Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Kasur


__ADS_3

Ryan penuh kekaguman melihat kamar yang nantinya akan dia tempati untuk tidur, meski terbilang sederhana namun semua barang-barang bekas tersusun rapi.


Di dalam kamar terdapat satu kasur, lantai keramik, pintu yang memiliki kunci, kamar mandi di dalam, dinding bercat biru dan juga ada pajangan nya pula jendela usang, speaker, poster-poster artis lama, lukisan pemandangan alam, lampu, meja belajar, tidak lupa pula dengan kursinya, ditambah sarang laba-laba, semut yang merayap di dinding.


Tentu bagi lelaki di hidup serba susah setelah keluar dari militer, tidak... Bahkan sudah susah sejak berada di dalam militer, tempat tidurnya sekarang jelas lebih nyaman.


Sejak awal, kamar tidur ini lebih seperti kamar tamu yang mungkin ada kerabat dari mahasiswa berkunjung dan menginap, atau pun para pekerja lembur untuk bisa tidur tanpa perlu pulang. Jadi Askar hanya sedikit membersihkan saja, sedangkan barang-barang di dalamnya masih sangat layak di pakai .


Rea memperhatikan ada hal tidak biasa dari ekspresi Ryan, bahkan ketika mereka memasuki ruangan, mata Ryan berbinar-binar, penuh semangat dan sangat antusias ketika melihat kamar yang akan dia huni mulai sekarang.


Bagi Rea tentu ini bukan sesuatu yang mengagumkan, sekedar cukup layak untuk mereka gunakan sebagai ruang tidur. Hanya saja berbeda dengan Ryan dia tersenyum lebar seakan mendapat sesuatu yang menakjubkan.


"Apa benar aku boleh tidur di tempat ini." Ucap Ryan seakan tidak percaya.


"Itulah yang dikatakan oleh Tuan Gwennard, jadi kenapa tidak." Jawab Askar dengan santai.


"Kenapa kau terlihat begitu senang ?." Bertanya Rea bingung.


Senyum Ryan tidak lepas sebelum menjawab...."Karena ini luar biasa."


"Maaf apa ?, Darimana nya ini luar biasa, bahkan kamar tidur di pembantuku di rumah jauh lebih baik." Rea semakin bingung karena bagaimanapun tidak ada yang bisa dikatakan luar biasa dari kamar ini.


"Jangan salah nona Rea, lihat ini , ini kasur !, empuk lagi, bukankah menakjubkan bisa tidur di atas kasur yang empuk seperti ini." Balas Ryan seakan tidak perduli bagaimana ekspresi Rea sekarang.


Bahkan hanya sebuah kasur bisa membuat Ryan heboh.


Rumit wajah Rea menggambarkan rasa tidak percaya...."Aku bertanya-tanya bagaimana kau hidup sebelumnya kolong jembatan ?, hanya karena sebuah kasur kau begitu bahagia."


"Hampir mirip, tapi bukan berarti aku benar-benar tidur di bawah jembatan." Jawab Ryan.


Tapi Askar memberi tanggapan dengan anggukan kepala berulang-ulang...."Hmmm aku seperti tahu perasaan mu."


Rea terkejut mendengar perkataan Askar..."Kau juga Askar, kenapa memahami Ryan dengan mudah. Sedangkan aku."


"Bagaimana yah aku bilangnya, untukmu Rea yang selalu hidup di rumah besar, lantai marmer, ber AC, ada kamar mandinya pula di dalam. Tentu ruangan ini sangat sederhana. Tapi bagi kita berdua yang pernah tinggal di tempat kumuh, kamar ini benar-benar layak, bahkan cukup mewah." Askar menjelaskan.


Terpana Ryan akan penjelasan Askar yang memang seperti gambar perasaannya sekarang...."Saudaraku, sepertinya kita sama-sama memiliki hidup yang pahit."

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa." Pusing Rea melihat sikap Ryan.


Bagi Ryan yang tidak selalu tidur kasur empuk, meski itu kualitas terendah dari semua merk tapi tampak menakjubkan, mewah dan luar biasa, mana kala di bandingkan dengan camp pelatihan militer yang hanya dibekali kasur keras seperti kapuknya hilang entah kemana.


Tidur dengan begitu banyak orang dalam satu ruangan, pengap, bau, kamar mandi berjamaah, rutinitas pelatihan kejam, tidak manusiawi, dan mempertaruhkan nyawa, hidup Ryan saat ini adalah berkah yang begitu besar tanpa bisa dia banding.


"Baiklah, aku sudah mengantarkan mu dan kau bisa mengatur apa pun yang kau inginkan, aku masih ada pekerjaan lain." Ucap Askar berniat pergi.


"Terimakasih Askar, aku benar-benar beruntung mengenalmu."


"Ini hanya sebatas pekerjaan, jadi dah..." Askar sudah melambaikan tangan.


Tapi cepat tangan Rea menghentikannya..."Tunggu, Askar..."


"Ada apa Rea." Tanya Rea.


Ragu-ragu Rea bertanya..."Siang nanti apa kau senggang ?."


"Hmmm jika itu jam istirahat, aku akan makan siang."


"Tapi aku tidak punya uang lebih untuk mentraktirmu Rea." Jawab Askar.


"Aku tidak butuh itu, bahkan kalau kau mau biar aku yang membayarnya."


"Sungguh, Baiklah." Askar tidak akan menolak .


"Bagaimana denganku." Ryan ikut ambil bagian dalam percakapan mereka.


"Ti....."


Potong Askar cepat..."Kau juga. Kami bukan orang yang tega membiarkan bodyguard kelaparan, benar begitu Rea."


"Ya, tentu saja." Rea tidak bisa membantah ucapan Askar meski jelas senyum pahit Rea berganti tatapan tajam penuh emosi kepada Ryan.


"Itu terdengar bagus." Ryan tersenyum penuh semangat.


"Bagus untukmu." Tendang Rea keras.

__ADS_1


Tapi Ryan merasa aneh untuk wajah Rea yang di tekuk... "Apa aku salah bicara nona ?."


"Tidak, kau tidak salah, aku yang salah, karena membiarkanmu bicara."


"Jadi pada akhirnya akulah yang salah." Ryan benar-benar mengerti.


*******


Rea kini berada di ruangan Dosen pembimbing untuk membicarakan soal laporan Tesis nya. Ryan berjaga di tempat cukup jauh dan orang lain melihatnya curiga.


Bagaimana tidak, meski pun di kampus ini, universitas Harvard memang memiliki banyak mahasiswa yang berasal dari luar negeri, tapi sebagian besar adalah penduduk lokal.


Sehingga kehadiran wajah baru dari negara lain yang tidak mereka kenal tentu membuat mereka sedikit curiga. Kasus tentang rasisme di perbedaan warna kulit memang masih terjadi dan itu membuat mereka beranggapan bahwa, di luar ras kulit putih ada kemungkinan mereka adalah penjahat.


Memang kejam dan tidak mencerminkan hak asasi manusia tapi itulah kenyataannya.


Setelah dua jam lebih menunggu, Ryan melihat Rea berjalan keluar, seperti yang harus dia lakukan, dia berjalan mengikuti dari belakang dengan jarak kurang lebih sepuluh meter.


Tidak lama kemudian, ada beberapa orang datang menghampiri Rea. Meski Ryan tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang mereka bicara, namun raut wajah Rea menunjukan ekspresi malas dan juga kesal.


"Untuk kesekian kalinya aku bertanya-tanya kepadamu Daniel, kenapa kau selalu mengganggu ku, jangan pikir dengan apa yang kau miliki itu bisa membuatku tertarik."


"Tentu itu bukan hanya yang aku pikirkan saja, pada kenyataannya semua wanita datang kepadaku karena mereka tahu, aku bisa memberikan semua yang mereka inginkan."


"Itu mereka, bukan aku."


Secara paksa Daniel menarik tangan Rea cukup keras dan seketika itu juga, sosok Ryan sudah berdiri di sebelah Daniel untuk menghentikan sikapnya yang kasar.


"Siapa kau, apa kau berani melawan ku..."


(Who are you, do you dare to fight me)


Tanpa jawaban dari Ryan, karena memang dia tidak mungkin tahu arti ucapan Daniel. hanya dengan satu gerakan kecil tangan lelaki itu dia tahan dan diputarnya kebelakang.


"Maaf, tapi aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan."


Daniel mencoba melawan, tapi cukup mudah bagi Ryan menjatuhkannya hingga dipaksa mencium lantai.

__ADS_1


__ADS_2