
Beberapa hari setelah pertemuan Askar dan Rea untuk menjelaskan tentang hubungan mereka.
Kini Askar mengantarkan Alesa pergi ke bandara, dia sudah cukup lama tinggal bersamanya sedangkan Salma terus menerus menanyakan keadaan putrinya itu dan meminta dia untuk pulang.
Alesa sebenarnya tidak ingin pulang dalam waktu dekat, tapi karena paksaan yang datang dari ibunya tiga kali sehari, dan itu membuatnya pasrah.
Tapi tetap saja, bagi Alesa pulang pergi Indonesia Amerika ibarat orang pergi ke ****** untuk buang hajat. Dia bisa melakukannya itu setiap Minggu, tanpa perlu peduli soal ongkos tiket yang cukup mahal di kelas VIP.
Setelah Askar kembali ke dalam kamar apartemennya, dia segera membuka laptop, ada senyum yang membuat siapa pun merasa tidak nyaman.
Satu hal yang membuatnya begitu senang adalah rencana untuk merusak bisnis keluarga Mavendra sudah siap dan berada di tangan Askar sekarang.
"Aku tidak sabar melihat bagaimana ekspresi mereka nanti... Jadi mari kita mulai permainannya."
Askar menekan tombol enter untuk meng-upload semua berkas yang berupa macam-macam file tentang keluarga Mavendra ke sosial media.
Senjata yang paling ampuh di dalam hidup ini adalah informasi. Kekuatan sebuah informasi sangatlah besar. Hanya dengan satu berita saja mampu memutar balik pandangan seseorang dan memulai sebuah masalah.
Di dunia ini ada milyaran manusia sudah mengakses internet untuk memuaskan hasrat mereka demi mencari informasi. Mereka akan mudah terhasut oleh bermacam berita entah itu nyata atau pun Hoax.
Bahkan sebuah peperangan pun bisa saja terjadi mana kala masyarakat terhasut akan informasi yang membuat mereka terpecah belah.
Kediaman keluarga Mavendra....
Bertempat di kawasan perumahan elite Green Lake city, cluster Eropa bergaya arsitektur bangunan Mediterania klasik dengan halaman rumah luas di penuhi pohon-pohon buah beraneka ragam.
Ini hanya satu dari puluhan rumah milik keluarga Mavendra yang tersebar di banyak tempat di empat benua. Setiap rumah di huni oleh satu keluarga, mereka tinggal terpisah dan menikmati semua kekayaan dengan bersantai.
Tidak ada yang salah dari cara hidup itu, Dimana semua konglomerat menerapkan sistem uang bekerja untuk mereka, bukan mereka bekerja untuk uang.
Ada delapan orang yang menjadi bagian persaudaraan di keluarga Mavendra. Mereka semua sudah memiliki keluarga sendiri dan juga anak-anak serta cucu-cucu yang akan meneruskan garis keturunan menuju masa depan.
Alasan kenapa Dirgan menjadi kepala keluarga Mavendra adalah dia putra dari kepala keluarga sebelumnya, sehingga secara otomatis status kepala keluarga di turunkan kepadanya.
Bukan berarti saudara lain tidak bisa mengambil alih kekuasaan Dirgan sebagai kepala keluarga, tapi bagi mereka, mengolah bisnis keluarga adalah hal merepotkan. Sehingga mereka tidak perlu berpikir keras soal untung atau pun rugi, hanya menikmati hasil itu sudah cukup.
Saat ini....
Dirgan menikmati waktu di ruang makan dengan beberapa potong roti sandwich dan satu gelas kopi hitam yang masih mengeluarkan uap panas.
Di belakangnya ada tiga orang, satu asisten rumah tangga, satu asisten pribadi yang bertugas mengatur jadwal pekerjaan dan juga satu bodyguard.
Tiba-tiba saja ponsel yang tergeletak di atas meja menyala dan satu panggilan masuk dia terima.
"Halo paman, ada apa ?."
__ADS_1
[Dirgan. Apa kau sudah melihat berita.]
"Tidak, aku masih di meja makan sedang sarapan."
[Cepat kau nyalakan televisi dan pilih channel TV nomor 5.]
Dirgan merasa aneh untuk perintah dari pamannya itu... "Ini siaran senam aerobik, apa paman ingin aku berolahraga."
[Ah... Aku lupa, jika zona waktu kita berbeda, kalau begitu cari di internet, berita tentang keluarga Mavendra.]
"Baik paman."
Dirgan menuruti apa yang pamannya inginkan. Dan memang benar ada satu tayangan video dari rekaman cctv perkelahian di sebuah diskotik Jakarta, itu adalah salah satu dari putra saudara tertua di keluarga Mavendra.
Ada pun berita lain yang muncul saat searching di internet, yaitu beberapa bukti, foto serta video transaksi jual-beli senjata ilegal, obat-obatan terlarang, perselingkuhan, pesta S*ex dan banyak lagi.
Dirgan tahu jika semua berita itu memang benar adanya, tapi keluarga Mavendra dengan kekuatan uang serta koneksi di pemerintah membuat mereka terbebas dari jerat hukum dan tidak muncul kepermukaan publik.
Hingga saat ini, tidak ada yang bisa mereka perbuat untuk menghentikan penyebaran berita tentang kelakuan busuk keluarga Mavendra yang sudah lama tersembunyi.
Sedikit Dirgan menunjukkan senyum, tapi segera kembali turun karena dia masih dalam panggilan telepon dengan salah satu pamannya.
"Sudah aku temukan paman, bukankah ini semua adalah berita yang sudah kita tutupi, tapi kenapa sekarang tersebar di internet."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang. Paman."
[Kenapa kau malah balik bertanya kepadaku Dirgan, kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan.]
"Tapi paman, penyebaran berita tentang keluarga Mavendra tersebar sangat cepat di semua stasiun televisi dan juga sosial media di internet, sekali pun kita berusaha memblokir berita itu akan sangat sulit dan juga orang-orang tentu sudah melihatnya."
[Aku tidak peduli apa yang sedang terjadi, kau harus lakukan apa pun untuk menyembunyikan semua berita ini, bayar mereka berapa pun harganya, karena jika ini terus berlanjut, saham di perusahaan kita akan anjlok.]
"Tapi sepertinya itu sudah terlambat paman."
[Apa katamu.]
"Aku sudah melihat grafik saham di perusahaan Mavendra, dan itu sudah turun sebanyak 1,3 persen."
[Si*al, pokoknya kau lakukan segala cara untuk mengatasi masalah ini.]
"Baik paman."
Panggilan telepon berakhir.
Senyuman di wajah Dirgan kembali melengkung karena masalah yang sedang terjadi sekarang. Memang benar jika saham perusahaan keluarga Mavendra mengalami penurunan yang cukup banyak.
__ADS_1
40% saham di perusahaan keluarga Mavendra adalah milik investor dalam dan luar negeri dan 60% adalah milik keluarga sendiri. Namun ketika mereka melihat berita yang menyangkut masalah keluarga Mavendra, tentu membuat para investor berpikir jika harga saham akan turun, sehingga mereka lebih memilih menjual saham itu sebelum mengalami kerugian.
Akibat dari penjualan yang mendadak ini akan membuat nilai dari saham menjadi lebih rendah dan semakin rendah, ketika investor lainnya ikut panik untuk menjual saham milik mereka.
Hanya saja, bagi Dirgan itu tidak membuat mereka mengalami kerugian besar.
"Kemungkinan besar penurunan ini akan berlangsung selama beberapa hari, pertama-tama aku harus mengabari para investor lain untuk tidak menjual saham mereka." Pikir Dirgan serius.
Sebenarnya Dirgan tidak peduli tentang berita itu, bahkan dia merasa senang karena kebusukan setiap kelakuan saudaranya di perlihatkan kepada publik.
Dirgan bisa mencari alasan untuk tidak melakukan itu sekarang, karena hal terpenting adalah menyetabilkan kembali harga saham sebelum jatuh ke jurang yang lebih dalam.
"Pak Hajrudin, tolong siapkan mobil, aku akan pergi sekarang."
"Baik tuan."
"Sepertinya hari ini akan sangat merepotkan." Gumam Dirgan sedikit mengeluh tapi senyum di wajahnya terlihat begitu bersemangat.
Nyatanya memang benar, di dalam kantor utama perusahaan Mavendra. Keributan terjadi, semua karyawan sibuk untuk menerima panggilan telepon dari para investor.
Dengan santai Dirgan berjalan ke tempat yang lebih luas untuk mendapat perhatian semua orang.
"Ok, semuanya bisa dengarkan aku sebentar, tidak apa-apa, matikan panggilan telepon kalian."
Setelah tidak ada lagi suara, kini Dirgan angkat bicara untuk mengatasi kerumitan masalah yang sedang mereka hadapi.
"Jangan khawatir, ini bukan sesuatu yang
Pertama-tama blokir semua panggilan masuk dari para investor."
"Tapi bos, jika itu kita lakukan, mereka akan marah dan menganggap kalau perusahaan ini mengabaikan mereka, membuat mereka berpikir kita sengaja melakukannya." Jawab satu orang.
"Aku tahu itu, tapi apa yang mereka lakukan, hanya bertanya... 'kenapa kok jadi seperti ini'...lalu jawaban kalian adalah 'Kami sedang berusaha mengatasi masalahnya, jadi mohon untuk bersabar, terimakasih'. Itu akan menyita banyak waktu saja..." Balas Dirgan dengan santai.
"Lalu apa yang harus kita lakukan bos."
"Dengarkan aku, jangan buat mereka yang menghubungi kita, tapi kita yang menghubungi mereka, katakan saja, jika..' tuan Dirgan sedang mengatasi masalah untuk menyetabilkan harga saham'.. itu sudah cukup."
"Baik bos."
"Setelah semua investor di hubungi, tolong pantau traffic bursa saham, dan berikan aku data siapa saja yang sudah menjual saham mereka."
"Baik bos." Jawab mereka dengan tegas.
Dirgan tidak membuang waktu, dia segera masuk ke dalam ruangannya dan mulai melakukan negosiasi untuk menahan para investor agar mau bersabar.
__ADS_1