
Beberapa hari berselang.....
Askar kini berdiri di depan sebuah gedung yang berada di pinggiran Sungai Charles, bagi orang-orang biasa, tidak akan tersirat pikiran aneh soal gedung megah yang menjadi markas rahasia mafia besar keluarga Walker.
Tempat rahasia sendiri bukan berarti mereka bersembunyi di bawah tanah atau semacamnya, melainkan sebuah bentuk kamuflase di balik nama perusahaan yang terdaftar secara legal.
Ini menjadi satu-satunya kemungkinan bahwa orang yang menculik Rea dan Anna adalah mafia keluarga Walker.
Dimana George Walker, pemilik perusahaan Walker Grup, menurut data yang Askar dapatkan dari informan, jika dia adalah salah satu mafia bergerak di bidang jual beli senjata ilegal dan perdagangan manusia.
Askar menyadari bahwa mereka ingin menyingkirkan Rea dan Anna karena sudah terlibat dalam kematian tiga orang di bisnis perdagangan manusia yang menjadi pemasok barang mereka.
Semua perlengkapan Assassin yang sudah lama Askar simpan kini kembali di gunakan. Tidak ada keraguan Askar melompati dinding pagar tiga meter dan masuk tanpa permisi.
Namun berbeda dari Assassin biasanya yang melakukan serangan secara diam-diam, Askar dengan sengaja menampakan diri melewati pintu masuk dengan banyak penjaga bersenjata menjaga.
Melihat kehadiran orang saling satu penjaga berjalan mendekat.
"Berhenti di situ. Maaf tuan, tempat ini tidak boleh di masuki oleh orang yang tidak berkepentingan." Ucap satu orang penjaga dengan lantang.
"Aku disini karena memiliki urusan dengan George Walker, tentu kau tidak bisa melarang ku untuk pulang."
Orang di depan Askar sedikit ragu, karena cara bicaranya begitu meyakinkan..."Baiklah tunggu sebentar, biar aku konfirmasi terlebih dahulu kepada Tuan George."
"Silakan...." Balas Askar.
Sebuah panggilan telepon di lakukan oleh penjaga..." Tuan Waze, kami menerima tamu yang ingin bertemu dengan tuan George, apa dia diperbolehkan masuk."
[Tanya dia siapa, datang dari mana, dan ada urusan apa.]
"Siapa namamu.."
"Aku Askar."
"Kau datang dari mana."
"Dari depan." Singkat jawaban Askar.
"Ada kepentingan apa kau dengan tuan George."
"Aku datang untuk membunuhnya." Tidak ada kebohongan darinya.
"....begitulah tuan Waze. Dia datang untuk membunuh tuan George."
__ADS_1
Selesai dia bicara dengan seseorang bernama Waze itu, sebuah tembakan peluru bersarang tepat menembus kepalanya.
Tidak hanya dia, tapi juga lima penjaga di sekitar Askar semua telah tewas sebelum menarik pelatuk senjata di tengah mereka.
Askar mengambil ponsel yang jatuh, panggilan masih berlangsung dan dia pun bicara kepada Waze..."Katakan pada bos mu, jika dia telah salah mencari musuh."
Belum sempat mendapat jawaban, panggilan itu Askar tutup dan membuang ponsel begitu saja.
Melangkah masuk ke dalam gedung, secara tiba-tiba lampu di padamkan. Askar bisa mendengar gerakan langkah kaki yang berjalan penuh kehati-hatian untuk sembunyi, mereka semua sangat tenang tanpa suara atau membunyikan sepatu diatas lantai.
Askar sangat paham jika mereka adalah para Assassin sewaan yang ahli dalam pekerjaan di bidang jasa penculikan atau pembunuhan.
Tidak ada yang bisa lepas dari pengawasan Askar, Bahkan para assassin terlatih dengan jam terbang tinggi, masih belum cukup untuk menyembunyikan aura kehadiran mereka.
"Tidak perlu kalian bersembunyi dariku, keluarlah, aku ada disini dan kalian bisa semua bisa datang melawanku." Ucap Askar ke aula dengan keras.
Tapi tidak ada jawaban, karena mereka adalah Assassin, membunuh dalam diam dan bersembunyi tanpa suara sudah menjadi keahlian mereka.
"Jika memang kalian tidak mau keluar, aku bisa laporkan ini ke pihak kepolisian karena sudah melakukan pengeroyokan dengan senjata api ilegal." Ucap Askar sembari mengeluarkan ponsel dari balik sakunya.
Meski itu adalah gertakan, karena Askar sendiri akan kena masalah jika dia mengirimkan laporan dan dia sendiri juga terlibat di dalamnya.
Orang-orang berjas hitam itu cukup terampil untuk sekedar bersembunyi dibalik bayang-bayang gelapnya ruangan. Dan Sepuluh orang mafia bersenjata lengkap baru muncul dari balik pintu lift yang terbuka.
"Jangan terlalu memuji, aku memang tidak ahli dalam bersembunyi atau pun bermain petak umpet, tapi kalian semua terlalu bodoh karena sudah menganggap ku sebagai lawan yang lemah." Ucap Askar dengan nada mengejek.
"Anak muda, kau salah tempat untuk bicara sombong, apa sadar, di sini kau hanya sendirian dan kami bisa membunuhmu sekarang." Apa yang dia ucapkan memang benar adanya karena mereka menang jumlah.
Tapi Askar tersenyum saat berjalan maju dan mengeluarkan senjata di balik jasnya,
"Jika mampu silakan saja, aku tidak keberatan melawan kalian semua sendirian." Ucapan Askar jelas menunjukkan senyum mengejek dan meremehkan mereka semua.
"Untuk orang bodoh kau sudah kelewat batas, apa kau pikir semudah itu mengalahkan kelompok mafia Walker sendirian."
"Mari kita buktikan." Askar mengacungkan senjata ke arah lelaki itu.
Secara langsung Askar membuat mereka kesal, bagimana seorang yang terlihat biasa saja memiliki kepercayaan diri tanpa rasa takut atau pun rencana.
"Joe, Song, kalian berdua hajar dia." Perintahnya.
"Baik ketua Waze."
Dua orang itu datang dengan menyimpan senjata di pinggang, hanya kedua tangan mengepal untuk bertarung tangan kosong.
__ADS_1
"Tidak perlu senjata, kau akan mati untuk dua pukulan dariku." Ucapnya penuh percaya diri.
"Benarkah ?, Aku tidak akan memberi kemuliaan kepadamu meski bersikap jantan."
Menaruh kembali pistol di dalam kantong, Askar bersikap adil untuk bertarung secara langsung tanpa senjata. Keduanya maju bersamaan, satu pukulan dari Joe, di ikuti oleh tendangan bebas Song yang mengarah tepat di depan wajah.
Mudah bagi Askar menghindar semua serangan dari mereka. Dia yang sudah berpengalaman dalam pertarungan dan latihan neraka yang tidak manusiawi, salah satunya adalah menghindari peluru dari jarak dua meter.
Kecepatan kaki dan tinju manusia masih belum ada apa-apanya dibandingkan melihat pergerakan sebuah peluru, dan Askar satu-satunya orang yang bisa menghindari sepuluh tembakan dalam waktu tiga detik tanpa ada satu pun mengenai tubuhnya.
Tubuh atletis ditambah refleks gerakan, menunjukan perbedaan besar antara dua orang mafia yang hidup hanya untuk membunuh, dan satu orang yang sudah melihat garis kematian di depan hidungnya demi bertahan hidup.
"Bagimana mungkin, aku tidak bisa memukulmu." Joe merasa kesal sendiri.
"Jangan beranggapan aneh, itu karena kau sangat lambat." Begitulah cara Askar memprovokasi.
Dalam satu kesempatan Askar menarik pergelangan tangan Joe dan dia putar hingga tubuhnya jatuh hingga pingsan karena benturan kepala. Ada pun Song yang melihat celah ketika Askar melawan balik kepada satu temannya, dia datang dari samping.
Tapi sayang, Song tidak menyadari apa pun setelah semua serangan mereka berdua bisa dengan mudah Askar hindari. Saat kaki bergerak semakin dekat, satu tangan memukul dari bawah.
Terdengar jelas suara itu seperti ranting yang patah, kaki Song bengkok lentur, dan jatuh dengan wajah merah menahan rasa sakit.
"Jika hanya kalian berdua yang menyeranku, itu sama saja seperti bermain-main dengan anak kecil."
"Sialan kau." Song merasa terhina menarik senjata yang tersimpan dibalik ikat pinggang.
Tiga tembakan dia lepas, tapi ajaibnya, tidak ada satu peluru pun mengenai Askar. Song yakin dengan jarak kurang dari dua meter hampir mustahil untuk dihindari.
Orang-orang lain melihat ikut terkejut, mereka menolak percaya tapi itu terjadi tepat di depan mata.
"Kau... Kau monster." Berteriak Song karena takut akan sorot mata tajam dari Askar.
Askar menunjukan sebuah senyum yang tidak ramah untuk siapa pun lihat.... "Kau adalah orang ke seratus lima mengatakan aku sebagai monster."
Hanya perlu satu pukulan, rahang bawah itu terlepas dan gigi berserakan keluar dari mulut. Askar masih belum serius, jika dalam kondisi lain, kepala Song bisa pecah karena kekuatan pukulannya.
Melihat perlawanan Askar kepada dua anak buahnya, pemimpin para orang-orang berjas hitam mulai menganggap bahwa ucapan lelaki ini bukan hanya sebuah omong kosong.
Dia mampu mengalahkan Dua orang tanpa satu pun luka, termasuk menghindar dari tembakan itu, jelas itu bukan kemampuan yang orang biasa bisa miliki.
Askar mengambil kembali senjata yang tersimpan di dalam jas, senyumnya terlihat menakutkan, ditambah lagi dengan sorot mata tajam seperti seorang pembunuh.
Sebagai sesama pembunuh, mereka tentu menyadari aura setiap manusia yang pernah melakukannya, termasuk untuk Askar.
__ADS_1
"Tembak dia, bunuh.." Waze pun memberi perintah.