
Hari ini, musim hujan di bulan juni. Seharusnya tetesan air menghujam permukaan tanah. Tapi itu sama sekali tidak terjadi hari ini. Tanah itu masih kering dan gersang.
Hari ini, hari ke sebelas di bulan juni. Saat di mana seharusnya awan mendung menaungi setiap jengkal tanah, tapi ia malah tak muncul barang secuil.
Langit telah membiarkanku bersenang senang, tapi masa lalu yang kelam malah datang menghadang.
Takdir yang selama ini ku coba tuk hindari malah semakin menggila. Ia tak membiarkanku berpaling sedikit pun. Ya, tidak sedikit pun.
Padahal baru terpikir olehku untuk memulai hidup baru dengan keluarga yang baru. Tapi ia tak senang melihatku melupakannya. Ia mengirim masalah padaku, yang akhirnya membuka luka lama.
Luka gores dan memar yang telah mengering akan basah kembali. Dan mungkin di saat itu juga, kebenaran yang sesungguhnya akan terungkap.
***
Klek
"Haru, aku membawakanmu susu dan cookies coklat. Kita bisa makan sambil mendengarkanmu."
Kakek meletakan sepiring penuh cookies coklat dan segelas susu di atas meja samping tempat tidur.
"Itu apa?"
Aku menunjuk gelas lainnya yang ada di atas nampan kayu yang dibawa kakek.
"Ah, ini hanya teh hijau. Katanya teh hijau sedang populer dan baik untuk kesehatan. Jadi aku ingin mencobanya."
Aku meraih gelas berisi susu. Uap air dari susu panas mencuat ke atas. Aku meraih sebuah cookies coklat, lalu mencelupkannya ke dalam susu.
Enak...
Jika aku terus memakannya lebih banyak lagi dan tak mengontrol diri, mungkin aku harus melewatkan makan malam. Kapasitas perutku mungkin tak mampu menampung semuanya.
Sebelum ini aku juga sudah makan es krim dan crepes. Jika makan terlalu banyak, aku bisa muntah. Tapi...aku juga tak bisa menolak ini.
"Haru, bagaimana kalau kita lanjutkan lagi. Aku ingin tau bagaimana kau sampai bisa berakhir di tempat agnes. Ah, kau tau agnes kan?"
Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku mengenalnya. Salah satu perempuan yang paling aku benci. Dia adalah orang yang telah membohongi dan mengkhianatiku.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengenalnya. Nona agnes, dia orang yang sangat tegas, juga pandai bicara. Dia jugalah orang yang datang ke panti kami. Kakek ingat saat aku bilang mereka mengajukan sebuah syarat? Nona Agnes lah yang mengajukan syarat itu."
Kakek mengangguk pelan, seperti sangat memahami ceritaku sepenuhnya.
"Sebenarnya kepala panti awalnya menolak syarat itu karena mengkhawatirkan aku yang akan pergi menggantikan kak Hana. Tapi dia berkata bahwa aku bisa mengunjungi panti jika mengambil libur, dan tentu saja itu membuatku lega."
Aku mengambil gelas susu tadi, lalu meminumnya seteguk. Susu hangat yang manis itu meluncur dari mulutku menuju lambung. Perutku langsung terasa hangat. Lalu aku meletakkannya lagi di atas meja.
"Setelah bekerja sebagai tukang cuci piring selama tiga bulan, nona Agnes menambah pekerjaanku sebagai pengantar kopi pribadinya. Entah kenapa, setelah seminggu dia malah membawaku pergi dengan mobil ke tempat yang cukup jauh."
Aku merinding ketika membayangkannya. Nona Agnes yang waktu itu tiba tiba menarik pergelangan tanganku dan menyuruhku masuk ke mobil membuatku takut. Dia memperlakukanku dengan kasar, tapi seperti itulah dirinya. Itu adalah salah satu kenangan burukku tentang mobil.
"Kupikir aku melakukan kesalahan sebelumnya, jadi aku sangat takut. Di tempat baru itu, aku dikurung di sebuah ruangan kecil selama beberapa hari. Dan pada akhirnya aku dibawa lagi ke ruang lain yang bentuknya seperti kamar di rumah sakit."
Kepalaku dipenuhi bayangan tentang tempat itu. Ruangan persegi berukuran 2×2 meter bercat putih. Aku masih ingat ada tempat tidur kecil dan sebuah meja di sampingnya.
"Nona Agnes datang padaku saat itu dan berkata ini adalah pekerjaan baru untukku. Dia bilang aku tidak boleh mengeluh dan harus menuruti apa saja yang dikatakannya. Dia juga terus mengungkit masa depan panti yang akan berakhir dengan kehancuran jika aku tidak menurut nantinya."
Aku menghela napas, lalu menarik lengan baju yang sejak tadi terus melorot.
"Lalu, apa tepatnya pekerjaan yang diberikan Agnes padamu?"
"Pekerjaanku itu...sederhana. Aku hanya harus menerima cairan yang dialirkan oleh orang orang di sana ke dalam tubuhku. Itu seperti...infuse, tapi pada dasarnya sangat berbeda."
"Benar benar seperti Agnes yang ku kenal. Ayo lanjutkan." Kakek kembali menyeruput teh hijaunya.
"Hmm...Saat pertama kali mereka memasukannya, aku hampir jadi gila karena itu membuat tubuhku panas dan sakit. Itu berlangsung selama tiga hari sampai aku benar benar sembuh. Selama tiga hari aku tidak bisa tidur, dan makan. Bahkan bernapas saja jadi sulit. Aku hanya bisa menangis. Setelah itu, mereka memasukannya lagi pada hari kesepuluh, aku sakit dan sembuh lagi. Mereka melakukannya lagi dan lagi."
Ingatan itu membuat napasku sesak. Kenangan terburuk yang terus kualami selama beberapa tahun terakhir itu mulai menyiksa batinku. Itu adalah siksaan yang sempurna jika kau ingin membalas dendam pada seseorang.
"Itu menjelaskan semuanya. Tentang sakitmu dan keanehan pada darah dan kromosommu. Juga zat yang menghambat pertumbuhanmu. Aku juga jadi mengerti kenapa kau lari dari mereka."
Kakek segera mengambil kesimpulan dari kalimat kalimat yang aku katakan.
"Sebenarnya...aku melarikam diri bukan karena itu."
Aku cepat cepat memberi interupsi pada kesimpulan kakek.
__ADS_1
"Bukan? Lalu apa?" Kakek juga terlihat tidak sabaran.
"Aku sama sekali tidak masalah dengan rasa sakitnya. Bahkan selama di sana aku diajari berbagai hal. Aku melarikan diri karena nona Agnes melanggar janjinya."
"Apa maksudmu?"
"Kakek ingat saat aku bilang mereka mengajukan sebuah syarat dan mereka akan memperbolehkanku datang lagi ke panti jika aku mengambil libur?"
Kakek mengangguk.
"Setelah tiga tahun di sana, aku minta bertemu dengan nona Agnes, tapi orang orang di sana tak membiarkanku pergi. Lalu aku malah membuat sedikit keributan sehingga nona Agnes mendatangiku. Aku meminta libur padanya karena aku ingin kembali ke panti sehari saja. Tapi..."
Suaraku agak tercekat di tenggorokan. Lidahku seolah sudah mulai malas membicarakan apa yang dilakukan perempuan itu.
"Tapi...dia tidak mengizinkanku. Lalu aku bertanya kapan aku boleh pergi dan dia bilang 'tidak akan pernah'. Dan itu berhasil membuat hatiku hancur. Aku marah dan mencoba lari, tapi tempat itu adalah chincilla yang pengamanannya begitu ketat dan tak mungkin bisa pergi dari sana."
"Kenapa kau ingin kembali ke panti?" Kakek menatapku. Kedua matanya menatapku, seperti tatapan iba atau prihatin.
"Aku...ingin bertemu dengan kak Hana. Aku sudah berjanji akan mengunjunginya. Dia...seperti cahaya untukku."
Kakek tersenyum padaku setelah mendengar kalimat terakhirku.
"Jadi begitu, kau ternyata orang yang setia ya. Jadi, nanti kau jangan lupakan aku juga. Teruslah ingat kakekmu ini."
Kakek mengusap kepalaku. Aku jadi ingin tertawa saat di bilang begitu. Apa benar aku orang yang setia?
"Begitukah? Tapi...karena nona Agnes mengingkari janjinya, aku jadi tak bisa bertemu kak Hana dalam waktu yang lama. Selama setahun terakhir, aku mencoba lari dari sana. Berbagai cara aku lakukan tapi tak pernah berhasil. Sampai suatu ketika, aku sadar bahwa bukan aku satu satunya bahan percobaan di sana."
Aku menundukan kepala, lalu meluruskan kaki yang terasa mulai pegal karena duduk terlalu lama.
"Ada seorang anak yang juga berasal dari panti yang sama denganku. Kami tidak benar benar bertemu, hanya bicara melalui dinding yang memisahkan tempat kami. Dia bilang bahwa panti kami diambang kehancuran. Mendengar itu, aku merasa bersalah dan sedih. Lalu aku kembali berniat menemui nona Agnes."
"Dan Agnes kembli melanggar janjinya karena ada anak lain selain dirimu yang dibawanya?" Aku segera mengiakan kalimat kakek.
"Kau seperti tak pernah belajar saja, Haru." Kakek meletakan cangkir teh yang sudah kosong di atas meja.
"Ya, sepertinya aku memang sedikit payah tentang itu. Tapi, karena itu aku jadi bisa pergi dari sana." Aku mengangkat kepala, melihat wajah kakek yang terlihat tak mengerti.
__ADS_1
"Aku juga tak begitu ingat, dan aku juga tak terlalu mengerti. Tapi rasanya, seperti ada yang mengendalikan diriku sampai aku bisa pergi dari sana."