
Bersama dengan Anna, Rea berjalan melewati koridor gedung utama bagian administrasi universitas Harvard. Karena seperti perintah dari ayahnya, dia harus membawa Ryan pergi ke ruang kepala Rektor universitas Harvard.
Meski itu menyusahkan, terlebih Rea memiliki hal lain yang tidak bisa dia lewatkan begitu saja.
"Rea jam berapa kau akan bertemu dosen." Tanya Anna.
"Setelah aku mengurus masalah orang itu." Tunjuk Rea ke arah ryan yang berjalan cukup jauh di belakang.
Sedangkan orang yang mereka tunjuk masih sibuk terkagum-kagum melihat pajangan dinding di gedung seperti orang udik.
"Huh ?, Aku ?." Ryan menunjukkan dirinya sendiri karena melihat tatapan mata Rea ke arahnya.
Sebuah kepekaan luar biasa dari Ryan karena dia bisa merasakan ekspresi rumit Rea dari kejauhan.
"Bersabarlah sedikit Rea, kau mungkin membutuhkan bantuan bodyguard mu nantinya." Anna coba memberi nasihat.
Dengan enggan namun tidak punya pilihan Rea menjawab...."Ya aku tahu, tapi aku tidak bisa menyembunyikan kekesalan ku karena ayah sangat egois."
"Itu salah ayahmu, bukan Ryan, dia hanya melakukan tugasnya saja."
"Baiklah, ok, aku mengerti, jangan buat aku seperti orang yang bersalah disini." Rea tidak berminat melanjutkan pembicaraan soal Ryan.
"Kalau begitu. Kau selesaikan urusanmu dulu dan aku tunggu di restoran tempat biasa." Ucap Anna dan pergi begitu saja.
Berjalan lebih jauh, Rea sudah berdiri di depan pintu bertuliskan ruang kepala Rektor.
Rea mengetuk pintu..."Permisi tuan Gwennard."
"Silakan masuk." Saut suara lelaki tua dari dalam.
Ketika pintu terbuka, bisa dilihat lelaki tua bertongkat yang bahkan sudah sepuh di penuhi ubah dan juga jenggot putih sedikit panjang sedang melihat buku. Namun dia tetaplah sosok luar biasa, ilmuwan jenius dan juga tokoh pendidikan di dunia ilmu pengetahuan.
Untuk ukuran manusia di usia 80 tahun, tuan Gwennard terlihat begitu segar bugar, berjalan tegap tanpa perlu bantuan tongkat, sedangkan tongkat ditangannya itu mungkin hanya menjadi pajangan saja.
"Oh, nona Rea, silakan masuk dan duduk lah."
__ADS_1
Mendapatkan izin untuk masuk, Rea segera menghadap ke arah tuan Gwennard dan membungkuk hormat sebelum duduk. Bagaimana pun Rea masih harus menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan di hadapan orang tua.
"Tuan Gwennard aku ingin menyampaikan pesan dari ayahku, Dirgan Mavendra kepada anda."
"Aku sudah membaca pesan dirgan, aku juga sudah menyetujui untuk menyediakan tempat tidur di kampus ini." To the point tuan Gwennard menanggapi perkataan Rea.
"Terimakasih banyak atas bantuan anda tuan Gwennard."
Tidak lama, seorang lelaki pun memasuki ruangan Rektor selagi mengatakan..."Tuan Gwennard aku sudah membersihkan ruangan yang anda minta."
Rea melihat kehadiran satu lelaki itu penuh perhatian... "Askar...."
"Terimakasih Askar. Kau bisa antarkan bodyguard nona Rea ini ke ruangan yang kau bersihkan." Jawab Tuan Gwennard selagi memberi perintah lain.
"Bodyguard ?." Askar bertanya selagi melirik kesamping dan menang Rea ada di sana...."Rea kau disini."
Namun belum sempat Rea menjawab, ada orang lain yang mendekati Askar dan menjabat tangannya dengan akrab.
"Mas Askar, apa kabar." Itu adalah Ryan dimana keduanya saling mengenal dan Rea tidak tahu.
Rea bingung karena siapa yang menyangka dua orang itu saling kenal, tapi juga dia kesal, dimana waktu tampilnya di depan Askar harus di potong oleh Ryan.
"Sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa, aku tidak tahu kau bekerja di sini." Ucap Ryan tersenyum sopan.
"Bukankah aku sudah katakan jika aku bekerja di kampus ini, apa kau lupa."
"Sepertinya begitu." Ryan tertawa senang.
"Tapi yang harusnya bingung itu aku, aku ingat kau mengatakan Bekerja sebagai pengawal pribadi seseorang, namun tidak tahu jika orang itu adalah Rea." Balas Askar.
"Aku juga baru tahu kemarin."
Perasaan Rea kesal karena bagian terbaik untuk pertemuannya dengan Askar terabaikan, terlebih keduanya saling mengobrol akrab seperti seorang teman.
Dia pun berusaha menarik baju Ryan untuk segera pergi..."Kau menyingkir lah dari Askar."
__ADS_1
"Nona Rea, apa kau tahu, dia adalah orang yang menolongku saat di tipu oleh supir taksi." Ucap Ryan begitu senang.
"Aku tidak peduli. Yang jelas kau mengganggu ku."
"Kenapa bisa begitu, apa hanya karena bicara dengan teman, itu membuat anda terganggu nona."
"Tentu saja, karena aku juga ingin bicara dengan Askar, tapi kau merebutnya." Tegas jawaban Rea.
"Baiklah nona."
Tuan Gwennard membawa Ryan untuk melihat tempatnya tidur nanti, tapi Rea mengikuti dari belakang. Dia tidak peduli soal janji pertemuan dengan dosen dan hanya ingin berada di dekat Askar sekarang.
"Saat itu kenapa kau tiba-tiba saja pergi Askar, padahal aku sudah menunggu sampai acara berakhir tapi kau tidak ada." Tanya Rea ketika mengingat acara penggalangan dana beberapa hari lalu.
Askar coba mencari alasan..."Bukankah kau tahu aku sakit perut, karena rasanya tidak nyaman untuk bekerja aku memutuskan pulang."
"Tapi anehnya, ketika aku bertanya kepada pelayan yang lain, mereka tidak tahu jika kau bekerja sambilan di sana." Lanjut Rea menanyakan hal lain.
Pertanyaan Rea semakin detail, dan Askar pula semakin bingung untuk menjawabnya.
"Aku yakin kau bertanya ke anak magang di sana Rea, karena aku hanya bekerja satu malam saja, pastinya mereka tidak mengenal namaku dengan baik." Balas askar dengan tawa sedikit dibuat-buat.
"oh begitu .. " Rea mengangguk paham.
Nyatanya jawaban Askar bisa di terima akal sehat Rea. Tapi jika saja Rea sampai meminta atau pun melihat daftar karyawan di acara itu, bisa dipastikan kebohongan Askar terbongkar.
"Ya benar sekali, tidak mungkin aku berpura-pura menjadi karyawan di sana." Lanjut Askar meyakinkan Rea.
Meski begitu, satu orang tentu menyadari jika semua yang Askar katakan adalah palsu. Dia adalah Ryan, menganalisa informasi dari cara Askar bicara, meliputi ekspresi wajah, nada suara, pemilihan kata bersifat sugesti dan sikap seseorang ketika mengarang suatu cerita.
Bagi dirinya yang memiliki pengalaman di bidang penyamaran, mata-mata dan juga interogasi, Ryan bisa tahu bahwa Askar adalah seorang pembohong handal.
Namun tidak ada alasan untuk Ryan mengungkap kebohongan yang di ucapkan oleh Askar, bagaimana pun, Ryan adalah penolongnya dan mungkin, ada alasan kenapa Dia harus berbohong.
Beranjak keluar, mereka berjalan menuju bangunan asrama lelaki yang ada di bagian selatan wilayah universitas Harvard. Tidak jauh dan bisa dikatakan bersebrangan, itu adalah gerbang menuju asrama wanita.
__ADS_1
Meski kehidupan Amerika bebas, namun di dalam kampus semua mahasiswa dan mahasiswi tetap harus menaati peraturan, dimana menerapkan larangan bagi dua manusia berlawanan jenis ada di satu tempat yang sama melebihi jam malam.