya, aku terus melanjutkan tidurku di kereta selanjutnya. Dan alhasil, mataku seolah berkunang-kunang sekarang. Mataku sedikit merah dan tubuhku lemas.
"Sekarang bagaimana? Apa kita langsung pergi?" tanyaku saat kami sudah benar-benar meninggalkan stasiun.
"Hm...cari penginapan? lalu kita makan setelahnya. Sudah sore, tidak mungkin kita bersenang-senang sekarang," jelas Allen.
Aku hanya mengikutinya, tak banyak protes. Setelah bertanya sana sini, kami menemukan sebuah hotel yang tidak terlalu mewah, singkat kata sederhana, tapi nyaman.
"Harganya murah, kita bisa makan-makan sepuasnya dengan uang sisanya," tawa Allen setelah mendapat kunci kamar dari bagian pendaftaran.
Dan inilah indahnya jadi diriku, semua perjalanan ini sama sekali tak pakai uangku. Seratus persen pakai uangnya Allen, sungguh keberuntungan yang hakiki.
"Hah...enaknya."
__ADS_1
Allen menghempaskan dirinya ke atas kasur setelah pintu kamar di buka. Sebuah tempat tidur besar dengan televisi di depannya, lalu beberapa perabotan lainnya yang ikut mengisi ruang kosong di dalamnya.
"Haru, pergilah mandi duluan. Setelah itu kita keluar cari makanan di restoran dekat sini," suruh Allen.
Apa pun kalimatnya aku turuti karena sudah mau mengajakku pergi ke sini. Di satu sisi ini adalah sebuah kekangan, dan di sisi lainnya adalah sebuah kebebasan. Satu kata tidak cukup untuk menjelaskannya.
***
Pagi kembali tiba.
Semalam aku nyaris tidak tidur sama sekali. Ini juga salahku karena tidur cukup lama di kereta saat siang hari. Dan inilah yang aku dapat, apa boleh buat.
Aku yakin ada lingkaran hitam di sekeliling mataku. Sekarang aku punya mata panda, dan wajahku pasti akan terlihat aneh.
Semalam itu benar-benar buruk. Aku menatap televisi begitu lama sampai semua acaranya habis malam itu. Entah jam berapa aku mulai tertidur dengan televisi yang masih menyala.
"Mau pergi sekarang?"
Allen yang baru bangun di sebelahku menggosok matanya, tidurnya kelihatan nyenyak.
"Ah, aku lapar, kita sarapan dulu ya," lanjutnya.
Dia berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, dan mungkin juga membersihkan diri. Aku sudah melakukannya sejak tadi. Tak biasanya aku bangun lebih dulu darinya.
Sesuai janjiku dengannya, setelah aku pergi ke panti tempat asalku bersamanya, maka aku harus menurutinya ke mana pun yang dia mau. Bukan hal yang buruk, kan?
***
"Jadi, kau tau di mana panti asuhan itu?" tanya Allen sambil mengaduk bubur dengan sendok di tangan kanannya.
Kami sedang sarapan dengan semangkuk bubur untuk setiap orang. Tidak buruk, tapi mungkin lebih enak jika ada makanan yang dibuatkan Allen saat kami di rumah.
"Kita sudah sejauh ini dan kau tidak tau di mana tempat pastinya?" tanya Allen.
Aku menggeleng pelan. Aku tak begitu ingat, aku hanya pernah melalui jalan ke sana sebanyak dua kali dan itu sudah lama sekali, aku tidak mungkin ingat.
"Maaf..." sesalku.
Aku merasa serba salah, aku memang ingin ke sana, tapi aku nyaris tak tau apa pun tentang tempat itu. Hanya bentuk bangunan itu beserta warna catnya yang masih sangat aku ingat.
"Hah..., apa boleh buat. Kita akan bertanya pada orang-orang yang tinggal di sekitar sini. Ini kota dermaga yang cukup besar, lalu apa kau tau nama panti asuhannya?" lanjut Allen.
Aku kembali menggeleng untuk yang kedua kalinya, diikuti dengan hembusan napas berat Allen. Mungkin aku bodoh karena langsung meminta pergi tanpa mengingat lokasi pastinya. Agghh... aku jadi makin kesal pada diriku sendiri.
Maka pencarian itu pun dimulai. Dengan mengandalkan ingatanku tentang ciri-ciri bentuk bangunan panti asuhan itu, kami bertanya pada siapa saja yang lewat di sekitar kami.
Petama-tama, Allen mencari di map telepon pintarnya tentang panti asuhan di kota ini. Namun ada tujuh panti yang letaknya berjauhan. Satu persatu kami coret dari daftar begitu aku yakin bahwa bukan itu yang kami cari.
Sampai akhirnya tersisa satu panti yang ciri-ciri bangunannya mirip dengan apa yang aku maksud. Butuh waktu lebih dari satu jam hanya untuk ini.
"Akhirnya ketemu, yang ini kan?" tanya Allen memastikan.
"Ya, ku rasa," jawabku.
Kami berdua ke sana segera. Di sini tidak ada bus kota atau kendaraan bagus lainnya seperti taxi yang melintas. Maka, kami pergi dengan menumpang angkutan umum.
Aku ingin mengeluh, supirnya mengemudi dengan ugal-ugalan. Tubuhku terayun-ayun sampai aku ingin muntah. Supirnya benar-benar tak paham keadaanku, bagaimana dia bisa diberi izin untuk mengemudi jika kemampuannya kacau begini? Huh...aku ingin segera menuntutnya.
"Bertahanlah sedikit lagi."
__ADS_1
Allen yang tau betul kalau aku tidak tahan dengan situasi seperti ini memberiku semangat.
Angkutan kota melambat, dua orang turun dan beberapa orang lainnya naik mengisi kursi kosong. Hari mulai beranjak siang, panas terik mulai menghadang.
Kemacetan pun dimulai, disertai dengan angkutan umum yang dipenuhi oleh ibu-ibu yang baru pulang berbelanja di pasar tradisional. Bagian bawah angkutan penuh dengan plastik belanjaan kaum ibu-ibu ini.
Untuk yang kesekian kalinya, angkutan kembali berhenti. Satu orang turun dan tiga penumpang baru hendak naik. Tapi sepertinya sudah tidak muat, tidak bisa dipaksakan.
"Tolong digeser!"
Pak supir yang mengetahui situasi terkini di bagian dalam angkotnya segera berteriak memberi instruksi. Para ibu-ibu itu terus menggeser tubuh besar mereka, sampai aku merasa kalau tubuhku sudah gepeng terhimpit oleh mereka.
Tapi tetap saja tidak memungkinkan, angkutan sudah penuh dan aku sudah gepeng.
"Tolong anak kecil yang di sana di pangku saja agar ibu ini bisa masuk," titah pak supir dengan jari telunjuk teracung padaku.
"Eh? Aku?" tanyaku tak yakin.
"Ya, cepatlah," tegas pak supir.
"Ayo, sini," suruh Allen.
Dan begitulah akhirnya, angkutan itu penuh sesak. Aku hanya bisa pasrah, duduk dipangku oleh Allen.
"Apa aku berat?" tanyaku berbisik padanya.
"Tidak juga, kau ringan kok, seperti ranting," canda Allen.
"Aku serius, apa kakimu tidak sakit?"
"Tidak, kau tenang saja."
Di tikungan berikutnya, seseorang turun dan aku akhirnya bisa duduk sendiri. Setelah lima menit, kami turun di depan sebuah gang yang terlihat agak familiar buatku.
"Berapa yang kau bayar tadi?" tanyaku pada Allen setelah angkutan yang kami naiki tadi pergi cukup jauh.
"Sepertinya aku sedikit ditipu olehnya, angkot sesak itu harganya setara dengan satu paket makan siang di restoran ayam per orang. Apa memang semahal itu?" ucapnya tak yakin.
"Aku tidak mau naik itu lagi," komentarku.
"Ya, aku juga," timpal Allen, dia sependapat denganku.
"Jadi, apa ini terlihat tak asing bagimu?" ucap Allen sembari menunjuk gang yang ada di depan kami.
"Aku rasa begitu, apa kita ke sana sekarang?"
"Ya, tentu."
Semakin gang itu aku telusuri, berbagai ingatanku mulai menguat, ini membuatku berdebar penuh gairah. Namun aku juga takut di lain sisi.
"Wah, apa benar yang ini?"
Aku dan Allen sampai di depan sebuah bangunan besar yang bertuliskan panti asuhan. Dan memang inilah tempatnya. Aku masih ingat karena aku pernah tinggal di sini selama beberapa tahun.
"Ya, inilah tempatnya." jawabku mantap.
Aku mengatur napas, tempat yang tidak asing ini serasa sedang menakut-nakutiku.
Apa aku bisa bertemu dengannya?
__ADS_1