
"Ternyata kau, lama tidak bertemu, Liam, apa kabar?" sapa kakek.
"Oh, kakek. Lama tidak bertemu," ujar lelaki muda itu.
Eh, jadi mereka memang saling kenal?
***
Jam delapan lewat lima menit.
Kami kembali ke meja makan setelah membereskan semua kebingungan itu. Semuanya baik baik saja, hanya aku satu satunya orang yang kebingungan di sini.
Dan ternyata, lelaki aneh itu adalah orang yang memang dikenal oleh Allen maupun kakek. Lelaki itu bernama Liam, dia temannya Allen. Benar benar tak terduga, bukan?
Aku bahkan tak sampai habis pikir kalau mereka memang berteman, akan lebih cocok jika mereka disebut sebagai musuh bebuyutan. Atau mungkin, apa memang begitu cara mereka berteman? Ada begitu banyak tipe orang di dunia ini, dan semuanya berbeda beda.
Itulah indahnya dunia, memiliki begitu banyak perbedaan, meski dalam hal seperti ini pun tetap disebut perbedaan. Ya, bedanya yang satu jomblo dan yang satunya palyboy. Tapi apa maksudnya?
Yah, jika semuanya sama saja, maka dunia akan terasa sangat membosankan, bukan? Dunia bisa saja jadi hitam putih, seperti tv analog model lama yang menggunakan aki untuk membuatnya menyala.
"Eh? Jadi ini masakan si blonde?"
Lelaki bernama Liam itu memasang ekspresi tak percaya begitu kakek berkata kalau Allen yang memasak makan malam. Meski begitu, dia terlihat menikmatinya. Matanya seolah berkaca kaca saat memandangi meja makan.
"Ada perlu apa kau kemari?" ucap Allen langsung pada intinya.
Matanya terlihat tak suka, terus memandangi Liam yang tengah asyik menghabiskan isi piringnya. Liam hanya mengangkat bahu sejenak, lantas menyuap makanan ke dalam mulut.
Aku tau masakan Allen memang enak, terlepas dari seberapa menyebalkannya dia. Tapi kalau aku boleh berpendapat, Liam seperti orang yang sudah lama tidak makan.
Mulutnya terbuka lebar menyambut sendok dengan makanan diatasnya. Sesekali, suapan itu diselingi dengan air yang diminumnya sekali teguk. Singkat kata, kita bisa mengkategorikannya sebagai makhluk rakus.
Jadi, tidak salah kan kalau aku menyebutnya orang aneh?
Allen hanya menghembuskan napas berat setelah melihat respon temannya itu, lantas melanjutkan makannya sendiri.
***
Setelah selesai di meja makan, kami semua berpindah lokasi ke ruang tamu. Tepatnya, duduk di jajaran sofa tua depan televisi yang merupakan salah satu tempat favoritku di rumah ini.
Hanya Aku, Allen dan Liam. Kakek tidak ikut duduk bersama kami, dia sudah duluan pergi ke ruang kerjanya, mengurus beberapa hal. Atau apa mungkin dia menghindari perkumpulan anak muda? Hah...ada-ada saja.
Liam mengeluarkan sebuah map plastik dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya kepada Allen dengan malas.
"Nih, nilai semestermu," kata Liam.
__ADS_1
Map plastik itu diterima oleh Allen, lalu dia menaruhnya begitu saja di atas meja tanpa membukanya.
"Terima kasih, tapi kau tidak usah melakukannya lagi."
Allen meraih remote yang ada di samping map plastik yang baru saja diletakannya, lantas menekan tombol power untuk menyalakan televisi. Layar kaca yang awalnya hitam itu pun menampilkan gambar.
"Kalau aku bisa, aku tidak akan peduli, ini kan masalahmu. Para dosen itu terus mengancam nilaiku hanya karenamu. Berhentilah melakukan hal gila, aku yang selalu harus mengurus semuanya, aku bukan ibumu, kau tau."
Liam menghembuskan napas perlahan setelah melepaskan keluhannya. Bisa ku mengerti bagaimana perasaannya, Allen sepertinya membuatnya mengurus banyak hal. Hanya karena mereka berteman, Liam jadi ikut terseret.
"Ini sudah yang ketiga kalinya kau menantang dosen dan pergi begitu saja, kenapa tak mengecek nilaimu? Kau percaya diri sekali bisa lulus."
Liam menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, membuat dirinya merasa lebih santai dan nyaman.
"Untuk apa? Aku sudah tau akan seperti apa isinya, tak perlu memikirkannya lagi," balas Allen.
Kini cara bicara mereka jauh lebih bersahabat, terdengar lebih tenang. Aku yang duduk di salah satu sudut sofa lebih memilih mengacuhkan mereka berdua. Sebuah buku sudah berada di tanganku, terbuka lebar dan siap untuk dibaca.
"Lalu...siapa anak ini? Dia manis, ya."
Liam mendekatiku, lantas tersenyum lebar sekali. Aku sedikit mundur, aneh rasanya jika ditatap terlalu dekat. Aku sempat berpikir kalau dia bisa menelan kepalaku bulat bulat.
"Jangan dekat-dekat, dia adikku, tentu saja dia manis," sambar Allen. Dia langsung menarikku menjauh dari Liam.
"Menikah lagi matamu, ibuku bisa naik darah kalau mendengarnya. Dia adikku sejak aku kembali lagi ke sini, anggap saja dia sebagai hadiah semesterku yang sekarang, gampang kan?"
Allen mendengus, mulai merasa kesal dengan Liam yang terus saja menanyai dan menceramahinya. Pertemanan mereka terlihat unik bagiku, seperti ibu dan anak saja. Liam ada di posisi ibu karena dia sangat perhatian pada Allen dan mengurus banyak hal untuk Allen.
Sedangkan Allen ada di posisi anaknya. Lucu sekali bukan? Mereka sering bertenglar, tapi semuanya baik baik saja diantara mereka. Dan istilah ibu dan anak itu hanya perumpamaannya saja.
"Hadiah semester? Kau pikir dia barang? Dasar blonde payah. Oh, namamu kalau tidak salah...Haru, kan?"
Liam kembali menatapku, aku mengangguk, mengiakan pernyataannya. Matanya seolah dipenuhi oleh tanda tanya. Mungkin sedikit mengejutkan baginya mengetahui kalau aku adiknya Allen. Terlebih lagi karena Allen tidak memberi penjelasan yang lebih baik.
"Haru itu...kalau tidak salah artinya musim semi, kan? Kenapa namamu begitu?" tanya Liam lagi.
Aku berpikir sejenak, itu adalah nama yang diberikan oleh seseorang padaku. Dan alasan dia memberikan nama itu...
"Kau tidak pulang? Sekarang sudah larut, kalau mau pergi sebaiknya sekarang saja."
Baru saja aku hendak menjawab, tapi Allen sudah dualuan bicara. Dia bicara tanpa sedikit pun menoleh pada Liam. Matanya yang hijau masih tertuju ke layar televisi yang kini memutar berita tentang kecelakaan lalu lintas di jalan tol.
Layar persegi itu menampilkan pembawa acaranya, yaitu seorang perempuan berpakaian bagus dengan bibir merah merona. Wanita itu membacakan berita dengan mimik super serius, matanya menatap tajam.
"Aku mau menginap saja malam ini, boleh kan? Rasanya malas kalau harus keluar lagi, sudah gelap dan terlalu dingin," jelas Liam
__ADS_1
Kini manik hitam di mata Liam ikut menyimak berita di televisi yang menampilkan topik baru, yaitu tentang bentrokan antar warga di sebuah dusun. Ditampilkan segerombolan orang yang saling dirong dan beberapa petugas kepolisian yang berusaha menengahi mereka.
"Yah, tidak masalah sih. Kau tidur di kamar Haru saja," jawab Allen.
Aku yang tadinya asyik dengan bacaanku langsung kaget mendengarnya.
"Eh, kalau begitu aku tidur di mana?" protesku.
"Bersamaku, aku tidak mau tidur dengannya," terang Allen.
"Tapi, aku tidak mau tidur denganmu,"
"Kenapa? Akan aku buatkan apa saja yang kau mau besok, apa saja."
"Bukan itu masalahnya, kau sering menindihku saat kau tidur. Ingat saat terakhir kali aku tidur bersamamu? badanku sakit semua setelah itu."
Aku kembali mengingat saat Allen demam dua minggu yang lalu. Dia memintaku untuk menemaninya dan memaksaku untuk tidur di sana bersamanya. Awalnya lancar, dia tidur dengan tenang. Bencana dimulai lima belas menit kemudian.
Dia terus saja bergerak-gerak, kadang tangannya sudah menutupi wajahku atau kakinya sudah berada di atas perutku. Dan ketika dia terbangun saat malam, dia akan langsung memelukku erat karena salah mengira kalau aku adalah bantal gulingnya. Apa aku memang sebulat itu sampai dia salah mengira?
Itu tidak menyenangkan, badanku terasa agak sakit ketika pagi datang.
"Eh? Benarkah begitu? Hehe...aku tidak tau kalau badanmu sakit karena aku. Kali ini aku janji tidak akan melakukannya lagi. Ha! Apa besok kita harus membuat puding? Haru, kau mau kan? Kau suka kan?"
Allen kembali melancarkan rayuannya. Aku langsung tak bisa berkata apa apa kalau itu berhubungan dengan puding. Dia tau betul kelemahanku, dan kenapa aku bisa langsung luluh hanya karena karena itu?
Astaga...bodohnya aku
"I-iya, baiklah," jawabku.
"Bagus, adik yang penurut."
Allen mengusap kepalaku perlahan. Ada senyuman bangga di wajahnya karena berhasil membuatku menyetujui apa yang diinginkannya, meski pun aku tak suka.
Aku kembali ke bacaanku. Namun, pertanyaan Liam tadi membuatku tidak bisa fokus untuk memindai tiap kalimat yang tertera di tiap lembar kertas buku ini.
Pertanyaan itu kembali mengingatkanku akan sesuatu, yaitu tentang namaku. Namaku itu singkat saja, hanya terdiri dari satu kata yang disusun oleh empat huruf.
H-A-R-U
Tapi nama itu adalah sesuatu yang berharga bagiku. Karena nama itu, aku jadi punya sebuah tujuan yang ingin segera aku selesaikan. Mungkin ini bukan hal besar, tapi ini penting bagiku.
Aku melirik ke arah jam dinding, sekarang sudah hampir jam sepuluh malam. Jujur, aku sudah mulai mengantuk.
Perlahan-lahan, mataku mulai menutup karen sudah tak sanggup lagi untuk terus terbuka. Aku tertidur di atas sofa tua itu tanpa tau apa yang terjadi selanjutnya.
__ADS_1