
Dia yang sudah terlambat untuk menghadiri kelas tentu melewatkan sarapan pagi dan dipaksa fokus dalam studinya meski perut masih kosong.
Berusaha bertahan meski asam lambung sudah meluap-luap, hingga setelah jam pelajaran selesai, Rea beranjak pergi menuju kantin kampus, bahkan sebelum dosen keluar kelas.
Kantin di universitas ternama sekelas Harvard terlihat cukup mewah dan juga menyediakan makanan empat sehat lima sempurna, lebih seperti restoran bintang 5 yang membuka cabang toko di dalam sekolah.
Dia termasuk orang yang akan risih jika diperhatikan oleh siapa pun ketika makan. Karena itu Rea lebih memilih makan sendirian dan duduk di bangku pojok belakang agar tidak terlihat oleh orang lain,
Hanya saja semua percuma, karena Fio Aquilani sudah mengawasi Rea dari awal masuk kedalam kantin dan itu jelas membuatnya penasaran.
"Rea ....." Panggil Fio .
"Kau mengganggu ku." Singkat saja tanggapan Rea dan dia tidak peduli.
"Maaf, maaf, tidak biasanya kau makan di kantin ?, Apa kau kehabisan gas di asrama."
"Kau pikir ini Indonesia ?." Itu salah satu hal wajar di sana.
"Hanya penasaran saja, apa yang sebenarnya terjadi ?."
"Aku tidak sarapan pagi ini karena terlambat bangun." Jawab Rea tanpa perlu bersikap sopan kepadanya.
Fio terkejut, tapi Rea benar-benar kesal melihat wajahnya.
"Kau ?, Bangun kesiangan ?."
"Memangnya salah ?, Aku juga manusia yang terkadang bisa kesiangan."
"Tapi aku sedang membicarakan mu loh, mahasiswa teladan yang memiliki nilai kehadiran sempurna dan tidak pernah bolos kelas. Itu jelas tidak wajar, kau bukan Rea, siapa kau sebenarnya?." Entah dari mana isi pikiran Fio.
"Sudah cukup, kau mengganggu waktu makan ku."
Fio tidak pergi begitu saja, dia masih duduk di meja tempat Rea makan dan mulai memperhatikan televisi di atas dinding.
Sebuah berita tentang pembunuhan di losmen pinggiran kota Boston, dimana kasus ini berkaitan juga dengan transaksi perdagangan manusia yang sudah lama di cari oleh pihak kepolisian.
Dengan santai dan sedikit tertawa Fio memberi komentar..."Huwah.... Mengerikan sekali, lihat itu Rea semua gambarnya di sensor, aku yakin ada banyak darah dan potongan tubuh manusia berceceran di sana."
Mendengar komentar Fio itu Rea segera berhenti mengunyah bahkan mengeluarkan kembali makanan dari mulutnya. Perasaan Rea mual saat terbayang-bayang potongan tubuh manusia berada di atas piring.
"Bukankah kau lapar Rea, kenapa tidak kau habiskan makananmu."
__ADS_1
"Aku sudah kenyang. Mendengar ucapanmu itu sudah menghilangkan nafsu makan ku, kau tahu." Balas Rea.
"Mubazir sekali, kau tahu membuang-buang makanan itu tidak baik, seperti perkataan ibu ku dulu."
Semakin rumit wajah Rea untuk menanggapi Fio...."Aku tidak ingin mendengar kata-kata bijak dari wanita yang sering minum miras."
Rea pun mendengar berita di televisi, dimana foto-foto wajah pelaku perdagangan manusia yang di perlihatkan oleh pembawa acara begitu familiar bagi Rea, meskipun nama mereka berbeda.
Jarak kejadian terbunuhnya tiga orang itu adalah semalam, ketika polisi menerima laporan tidak dikenal jika ada bau tidak sedap keluar dari dalam kamar losmen.
Tapi ini membuat Rea khawatir, dimana dia, Anna dan satu wanita bernama Elissa kemungkinan terlibat dalam kasus itu, notabenenya mereka adalah tiga calon korban yang mungkin akan di culik.
Hanya saja, entah apa yang terjadi saat itu, Rea bisa kembali ke dalam kamar tanpa ada satu luka di tubuhnya.
"Itu mengerikan sekali, kau harus berhati-hati Rea, jangan pernah tergoda oleh lelaki asing yang tidak jelas asal-usulnya, kau bisa di jual ke warung remang-remang." Suara lelaki dari datang belakang.
Rea menoleh dan ternyata Askar sedang membawa kain pel untuk membersihkan area kantin. Sejenak Rea terdiam memperhatikan wajah Askar cukup serius.
Semua ini berkaitan tentang bayangan lelaki yang samar-samar hadir dalam ingatan Rea, meski pun tidak jelas karena ruangan gelap, tapi suara dari lelaki itu cukup mirip dengan Askar.
"Apa apa ?, Apa ada yang aneh di wajahku ?." Ucap Askar membuat Rea sadar.
"Tidak, bukan apa-apa, aku hanya merasa pernah melihatmu semalam."
"Ya mungkin cuma perasaanku saja." Tawa Rea sedikit kaku.
Di sisi lain, Fio merasa tertarik untuk tahu kedekatan Rea dan Askar, dimana sebagai sesama wanita sadar, tidak biasanya Rea berbicara dengan lawan jenis kecuali urusan tugas atau pun pelajaran.
"Kak Askar..." Panggil Fio dengan akrab dan memeluk Askar secara langsung.
"Jangan memelukku dari belakang, Fio...aku bisa merasakan sesuatu di punggung."
"Aku memang sengaja melakukannya." Tawa Fio.
"Sebagai wanita Indonesia yang menunjukkan tinggi harkat dan martabat harusnya kau tahu batasan untuk tidak memeluk orang sembarangan."
"Tapi aku senang melakukannya."
Melihat tindakan Fio, Rea terkejut dan juga kesal, bagaimana juga, Fio mengatakan sendiri jika Askar hanya barang kualitas rendah, tapi kenyataannya dia sangat santai bahkan berani untuk memeluk.
"Aku tidak tahu kalau kalian berdua sedekat ini." Ucap Rea.
__ADS_1
"Kau hanya tidak tahu Rea, aku dan kak Askar sudah sering mengobrol berdua, bahkan dia juga menolak perasaan cintaku." Wajah Fio terlihat sedih, meski itu hanya kepura-puraan.
Askar tersenyum pahit...."Jangan bercanda, kapan kau mengatakan itu."
"Kau jahat sekali karena melupakannya, kak Askar."
"Lepaskan, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Aku tidak mau." Balas Fio.
Dengan perasaan kesal dan juga iri, Rea menarik paksa tangan Fio untuk melepas pelukannya dari Askar.
"Apa kau tidak punya malu, ini tempat umum harusnya kau bisa menahan diri." Ucap Rea kesal.
"Benar sekali, dengarkan nasihat dari temanmu Fio." Askar pun setuju.
"Kenapa kau mempermasalahkannya Rea, di sini ada banyak orang bermesraan di tempat umum, mereka berpelukan atau saling cium, bahkan ada juga yang bercinta di pinggiran jalan, semua itu sudah biasa."
"Otak mu yang sudah gila. Jangan lakukan hal-hal seperti itu." Wajah Rea merah padam dengan perkataan Fio.
Dia pun kini sadar, jika Rea memang menunjukkan rasa tertarik kepada Askar, tidak peduli soal statusnya yang hanya sebagai cleaning servis, Rea dengan lucunya terlihat cemburu.
"Oh iya, kak Askar, apa kau punya waktu luang malam ini."
"Hmmm sebenarnya tidak juga." Jawab Askar dengan penolakan.
"Tadi kau mengatakan, selalu menghabiskan malam di apartemen, jadi kau memiliki banyak waktu kan ?."
Askar tidak bisa menghindar...."Ok, ok... Aku memiliki waktu nanti malam, memang apa yang kau inginkan ?."
"Ayo kita bertemu di diskotik After Night."
"Baiklah, tapi ingat aku tidak memiliki banyak uang untuk mentraktirmu." Jawab Askar.
"Aku mengerti jadi tenang saja."
Secara sengaja Fio melirik ke arah Rea, kekesalan semakin jelas terlihat di wajahnya...."Kenapa kau Rea ?, Apa kau juga ingin ikut ?."
"Itu tidak perlu, aku harus menyelesaikan tesis ku." Rea berjalan pergi meninggalkan Fio dan Askar.
"Kalau begitu, Jangan terlambat kak Askar." Ucap Fio yang pergi mengikuti Rea dari belakang.
__ADS_1
Hembusan nafas terasa kecewa dari Fio, dia yang ingin membongkar sangkar keras kepala Rea dan bisa jujur untuk perasaan kepada Askar. Tapi tetap saja, Rea tidak ingin mengakui rasa cemburu di hatinya.