Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
CCTV


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya....


Askar baru saja selesai melakukan panggilan dengan Salma dan melihat ke arah layar monitor yang terdapat video dari ruangan di asrama tempat tidur Rea.


Tentu Askar selalu mengawasi Rea dari kamera cctv yang sengaja dia pasang secara rahasia dan tersembunyi tanpa diketahui oleh siapa pun ke kecuali dirinya.


Ini semua Askar lakukan untuk menjamin keamanan Rea, termasuk saat kejadian dimana dia diajak oleh Anna dan bertemu dengan tiga lelaki yang menjadi sindikat perdagangan manusia.


Awalnya Rea dan Anna hanya melakukan percakapan sebagaimana seorang teman memberi nasihat. Tapi tidak lama berselang, Askar merasakan ada pergerakan aneh di balik bayang-bayang ruang yang gelap.


Di situlah Askar mengawasi kamera lain yang terhubung di setiap sisi ruang kamar Rea, dan memang benar, jika sekelebat bayangan hitam bersembunyi tanpa di sadari oleh siapa pun.


Hingga saat Rea dan Anna jatuh pingsan, ketiga bayangan itu menampakkan diri mereka.


Askar bergegas keluar, jarak antara apartemennya dan asrama tempat tinggal Rea tidaklah terlalu jauh, sehingga dia melompat melewati atap rumah di sekitar agar lebih cepat untuk sampai di lokasi.


Dari atas bangunan itulah, dia bisa melihat jika satu mobil yang di tahan oleh Ryan berhasil lolos dan coba kabur dengan kecepatan tinggi. Namun bidikan Ryan saat melepas tiga peluru itu berhasil menembus satu ban dan menghentikan laju mobil hingga menabrak tembok.


Bisa dipastikan Rea dan Anna selamat, karena supir yang membawa mobil itu cukup ahli mengatur posisi hantaman dengan tembok meski itu dalam keadaan sulit.


Askar yang berjalan mendekat dan sudah siap dengan senjata di tangan.


Satu orang lelaki keluar dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang mungkin terkilir karena menerima benturan keras.


"Kau sudah menganggu bisnis ku, aku bisa rugi karena mu."


"Kenapa kau berpikir untung dan ruginya saja, sedangkan kau tidak berpikir apa nyawamu akan selamat setelah mencari masalah denganku." Balas Askar.


"Lucu sekali...." Tidak ada niat untuknya bercakap-cakap.


Tiga pisau melesat lurus ke arah Askar, serangan itu dia lepaskan secara tiba-tiba dari balik jubah yang menyembunyikan bermacam senjata.


Mudah bagi Askar menghindar, tapi serangannya tidaklah berhenti sampai disitu, dia segera berlari mendekat dan mengeluarkan dua pistol yang di tembakkan langsung ke depan.

__ADS_1


Musuh Askar sekarang seperti seorang pesulap yang menyembunyikan banyak trik dalam jubahnya.  Gerakan Askar cepat melompat ke samping, dimana dalam jarak kurang dari dua meter sangatlah sulit untuk di prediksi.


Namun Askar bukan Assassin kemarin sore yang akan mudah kalah dengan satu atau dua trik serangan dadakan. Mendengar langkah kaki lawan semakin dekat, Askar sudah siap menyerang.


Dan tepat ketika ujung senjata lawan terlihat, Askar bergerak cepat dalam sepersekian detik untuk memukul pergelangan tangannya hingga jatuh.


Tapi tepat saja, meski senjata telah di jatuhkan oleh Askar, dari balik jubah itu dia mengeluarkan senjata-senjata lain dan belum sempat melepas serangan kepada Askar, dia cepat melucuti satu persatu senjata itu.


Ryan dari kejauhan melihat kagum dengan kemampuan Askar saat dia mampu menghindar dan mengambil setiap senjata tanpa memberi satu kesempatan pun musuh untuk membalas.


"Waaah bagaimana dia melakukan itu, aku sampai tidak bisa melihat gerak tangannya." Ucap Ryan tanpa menyembunyikan rasa kagum itu.


Sedangkan untuk Ryan sendiri, dia mematahkan leher musuh hanya dengan satu tangan mencekik lehernya.


Hingga dalam satu serangan telak dari Askar, melempar tubuh lawannya jatuh dan pingsan di tempat.


"Luar biasa, siapa yang menyangka kalau kau mampu mengalahkannya dengan mudah." Ucap Ryan penuh semangat.


"Tapi tetap saja, kau sangat hebat untuk ukuran orang biasa, tentu kemampuan mu itu bukan dari pengalaman di bidang cleaning servis." Ryan tentu sudah menyadarinya.


Askar tidak memperhatikan Ryan yang sedang bicara, dia hanya melihat sebuah lencana di baju satu lelaki penculik Rea itu. Dimana jelas dia tahu bahwa lawannya adalah seorang Assassin dari satu guild dan lagi askar kenal.


"Siapa orang yang mengajukan misi penculikan ini." Askar tidak bisa menebak.


Meski beberapa kemungkinan tertuju kepada Keluarga Mavendra yang memang ingin melenyapkan semua keturunan dari keluarga Sanghinan.


"..... Jika aku yang harus melawan mereka, tentu akan kesulitan untuk menang, tapi kau ...." Ryan masih lanjut bercerita dan berhenti saat dia merasakan sorot mata tajam ketika melihat ke benda bulat di dada lawannya.


"Apa yang kau lihat Askar." Tanya Ryan.


"Tidak bukan apa-apa."


Ryan mengikuti arah pandangan Askar..."Oh, apa lencana itu."

__ADS_1


"Hmmm, apa kau tahu soal kegiatan para Assassin."


"Sedikit, meski aku berasal dari militer, tapi persoalan dunia gelap, aku hanya tahu permukaannya saja."


Tidak ada yang menyangkal jika ada kongkalikong antara dunia gelap dan pemerintah, itu bukan hal aneh. Dimana bisnis dari para ajudan negara sering kali berkaitan dengan mafia.


Karena itulah, pihak militer sendiri terkadang hanya menjalankan tugas tanpa perlu tahu alasan dibalik tindakan mereka.


"Baiklah, lupakan itu, kau bantu aku bawa Rea dan Anna kembali ke kamarnya."


Dengan sembunyi-sembunyi Askar dan Ryan membawa kedua wanita kembali ke kamar mereka, tanpa ada orang lain yang tahu.


Tapi saat menyelinap keluar setelah mengembalikan Rea dan Anna. Ryan masih penasaran dengan kemampuan dari seorang cleaning servis yang mampu mengalahkan satu penjahat dan dia tidak mendapat luka sedikitpun.


Dari belakang Askar, Ryan melakukan satu serangan tanpa basa basi dan memang bisa dipastikan jika Askar bukan cleaning servis sembarangan, karena mustahil bagi seorang cleaning servis mampu menghindar dari serangan cepat seorang mantan anggota militer khusus.


Setelah menghindar dari pukulan Ryan, Askar membalas dia melayangkan sikut tangan kanan ke belakang dan ditangkis cukup mudah.


Dua orang dengan keahlian beladiri tingkat tinggi dan pengalaman di bidangnya masing-masing, membuat mereka berdua saling beradu pukulan tanpa ada satu pun diterima oleh tubuh.


"Apa itu sudah cukup untuk mengujiku ?." Ucap Askar yang tahu tujuan Ryan .


"Sepertinya begitu." Balas Ryan dengan sedikit tertawa.


Ryan tidak bisa percaya, dia sudah pernah melawan banyak orang sendirian, dan hampir semuanya tidak mampu bertahan dalam lima gerakan.


"Aku tidak membenci apa yang kau lakukan, tapi sekarang aku sedikit marah." Jawab Askar .


"Apa ini karena aku."


"Tidak juga, tapi kemarahan ku untuk orang yang mengirim para Assassin itu kepada Rea."


Ryan bisa merasakan aura membunuh yang selalu di rasakan olehnya di dalam pertempuran. Dan Askar seperti sosok pembunuh yang telah memiliki banyak pengalaman.

__ADS_1


__ADS_2