Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Curiga


__ADS_3

Berada di dalam mobil Alesa tersenyum sepanjang perjalanan, dia tidak bisa menahan diri untuk bertemu dengan seseorang yang sudah lama pergi.


Namun cara Elissa melihat satu gadis seperti baru pertama kali kasmaran itu, membuatnya tersenyum sendiri.


"Nona Alesa ?, Kenapa kau datang jauh-jauh untuk bertemu Askar." Tanya Elissa penasaran.


"Hmmm maksudmu Noe." Ucapnya.


Elissa bisa menebak...."Oh jadi nama asli Askar itu Noe."


Tapi Alesa sadar jika itu salah..."Ah benar, di surat itu nama yang di tunjukan adalah Askar."


"Ya aku mengenalnya dengan nama Askar, bahkan itu yang dia gunakan di kartu identitas saat bekerja." Jawab Elissa.


"Begitu kah...."


"Jadi ?." Elissa masih ingin mendengar jawaban yang dia tanyakan sebelumnya.


"Jadi apa ?.... Ah soal itu. Mungkin karena aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk tiga tahun sampai Askar pulang."


"Dia akan pulang ?." Elissa terkejut.


Elissa merasa cukup dekat dengan Askar, tentu menjadi kejutan jika memang Askar akan kembali ke negaranya.


"Itu yang dia janjikan, Askar pergi ke tempat ini untuk bersembunyi selama tiga tahun karena terikat dengan masalah rumit menyangkut ibu nya." Jawab Alesa santai.


"Aku tidak tahu itu."


"Askar sengaja bersembunyi dan mengubah identitas, akan terasa aneh kalau kau tahu."


"Ya nona Alesa benar." Balas Elissa tersenyum pahit.


Kini sorot mata Alesa tertuju kepada Elissa dengan serius, dimana dia pun bertanya tentang hal lain.


"Lalu apa hubunganmu dengannya." Pertanyaan Alesa ditunjukkan karena sedikit curiga kepada Elissa.


Satu tegukan air ludah dia telan, merasa khawatir untuk menjawab pertanyaan Alesa..."Aku hanya mengenal Askar... Maaf, Noe maksudku, karena pernah menjalin kerjasama sama untuk menyelesaikan tugas."


"Apa hanya itu...."


Melihat bagaimana cara Alesa menatap tajam penuh curiga, dia sadar, bahwa wanita itu adalah tipe yang selalu dipenuhi kecemburuan dan jika Alesa tahu kalau mereka pernah menghabiskan malam bersama, bisa-bisa dia berada dalam masalah.


"Ya tentu saja, aku tidak menganggap Noe lebih dari teman satu pekerjaan." Jawab Elissa di tambah tawa yang terpaksa.


"Baguslah, aku tidak akan membiarkan wanita mana pun mendekati Noe untuk hubungan lebih dari teman." Alesa seperti memberi ultimatum kepada Elissa.


Mata Alesa tidak lepas untuk mengawasi orang-orang di pinggiran jalan Cambridge, namun perhatiannya tertuju kepada tiga orang yang berjalan keluar dari sebuah restoran cepat saji dengan awalan Mc.

__ADS_1


Dua lelaki dan satu wanita, ingatan Alesa tentang Noe masih jelas, dan lelaki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Askar.


"Berhenti...." Cepat Alesa memberi perintah.


Elissa segera menginjak rem... "Ada apa nona."


Suara klakson mobil di belakang terdengar keras karena Elissa memberhentikan mobilnya dengan mendadak.


"Itu Noe.... Tapi siapa wanita yang ada di sampingnya." Suara Alesa terdengar marah dan membuka pintu.


"Tunggu nona..." Elissa coba menghentikan Alesa.


Tapi tanpa peduli apa pun, bahkan di tengah keramaian kendaraan yang berlalu lalang di sekitarnya, Alesa berjalan keluar untuk mengejar Askar.


Elissa tidak mungkin meninggalkan mobil kesayangannya di tengah jalan, selain akan membuat kemacetan, itu juga menarik perhatian polisi untuk menyita kendaraannya.


Kembali menginjak gas dan mencari persimpangan untuk putar balik.


*******


Askar barulah keluar dari tempat makan setelah menghabiskan jam istirahat untuk menemani Rea, atau lebih tepatnya, Rea memaksa Askar ikut tanpa bisa menolak.


"Hei... Apa kau tidak punya waktu untuk malam hari Askar." Rayu Rea menggoda Askar.


"Tidak, aku benar-benar tidak senang jika harus keluar malam."


"Ayolah ...."


Tapi ucapan Ryan membuat Rea tidak senang ..."Kau diam saja, lagian kenapa kau ada di dekat sini, harusnya kau jauh sepuluh meter di belakang."


"Ehhhh...."


Saat Askar sedikit bingung untuk menanggapi perkataan Rea, suara yang cukup familiar memanggilnya, tapi bukan dengan nama Askar, melainkan nama asli yaitu Noe.


Askar segera berbalik, dan menang benar, lima puluh meter jauh di belakangnya, satu wanita berlari mendekat melewati kerumunan orang-orang pejalan kaki. Askar tentu mengenalnya, karena dua tahun tidak mengubah penampilan yang dia miliki.


'Alesa, kenapa dia ada sini.'


"Rea, sepertinya ada barang ku yang tertinggal di restoran tadi." Ucap Askar mencari alasan.


"Bagaimana bisa.."


"Aku harus mengambilnya sekarang."


"Itu tidak perlu, biar Ryan saja yang pergi." Tunjuk Rea memberi perintah.


"Kenapa harus aku." Tapi Ryan coba menolak.

__ADS_1


"Apa kau melawan perintah ku."


"Tidak bukan begitu nona."


Ini akan menjadi rumit, jika Alesa dan Rea bertemu akan menjadi masalah, karena Alesa tidak tahu Rea adalah adiknya dan dia memanggil nama Askar dengan nama asli yang diketahui oleh Rea sebagai saudara lelakinya.


"Tidak apa-apa, biar aku yang pergi, kau dan Ryan kembali lah terlebih dahulu." Askar tidak menunggu jawaban Rea.


Dengan alasan yang dia buat, Askar segera meninggalkan mereka berdua untuk menghampiri Alesa yang berada semakin dekat.


Tepat ketika Askar dan Alesa saling bertemu, sebuah pelukan datang namun menghindari pandangan yang mungkin dilihat oleh Rea, segera saja Askar menarik tangan Alesa dan mengajaknya ke tempat lain.


Askar membawa Alesa cukup jauh ke sebuah gang kecil antara dua gedung yang saling berhimpitan.


"Ken...." Belum sempat Askar bicara, Alesa kembali memberi pelukan dimana sebelumnya harus terhenti.


"Noe, ini benar kau." Ucapnya lembut.


"Kenapa kau disini Alesa." Nada suara Askar berubah karena dia tidak bisa marah untuk kehadiran Alesa yang mendadak.


"Karena aku merindukanmu, kau tahu dua tahun lebih aku menunggu mu pulang, tapi kau tidak meninggalkan satu kontak agar bisa aku hubungi." Jawab Alesa tidak mau melepas Askar.


"Ya memang itu terasa cukup lama, tapi bukankah kau sudah tahu alasannya kenapa aku tidak meninggalkan kontak untuk siapa pun."


"Aku tahu Noe, dan kau hanya mengirimkan surat kepada ibuku."


Askar tidak ingin Alesa salah sangka...."Soal itu, karena aku dan Tante Salma memiliki hubungan bisnis, jadi..."


"Tetap saja aku tidak bisa menahan diri, jadi aku mencari tahu tempat tinggal mu dari surat yang kau kirimkan." Jawab Alesa.


"Baiklah, baik, aku minta maaf."


Namun ada hal lain yang mengganggu pikiran Alesa...."Lalu siapa wanita tadi, apa kau selingkuh dengan orang lain selama kau tinggal di sini."


"Tidak, dia bukan selingkuhan atau apa pun, dia Rea, adikku." Jawab Askar.


Alesa ingat, kejadian ketika dia melihat ibu dari Askar pertama kalinya, dimana Askar mengatakan bahwa Ibunya mengalami depresi setelah kehilangan banyak hal, termasuk juga Rea.


"Ah begitu..."


Tapi dengan kondisi rumit saat Alesa datang, Askar tidak fokus untuk memperhatikan sekitar, karena sebuah langkah kaki terhenti tepat di belakangnya.


"Apa yang kau katakan...." Ucap sosok itu terdengar dengan suara gemetar.


Saat Askar berbalik, Rea menunjuk wajah terkejut di saat mendengar semua yang dia katakan kepada Alesa.


Melihat Rea berlari pergi, Askar bingung... "Rea...."

__ADS_1


"Maaf Alesa...." Menyingkirkan pelukan Alesa.


Dia segera mengejar Rea yang kini telah lenyap dengan kerumunan manusia menghalangi jalan Askar.


__ADS_2