Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 4: Peran dan kasih sayang


__ADS_3

Kesempatan kedua yang telah kudapatkan menuntunku ke jalan yang baru. Meski tak terlalu yakin, mungkin akan ada perubahan nantinya. Siapa yang bisa menduga akan seperti apa hidup ini kelak.


Itu adalah hukum alam. Kau hanya bisa menjalani hidupmu tanpa bisa sedikit pun mengintip masa depan.


Ada yang pernah bilang bahwa apa pun yang akan terjadi kelak telah di tetapkan untukmu.


Seperti sebuah skenario film, kau hanya akan menjadi seorang pemeran tanpa bisa mengganti adegannya. Dan menurutmu, siapa yang menjadi sutradaranya? Tentu saja sang pencipta yang bahkan kau tak tau seperti apa wujudnya.


Bukankah itu berarti sejak awal ini adalah sesuatu yang sudah ditetapkan untuk diriku? Dan bahkan juga dirimu. Karena secara harfiah, kita tak pernah tau adegan apa yang akan terjadi selanjutanya. Dan mungkin hanya akan mengikuti skenario secara alami.


Dan apa kau tau? Setiap orang mendapatkan peran yang berbeda, dan kau juga tak pernah tau peran apa yang mereka jalankan.


Semakin kompleks peran yang mereka mainkan, maka akan semakin sulit untuk kau pahami. Dan itu berarti, peran yang ada bukan hanya sekedar protaginis dan antagonis, tapi bisa apa saja tanpa bisa kau prediksi.


Dan jika kau terjebak dalam akting dan gerakan mereka, maka saat itulah kau akan kalah.


***


Mungkin sudah tiga hari semenjak aku mendapat prediket sebagai seorang cucu. Hari hari pertama itu kujalani dengan sedikit perasaan canggung. Entah kenapa aku tak pernah terbiasa dengan keberadaanya.


Dia orang yang sangat baik. Dia membuatkanku makanan dan membiarkanku menonton tv. Aku diperbolehkan makan cemilan dan membaca buku miliknya yang entah berapa jumblahnya.


Ya, aku sangat suka membaca. Kau tau kenapa? Karena hanya itu yang bisa kulakukan di masa lalu. Setiap hari hanya ku habiskan dengan berada di ruangan pengap yang penuh dengan barang lama dan buku tua.


Lalu, apa kau tau kenapa aku selalu berada di sana? Untuk sekarang, itu akan kujadikan sebuah rahasia.


Dua hari kemudian juga berjalan sama baiknya dengan hari sebelumnya. Namun tak ada yang pernah tau akan seperti apa takdirmu di masa depan. Dan hal itu jugalah yang menimpaku.


Tepat pada hari kelima, aku kembali sakit. Suhu tubuhku naik dan segalanya terasa sangat nyeri sampai seperti mati rasa.


Aku tak mengerti, seharusnya aku sudah terbebas dari rasa sakit ini semenjak aku memutuskan untuk pergi dari tempat asalku. Sebuah tempat yang telah menjebakku dan mempermainkan nyawa.


Seharian penuh aku hanya bisa berbaring dan tidur. Tubuhku melemah bahkan untuk bernapas saja terasa sangat sulit.


Dan saat ini juga lah aku memahami apa yang dimaksud dengan kasih sayang. Aku tak akan pernah menyangka bahwa kakek akan menungguiku seharian dan meninggalkan pekerjaannya, meski aku tak pernah tau apa yang dia kerjakan.


Dia menyuapiku dengan bubur dan memberiku obat. Meski aku tau dia bukan kakek kandungku tapi tetap saja aku senang.

__ADS_1


Sayangnya apa yang telah dilakukan kakek hanya terkesan sia sia. Kondisiku tak kunjung membaik. Kulihat wajahnya mulai putus asa.


"Aku tak mengerti apa yang salah darimu." Kakek menarik napas untuk yang kesekian kalinya.


"Aku sudah tidak apa apa, jangan terlalu khawatir tentang ini. Sebelumnya aku sering mengalami hal seperti ini."


Sebuah senyum kupaksakan mencuat dari bibirku yang memerah karena suhu tubuh yang cukup tinggi. Aku tak ingin dia terlalu mengkhawatirkanku. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuatku senang.


"Haru, tadi kau bilang kau sudah sering mengalami ini?"


Aku menganggukan kepala dengan lemah. Itu benar, mengalami kondisi seperti ini adalah hal yang biasa dulunya. Saat aku masih terkekang di tempat asalku sebelumnya.


"Jadi, apa ini normal? Tidak, ini tidak normal. Haru, bisakah kau beri gambaran yang jelas dari perkataanmu tadi?"


Sepertinya aku agak sedikit meleset dalam memilih kalimat, apa aku harus mengatakan semuanya? Tapi aku tak bisa jujur untuk sekarang.


"Jadi kupikir... aku pernah terkena sedikit bahan kimia atau... semacam radiasi yang membuat tubuhku berakhir seperti ini."


Aku tak tau apa yang harus kukatakan padanya. Dan sebenarnya ini juga adalah sebuah kebohongan. Ya, itu bohong. Mana mungkin ada zat kimia atau radiasi yang berserakan di jalan.


Aku benar benar sudah menjadi manusia yang buruk. Entah untuk yang keberapa kalinya kebohongan terucap di bibirku.


Pria itu mangut mangut memikirkan sesuatu.


"Haru, bisakah aku mengambil sedikit darahmu untuk ku teliti? Kakekmu ini adalah seorang peneliti dan ahli membuat obat."


Aku nyaris tak percaya apa yang aku dengar. Jadi, itu yang selalu dilakukannya? Saat aku menyelinap ke sini dulu, dirinya selalu berada di sebuah ruangan yang tak pernah aku tau apa isinya.


"Percayalah pada kakekmu ini. Mungkin kita baru menjadi keluarga selama beberapa hari ini, tapi mungkin kau pernah mendengar namaku sebelumnya."


"Namamu?"


Astaga, bodohnya aku. Aku sudah menjadi cucunya tapi tak pernah tau siapa namanya. Kenapa aku tak pernah menayakannya?


"Ya, namaku adalah Arias Miguel. Pekerjaanku di bidang kromosom, gen dan kelainan pada manusia. Jadi kupikir aku bisa mencari tau masalah pada tubuhmu."


"Jadi kau...tak mungkin...benar benar sulit dipercaya. Aku pernah membaca berita tentangmu di koran. Kau peneliti sekaligus penemu jenius. Maaf karena aku tidak bertanya sebelumnya."

__ADS_1


Suara yang keluar dari mulutku terdengar agak serak. Meski begitu, aku terkagum kagum dibuatnya, bahkan nyaris tak percaya. Orang yang mengangkatku menjadi cucunya adalah orang hebat.


Aku memasang wajah menyesal masih dalam posisi berbaring. Suasana kembali hening, tak ada satu pun dari kami yang mulai bicara. Hanya ada suara derik kaca jendela yang ditiup angin.


"Jangan terlalu dipikirkan." Kakek mengusap kepalaku sambil tersenyum.


"Bagiku, yang terpenting untuk sekarang adalah kesehatanmu."


Dia berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Aku bisa melihat tubuhnya yang tinggi keluar dari ruangan. Tak berapa lama, dia kembali dengan jarum suntik dan beberapa benda lainnya.


"Jadi, apa aku boleh mengambil darahmu?"


Aku terdiam sejenak. Sepertinya tak akan jadi masalah. Lagi pula, sedikit darah tak akan bisa mengorek semua masa lalu.


"Ya, tentu."


Aku mengiakannya. Lagi pula dia sudah bersusah payah membawa jarum suntik dan lainnya. Tak mungkin mulutku berkata tidak.


Kejadian itu berlalu cepat sekali. Jarum suntik yang terasa dingin menghantam permukaan kulitku dan menghisap sedikit cairan merah di dalamnya. Ketika jarum itu dicabut, sedikit rasa sakit menjalar di sana.


"Sudah selesai, apakah sakit?"


Kakek membereskan peralatannya setelah menekan bekas suntikan di kulitku dengan kapas. Aku menggeleng. Mana mungkin anak laki laki berumur empat belas tahun sepertiku mengatakan bahwa terkena jarum suntik itu sakit. Harga diriku sebagai lelaki dipertaruhkan di sini. Yah, walau sejujurnya memang agak sedikit sakit.


"Istirahatlah, aku akan mempelajari ini. Semoga kau segera sembuh sebelum aku menyelesaikannya."


Untuk kesekian kalinya dia mengusap kepalaku. Aku merasakn kehangatan dan kasih sayang darinya. Setelah itu, dia keluar ruangan.


Sekarang tinggal aku di sini sendirian. Aku sudah muak untuk tidur. Dua hari ini hanya itu yang bisa kulakukan. Ruangan ini tiba tiba terasa membosankan. Hanya suara derik jendela yang bisa kudengar.


Rasa sakit ini tak pernah berubah. Mau dulu atau sekarang, terasa sama saja. Apa aku harus menyesali semua ini? Tapi untuk apa? Tak ada yang perlu disesalkan. Sejak awal aku memang sudah tak diinginkan.


Diriku yang dulu adalah seseorang yang dibuang. Mereka tak pernah membiarkanku bahagia. Mereka tak pernah memikirkan perasaanku. Wajah mereka yang dulu menyianyiakanku mulai terbayang bayang.


Mereka yang awalnya memujaku akhirnya melemparku. Mungkin karena saat itu aku tak pernah tau tentang peran apa yang mereka mainkan. Aku tertipu oleh topeng mereka.


Dulu aku kalah, tapi sekarang tak akan lagi. Untuk sekarang, mungkin tak ada lagi yang akan melemparku. Tapi apa benar aku bisa mempercayai kakek?

__ADS_1


Oh tuhan... berhentilah memasukanku ke dalam permainan takdir ini. Biarkan aku menang untuk kali ini saja.


__ADS_2