
Antara berharap dan memastikan hal yang sudah pasti. Antara memperjelas hal yang benar dan salah, atau apa mungkin aku yang terlalu percaya diri? Mungkin ini hanya sebuah kalimat yang melintas begitu saja di kepalaku, tapi jika tak aku ucapkan, kepalaku rasanya akan meledak.
Tiap detik terus berlalu dan menyatu, mambuat melodinya sendiri tanpa cela dan noda. Mungkin mustahil membuat jarumnya berputar melawan arah. Tapi seandainya bisa, aku ingin memulai segalanya dari awal. Susunan hidup yang sekarang penuh dengan kalimat yang tak aku pahami, ada banyak maksud dan arti yang terselubung di balik tabirnya.
Um... coba tebak, menurutmu apa yang akan aku katakan berikutnya? Yang kita bicarakan sekarang adalah tentang permasalahan kecilku yang sebelumnya. Tapi tentu saja aku tau kalau kau tak akan bisa menebaknya. Tapi mungkin aku akan memberimu kesempatan sejenak.
Baiklah, kau terlalu lama berpikir. Biar aku mulai saja. Dengar, aku tidak marah. Kau saja yang terlalu lama berpikir. Mungkin kau akan mendapat sebuah tebakan beruntung nantinya. Jadi, apa sudah boleh aku lanjutkan?
***
Sepasang mata beriris hitam legam menatapku lekat, seolah sudah menerka apa yang akan aku katakan. Tapi, tentu saja aku belum mengatakan apa pun. Aku akan mengatakan hal yang bisa membuatnya terkejut, aku tak sabar melihat ekspresinya nanti.
Sementara itu, Allen, kakak angkatku, melanjutkan menyeruput tehnya yang sudah mulai dingin. Sudah tidak ada lagi uap yang muncul dari permukaannya, dan kau tau, teh dingin itu rasanya sudah tidak enak, sepat dan pahit.
Lelaki itu kini terlihat begitu tenang, seolah ia sudah memenangkan perang. Tapi nyatanya ini baru saja dimulai, dan ini juga bukan sebuah perang. Ini hanya sebuah percakapan antara kami berdua dan kak Hana yang menjadi inti dari segalanya.
Aku memundurkan tubuh, berusaha rileks untuk memulai kalimat pertama. Ku sandarkan punggungku ke sandaran sofa yang sudah tidak terlalu nyaman itu. Teksturnya sudah keras dan warnanya juga sudah memudar. Ini bukan masa kejayaannya lagi, mungkin kursi sofa ini sebaiknya segera dipensiunkan dan digantikan dengan yang baru.
"Pertama-tama, aku tidak akan bilang kalau aku ingin kembali tinggal di sini bersama kak Hana," ucapku sambil memberi jeda untuk bernafas.
Kalimat pembuka yang tidak terlalu buruk menurutku, sekaligus memperjelas bahwa aku sudah tidak terlalu berharap bisa hidup bersamanya lagi. Dan dibanding itu semua, aku memang sudah tidak mengharapkannya, aku sudah tau kebenaran akan sesuatu.
"Itu sudah jelas, kan? Kau sudah punya aku," potong Allen.
Aku mengernyitkan dahi meliriknya, kenapa dia bisa sepercaya diri itu? "Jangan memotong kalimatku," tegasku
"Iya, aku tau, itu hanya untuk mempertegas kalimatmu," lanjutnya.
Dia masih sibuk dengan cangkir tehnya yang sudah nyaris kosong, lalu meletakannya di atas tatakan kecil yang tadinya menyertai cangkir itu. Tangannya berbalik arah, tehku yang belum tersentuh menjadi incarannya, apa teh memang seenak itu? Dan lagi, itu sudah dingin.
Otakku kembali pada hal yang menjadi fokusku, yaitu pembicaraanku dengan kak Hana.
"Lalu, ada hal yang terus menggangguku. Aku... pernah melihat fotomu saat aku ada di Chinchilla. Dan ku pikir, kau tau sesuatu tentang itu," ucapku ragu-ragu.
__ADS_1
Gadis muda yang jadi lawan bicaraku itu terdiam sejenak, berusaha mencerna kata-kataku. Dan untuk sepersekian detik kemudian, ekspresinya sedikit berubah.
"Fotoku? Itu hal yang masuk akal, kan? Aku pernah bilang kalau panti ini milik mereka, mungkin saja mereka menyimpan data tentang penghuni panti," balasnya percaya diri.
"Itu... bukan foto biasa, aku yakin ada orang lain yang aku kenal di foto itu. Sekarang jujurlah padaku, apa hubunganmu dengan nona Agnes?" tanyaku langsung pada inti masalahnya.
Foto yang ku maksud itu, aku melihatnya di ruang kerja nona Agnes saat beberapa kali aku menemuinya ketika aku masih jadi percobaan menyebalkan di chinhilla.
Hening sejenak, tapi aku yakin kalimatku ini sudah merujuk pada inti masalahnya. Jadi, mungkin dia juga sudah paham maksudku. Atau apa mungkin dia akan terkejut saat mendengar itu keluar langsung dari mulutku?
Tapi sepertinya dugaanku salah, dia malah balas tersenyum hambar. Seolah tak ada penolakan yang akan dilontarkannya, seolah kalau dia akan mengatakan kalimat yang mungkin akan kudengar dengan senang hati.
"Aku benar-benar tak menyangka kau akan mengatakan itu. Haru, kau sudah mulai dewasa. Kau bukan Haru kecil yang murung dan pendiam lagi," balasnya sambil sedikit tertawa.
Aku hanya memiringkan kepala, menunggu jawabannya. Tak masalah dia menyebutku murung dan pendiam, kurasa aku tidak begitu. Tapi entahlah, ada ungkapan yang mengatakan kalau yang menilaimu adalah orang lain, bukan dirimu sendiri. Tapi, apa peduliku?
"Katakan padaku, masih ada yang ingin aku tanyakan setelah ini," desakku.
"Di ruang kerjanya nona Agnes, saat aku masih di chinchilla. Dan kau adalah orang pertama yang aku tanyai," jawabku mantap.
Gadis itu bernapas lega ketika kalimat terakhir itu ku ucapkan.
"Baiklah, dengar. Aku dan Agnes sebenarnya saudara sepupu. Kami tinggal bersama sampai umurku sepuluh tahun. Dia mengambil alih chinchilla dan aku yang mengurus panti. Dan sebenarnya, semua yang kau lihat hanya kepura-puraan. Semua pengurus di sini juga palsu," jelasnya dengan tatapan mata yang kosong, mirip seperti sorot mata ikan yang sudah mati yang berjejer di pasar tradisional.
"Sudah kuduga, ternyata ada sesuatu dengan panti ini. Terima kasih nona, dengan ini aku bisa memperkuat argumenku," lontar Allen dengan senyuman khasnya yang sinis. Jemarinya memainkan sendok teh yang sejak tadi diam di atas tatakan gelas.
"Jadi apa sejak awal kau hanya menerka dan mengatakan tau sesuatu? Kau licik, jadi Haru sama sekali tidak mengatakan apa pun?" tandas kak Hana.
"Ini bisnis, nona. Haru bahkan terlalu pendiam untuk hanya sekedar mengatakan hal seperti itu padaku," balasnya.
"Yah, akhirnya kau tau. Kau bisa merusak Haru dengan sikap burukmu yang suka berbohong itu, dan kau masih bisa mengatakan kalau kau adalah kakaknya? Benar-benar pemuda yang menyedihkan,"
Allen tak terlalu mendengarkannya. Ya, dia memang menyedihkan, atau aku lebih suka menyebutnya menyebalkan. Atau mungkin, sedikit cerdik akan mendeskripsikan dirinya dengan pandangan yang lebih baik.
__ADS_1
"Dan lagi, ini juga karena sesuatu yang harus kami lakukan. Ini memang sebuah kepura-puraan. Maaf untuk itu, Haru. Apa yang kau lihat dan rasakan itu hanya omong kosong belaka, tidak lebih. Kami memang iblis, berpura-pura menjaga anak-anak terlantar dan akhirnya membiarkan chinchilla mengutak atik mereka,"
Sebuah ekspresi penyesalan tergambar sangat jelas di wajahnya. Matanya yang sendu seolah berkata kalau itu adalah kebenarannya.
"Itu...di luar dugaanku. Tapi menurutku, apa yang aku lihat itu nyata. Maksudku tentang caramu memperlakukanku dan menjagaku dulu. Menurutku... kau tulus," aku jadi bingung melanjutkan kalimatku sendiri.
"Begitukah? Terima kasih jika kau bilang begitu. Tapi mungkin yang lainnya hanya kebohongan, dan aku tau apa yang aku lakukan salah. Juga apa yang kau rasakan, dan aku tau kalau aku memang orang yang buruk. Bahkan jika kau membenciku, itu juga tidak masalah. Aku juga tau kalau jika aku mati nanti, jiwaku tidak akan tenang. Surga akan menolakku dan neraka akan senang melihatku yang hanya setengah-setengah," imbuh kak Hana pasrah.
"Nona, kau bahkan percaya diri sekali dengan nasibmu. Itulah kenapa aku tidak menyukai tipe gadis sepertimu, terlalu percaya diri. Kepribadianmu yang seperti itu sepertinya sudah merusak Haru saat kau masih merawatnya dulu," balas Allen.
Kak Hana sama sekali tidak mengubrisi balasan Allen tadi. Sedangkan Allen menganggapnya sebagai sebuah titik impas, dasar tidak mau kalah.
"Lalu, ada hal lain yang ingin aku ketahui. Untuk apa mereka menjalankan panti dan chinchilla?" tanyaku lagi.
"Sederhana, kekuatan militer. Apa kau tidak merasakan efek apa pun pada tubuhmu?" jawabnya tanpa berpikir lama.
"Hei nona, yang dia rasakan hanya rasa sakit. Kalian memang tidak punya hati. Umurnya masih empat belas tahun dan kalian malah memperlakukannya seperti itu," seloroh Allen.
"Maaf tentang itu. Aku tau, tapi apa kau yakin tidak ada hal apa pun yang terjadi? Terlebih kau satu-satunya subjek yang sudah mencapai delapan puluh tujuh persen. Dan kau sedang dicari. Oh tidak, kenapa kau kemari? Jam berapa sekarang?"
Ekspresi kak Hana berubah panik.
"Sepuluh menit lagi jam sebelas siang," balas Allen yang baru saja mengecek ponsel pintarnya, di sana sudah tertera penunjuk waktu yang akurat.
"Aku sarankan, kalian cepatlah pergi. Orang-orang dari chinchilla akan kembali kemari sebentar lagi. Haru, jangan sampai kau tertangkap," Ucap kak Hana sembari bangkit dari posisi duduknya.
"Tunggu, ini membingungkan. Kau ada di pihak mana? Kau menyuruh Haru pergi dan tidak ingin kalau Haru tertangkap," potong Allen.
"Ya, waktu itu kau juga menyuruhku pergi," tambahku.
"Itu karena sejak awal aku tidak ingin melakukan ini. Aku tau ini salah, dan ini juga salahku. Seandainya aku sedikit lebih pintar, maka tidak akan ada percobaan mengerikan itu. Aku dan Agnes sebenarnya bersaing untuk itu, dan dia memenangkannya. Dan sebenarnya ada lebih banyak pusat penelitian dan panti yang dikendalikan. Hanya saja, ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya,"
"Pergilah, sekarang atau tidak sama sekali!"
__ADS_1