
Sebelumnya.....
Sam yang membawa Rea kedalam kamar tentu merasa bahagia, karena siapa pun bisa menilai seberapa cantik sosok wanita di hadapannya sekarang.
Tidak perlulah gundukan lemak sebesar semangka agar bisa menarik perhatian setiap lelaki. Meski begitu, aset pribadi yang tersimpan dibalik kaos putihnya masih lebih besar jika di ukur oleh genggaman tangan Sam.
Meletakkan tubuh Rea hati-hati ke atas ranjang, Sam pun segera melepas jaket dan membuka paksa kaos yang menutupi tubuh Rea. Semua kini terlihat, jelas pakaian dalam menyimpan dua benda bulat begitu sempurna.
Air liur Sam seakan ingin menetes\, dia tak ubahnya seekor an*Jing di musim kawin yang melihat betina lewat dengan memamerkan pan*tat berbulu penuh pesona.
"Aku benar-benar beruntung, wanit ini terlihat luar biasa." Ucap Sam terpana.
Ikatan tali pakaian dalam pun terlepas, mata tidak mau berkedip dan pikiran semakin gila dipenuhi nafsu liar.
Perlahan tangan mulai meraba kulit mulus dari ujung jari Rea hingga naik ke aset pribadi, Sam mengendus-endus aroma wangi tubuh Rea begitu rakus.
Dia pun melepas semua pakaian dengan benda di selang*kangan sudah berdiri memberontak.
Ketika Sam beranjak mendekati Rea kembali, sebuah tangan datang memukul keras kepalanya hingga terpental jatuh menghantam lantai.
Rasa sakit luar biasa membuat Sam hampir pingsan, tapi itu belum cukup dan dia pun kembali berdiri untuk melihat siapa orang yang sudah memukul tiba-tiba.
Seorang lelaki yang terlihat asing karena bukan bagian dari kelompoknya. Sam masih bisa berpikir jelas, jika mustahil ada orang lain datang kemari sedangkan pintu kamar masih tertutup rapat.
"Siapa kau.... Bagaimana bisa kau masuk." Ucap Sam bingung.
"Apa pentingnya kau bertanya sekarang ?."
Sam melihat jika jendela ruangan kamar terbuka dan hanya itu satu-satunya kemungkinan cara untuk dia masuk.
"Ini di lantai dua, tidak mungkin kau memanjat melewati jendela."
"Ternyata kau cukup pandai membaca kondisi sekitar, tapi ketidakmungkinan dsrimu itu adalah benar." Jawabnya santai.
"Apa kau Spiderman ?."
"Tidak perlu menjadi manusia laba-laba hanya untuk memanjat ke lantai dua, karena aku sudah ahlinya."
Langkah kaki Lelaki asing itu berjalan semakin dekat ke tempat Sam yang gemetar ketakutan.
__ADS_1
Dia perlahan mundur, tangan mulai mencari ke atas meja, dimana dia meletakan sebuah senjata api yang selalu disediakan untuk mengantisipasi adanya perlawanan dari orang lain.
Setelah tangan berhasil mengambil senjata, ancaman di tunjukan oleh Sam dengan mengarahkan langsung ke depan dan bersiap menarik pelatuk.
"Jika kau berani mendekat, aku akan membunuh mu." Kata Sam yang merasa terpojok.
Lelaki itu tersenyum mengejek, dia tidak menunjukan rasa takut meski jarak antaranya kurang dari dua meter, hingga mustahil peluru senjata Sam akan meleset.
"Silakan saja, aku tidak takut kau akan membunuhku, karena aku pun ingin melakukan hal yang sama."
Tanpa menunggu apa pun lagi, dua kali pelatuk Sam tarik dan peluru melesat lurus ke arah lelaki yang masih berjalan semakin dekat. Tapi ajaib bukan buatan, lelaki itu mampu menghindar tanpa satu peluru memberikan luka.
"Bagaimana mungkin...." Sam tidak percaya.
Satu pukulan melayang, sekali lagi menghantam kepala Sam telak hingga beberapa gigi jatuh. Lelaki itu mengambil senjata yang terlepas dari tangan Sam, menutup mulut Sam dan melepas dua tembakan peluru di kedua kakinya.
"Berani-beraninya kau menyentuh tubuh Rea dengan dua tangan kotor ini." Keras suara penuh rasa marah.
"Maafkan aku, maafkan aku...."
"Maaf saja, aku adalah orang yang pendendam."
Darah berceceran di seluruh ruangan dan semua begitu tidak menyenangkan untuk dilihat oleh siapa pun.
"Siapa disana...." Ucap lelaki itu ketika sadar bahwa ada orang lain yang membuka pintu kamar.
Seorang wanita berjalan masuk selagi melihat ke setiap sisi ruangan di penuhi darah, sedangkan tubuh Sam tergeletak dengan semua luka dan tulang yang patah.
Bisa dipastikan nyawa Sam sudah tidak tertolong lagi, delapan peluru menembus setiap bagian tubuh. Dua tangan dan kaki sudah berbelok arah menjadi tidak simetris.
"Kau benar-benar tahu bagaimana menyiksa seseorang." Ucap Elissa.
Lelaki itu sadar, jika dia adalah salah satu wanita korban dari kelompok Sam di acara pertemuan dan di bawa ke losmen bersama Rea.
Melihat sorot mata lelaki itu, secara refleks Elissa menarik pisau dari balik bajunya. Tentu tindakan Elissa bukan tanpa alasan. Sebagai seorang Assassin bertahun-tahun, dia sudah memiliki insting tajam untuk mengetahui seberapa berbahaya musuh yang sedang dihadapinya.
"Kau tidak perlu ikut campur urusanku, cepat pergi dan lupakan semuanya."
"Itu tidak bisa, jika kau adalah komplotan dari mereka bertiga, aku juga harus membunuh mu." Balas Elissa.
__ADS_1
Bagaimana pun misi yang dia ambil adalah menghabis Sam dan teman-temannya, jika memang lelaki itu adalah bagian dari kelompok mereka. Tentu sudah menjadi bagian dalam misi.
Elissa melihat ancaman kuat, dia pun bergerak menyerang karena suatu alasan yang tidak biasa. Ya... Dia merasa takut.
Hanya saja, perbedaan kemampuan begitu jelas antara mereka berdua, dimana dalam satu gerakan saja, Elissa dijatuhkan dengan mudah dan juga pisau yang ada di tangan kini sudah siap memotong lehernya sendiri.
"Kau berasal dari guild Assassin." Ucap lelaki itu ketika melihat anting yang Elissa gunakan adalah lencana guild.
"Ya itu benar...." Jawab Elissa.
"Kenapa kau ada di sini." Kembali pertanyaan lain datang.
"Aku menerima misi untuk menghabisi mereka bertiga dari salah satu orang tua korban yang terbunuh." Jawab Elissa tanpa bisa melawan.
"Jadi begitu ..." Lelaki itu mengangguk paham.
Elissa yang bingung kini balik bertanya..."Apa kau musuh ?."
"Semua tergantung kepadamu, jika kau masih melawan, maka aku tidak akan ragu membunuhmu."
"Baiklah, aku menyerah...." Ucap Elissa.
Elissa pun di lepaskan, dia sadar bahwa lelaki itu bukanlah teman atau bagian dari sindikat perdagangan manusia bersama dengan Sam.
Hanya saja, mengetahui jika kemampuan beladiri yang begitu hebat, Elissa merasa penasaran, dimana hanya sedikit orang cukup kuat mengalahkan dirinya, kecuali mereka-mereka dengan latar belakang pendidikan militer.
"Apa kau juga seorang Assassin." Tanya Elissa.
"Kau bisa beranggapan seperti itu."
"Apa itu artinya kau juga menjalankan misi yang sama untuk membunuh kelompok sam ?."
"Tidak..." Singkat jawaban yang dia dapat.
"Lantas kenapa ?." Elissa bingung.
"Hanya urusan pribadi untuk menyelamatkan seorang wanita." Balasnya.
Elissa pun paham siapa wanita yang dimaksudkan.. dia adalah Rea, dimana lelaki itu mengambil setiap baju untuk dipakaikan kembali ke tubuh Rea.
__ADS_1