
Pagi hari kembali datang. Waktunya untuk bangun dan memulai kehidupan. Atau mungkin akan lebih tepat jika aku menyebutnya sebagai "Ayo bangun, nanti terlambat ke sekolah!"
Itu adalah kalimat khas yang pastinya sering di dengar saat pagi hari jika kau masih seorang pelajar. Umumnya ibumu akan meneriakimu atau saudaramu yang akan membangunkanmu seperti itu. Aku tau kalau bangun pagi bukan hal yang menyenangkan bagi sebagian orang.
Aku tau kenapa kalian susah bangun pagi. Rahasia kalian tentang apa saja yang kalian lakukan saat malam. Hingga kalian begadang dan tidur saat sudah sangat larut, itu juga aku ketahui. Kau tau kenapa? Karena aku juga laki laki. Dan rahasia itu...ah, lupakan, ayo kita lanjutkan cerita untuk hari ini.
Aku tak perlu dibangunkan setiap pagi karena sudah punya sesuatu seperti alarm di dalam otakku, yang membuatku bangun pada waktu waktu tertentu. Jika sudah terbiasa, maka tidak akan sulit untuk itu.
Setelah mandi dan berpakaian, aku pergi ke meja makan untuk sarapan. Aku yakin kalau kakek sudah menungguku dengan semangkuk sereal di atas meja.
Benar, kakek sudah duduk di sana sambil membaca koran pagi. Oh, dan aku lupa tentang laki laki tadi malam. Dia juga ada di sana dan membuat langkah kakiku terhenti.
Saat aku melihatnya, semua bagian tubuhku seolah jadi kaku. Aku tak ingin melihatnya atau bertemu dengannya. Aneh bukan? Apa aku terkena semacam phobia?
"Ah, Haru. Kemarilah."
Kakek meletakkan koran yang dibacanya di atas meja. Aku menurutinya dan duduk di salah satu kursi kosong. Suasana ini canggung karena ada si laki laki pirang itu.
"Jadi, ayo kita bahas kejadian semalam. Pertama tama, aku ingin kalian saling mengenal. Haru, ini cucuku yang pernah aku ceritakan padamu dulu. Namanya Allen."
Aku melirik laki laki yang bernama Allen itu sekilas. Kalau diperhatikan, dia tidak mirip sama sekali dengan kakek. Maksudku, lihat saja rambutnya yang pirang itu dan mata hijaunya. Sedangkan kakek punya mata hitam dan rambutnya juga hitam, meskipun sebagian kecilnya sudah mulai memutih.
"Dan, Allen. Ini Haru, sekarang dia cucuku juga. Sama sepertimu."
"Lalu, apa kami sekarang adalah saudara sepupu?" Laki laki yang bernama Allen itu mengaduk aduk mangkuk sereal di depannya.
"Menurutku, lebih cocok kalau kau panggil dia adik. Bukankah dia manis? Dulu kau selalu ingin punya adik, kan?" Kakek tersenyum dengan lembut.
"Tapi dia tidak ada imut imutnya. Suka main gigit, apanya yang manis?" Gerutunya.
Aku memilih tak mengubrisinya, meski kupingku sudah panas. Lebih baik menghabiskan sarapanku sendiri dari pada mencari keributan pagi ini.
"Dan tentang yang semalam, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Haru bisa ada di lemari?" Kakek menatap kami secara bergantian.
Ruangan lengang beberapa saat, suara tik tok jam terdengar lebih jelas.
"Yah, aku pikir dia pembunuh atau mata mata. Atau mungkin juga pencuri. Kakek tau, dia membawa pisau ke mana mana. Jadi kupikir dia mau mencelakai kakek, lalu dia lari dan sembunyi di lemari. Sekalian aku kunci saja." Gumamnya, masih terlihat agak cuek.
Menyebalkan, jadi dia berpikir seperti itu? Apa aku memiliki tampang seorang pembunuh? Ada ada saja.
"Tapi itu hanya pisau buah. Kau datang saat aku memotong apel. Pisau itu tak sengaja terbawa. Lagi pula kau yang kasar dan mendorongku." Aku membela diri.
"Kakek juga salah karena tak pernah memberitahuku tentang dia. Dan kenapa tiba tiba saja kakek mengadopsinya?" Gerutu Allen. Bola matanya yang hijau menatap kakek.
"Bukannya kau harus kuliah? Tak mungkin aku akan menelponmu setiap saat. Dan Allen, kenapa kau ada di sini sekarang?"
Kakek mengangkat cangkir kopi di depannya, lalu menyeruputnya perlahan.
"Kuliah itu membosankan, jadi ku tantang saja dosennya. Dan aku menang, aku mendapat nilai sempurna dan menyelesaikan kuliahku semester ini lebih cepat dua bulan." Dia tersenyum bangga.
"Hah..., terserah kau saja. Mulai sekarang, Haru adalah adikmu, akurlah dengannya. Haru juga, Allen adalah kakakmu. Jangan jadi seperti tom and jerry, mengerti?"
Kami saling pandang, lalu mengangguk serentak. Aneh, kan? Semalam aku pikir dia akan membunuhku, dan sekarang dia adalah kakakku. Dan apa mungkin aku bisa akur dengannya?
Lima menit kemudian, sarapanku sudah tandas. Saatnya aku berangkat sekolah. Kakek yang sudah paham kabiasaanku setiap pagi langsung berdiri. Kakek akan mengemudikan mobil dan mengantarku ke sekolah.
"Oh, ya. Allen, hari ini tolong antar Haru ke sekolah. Karena kau ada di sini, aku juga berencana menginap di tempat temanku. Jadi tak masalah kalau ada kau."
__ADS_1
Kakek mengambil kunci mobil dan melemparnya ke Allen. Kunci itu ditangkapnya dengan baik.
"Tidak usah, aku akan naik bus saja. Tidak usah repot mengantarku."
Aku buru buru mengambil tas dan bersiap berangkat. Aku juga tak ada niat diantar olehnya. Jika bisa, tak usah sekalian. Aku masih memikirkan kejadian tadi malam. Bisa bisanya dia tak minta maaf setelah semua itu terjadi.
"Tidak bisa, pokoknya aku yang akan mengantarmu. Kau tidak dengar apa kata kakek?! Sudahlah, ayo!"
Aku akhirnya menuruti perkataanya dengan malas. Dia mengeluarkan mobil dari garasi. Mobil pun melaju membelah jalanan kota.
Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara. Rasanya canggung sekali.
"Di mana sekolahmu? Apa setelah ini belok kiri?" Dia memutar kemudi.
"Sekolah menengah atas swasta yang di jalan Iris. Setelah belok kiri, ada perempatan, belok kiri lagi dan sampai."
"Kau membuat lelucon, hah? Aku serius, katakan di mana?"
"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang berbohong?"
"Ayolah, usiamu mungkin baru 12 tahun. Mana ada yang umur segitu sudah SMA, bodoh."
Dia melirikku. Aku tau maksud tatapannya. Dia seakan mengataiku pendek dan aku sangat sensitif akan hal itu.
"Usiaku sudah 14 tahun tau. Aku berkata jujur. Kau bisa melihat kartu pelajarku." Aku meraih tas dan mengambil sesuatu, yaitu kartu pelajarku dan memperlihatkan itu padanya.
"Baiklah, aku percaya. Habis, kau kecil sekali sih." Dia tetawa.
"Tapi tetap saja, bukankah kau juga terlalu cepat untuk masuk sma? Apa kau jenius sampai bisa langsung masuk sma?" Dia menekan klakson saat ada sebuah mobil yang melambat di depannya.
"Entahlah, aku juga tidak tau." Jawabku singkat.
"Dan tolong bicara dengan benar. Panggil aku kakak. Kau bicara seolah kita sama. Umurku sudah dua puluh tahun. Jadilah adik yang baik dan panggil aku kakak, mengerti?" Ucapnya.
Gaya bicaranya melunak, tapi tetap saja menjengkelkan.
Kenapa tiba tiba memintaku untuk memanggilnya kakak? Bukankah sebelumnya dia sama sekali tidak menerimaku?
"Ah, kita sampai."
Mobil melambat dan akhirnya berhenti. Aku membuka pintu mobil dan keluar. Aku melihat Arya berdiri di depan gerbang. Sepertinya dia menungguku. Aku meraih tas dan hendak segera pergi.
"Tunggu dulu." Allen menarik tasku.
"Coba panggil aku kakak dulu, baru boleh pergi." Dia tersenyum dengan sangat menyebalkan.
"Aku buru buru, tolong lepaskan." Aku berusaha menarik tasku, tapi tetap saja dia tidak mau melepaskannya.
"Apa susahnya? Katakan itu sekali dan kau boleh pergi, adik..." Katanya dengan nada yang aneh di akhir kalimatnya.
"Tidak mau! Dasar aneh!"
Tasku terlepas, aku langsung lari meninggalkannya dan bertemu dengan Arya.
"Arya, selamat pagi." Aku menyapanya.
"Pagi juga, Haru."
__ADS_1
Kami berjalan beriringan menuju kelas. Beberapa orang menyapa kami, walau lebanyakan yang disapa adalah Arya. Tidak ada yang bisa meanndinginya, bahkan aku sempat mendengar kalau dia dijuluki pangeran sekolah.
"Siapa yang bersamamu tadi? Kenapa bukan kakek yang mengantarmu?" Arya yang terlihat penasaran menatapku lebih dekat.
"Lupakan dia, dia hanya orang menyebalkan." Kataku tidak peduli.
"Hey, apa terjadi sesuatu diantara kalian? Lagi pula rambutnya pirang. Walau tidak terlalu jelas, tapi aku tau kalau dia seperti orang luar. Kau tau maksudku, kan?" Arya tersenyum, membuat dirinya terlihat dua kali lebih menawan. Aku mengangguk.
"Oh, dan para gadis yang melihatmu bersama orang tadi mungkin bisa salah paham." Arya tertawa nakal.
"Apa maksudmu?" Aku memandangnya tak mengerti.
"Lupakan, kau masih terlalu kecil. Makan yang banyak biar cepat besar, ya." Arya mengusap kepalaku.
Uh... ini memalukan, kita ada di kelas yang sama tapi dia memperlakukanku seperti ini.
Kami masuk ke dalam kelas. Sudah ada beberapa orang di dalamnya. Beberapa ada yang tidur, bermain ponsel dan juga mengobrol.
"Permisi, selamat pagi."
Seorang gadis muncul dari pintu kelas. Rambutnya panjang dan wajahnya cantik. Ada lesung pipit di area pipinya. Aku mengenalnya, itu adalah Lily, teman baiknya Yuna.
"Ah, Arya, Haruru..."
Dia masuk ke kelas dan menghampiri kami. Senyumnya mengembang, cantik sekali. Persis seperti tetakhir kali aku melihatnya.
"Apa Yun Yun sudah datang?" Katanya.
"Aku rasa belum." Jawab Arya singkat setelah melihat keseluruhan sudut kelas.
"Oh, baiklah. Ada yang ingin aku katakan padanya, tapi nanti saja. Ah, aku hampir lupa. Haruru, apa kakak tampan yang mengantarmu tadi adalah pacarmu?" Dia mengangkat jari telunjuknya menghadapku, lalu tertawa kecil.
"Ten..tentu saja bukan. Lily, aku ini laki laki. Kenapa kau berpikir seperti itu? Dan bagaimana kamu tau?" Kataku buru buru.
"He he, aku melihat kalian main tarik tarikan tas tadi, manis sekali." Lily terlihat antusias.
Aku mengerti apa yang tadi dimaksud Arya tentang gadis yang bisa salah paham saat melihatku bersama Allen. Apa seperti ini?
"Eh? Kalau bukan pacarmu, lalu siapa dia? Mencurigakan sekali." Arya ikut ikutan menggodaku. Sekarang dia berkomplotan dengan Lily.
"Itu hanya Allen, kakek memintanya untuk mengantarku. Itu saja. Arya, berhentilah mengolok olokku." Kataku sambil melipat tangan di depan dada.
"Haru, kau bahkan memanggil namanya." Arya kembali tertawa, begitu juga dengan Lily.
Situasi macam apa ini? Bodoh! Aku malah jadi bahan tertawaan mereka pagi ini.
"Aku hanya tak sudi memanggilnya kakak." Kataku lagi dan itu disambut tawa oleh Arya dan Lily.
Teng...teng...teng...
Lonceng telah berbunyi, itu artinya kelas akan segera dimulai. Lily kembali ke kelasnya dan Yuna masih belum datang.
Pagi itu, ada banyak hal yang berubah. Allen menjadi kakakku walau aku masih merasa tak sudi dan tanpa sadar, aku merasa bisa bicara lebih lepas pada Arya dan Lily.
Yuna tidak datang sampai pelajaran terakhir selesai. Di luar itu, hari ini baik baik saja. Allen menjemputku setelah pulang sekolah. Padahal aku berharap bisa melihat kakek yang menjemputku.
Begitulah, ada banyak hal berubah. Kita hanya bisa menerimanya. Lagi pula itu tidak terlalu buruk, bukan? Perubahan juga bisa membuat dirimu jadi lebih baik.
__ADS_1
Teruslah berubah seperti ulat yang menjadi kepompong dan akhirnya terbang mengepak denagn indah sebagai kupu kupu.
Dan pada akhirnya, kau akan mati dengan penuh kebanggaan. Maka, sampai saat itu terjadi, kau harus berjuang di atas kakimu sendiri. Jadilah kupu kupu dan terbanglah dengan indah.