Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Pilihan hidup


__ADS_3

Malam hari.....


Rea berjalan keluar dari asrama sendirian dengan perasaan campur aduk setelah kejadian sewaktu siang membuat segalanya berubah.


Kebingungan itu membawa Rea berjalan sendirian tanpa tahu kemana dia akan pergi. Meski pun malam di pusat kota Boston masih ramai dengan banyaknya manusia.


Tapi isi pikiran Rea tidak tertuju kepada mereka semua, hanya satu orang, dia adalah Askar. Sedikit hati Rea merasa senang karena bisa bertemu dengan Saudara kandungnya yang lama hilang. Tapi di sisi hati yang lain, dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa perasaan cinta yang selama ini dia yakini, hanya akan berakhir sebagai ikatan darah.


Hingga langkah kaki Rea berhenti ketika menatap ke satu bangunan dengan papan nama kelap-kelip dari lampu yang bertuliskan 'After night'. Sebuah Club saat dia menyadari bahwa perasaannya terhadap Askar sangatlah rumit.


Meski pun awalnya Rea tidak memiliki tujuan pasti, hanya sekedar mencari udara segar di luar asrama, tapi bisikan setan seperti mengajaknya untuk masuk dan Rea tidak menolak itu.


Pertama kalinya Rea datang ke tempat ini secara sadar tanpa paksaan dari siapa pun, karena seperti biasa, dia akan menolak datang ke sebuah Club untuk bersenang-senang.


Lampu disko menyala, berputar-putar mengikuti suara musik yang mengalir naik turun, hentakan demi hentakan dan setiap orang seperti kesurupan menari freestyle bersama-sama.


Entah itu lelaki atau wanita, terlihat menikmati suasana ramai, pakaian minimalis, terbuka dan juga kurang bahan tidak membuat mereka peduli dengan rasa malu saat pandangan mata para lelaki melihat penuh nafsu.


Tapi Rea tidak berniat untuk menari, dia hanya coba mencari rutinitas lain di luar asrama yang mungkin bisa mengubah suasana hatinya.


Rea mengambil satu kursi di depan bar, lelaki paruh baya berdasi kupu-kupu yang menjadi bartender, mendekat selagi membawa satu botol miras di tangan.


"Nona muda, apa yang ingin anda pesan." Tanya bartender itu.


"Aku tidak tahu, aku datang kemari tidak untuk pesan apa pun." Jawab Rea.


Bartender yang sepanjang hidupnya sudah melihat bermacam-macam manusia, seakan bisa tahu kerumitan hati Rea hanya dengan membaca raut wajah.


Tanpa perlu bertanya apa pun, bartender mulai meracik minuman yang mungkin bisa mengubah suasana hati dari Rea.


"Apricot in the Act... silakan di coba." Meletakkan satu gelas minuman di depan Rea.


"Tapi aku..." Rea coba menolak.


"Cobalah nona, aku sudah banyak melihat pelanggan datang dengan wajah penuh kebingungan, dan bisa aku tebak jika kau sedang putus cinta."


Melihat minuman orange dengan warna merah kecoklatan di atasnya, itu terlihat cantik dan juga menarik, Rea pun coba untuk merasakan itu.


Rasa dari sirup kayu manis dan juga krim kakao, meski pun ada kandungan alkohol namun itu tidak banyak, tapi itu membuat perasaan Rea sedikit tenang

__ADS_1


Rea sedikit tersenyum... "Apa yang aku alami bukanlah putus cinta."


"Oh maaf kalau begitu, mungkin karena sudah sedikit tua, aku menjadi kurang peka dengan gadis cantik seperti anda."


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa kebingungan dengan banyaknya kejutan dalam hidup ku yang datang tiba-tiba."


"Kita tidak pernah tahu hidup berjalan seperti apa, terkadang kita harus siap, tanpa bisa menolak atau pun tawar menawar untuk menerima apa pun yang terjadi, tapi ingat nona bukan satu-satunya."


"Ya mungkin memang benar." Tersenyum Rea selagi mencoba sekali lagi minuman cocktail bernama Apricot in the Act.


Tidak lama Rea duduk, sebuah wajah yang familiar mengambil satu kursi di sebelah Rea, siapa sangka, bahkan Rea pun tidak menduganya, jika sekarang sosok Fio Aquilani menatap ke arah Rea dengan senyum yang tidak menyenangkan.


Sudah hampir dua Minggu Fio dikatakan hilang, namun tidak ada yang peduli, karena sebagian besar dari teman-teman kampusnya tahu Fio menginginkan hidup bebas.


Hanya saja, Rea tetap tidak menyukai keberadaan wanita satu ini.


"Apa sekarang kau berada dalam masa pemberontakan Rea." Ucapnya menyindir Rea secara langsung.


"Tidak ada yang melarang ku untuk datang kemari."


"Tidak mungkin, kau bukan orang yang secara sadar ingin menikmati kehidupan di tempat seperti ini. Jadi apa masalahmu ?, Apa soal Askar." Tanya Fio dengan pandangan mata aneh.


"Aku tidak ingin menceritakan apa pun kepadamu. Bahkan harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, sudah lebih dari satu Minggu kau hilang dari kampus, apa kau ingin di keluarkan."


"Baiklah, itu yang kau inginkan, jadi apa yang kau lakukan sekarang."


"Hmmm aku bekerja." Jawab Fio.


"Bekerja ?, Apa kau tahu jika paspor mu di cabut karena dinyatakan keluar oleh kampus, kau bisa anggap sebagai imigran gelap." Balas Rea.


Senyum di wajah Fio terlihat jika semua akan baik-baik saja...."Kau tidak perlu khawatir Rea, aku memiliki banyak teman yang bisa membantuku."


Hanya sebuah percakapan kecil antara Rea dan orang yang dia kenal untuk terpaksa menganggapnya sebagai teman. Setelah itu, Fio pergi entah kemana bersama seorang lelaki asing.


Melupakan soal Fio yang sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Rea kembali menikmati Apricot in the Act hingga habis dan meminta Refill kepada bartender.


Dia yang tidak pernah mencicipi sedikit pun minuman beralkohol, tentu menganggap semua akan baik-baik saja, hingga perasaan pusing membuat pikirannya melayang.


Tapi belum sempat Rea menaruh gelas di bibirnya lagi, sebuah tangan datang untuk menghentikan Rea meminum cocktail itu.

__ADS_1


"Ah... Ryan, kau disini." Ucap Rea tersenyum sendiri.


Itu jelas sangat aneh, karena hampir tidak pernah Rea tersenyum saat melihat Ryan ada di dekatnya.


Secara langsung Ryan menunjukkan rasa marah kepada Bartender, karena Rea sekarang lebih seperti orang linglung yang mabuk.


"Apa yang kau berikan kepada Nona ku." Ucap Ryan kesal.


Wajah bartender bingung, karena ucapan dari Ryan jelas menggunakan bahasa yang tidak dia ketahui.


"I'm sorry sir, I don't know what you're talking about."


(Maaf tuan aku tidak tahu apa yang kau katakan.)


Ryan juga bingung untuk memahami perkataan bartender, hanya ucapan 'I don't know' itu sudah menunjukan bahwa dia tidak tahu.


Segera dari balik jas Ryan mengeluarkan kamus besar terjemahan bahasa Inggris Indonesia 100 milyar.


Merangkai beberapa kata dari dalam kamus, Ryan berusaha untuk bicara...


"You, you...you mi.. mixed alcohol in this drink."


(Kau sudah mencampur alkohol di minuman ini.)


"yes it is like that."


(Ya memang seperti itu.)


Kepala Ryan menggeleng tidak jelas, bartender pun bingung untuk seorang manusia yang datang ke Club malam dan marah karena minuman beralkohol.


Ketika Ryan ingin membawa Rea untuk keluar, bartender pun kembali memanggil.


"Mister, This lady has not paid for her order yet."


(Wanita ini belum membayar pesanannya.)


"What ?."


"Hmmm money, money." Ucapnya dengan isyarat.

__ADS_1


Untuk kata itu Ryan paham... Tanpa perlu ragu dan peduli soal harga, Ryan mengeluarkan seratus dollar yang dia taruh ke atas meja.


Tidak lupa pula, Ryan mengambil struk pembelian, karena menjadi jaminan agar uangnya dikembalikan setelah Rea sadar nanti.


__ADS_2