
Hidup di dalam keluarga Mavendra yang menjadi salah satu penguasa bisnis di Indonesia tidak membuat Rea merasa bahagia, sejak lahir dia sudah kehilangan sosok yang dikenal oleh semua orang sebagai ibu.
Tanpa tahu seperti apa bentuk rupa wajah dari sang ibu. Tidak ada satu kenangan pun untuk dia ingat siapa wanita yang sudah membuatnya terlahir di dunia.
Sang ayah, Dirgan Mavendra selalu sibuk untuk urusan bisnis hingga tidak ada sedikit pun waktu menemani Rea layaknya sebuah keluarga. Meski segala kebuntuan hidup Rea terpenuhi tapi tanpa kasih sayang dari orang tua membuat hati Rea menjadi tumpul.
Bahkan ketika dia melihat drama Korea yang penuh adegan sedih atau juga film komedi malam penuh canda tawa, Rea menonton itu semua dengan ekspresi datar.
Sedangkan di pikiran Rea .... "Apa yang lucu dari ini, mereka mempermalukan dan menertawakan orang lain, itu menjijikan."
Tapi sekarang dia menemukan sesuatu yang baru dalam hidupnya, yaitu sebuah emosi penuh kesakitan dan rasa tamak demi mendapat perhatian seseorang hanya untuk dirinya sendiri.
Apa yang kini Rea lihat, jika lelaki itu datang menyelamatkannya, mengulurkan tangan dan berusaha membantu Rea untuk berdiri.
"Kau baik-baik saja Rea ?." Tanya Askar.
Rea mengangguk dan berusaha menutupi bagian tubuh yang tidak lagi tertutupi oleh kain kecuali pakaian dalam saja. Askar memberikan mantel miliknya kepada Rea.
"Aku pergilah, biar aku yang mengurus mereka." Ucapnya.
Akan tetapi Rea tidak begitu saja pergi, dia lebih memilih untuk bersembunyi dibalik tiang listrik dan memastikan jika Askar baik-baik saja.
Tentu ada rasa khawatir dengan kondisi Askar sekarang, dia sedang melawan dua orang yang bertubuh tinggi besar. Bahkan melihat tato serta penampilannya, bisa dipastikan jika mereka berdua adalah kelompok preman di sekitar tempat ini.
Dua lelaki itu semakin marah karena kehadiran Askar mengganggu waktu untuk bisa merasakan tubuh wanita. Tapi seakan meremehkan. Dimana membandingkan ukuran tubuh, Askar hanya sebatas daun telinga dan juga kurang meyakinkan.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, pecundang. Bahkan jika kau bersujud dan meminta maaf." Ucap mereka dengan tegas.
"Aku pun tidak berniat pergi, kalian bisa maju, itu juga kalau kalian berani."
"Fu*ck. Kau sangat sombong untuk ukuran bocah."
"Kalau begitu harusnya kau bisa menahan diri, karena aku hanya seorang bocah." Balas Askar tersenyum sombong.
Tapi itu menyulut emosi mereka..."Kau salah karena sudah membuat kami marah, aku adalah mantan petinju amatir, kau akan tahu rasanya pukulan ku....."
__ADS_1
Askar tidak menunggu mereka selesai mengoceh, dia segera bergerak maju dengan cepat dan melompat cukup tinggi untuk melepas satu tendangan di kepala.
Satu orang terkejut ketika menyadari bahwa teman yang sebelumnya berdiri di sebelah, kini terpental dan jatuh begitu saja. menganggap jika lelaki di depannya bukan siapa-siapa ternyata salah.
Tidak berhenti sampai disitu, Askar segera menghindar dari pukulan lurus yang mengarah ke badannya. Itu jelas mengejutkan lelaki itu, dimana hampir mustahil untuk orang biasa bergerak sedemikian lincah dalam waktu singkat.
"Kau bilang kau mantan petinju amatir...." Askar bertanya tapi tidak membutuhkan jawabannya.
Satu pukulan bersarang di perut lawan, itu hanya kekuatan dari seorang cleaning servis yang sudah berlatih menggunakan kain pel setiap detik selama delapan jam sehari. Tapi apa yang di rasakan oleh mantan petinju amatir itu, seperti sebuah pukulan dari seorang petinju champion kelas berat.
Di tempat Rea, dia sebelumnya khawatir jika terjadi sesuatu kepada Askar, tapi setelah melihat bagaimana dia mengatasi mereka berdua, kini hanya ada rasa kagum muncul di mata.
Tidak perlu waktu lama bagi Askar menyelesaikan urusannya, dua lelaki yang tampak sangar dan kejam itu, hanya berdiam diri di tanah tanpa mampu bergerak.
Rea segera mendekat dan memberi pelukan untuknya dari belakang.
"Bukankah sudah aku katakan agar kau pergi."
Rea menggelengkan kepala...."Tidak mungkin aku melakukannya, bagaimana jika kau yang pukuli oleh mereka."
Meski kekhawatiran dalam hati Rea sudah hilang, tapi hal lain masih membuatnya bingung.
"Tapi kenapa kau datang menyelamatkanku, bagaimana dengan Fio bukankah kau berjanji untuk menemaninya, bukan disini bersamaku." Sebenarnya Rea sedikit senang dengan kehadiran Askar.
"Aku tidak mungkin membiarkan mu pergi sendiri di malam seperti ini. Seperti yang terjadi sekarang, apa jadinya kalau aku tidak mengejarmu ?."
".....ciuman itu...." Lirih suara Rea untuk Askar dengar.
"Apa ?." Askar bertanya.
"Kau mencium Fio, aku melihatnya, apa hubungan mu dengannya."
"Soal itu, Fio benar-benar mabuk, dia manarikku paksa tanpa aku sadari, dan juga aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Fio, hanya saling kenal karena sama-sama dari Indonesia. Seperti kau dan aku Rea." Askar mencari alasan.
Perasaan lega di hari Rea setelah mendengar penjelasan Askar, meski pun dia tidak bisa menghilangkan rasa kesal kepada Fio hingga nanti.
__ADS_1
Askar melihat keadaan Rea yang saat ini hanya tertutupi oleh mantel pemberiannya, tentu merasa kurang nyaman. Udara malam yang dingin tidaklah baik untuk kesehatan.
"Sebaiknya aku antarkan kau ke asrama."
"Tunggu...." Panggil Rea kembali.
"Apa ada sesuatu yang kurang Rea ?."
Secara spontan dan tiba-tiba saja, Askar tidak menduga jika Rea menarik kerah bajunya untuk memberi ciuman. Tapi cepat untuk Askar mendorong tubuh Rea tepat setelah bibir mereka bersentuhan.
"Maaf, ini tidak benar, kau tidak bisa melakukannya denganku. " Kata Askar menatap Rea serius.
"Kenapa ?, Bukankah kau juga melakukan hal yang sama dengan Fio."
"Kau tidak tahu apa pun Rea. Hubungan kita tidak bisa lebih dari seorang teman."
"Ini tidak adil, jika memang begitu, aku ingin tahu alasannya." Tanya Rea.
"Bukan sekarang, tapi suatu hari nanti kau pasti mengerti."
Askar tetap mengantarkan Rea meski di perjalanannya, suasana canggung membuat mereka berdua hanya diam tanpa satu kata pun dibicarakan.
Tepat sebelum Jam malam asrama berakhir, Rea kembali ke kamarnya. Anna melihat Rea bingung ketika dia berjalan semakin dekat dan membenamkan wajah di perlukan Anna kemudian menangis.
"Apa yang terjadi..." Anna bertanya.
"Aku di tolak ..."
Anna terkejut, dia bertanya-tanya siapa yang sebodoh itu menolak Rea...."Sudahlah jangan khawatir Rea, aku yakin kau akan mendapat lelaki yang lebih baik." Ucap Anna selagi mengelus punggung Rea untuk membuatnya lebih baik.
"Tidak mau, aku hanya ingin bersama Askar." Balas Rea.
Anna terkejut, karena dia pun cukup kenal siapa Askar yang Rea maksudkan...."Baiklah, aku akan membantu mu."
Sebagai teman yang baik, tentu Anna tidak ingin melihat Rea murung, jadi dia ingin memberi bantuan agar keinginan Rea bisa terwujud.
__ADS_1