
Ryan Alfaiz....
Berusia 22 tahun, lahir di Indonesia, kota Tegal. Mantan anggota pasukan khusus rahasia negara (Donahue), Ryan mendapat gelar sebagai 'prajurit abadi'... Sebuah gelar yang mungkin berlebihan karena manusia tidak lepas dari kematian.
Tapi Ryan Alfariz sudah melewati banyak pertempuran sejak lulus dari akademi rahasia yang dibentuk oleh Badan Pertanahan Nasional dan dia masih mampu bertahan hidup ketika harus berhadapan dengan puluhan musuh sendirian di medan perang.
Akademi militer rahasia Donahue sendiri di bentuk sejak masa orde lama, mereka mengambil, mengasuh dan melatih anak-anak terlantar yang tidak memiliki keluarga.
Pelatihan fisik, kedisiplinan, taktik bertarung, penembak jitu, keahlian beladiri, meloloskan diri dan juga bertahan hidup. Itu menjadi kurikulum pendidikan akademi Rahasia Donahue.
Setiap lulusan akademi secara otomatis akan masuk menjadi salah satu anggota pasukan rahasia. Satu orang dari pasukan khusus akan sama nilainya dengan lima puluh prajurit.
Jika pun ada yang tertangkap dan di interogasi oleh musuh, mereka di wajibkan untuk tidak membocorkan rahasia negara, bahkan mati adalah satu-satunya pilihan mereka.
Ryan menjadi lulusan terbaik yang pernah ada, sesosok mesin pembunuh, di dalam pertempuran dia selalu mampu bertahan hidup, meski semua temannya tewas oleh musuh.
Hingga Ryan menyatakan diri untuk keluar dari pasukan khusus Donahue dan menjalani hidup seperti masyarakat pada umumnya.
Satu Minggu yang lalu....
Sebuah tawaran pekerjaan datang dari kapten pasukan khusus yang memang memiliki hubungan dengan Ryan seperti layaknya saudara.
Sebagai orang yang hanya memiliki kemampuan di dalam pertarungan saja, tentu pekerjaan biasa tidak terlalu sosok, meski secara fisik tahan banting dan bisa bekerja 24 jam tanpa lelah, tapi tekanan mental dari atasan serta gaji yang kecil membuat Ryan tidak terlalu betah.
Di pikirannya seperti...."Aku merasa lebih mudah membunuh 50 orang di peperangan dari pada harus mendengar semua ocehan atasan itu."
Tanpa perlu menyia-nyiakan kesempatan karena sudah lima bulan menganggur dan hanya menghabiskan uang tabungannya saja. Ryan datang ke sebuah kantor untuk mengajukan wawancara.
Di tempat itu Ryan tidak bertemu langsung dengan bos, karena dia ada di Amerika sekarang, jadi wawancara kerja di serahkan kepada asistennya.
Seorang wanita cantik Bernama Ernie, selaku asisten pribadi bos besar tempat Askar melamar pekerjaan.
"Siapa yang memberi tahu Anda soal pekerjaan ini ?."
"Dari kapten Zernad Salaman."
"Ah iya, iya bos memang sudah bertanya kepada kenalannya di pasukan khusus, tentang orang yang mau bekerja sebagai pengawal untuk nona Rea." Jawab Ernie.
Jika Ryan diterima bekerja sebagai pengawal, sudah disiapkan daftar gaji, biaya transportasi, tunjangan kesehatan dan yang terpenting bagi Ryan adalah dapat uang makan tiga kali sehari.
"Pernah bekerja di mana saja ?"
Ryan terdiam, dia sedikit berpikir. Ada banyak sekali yang telah dia kerjakan setelah keluar dari militer, sehingga tidak tahu harus dimulai dari mana.
Tapi Ryan coba mengingat satu persatu.
"Banyak sekali, Bu." Awal Ryan menjawab wawancara dari Ernie.
"Misalnya ?.
"Aku pernah bekerja di pegadaian."
"Luar biasa. sebagai tukang hitung tagihan atau depkolektor ?."
"Bukan, Bu." Ryan menjawab dengan senyum kecil.
__ADS_1
"Sebagai ?."
"Tukang parkir."
"Oh, mantap sekali."
Seakan tidak berhenti untuk satu pertanyaan, Ernie kembali bertanya..."Selain itu ?."
"Di bidang usaha permusikan juga." Jawab Ryan tersenyum malu-malu.
"Oh, sebagai operator turntable kah ?." Tebaknya.
"Bukan, Bu."
"Sebagai ?."
"Tukang pikul speker."
"Bagus, bagus... selain itu ?."
Ryan tidak tahu bagus dari mananya anggapan Ernie. Tapi tetap Ryan lanjut menjawab.
"Di CV snack bunga matahari, Bu."
"Ah, enaknya !, bagian quality Kon... Maaf, Control."
Entah apa yang dipikirkan Ryan jika ibu Yuna itu salah sebut.
"Bukan Bu. Bagian selesman kuaci di warung-warung terminal."
"Di CV Zena elektrik, Bu.” Jawab Ryan.
"Di bagian maintenance, barangkali ?."
"Bukan Bu. Di bagian bobok tembok."
"Cukup menarik. Mungkin banyak tantangan dalam pekerjaan itu, bukan ?."
"Begitulah Bu, pernah satu kali jatuh dari lantai tiga." Jawab Ryan sedikit malu.
"Apa lantainya baik-baik saja ?."
"Retak sedikit Bu."
"Mungkin satu lagi ?."
"Di usaha kebersihan, Bu."
"Oh, sebagai cleaning service manager ?."
Ryan sendiri baru tahu kalau cleaning service memiliki jabatan sebagai manager.
"Bukan, Bu. Sebagai tukang sedot WC."
“Dua kata dariku, Anda Luar biasa !."
__ADS_1
Tampaknya Ernie ini adalah orang tidak terlalu mementingkan dimana saja mereka bekerja, seperti apa jabatan yang didapatkan, dan lama Ryan bekerja, selama mau berusaha, maka Ernie memandang tinggi perjuangan mereka.
Semangat Ryan mulai meletup mendengar pujian-pujian dari Ernie, hingga Ryan merasa percaya diri jika itu adalah sinyal positif untuk dia di terima kerja.
"Ijazah terakhir kalau boleh tahu ?." Kembali Ernie bertanya.
Ini membuat Ryan sedikit bingung karena di dalam hidupnya, dia tidak benar-benar mengalami masa sekolah dan itu ....
"Mungkin setara SMA." Jawab Askar yang memang ragu.
"Lumayan juga, tidak buruk."
Rasa lega Ryan tersirat dari raut wajah dengan senyuman lepas...."Terima kasih, Bu."
"Cita-cita ?."
"Dulu pernah punya cita-cita, sekarang tidak lagi, Bu."
"Oh, dulu apa cita-citanya ?."
"Pengin jadi dokter Bu, seperti ayah."
"Oh, tidak disangka, ayah anda seorang dokter."
"Bukan Bu, ayah juga kepengin jadi dokter." Jawab Ryan sedikit malu.
"Mantap !."
"Terima kasih, Bu."
"Oke." Ibu menarik memandangi Ryan dengan wajah tegas untuk beberapa saat.
Lalu berkata, "Anda aku terima." Kaget Ryan bukan buatan.
"Tunggu apa ibu yakin ...."
"Sejak awal, pak bos sudah tahu latar belakang anda dari kapten Zernad Salaman, jadi bisa dibilang tidak ada yang perlu di ragukan lagi."
"Lantas apa perlunya semua pertanyaan barusan." Sedikit kecewa Ryan karena terlalu percaya diri jika dia memang memiliki kemampuan dalam wawancara.
Dimana pada kenyataannya, ini sama saja dengan menggunakan kekuatan orang dalam atas bantuan kapten Zernad Salaman.
"Minggu depan kau akan berangkat ke Amerika untuk bertemu Bos kami."
"Tunggu Amerika, itu jauh sekali."
"Anak bos, bersekolah di universitas Harvard, jadi kau harus menjaganya di sana." Jawab Ernie memberikan amplop yang berisi uang dan juga alamat rumah.
Tidak ada pilihan lain, Ryan harus menerima pekerjaan itu demi tetap bertahan hidup, karena dia tidak mungkin kembali ke militer.
Dan kini....
Ryan di depan meja untuk berhadapan dengan satu lelaki paruh baya yang menggunakan jas dan dasi.
"Baiklah, Ryan Alfariz, aku sudah membaca semua laporan mu dari Ernie dan juga kapten Zernad Salaman, mulai sekarang kau akan menjadi pengawal pribadi putriku, Rea."
__ADS_1
"Siap, laksanakan, tuan Dirgan Mavendra." Jawab Ryan dengan sikap tegap dan hormat.