
Jam sebelas siang, masih di hari yang sama. Aku terus mondar mandir di depan kamar Allen selama beberapa jam terakhir. Ini bukan berarti aku mengkhawatirkannya. Dia masih sakit dan sedang beristirahat.
Tidak, aku sama sekali tidak khawatir. Untuk apa mengkhawatirkan orang sepertinya? Itu adalah karma karena sudah hampir mencelakaiku waktu itu.
Apa aku dendam padanya? Ya, tentu saja iya. Dia bahkan sama sekali belum minta maaf soal kejadian saat pertama kali kami bertemu.
Dia hanya minta maaf tentang puding yang kemarin dimakannya, dan aku sudah memaafkan yang itu.
Aku tak bisa fokus dengan bacaanku sekarang, ditambah lagi suara batuk dan bersinnya Allen yang terus sahut menyahut. Tidak ada henti hentinya. Dan ada perasaan yang mengganjal dalam hatiku. Tapi aku tidak tau apa itu.
Entah kenapa, belakangan ini aku merasa sedikit sulit untuk mengendalikan diriku. Aku tak bisa jadi setenang biasanya.
Ini bukan masalah sakit atau apa, hanya saja ada beberapa hal yang terus membuatku tak habis pikir tentang apa apa saja yang telah terjadi.
Hey, apa kau pernah merasa seperti ini?
Maksudku, apa kau pernah merasa tiba tiba dirimu berubah dan berbagai macam hal serasa menghantuimu. Dan padahal semuanya baik baik saja.
Ah..., aku bahkan tak tau apa yang sedang aku katakan sekarang. Rasanya seperti ada tali kusut yang simpulnya tak bisa dilepas dalam kepalaku.
Apa ini yang dimaksud dengan dilema masa remaja?
"Haru..." Allen memanggilku dari dalam kamarnya. Suaranya terdengar lemah. Aku bergegas masuk ke dalam.
Dia masih terlihat sama buruknya saat terakhir kali aku melihatnya. Tubuhnya masih terbaring di tempat tidur berseprei putih itu dengan kain kompres di dahinya. Sepertinya belum ada perkembangan.
"Ya?" Kataku sembari menatapnya datar.
"Tolong ambilkan sesuatu untuk dimakan. Kau bisa, kan? Aku agak lapar." Ucapnya sambil berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Dia memegangi kepalanya sendiri, sepertinya masih sakit.
Aku bergegas ke dapur. Tak ada banyak hal yang bisa aku temukan. Apa yang harus aku berikan padanya? Aku juga tidak pernah memasak sendiri, yang aku tau cuma makan.
Apa yang biasanya dimakan oleh orang sakit? Saat aku sakit, kakek selalu membuatkanku bubur. Apa aku harus mencoba membuatnya juga? Tidak, aku bisa membakar rumah jika tak berhati hati dengan kompornya.
Atau mungkin saja aku bisa membuat dapur jadi super berantakan. Sepertinya memasak bukanlah ide yang bagus.
Dan untuk sekarang, makanan yang bisa kutemukan hanyalah roti dan puding yang diberikan oleh Allen semalam. Tidak ada pilihan lain, ini saja sepertinya cukup.
Lagi pula, orang dewasa bisa makan apa saja, kan?
"Apa tidak ada yang lain?" Allen menghembuskan napas kecewa ketika melihat apa yang aku bawakan untuknya.
"Tidak ada, aku tidak bisa memasak." Kataku sambil nyengir. Dia menatap makanan itu sebentar, aku menaruhnya di atas meja.
"Ya sudahlah, terima kasih sudah mau repot repot mengambilkannya." Ucapnya lagi.
Dia mengambil roti dan puding yang aku berikan. Aku mengangguk dan segera melangkah untuk pergi keluar.
Perasaanku sudah agak sedikit lega karena dia sudah makan sesuatu.
__ADS_1
"Haru... bisakah kau tetap di sini?" Suaranya menghentikan langkah kakiku.
"Aku kesepian jika harus sendirian di sini. Aku bosan." Lanjutnya.
"Kau sudah dewasa, tidak ada yang namanya kesepian." Balasku tanpa menoleh.
Lucu sekali dia bilang kalau dirinya kesepian. Apa dia lupa umur yang selalu dibangga banggakannya padaku? Dan bukankah dia menganggap dirinya sebagai kakak atas diriku? Kakak yang sempurna dan bisa apa saja, bukankah seperti itu yang selalu dikatakannya beberapa hari ini?
"Ayolah, temani aku hari ini saja. Bukannya kau sudah jadi adikku? Nanti akan aku belikan lebih banyak puding." Dia terus terusan saja membujukku.
Aku menoleh, wajahnya terlihat penuh harap. Dan itu membuat dirinya terlihat lebih baik, terlihat sedikit lebih lembut. Kalau seperti ini, sebaiknya dia sakit saja setiap hari.
Dan aku juga baru menyadari bahwa semenjak dia sakit, cara bicaranya juga sedikit berubah. Dia terdangar sedikit kekanak kanakan. Dia tidak mencari gara gara lagi denganku.
Aku kembali ke arahnya, duduk tepat di sisi tempat tidurnya.
"Ayo, mendekatlah." Katanya. Aku sedikit menggeser posisi dudukku.
"Lebih, dekat. Ayo, lebih dekat lagi. Ini permintaan dari orang sakit, kau harus memenuhinya." Katanya lagi.
"Kau hanya sakit, bukan mati." Kataku sambil menyipitkan mata.
"Ayolah, kau selalu menuruti kakek dan tak pernah mau mendengarkanku. Jika kau tak mau, selamanya kau tidak akan boleh makan puding lagi." Ancamnya.
Hah...
Aku menghembuskan napas perlahan, lalu berpindah duduk persis di sampingnya.
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan?!" Kataku sambil berusaha melepaskan tangannya itu.
Saat tangannya menyentuh kulitku, aku bisa merasakan panas tubuhnya, terasa lebih panas dari orang normal. Ya, itu karena dia sedang demam.
"Tenanglah, kau kan adikku. Aku hanya ingin memelukmu." Jawabnya tanpa melepaskan tangannya dariku.
"Aku sudah 14 tahun, aku bukan anak kecil yang masih mau di peluk peluk tau." Balasku.
"Sebenarnya aku bohong saat bilang bahwa kau tidak ada imut imutnya. Kau imut kok." Tangannya masih mengelus elus rambutku.
"Aku tak peduli dengan itu, kau tidak waras. Lepaskan! Dasar aneh. Nanti demammu pindah padaku." Kataku lagi.
"Sebentar saja tidak apa apa, sebenarnya aku senang ada kau sekarang. Maaf tentang sebelumnya." Dia masih mendekapku dengan lebih erat.
Ada apa dengnnya? Kenapa tiba tiba? Apa dia jadi aneh karena demamnya tambah parah? Ini tidak benar, aku harus menelpon kakek dan memintanya untuk membawa Allen ke rumah sakit.
"Aku selalu kesepian selama ini. Aku tak punya saudara atau sepupu. Aku juga kesulitan untuk berteman sejak kecil." Gumamnya.
"Aku hanya bicara seperti ini padamu, aku tak pernah bilang pada siapa pun kalau aku kesepian. Tapi sungguh, aku memang sering merasa kesepian."
Dia menyandarkan kepalanya padaku, sehingga aku bisa mencium aroma rambutnya yang seperti vanila.
__ADS_1
"Orang orang di sekitarku sering menganggapku aneh karena rambut dan mataku ini. Rambutku pirang dan mataku hijau. Saat aku kecil, mereka bilang mataku menyeramkan sehingga aku dijauhi. Aku kesepian dan rasanya itu bisa membunuhku."
Kalimatnya membuatku terdiam. Suasana hening seketika. Aku berhenti bergerak dan menundukan kepala, membiarkan dirinya memelukku meski aku tak suka.
"Sejak dulu, aku ingin punya seorang adik. Laki laki atau perempuan tidak masalah. Orang tuaku selalu sibuk. Aku tinggal bersama kakek di sini sejak kecil. Tak ada banyak orang yang bisa kuajak berteman." Dia akhirnya melepaskan pelukannya perlahan.
Aku hanya diam mendengarkan kalimatnya. Atau lebih tepatnya, aku tak tau mau bilang apa. Saat dia bilang dia kesepian, itu membuatku teringat akan masa laluku dulu. Sendirian, dibenci dan tanpa arah.
"Dan sekarang kau di sini, sebuah kejutan untukku. Dan aku...masih punya sebuah permintaan." Sudut bibirnya naik dan membentuk sebuah senyuman.
"Bisakah kau memanggilku kakak? Aku ingin sekali mendengarnya darimu."
Dia menepuk bahuku perlahan, memintaku segera menyanggupi kemauannya.
"Ka...kalau aku tidak mau?"
Ucapku sembari menyingkirkan tangannya dari bahuku dengan satu tepisan ringan.
"Kau pasti mau, aku yakin." Dia tersenyum lebih lebar, membuat matanya sedikit menutup.
"Ka..kakak." Kataku pelan. Ini terasa sangat memalukan sampai suaraku terdengar bergetar.
"Aku tak bisa dengar, ucapkan lebih keras." Katanya sambil tertawa.
"Ka..kak! kakak! kakak!" teriakku.
Wajahku serasa terbakar saking malunya mengucapkan itu. Sementara itu, Allen tertawa puas di sebelahku.
Setelah itu, hubungan kami sedikit membaik. Dan kurasa, dia tidak semenyebalkan sebelumnya.
Aku mulai sedikit terbuka padanya dan begitu pun dengan dirinya. Kami mulai bicara banyak, tapi aku lebih sering mendengarkannya.
Saat dia bekata bahwa kesepian bisa membunuhnya, aku jadi memikirkan satu hal. Dia menjalani hidup yang berat dan penuh kesendirian. Setiap orang punya jalan hidup dan takdir yang berbeda.
Banyak orang yang juga berpikir bahwa kesepian itu adalah hal mengerikan. Dadamu terasa hampa, hidupmu kosong dan segalanya jadi tak berarti.
Aku baru mengetahui bahwa ibunya Allen berkebangsaan prancis, karena itulah rambutnya pirang dan matanya hijau. Sementara ayahnya yang merupakan anak dari kakek adalah orang asia.
Ibunya Allen sekarang ada di prancis, bekerja pada sebuah perusahaan pengembangan teknologi. Dan ayahnya ada di australia, yang bekerja sebagai seorang peneliti dengan bidang yang sama seperti kakek.
Allen bercerita banyak, dia jarang bertemu orang tuanya, bahkan dia mengaku sudah hampir melupakan wajah mereka.
Pertemuan terakhir mereka adalah saat Allen kelas empat sekolah dasar. Bahkan sebelum itu pun, Allen sering ditinggalkan sendirian di rumah karena orang tuanya yang sibuk.
Aku sudah mulai menghilangkan rasa benciku terhadapnya. Mungkin ini karena aku mulai memahami dirinya. Bahkan, aku pikir kalau kami punya sedikit persamaan. Yaitu sama sama tumbuh tanpa orang tua.
Oh, aku lupa. Aku belum bercerita tentang orang tuaku dan bagaimana diriku sebelum aku tinggal di panti asuhan, kan? Aku akan beritahu satu hal, aku bukanlah bayi yang ditelantarkan.
Aku tau persis siapa saja keluargaku yang dulu. Dan tentang apa apa saja yang terjadi dulu, mungkin akan aku katakan padamu nanti.
__ADS_1
Dan untuk sekarang, ini sudah cukup untukku. Semoga keluargaku yang sekarang tidak seperti keluargaku yang dulu.
Yah, semoga saja...