Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Saudara sebangsa dan setanah air


__ADS_3

Berjalan Askar di pinggiran jalan Cambridge....


Suasana terasa seperti biasa, para lelaki dan wanita muda berjalan menuju kampus dengan beriringan selagi mengumbar kemesraan, atau kemacetan jalan di jam kantor ramai lancar tanpa perlu saling klakson.


Tapi perhatian Askar tertuju kepada satu orang yang terlihat gelisah, lelaki itu menoleh ke kiri dan kanan di depan papan informasi, lebih tepatnya dia sedang melihat peta jalan.


Di tangan lelaki itu memegang kamus seratus milyar bahasa Inggris Indonesia beserta terjemahan, Memilih satu persatu kata untuk dia baca hingga tersusun kalimat.


Askar merasa tidak asing, perawakan orang Asia, kulit kuning sedikit hitam, tubuh yang lebih pendek dari warga asli Amerika dan juga wajah udik yang sedang kebingungan.


Sampai dia berjalan melewati orang itu, ucapannya jelas terdengar dengan bahasa yang khas seperti logat orang Tegal.


"Aduh .... Gimana ini, aku tidak tahu kemana harus pergi."


Sebagai orang yang menjunjung tinggi sila ketiga dari Pancasila, (persatuan Indonesia) untuk memegang teguh prinsip persaudaraan sesama bangsa Indonesia agar tetap satu dalam bhineka tunggal Ika dan juga selama tidak merugikannya, tentu Askar bersedia menolong.


"Mas... Kau terlihat bingung, apa ada yang bisa aku bantu." Ucap Askar menyapa.


"Yes, yes, yes, I'm confused..." Jawabnya terbata-bata.


"Tidak perlu pakai bahasa Inggris, aku bicara menggunakan bahasa Indonesia sekarang."


Lelaki itu terkejut... "Ah maaf, aku terlalu pusing dengan kamus 100 milyar ini, jadi...."


Seketika dia terdiam, menatap Askar seperti sesosok manusia mulia yang dikirimkan ketika tidak ada satu pun orang peduli.


"Terimakasih, akhirnya, akhirnya ada saudara sebangsa dan setanah air Indonesia." Ucapnya penuh rasa syukur.


"Merdeka." Lanjut Askar memberi tambahan.


"Ya merdeka."


Askar tersenyum sendiri, cukup lama dia tidak berbicara dengan orang unik seperti lelaki di depannya sekarang.


"Jadi kenapa kau terlihat bingung apa yang terjadi." Tanya Askar.


Wajahnya kini berubah menjadi semakin rumit, seperti ingin menangis tapi malu karena dia adalah lelaki... "Aku datang kemari untuk bekerja, tapi... Tapi... aku naik taksi ke alamat ini, uangku hampir habis saat membayar argo nya."

__ADS_1


Askar coba melihat tujuan dari lelaki itu..."Memang berapa banyak yang kau bayar."


"123 dollar." Sedih dia menjawab.


"Huh ?... Apa kau tahu... Jarak dari bandara ke tempat ini, hanya dua kilometer dan kau membayar 123 dollar, sudah pasti kau kena tipu...." Tegasnya lagi dengan kepala menggeleng.


"Pantas saja, aku merasa aneh, sejak awal aku seperti diajak berputar-putar saja."


Askar membawa Ryan untuk duduk, membeli dua minuman kaleng dan memberikan kepadanya.


"Apa kau tidak memiliki ponsel atau semacamnya." Tanya Askar kembali.


"Tidak, yang aku tahu, saat aku sudah sampai di alamat, kata bos akan ada orang yang menjemput nanti. Tapi aku seperti orang hilang sekarang."


"Aku bisa lihat itu."


Askar tidak merasa jika lelaki ini adalah orang jahat, karena kepolosannya dalam bicara seperti orang Jawa yang tersesat dan bingung untuk meminta tolong.


"Siapa namamu."


"Aku Ryan... Ryan Alfaiz." Dia pun memperkenalkan diri.


Ryan menjabat tangan Askar dengan erat, ya itu tidak aneh, karena dia tidak kenal siapa pun, tidak tahu arah kiri atau pun kanan, dan tidak mungkin bisa meminta bantuan sedangkan bicara dalam bahasa Inggris saja masih harus menggunakan kamus.


"Kenapa kau datang ke Amerika ?."


"Soal itu, sebenarnya aku diminta untuk menjadi pengawal pribadi anak keluarga kaya yang tinggal di sini."


"Hmmm pantas saja."


Dengan melihat jaket tebal yang menutupi tubuhnya, orang lain tidak akan menyadari bahwa dia memiliki fisik kuat seperti pernah mendapat pelatihan militer.


Hanya saja Askar cukup terkesan dengan kekuatan tangannya saat berjabatan dan juga besar ransel yang dia bawa terlihat sangat berat.


"Tapi pada akhirnya aku yang tidak tahu soal kehidupan di Amerika, beranggapan bahwa tidak mungkin ada orang jahat mencoba menipuku, padahal aku sudah diberi peringatan untuk berhati-hati." Keluh Ryan sendiri.


"Kau terlalu naif, dimana pun, entah itu Amerika atau Indonesia, pasti ada orang yang mencari keuntungan dengan cara salah, apa lagi melihat tampilan mu seperti orang udik, pasti kau menjadi sasaran mereka." Balas Askar mengatakan kenyataannya.

__ADS_1


"Itu memang benar, aku terlalu percaya saja dengan orang lain."


"Hanya saja, kau masih beruntung sekarang, apa yang hilang hanya uang mu, mungkin nanti, jika kau tidak berhati-hati, ginjal dan organ dalam mu bisa hilang juga." Bukan Askar menakuti Ryan, tapi itulah yang akan terjadi saat ada orang jahat butuh uang banyak.


Melihat jam di ponsel sudah menunjukkan pukul 9 pagi, itu sudah masuk jam kerja Askar, tapi dia bisa mencari alasan karena menolong orang yang tersesat.


"Sayangnya aku tidak bisa mengantarmu ke alamat ini, tapi aku bisa menunjukan arahnya."


"Itu tidak apa-apa, selama aku bisa sampai tujuan, jalan kaki pun akan aku lakukan." Jawab Ryan penuh keyakinan.


"Apa kau yakin, jaraknya sampai empat puluh kilometer loh. Jika kau berjalan kaki, kau akan sampai nanti sore."


"Jangan khawatir, aku sudah biasa melakukannya."


"Baiklah."


Askar benar-benar terkesan, jarak empat puluh kilometer dengan membawa ransel berat adalah hal yang merepotkan. Bagi orang-orang di pelatihan militer atau pun Assassin kelas atas itu memang tidak menjadi masalah.


Tapi tetap saja, jika bukan karena alasan untuk berlatih, Askar menolak berjalan sejauh empat puluh kilometer terlebih membawa beban di pundak.


Melihat betapa Ryan begitu nekad, ada sedikit rasa bersalah jika di perjalanannya dia akan mendapat masalah. Bagaimana pun Askar bukan orang jahat yang akan membiarkan saudara sebangsa dan setanah air Indonesia kesusahan, selama dia tidak membuatnya ikut susah.


"Aku akan pinjamkan kau uang, jadi itu bisa membantumu agar tidak perlu jalan kaki."


Ryan memberi pelukan kuat...."Kau orang baik, terimakasih, aku sangat berterimakasih, aku pasti akan membalas budimu, saudaraku."


"Tidak perlu berlebihan, meski kita baru saja kenal, kau tetap menjadi saudara setanah air." Jawab Askar tidak nyaman dengan pelukan sesama lelaki.


Askar menjelaskan urusan perjalanan Ryan untuk menggunakan bus umum, dimana tujuannya adalah Distrik Millis kawasan perumahan elite.


Merasa terberkati oleh bantuan Askar, Ryan menjabat tangannya erat yang dipenuhi rasa syukur.


"Jika kita bertemu lagi, aku akan mengembalikan uangmu, tidak.... Aku pasti akan datang kemari dan mencarimu, Askar." Begitu yakin dia saat memberi janji.


"Santai saja, jangan terlalu dianggap sebagai kewajiban."


"Tidak, hutang adalah kewajiban yang harus di lunasi, jadi jangan khawatir."

__ADS_1


"Baiklah... Jika kau ingin bertemu denganku, aku ada di universitas Harvard." Ucap Askar.


Hingga bus datang, lambaian tangan mengantar Ryan pergi dan Askar pun melanjutkan perjalanan menuju kampus untuk bekerja.


__ADS_2