Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 17: Kejadian senja itu


__ADS_3

Senja di hari minggu. Nyaris tak ada yang bisa menandingi indahnya guratan jingga di langit. Cahaya keemasannya bisa mengembalikan senyuman ketika mata memandangnya. Seolah tuhan dengan sengaja melukis langit seindah itu.


Hanya dengan melihat suatu keindahan, manusia bisa langsung jatuh cinta. Keindahan itu seperti mantra sihir, ia mempengaruhi dan memanipulasi.


Aku sampai di depan rumah sekitar pukul setengah enam senja itu. Setelah turun dari bus kota, aku hanya perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit untuk sampai ke rumah. Jalanan kompleks lengang, nyaris bisa disebut mati. Nyaris tak ada tetangga yang aku kenal.


Lingkungan ini sebenarnya terbilang unik. Nyaris tidak ada yang senang beramah tamah dengan mengunjungi satu sama lain. Jangankan saling bertamu, muncul pun jarang. Aku tak mengerti entah apa yang mereka lakukan seharian di rumah mereka.


Lengang, itulah yang ku dapatkan setelah membuka pintu depan. Ada sebuah kertas kecil terdelip di vas bunga yang ada di meja ruang tamu. Sebuah pesan dari kakek.


"Haru, aku pergi untuk bertemu dengan teman lamaku. Mungkin aku baru pulang jam delapan malam. Cek saja lemari es untuk makan malam, aku sudah memasak sesuatu, panaskan saja di microwave."


hah...


Aku menghembuskan napas pelan. Hanya akan ada aku sampai nanti malam. Rumah ini akan jadi sepi sekali.


Mandi menjadi pilihan pertama yang harus dilakukan sekarang. Seharian aku berkeliaran dan itu sudah cukup untuk membuat kulit kering dan gatal. Lagi pula, tidur tidak akan nyenyak jika belum mandi.


Langsung saja aku guyur kepalaku dengan air dingin. Dinginnya air membuat kulitku seolah membeku. Rutinitas mandi hanya berlangsung beberapa menit.


Waktunya untuk mengisi perut. Aku mengecek lemari es, dan menemukan makanan di sana. Sesuai instruksi kakek di pesan yang ditinggalkannya, aku memanaskan makanan itu ke dalam microwave.


Setelah makanan siap, aku memilih untuk memotong buah sebagai makanan penutup nanti. Biasanya, jika kakek di rumah, dia memberiku puding setelah makan.


Tok tok tok...


Gerakan tanganku terhenti. Sepertinya ada seseorang di luar. Apa kakek sudah pulang? Sepertinya tidak mungkin karena sekarang masih pukul setengah tujuh. Atau apa mungkin ada tetangga yang butuh sesuatu? Mungkin juga tidak. Para tetangga kami adalah kaum yang jarang mau bersosialisasi.


Siapa pun yang datang tidak masalah. Aku hanya perlu membuka pintu dan mengatakan kakek sedang tidak di rumah. Atau jika dia mau, dia bisa menunggu sampai kakek pulang.


Pintu itu ku buka, seorang laki laki muda berdiri di sana. Mungkin usianya baru menginjak dua puluh tahun, tapi entahlah, aku juga tidak tau. Dan satu hal yang pasti, dia terlihat seperti...bule?


Matanya berwarna hijau dan rambutnya pirang. Postur tubuhnya juga tinggi.


"Siapa kau?"


Dia menatapku, wahnya terlihat tak senang. Dia melangkah masuk begitu saja.


" Tu...tunggu..."


Aku berusaha menghentikannya yang sudah duluan masuk ke dalam. Ada apa ini? Siapa dia? Kenapa masuk rumah orang seenak jidatnya begini?


"Kau! Apa yang sudah kau lakukan?! Kenapa diam saja?!"

__ADS_1


Ini ganjil. Siapa dia? Kenapa dia malah bertanya begitu? Seharusnya aku yang bertanya. Atau apa mungkin, dia seorang penjahat?


"Oh, semuanya sudah lebih jelas sekarang."


Dia melihat tanganku. Aku memegang pisau yang aku gunakan untuk memotong buah tadi. Karena tak sadar, pisau ini jadi terbawa. Apa dia berpikir kalau aku akan mencelakainya? Ini salah paham. Bukannya dia yang menyelonong masuk begitu saja?


"Kau..."


Dia menerjangku dan mendorong tubuh ringkuhku ke dinding sampai kepalaku terbentur cukup keras. Pisau itu terlempar jatuh dari tanganku. Aku meringis, dia memegangiku seolah aku adalah seorang pembunuh. Tanganku dikunci oleh gerakannya, sampai aku tak bisa bergerak.


"Le..lepaskan..."


Aku berusaha mendorongnya, tapi tentu saja usahaku hanya sia sia. Perbedaan kekuatan kami terlalu besar.


"Jadi, apa yang sudah kau lakukan tadi?"


Dia menatapku dengan lebih tajam. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat kalau dia sedang marah. Tapi apa yang membuatnya marah? Aku merasa tidak melakukan sesuatu. Pisau itu hanyalah pisau buah.


Kenapa dia bisa berpikir kalau anak sepertiku melakukan sesuatu? Bukankah sangat jelas kalau aku masih anak anak?


"Kenapa diam saja? Jawab!"


Tangan kananya bergerak mencengkeram leherku. Caranya yang begitu memaksa membuatku muak. Tak bisa begini terus, dia akan membunuhku jika terus begini.


Aku menggigit tangannya, lalu berhasil melepaskan diri. Aku lari selagi dia masih kaget setelah ku gigit. Aku akhirnya bersembunyi di dalam lemari tempat aku bersembunyi dulu. Semoga dia tak menemukanku. Semua ini hanya salah paham.


Tap..tap..tap..


Suara langkah kaki terdengar dari luar. Aku menahan napas. Suara langkah kaki itu terdengar semakin dekat dan terus mendekat. Jantungku berdetak tak karuan. Aku takut, sangat takut.


"Apa apaan itu? Kau mau main petak umpet? Payah..."


Suaranya terdengar begitu jelas, membuatku tak bisa bergidik. Aku yakin kalau dia sudah ada di depan lemari.


klek..klek..


Dia mengunci pintu lemarinya dari luar. Aku sudah ketahuan.


"Tetaplah di situ. Kau tak bisa ke mana pun sekarang."


Dia pergi, aku yakin dari suara langkah kakinya yang terus menjauh. Tapi, aku terkunci di tempat persembunyianku sendiri. Kenapa dia tak sekalian menghabisiku saja? Ini membuang waktu. Pintunya tak terbuaka meski berapa kali pun aku berusaha mendorongnya.


Mungkin sudah satu jam aku ada di dalam lemari. Dia tak lagi datang. Aku tak tahu harus apa. Jika terus menunggu, mungkin kakek akan pulang sebentar lagi. Tapi, bagaimana jika dia mencelakai kakek saat itu?

__ADS_1


Mungkin aku bisa berteriak minta tolong agar seseorang yang ada di luar bisa membantuku. Atau mungkin juga tidak, para tetangga tidak akan pernah mau bersusah payah keluar dari rumah mereka untuk menolong anak sepertiku.


Masalah lainnya muncul. Perutku tak bisa lagi diajak bekerjasama. Padahal, dulu tak masalah bagiku jika tak makan selama satu atau dua hari. Rasa lapar ini mulai menyiksaku. Makanan di atas meja tadi belum sempat ku makan.


Rasa takut seperti dulu kembali muncul. Seperti nostalgia, aku bersembunyi di dalam lemari yang sama.


Namun kali ini, sedikit berbeda. Dulu aku bisa keluar mencuri roti karena lemari ini tak dikunci. Tapi sekarang, jangankan roti, bernapas saja susah. Udara mulai terasa pengap karena tak ada ventilasi udara atau sejenisnya.


Malam mulai larut, hawa dingin merambat masuk melalui celah kecil di lemari, tapi bukan masalah. Ada banyak kain dan pakaian yang bisa aku gunakan untuk menghangatkan diri.


Satu jam kembali berlalu. Tak ada tanda tanda kalau kakek sudah pulang. Dan itu membuatku berpikir banyak. Bagaimana selanjutnya?


Klek...


Suara pintu yang di buka terdengar dari kejauhan. Apa kakek sudah pulang? Bagaimana jika orang itu melakukan sesuatu pada kakek? Aku tak bisa berbuat apa apa karena dikunci di lemari.


klek..klek..


Pintu lemari terbuka, cahaya merambat masuk ke lemari. Kakek muncul di hadapanku dan mengangkat tubuhku keluar dari lemari. Semuanya baik baik saja. Orang itu tidak mencelakai kakek. Dia berdiri di dekat pintu, bertingkah seolah tak peduli.


"Haru, kau baik baik saja?"


Kakek mengusap kepalaku, aku hanya diam karena tubuhku masih lemas terkurung dalam lemari yang pengap dan belum makan malam. Aku yakin wajahku sudah terlihat pucat.


"Kepalamu...sepertinya terluka."Ucap kakek.


Aku meraba bagian belakang kepalaku sendiri. Ada sedikit bagian yang terasa bengkak dan ada bekas darah yang sudah mengering.


"Jadi, apa maksud semua ini?" Laki laki yang mendorongku tadi akhirnya bicara.


"Siapa dia?" Katanya lagi.


"Dia cucuku." Kata kakek tanpa menoleh sedikit pun.


"Apa?! Mustahil! Apa kakek menikah lagi secara diam diam dan mendapat cucu setelah itu?! Apa kakek selingkuh di belakang nenek?! Sejak kapan, kek?"


Pria itu mengacak acak rambutnya sendiri, seperti orang yang sakit kepala. Dan tunggu dulu, dia memanggil kakek dengan sebutan 'kakek'. Apa dia...cucu kakek yang sering diceritakannya? Dia berbeda sekali dari bayanganku.


"Bukan, jangan katakan yang aneh aneh. Lagi pula, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau seharusnya sedang kuliah? Kenapa ada di sini dan membuatnya jadi begini?"


"Bisa kita bicarakan itu nanti saja, sepertinya dia butuh sesuatu." Laki laki itu masih terlihat tidak terlalu acuh.


Setelah itu, kepala belakangku diberi plester luka karena itu hanya luka kecil karena terbentur dinding. Setelah makan, aku akhirnya tidur.

__ADS_1


Kejadian senja itu membuatku sedikit trauma dengan lemari. Padahal dulu sekali itu adalah tempat kesukaanku. Semuany sudah berubah sekarang. Dan dia, laki laki yang mendorongku tadi akan tinggal di sini.


__ADS_2