Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 33: Akan berangkat


__ADS_3

"Selamat pagi."


Kalimat itu terdengar lembut menyapa, membuat mataku yang sayu terbuka lebar. Sayup-sayup, dalam kegelapan ini, terdengar suara langkah kaki beserta suara gorden yang disibak lebar.


Cahaya terang memaksa masuk begitu gorden itu dibuka. Maka barulah aku menyadari, bahwa kakakku, Allen, orang yang mengucapkan selamat pagi beberapa saat tadi.


Rambutnya yang pirang berkilauan diterpa sinar matahari yang merambat masuk dari kaca jendela.


"Um...selamat pagi," balasku begitu kesadaranku terkumpul seutuhnya.


Untuk selanjutnya, jendela ruangan itu dibuka lebar olehnya, udara yang masih agak dingin ikut masuk. Mataku celingak-celinguk memperhatikannya, sampai akhirnya aku sadar bahwa ini bukanlah kamar tidur.


Terlihat familiar, tapi butuh waktu bagiku untuk benar-benar sadar kalau tempat ini adalah ruang tamu. Ada sesuatu yang berbeda, beberapa barang yang bukan penduduk asli ruangan ini bertebaran di mana-mana.


Ranjang, lemari, dan beberapa barang lainnya yang aku yakin bahwa perabot itu ada di kamar Allen sebelumnya. Apa terjadi sesuatu semalam?


Allen selesai dengan gorden dan jendelanya. Kakinya bertolak menuju tempatku. Aku mengusap mata yang masih sedikit mengantuk.


"Haru, mau makan bubur atau mau kupanggangkan roti?"


Allen menarik selimut yang aku pakai, lalu melipatnya dengan mudah. Aku segera berdiri, Allen menggulung kasur tipis yang aku tiduri tadi.


"Apa saja boleh, terserah kau saja," jawabku.


"Kau sama sekali tidak berubah, mau ku cubit lagi?"


"Eh...tidak, maksudku kau bisa memilihkannya untukku. Apa saja pilihanmu akan aku terima. Kau kan kakakku, pilihanmu pasti yang terbaik, kan?"


Kata-kata manis segera tersusun di kepalaku, guna mengelak akan apa yang mungkin dia lakukan. Aku tidak mau kalau pipiku sampai ditariknya seperti waktu itu.


"Mmm...kakak, apa terjadi sesuatu semalam? Kenapa barang-barang ini ada di sini, dan kenapa aku tidur di sini?"


Pertanyaan lain ku semburkan guna mengalihkan pikirannya. Dan di lain sisi, aku memang ingin tahu apa yang terjadi dengan barang-barang yang kini bertumpuk tak jelas di sudut ruangan.


Sudut bibirnya terangkat, sedikit seringaian ditampilkannya untuk menghadapi rasa ingin tauku.


"Kau tidak akan percaya kalau aku katakan kamarku bocor, hujan sangat lebat semalam. Airnya berhasil menembus lapisan seng reot itu. Dan begitulah, semalam seperti medan perang, aku dan Liam memindahkan barang-barang seperti sedang menghadapi badai," ceritanya bersemangat.


"Lalu...semalam kau ketiduran di sofa, karena atapnya bocor, ku gelar saja kasur tipis itu agar kita bisa tidur. Liam juga, aku tidak membiarkannya tidur enak di kamarmu," tambahnya.


Lelaki pirang itu tertawa saat menjelaskan detailnya. Aku hanya mengangguk takzim, seolah paham situasi terkini di tempat kejadian perkara.


"Kenapa tidak membangunkanku? Mungkin aku bisa sedikit membantu," keluhku.


"Memangnya apa yang bisa kau bantu? Berdiri saja kau bisa jatuh. Tumbuhlah sedikit lagi, baru kau bisa sedikit berguna."


Allen mengetuk-ngetuk dahiku perlahan, terlihat sekali dari wajahnya kalau ia ingin membuatku kesal. Dan apa-apaan kalimatnya yang mengatakan kalau aku akan sedikit berguna itu? Apa aku hanya beban?


Menyebalkan...


"Um...di mana kak Liam?" tanyaku.


"Kau langsung memanggilnya kakak saat kau baru mengenalnya. Dan aku harus mengemis dulu agar kau memanggilku kakak, konspirasi macam apa itu," mulutnya jadi rewel sendiri.


"Jadi, di mana dia?" ulangku.


"Sudah pergi pagi-pagi sekali. Lagi pula rumahnya memang dekat kok, dia saja yang suka lama-lama di sini," tangkas Allen.


Ku pindahkan pandanganku ke jendela yang terbuka, cahaya yang masuk terang sekali. Kemungkinan hari ini akan cerah setelah semalam diguyur hujan.


"Jam berapa sekarang?"

__ADS_1


"Hmm? Hampir setengah delapan."


Glekk..


Mataku langsung membulat begitu mendengar kalimat Allen. Sekarang sudah jam segitu dan aku baru bangun tidur, apa kata dunia?


Aku sudah pasti terlambat datang ke sekolah. Tanganku langsung meremas rambut sendiri dengan jemari karena panik.


"Kenapa wajahmu jadi begitu? Sakit?"


"Kenapa tidak bangunkan aku lebih awal? Aku sudah pasti terlambat kalau begini," ucapku kesal.


"Terlambat apanya? Kakek melarangmu ke sekolah dua atau tiga hari ini, kan?"


"Tapi aku sudah sembuh, kan? Sudah tidak apa-apa," sergahku.


"Hah...kau ini, aku belum selesai. Tadi malam aku dapat telepon dari sekolahmu, katanya ada kebakaran. Jadi diliburkan seminggu."


"Eh? kebakaran? Kenapa?"


"Mana aku tau, cari tau saja sendiri. Sudahlah, pergilah cuci muka, lalu sarapan," titah Allen.


Napas berat berhembus dari mulutku, kakiku langsung balik kanan pergi ke kamar mandi.


***


Saat mendengar kalau sekolahku kebakaran, berbagai macam hal langsung terbang tak beraturan di kepalaku.


Ah, benar juga. Arya tinggal tidak jauh dari sekolah, bukan? Aku bisa menelponnya dan bertanya.


Baru saja tanganku hendak meraih gagang telepon rumah, tanganku langsung terhenti. Niat ingin bertanya itu luruh dan hilang nyaris tak bersisa. Tak tau kenapa, hatiku kembali berubah haluan.


***


"Tidak boleh!"


Baru saja aku bertanya pada Allen apa aku boleh ke sana, namun dia langsung memelototiku.


"T-tapi, aku hanya..."


"Tidak boleh, jadilah anak baik dan dengarkan aku."


Allen masuk ke mode tak terbantahkan, karena dia lebih tua dariku, dia yang berkuasa. Kurang lebih seperti itu prinsipnya.


"Tapi aku bosan hanya di rumah," bantahku.


"Mau main sesuatu bersamaku?" tawar Allen.


"Kau pikir usiamu berapa?" tolakku.


Percakapan itu tak menghasilkan solusi. Kenapa dia begitu pelit dan tak membiarkanku saja? Toh, aku juga tak merepotkannya jika aku pergi. Aku bisa pergi sendiri naik bus tanpa harus minta bantuannya untuk diantar.


"Pokoknya tidak boleh ke sana, kalau tempat lain mungkin bisa aku pertimbangkan. Asal..."


Aku langsung gregetan tak sabar mendengar lanjutan kata 'asal' nya yang panjang.


"Asal...aku boleh ikut," lanjutnya.


Dahiku dibuatnya berkerut. Kenapa dia juga mau ikut?


"Hm...kalau gitu, ayo pergi bersenang senang sebagai kakak dan adik. Kita tak pernah jalan-jalan keluar bersama, kan? Atau haruskah aku menyebutnya kencan?" usul Allen sambil tertawa nakal.

__ADS_1


Dia bersemangat, tampak sangat jelas dari wajahnya yang berseri-seri.


"Kencan jidatmu, tidak mau."


"Hei, aku hanya bercanda," ucapnya sambil menggaruk kepalanya sendiri, menahan tawa melihatku yang tidak terima.


"Ke mana?" tanyaku.


"Ke tempat yang kau mau, asal jangan ke tempat temanmu, aku bakal terlihat seperti patung kayu tua jika ke sana," jelasnya.


Patung kayu tua? Apa maksudnya? Tapi...dia bilang boleh ke mana saja asal jangan ke rumah Arya. Mungkin ini akan jadi kesempatan bagus buatku, yang seperti ini bisa ku manfaatkan.


"Kau serius?" tanyaku untuk memastikannya sekali lagi.


Allen mengangguk riang, seperti anak-anak saja.


"Aku...punya sebuah permintaan. Ada sebuah tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi mungkin...ini akan sedikit sulit," ucapku ragu-ragu.


Dia menurunkan badannya, sehingga tinggi kepala kami kini kurang lebih sama. Lantas mendengarkanku lebih seksama.


"Aku ingin pergi ke sebuah panti asuhan yang ada di kota dekat dermaga besar, um...aku lupa namanya."


Aku berusaha mengingat-ingatnya, tapi tetap saja nama kota itu tak muncul di kepalaku.


"Dekat dermaga? Oh, aku tau. Tapi kenapa mau ke sana? Panti asuhan? Ada apa denganmu?"


Pertanyaan Allen menggebu, aku ingat kalau aku belum pernah bilang tempatku berasal sebelum ini, bahkan tidak tentang detailnya. Dia hanya tau kalau kakek mengadopsiku sebagai cucunya yang berarti kalau aku jadi saudaranya, tidak lebih dan tidak kurang.


"Ada seseorang yang ingin aku temui, dia pernah menyelamatkan hidupku. Tapi... ku rasa ada sedikit kesalahpahaman dengan kami. Eh, maksudku aku hanya ingin meluruskannya."


Aku menundukan kepala, menatap keramik lantai yang berwarna putih. Aku sedikit khawatir dengan reaksi apa yang akan diperlihatkan olehnya. Apa dia akan marah karena aku minta sesuatu seperti ini?


Buk...


Tangan Allen mendarat perlahan di kepalaku, lantas jemarinya mengurai rambutku yang pendek dari atas ke bawah. Lantas mengusapnya lembut.


"Apa itu tempatmu berasal?"


"Um...ya, aku pernah tinggal cukup lama di sana."


"Dan kau ingin bertemu orang yang sudah menyelamatkan hidupmu?"


"Ku harap begitu."


"Kalau begitu, ayo ke sana."


Aku kaget mendengar jawabannya. Dia tak memperbolehkanku pergi menwmui Arya, tapi dengan mudahnya dia mengizinkanku pergi ke tempat yang lebih jauh.


"Eh? boleh? Apa tidak apa-apa? Lalu kakek bagaimana?"


"Dia sudah pergi sejak pagi tadi, seseorang menjemputnya dan mungkin tidak akan pulang dua sampai tiga hari," cetus Allen.


Aku baru sadar kalau aku melupakannya, sejak ada Allen, aku mulai terbiasa tidak melihat kakek.


"Jadi...ayo bersiap dulu, kota pergi se-jam lagi."


"Eh? Secepat itu?"


Maka, dalam waktu satu jam itu aku langsung mandi dan menyiapkan beberapa barang untuk dibawa. Jika menggunakan mobil, maka akan memakan waktu sekitar tiga belas jam. Tapi jika kami naik kereta, waktu yang panjang itu bisa dipangkas sampai tersisa nyaris kurang dari setengahnya. Begitulah, meski katanya harus berganti kereta satu atau dua kali.


Aku jadi berdebar setiap detiknya karena ini. Semoga semuanya baik-baik saja saat aku sampai di sana. Ya, semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2