
Pukul sembilan pagi. Hari ini cerah, seakan matahari senang melihatku berjalan dibawahnya. sesuai janji kakek, kami akan pergi ke salon pangkas rambut dan memotong rambutku yang sudah mulai panjang.
aku disuruh memakai celana panjang warna coklat dan kemeja berpola kotak kotak warna merah. kemeja ini terlihat sedikit kebesaran untukku, tapi aku masih bisa menggulung lengannya sedikit.
kakek mengeluarkan mobilnya yang berwarna hitam dari garasi. sebenarnya tadi dia bilang ingin jalan kaki saja, namun aku kasihan pada pinggangnya yang sering sakit.
kupikir itu adalah hal yang lumrah bagi pria berumur 58 tahun. mungkin belum terlalu tua, tapi tetap saja ia jarang berolahraga dan lebih senang mengurung diri dan seharian duduk di laboratorium. Itulah kenapa olahraga itu sangat penting. atau jika tidak, kau harus merasakan sakit di pinggang dan persendianmu.
"Naiklah, Haru." kata kakek sembari menekan klakson satu kali. aku segera membuka pintu mobil dan duduk tepat disebelahnya.
aku senang akhirnya bisa keluar sejenak dan melihat dunia luar. tak kusangka aku akan seberuntung ini. aku jadi teringat saat pertama kali bertemu kakek.
Tiga bulan yang lalu...
mungkin ini adalah hari terakhirku, mungkin seharusnya aku tidak mengacau di sana, bodohnya aku...
aku terus berjalan sambil memegangi perut yang sakit karena lapar, sudah dua hari aku tidak makan, dan makan terakhirku hanyalah sepotong roti yang dibagikan oleh beberapa orang dermawan di jalanan kota.
badanku juga sakit semua, ada banyak luka memar dan lecet. kepalaku sakit dan tubuhku terasa panas. aku juga sudah lama tidak mandi. penampilanku sudah seperti seorang gelandangan. pakaianku kumuh dan sobek sana sini. aku berjalan kesana kemari tanpa mengenakan alas kaki.
saat aku hampir putus asa, aku menemukan secercah harapan kecil untuk hidup. aku menemukan sebuah rumah bagus yang kelihatannya terlalu sepi.
kupikir rumah itu susah ditinggalkan pemiliknya karena pagarnya terbuka begitu saja dan rumput di halamannya sangat panjang.
sebuah peluang !?
tanpa pikir panjang, kulangkahkan saja kakiku yang kotor ini ke teras rumah itu. dan untungnya pintu rumah ini tak dikunci.
apakah ini pertanda baik untukku?
tanpa ragu, aku masuk lebih jauh. tak ada siapa pun di dalam. tapi perabotannya masih sangat bagus walau pun ada banyak debu yang menempel di sana sini.
__ADS_1
haruskah aku keluar dari sini sekarang? sangat tidak sopan masuk begitu saja ke rumah orang, tapi... tidak ada siapa pun.
aku dibuat bingung dengan pertanyaan bodoh yang kulontarkan pada diriku sendiri. rasa sakit ini membuatku tak bisa berfikir secara logis.
makanan...
petama aku harus temukan makanan dulu.
aku terus menelusuri rumah itu dan berhasil menemukan dapur. ada sebuah lemari es dua pintu yang dipajang di sudut ruangan. itulah yang sedang kucari.
dengan segera, aku tarik pintu lemari es itu. tak ada makanan yang bisa dimakan. hanya sisa sisa buah busuk dan daging beku yang sudah menempel pada frezer.
sepertinya keberuntungan masih belum berpihak padaku. aku kembali melihat sekeliling, ada sebuah lemari kayu kecil di samping wastafel. tanpa menunggu, aku menghampirinya dan menemukan roti tawar yang bungkusnya sudah dibuka, tapi tak masalah karena masih bisa dimakan.
rasa perih di perutku sedikit terobati, tapi jika ada makanan yang sudah dibuka seperti itu, bukankah seharusnya ada seseorang yang tinggal di sini? bodohnya aku, aku harus cepat keluar dari sini, sebelum seseorang menangkapku dan memukuliku karena sudah mencuri dan masuk diam diam.
aku berusaha mencari pintu yang kulewati tadi, tapi sayangnya tak kunjung ketemu. kepalaku semakin sakit. kenapa harus sekarang?
aku terus mencari cari pintu keluar, namun rasa sakit yang menjalar di kepalaku semakin tak tertahankan. mataku jadi sangat berat dan tak bisa diajak untuk bekerjasama. maka, saat itu juag aku kehilangan kesadaranku di dekat sebuah sofa tua.
***
aku berusaha membuka mata yang masih sedikit berat. kepalaku masih terasa sakit. aku masih berada di dalam rumah ini, tepat di dekat sofa tua.
huft...
aku menghembuskan napas lega. kupikir aku tertangkap oleh pemilik rumah ini atau kemungkinan terburuknya aku sudah mati. tapi ternyata tidak. keberuntungan masih ada dipihakku.
sekarang aku hanya harus keluar dari rumah ini dan pergi, seolah tak pernah terjadi apa apa. aku berjalan perlahan menuju pintu, namun aneh. pintunya tak bisa dibuka. sepertinya dikunci. Apa aa seseorang di sini?
nasib sedang mempermainkanku rupanya, menyebalkan. ada suara langkah kaki yang mendekat, aku segera bersembunyi di belakang sofa.
__ADS_1
Lalu muncul sosok seorang pria yang kelihatannya sudah berumur, seorang kakek?
"kupikir tadi ada suara, tapi sepertinya hanya perasaanku saja." aku mendengar kakek itu bergumam pada dirinya sendiri, lantas pergi begitu saja.
tamatlah riwayatku, kakek itu tubuhnya cukup besar dan tinggi. membereskan pencuri kecil sepertiku ini bukanlah hal yang sulit untuknya.
aku harus mencari tempat bersembunyi yang lebih aman tanpa diketahui kakek itu. entah dia sedang ada di mana sekarang, tapi sepertinya aku akan aman untuk saat ini.
tempat bersembunyi yang kupilih adalah sebuah lemari pakaian besar di sebuah kamar tidur. aku masuk kedalam dan berdiam diri, sembari menunggu kakek ini pergi keluar rumah dan membuka pintu.
***
Tiga hari kemudian...
kenapa kakek ini tak kunjung pergi keluar dan membuka pintunya? aku sudah mulai kesulitan berada di dalam lemari ini.
aku masih bisa mencuri roti dari lemari untuk beberapa hari ini setiap malamnya, tapi sepertinya tak bisa terus seperti ini. sepertinya ini adalah kiamat bagiku.
aku lapar, aku harus mencuri makanan lagi ke dapur. aku sudah masuk kategori orang jahat. aku mencuri milik orang lain. bukankah itu termasuk kejahatan? aku tak akan menyangkalnya. aku memang seorang penjahat kecil yang nakal. ibuku tak akan senang kalau tau hal ini.
dengan cepat, aku berpindah ke dapur dan kembali lagi ke dalam lemari dengan membawa dua lembar roti tawar. aku segera habiskan keduanya dalam waktu cepat.
aku merebahkan tubuh, kepalaku masih sakit dan belakangan ini semakin menjadi jadi. kupikir aku tak akan bisa hidup lagi setelah ini.
semakin kupikirkan, rasa sakitnya semakin memuncak. tak hanya itu, tubuhku jadi semakin terasa panas setiap malamnya. tanpa kusadari, air mataku menetes.
tak.. tak.. tak..
ada suara langkah kaki yang mendekat. Apa tadi aku terlihat olehnya saat mengambil roti? Bodohnya aku, seharusnya aku lebih berhati hati.
Seperti kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Mungkin itulah kalimat yang bisa menggambarkan keadaanku saat ini. Sejak awal seandainya aku tak pernah datang ke sini. Seandainya saja aku tak pernah lari dari tempat itu. Seandainya saja...
__ADS_1
klek...
pintu lemarinya terbuka perlahan, ini adalah akhir dari hidupku. pria itu sepertinya akan menemukanku.