Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Dosa


__ADS_3

Dari atap gudang, dua sosok bayangan berjalan mengendap-endap tanpa suara apa pun di setiap langkah kaki mereka.


Melihat melewati atap kaca untuk memastikan kondisi di dalam gudang, nyatanya hanya ada tiga orang. Satu Assassin yang membawa Edward. Edward itu sendiri dan orang ketiga entah Askar tidak mengenalnya.


Namun dari semua informasi yang Askar dapatkan ketika mendengar percakapan mereka, dia bisa menyimpulkan, jika lelaki sedikit gemuk itu adalah orang dengan niat membuat celaka Edward.


"Sepertinya kita bisa menerobos masuk tanpa perlu khawatir jika mereka memberi perlawanan." Ucap Elissa tanpa suara.


Askar bisa membaca gerak bibir Elissa, dalam kondisi dimana mereka sedang bersembunyi dari musuh yang sama-sama seorang Assassin. Sedikit suara keluar itu akan membuatnya menyadari kehadiran mereka.


"Jangan dulu.... Biar kita tunggu sebentar lagi." Jawab Askar yang menggunakan gerak bibir untuk membalas perkataan Elissa.


"Apa yang kau tunggu, jika terjadi sesuatu kepada bocah itu, kita akan kena marah." Elissa tidak tahu apa tujuan Askar.


"Kenapa harus khawatir... Perjanjian kita adalah menjaga Edward agar tetap selamat, jadi satu atau dua luka bukan hal penting, selama dia masih tetap hidup." Jawab Askar santai.


"Aku bingung kenapa kau berpikir seperti itu, ingat Askar ... Kepuasan pelanggan adalah prioritas utama."


"Hmmm apa kau tidak tertarik untuk mendengar alasan lelaki itu mengancam Edward."


"Kau itu.... Haaahhh apa yang menarik soal ini."


"Lihat saja, aku pastikan Edward selamat jadi jangan khawatir." Ucap Askar santai.


Tentu ada alasan kenapa lelaki yang terlihat polos bahkan gemetar saat memegang senjata itu begitu nekad melakukan sebuah kejahatan. Dan Askar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua.


Melihat dan mendengar drama dari atas atap.....


Bagi siapa pun yang melihat Lelaki bertubuh gemuk itu, dia bukan orang dengan banyak pengalaman membunuh, lebih seperti seorang penyendiri duduk di pojokan kelas dengan wajah prihatin, melas dan juga penuh kesengsaraan tiada akhir.


Semua itu mengingat kembali tentang kehidupan yang pernah Askar alami dulu, jauh sebelum dia hadir di dalam dunia para Assassin. Hanya sebatas korban perundungan tanpa orang lain peduli.


"Edward, apa kau tahu bagaimana rasa sakit yang harus aku terima ketika melihat Melinda kau buang begitu saja...."


"Ah gadis itu .... untuk apa kau peduli, dia hanya wanita murahan." Ucap Edward tanpa dosa.


"...'Untuk apa aku peduli ?' kau harus tahu aku menyukainya sejak lama, dan kau menghancurkan semuanya."

__ADS_1


Cardness sudah di terbawa emosi, hingga satu peluru meletus menembus paha kanan Edward. Jerit teriakan penuh rasa sakit luar biasa tentu tidak tertahankan.


Tentu Edward berpikir, jika lelaki seperti Cardness tidak akan berani melakukan hal jahat karena, siapa pun tahu, lelaki itu hanya seorang pengecut.


"Tolong, maafkan aku, maafkan aku...." Edward memohon.


Hanya saja kata maaf yang keluar dari mulut Edward tidak membuat emosi Cardness lenyap.


"Ini baru satu luka kecil yang harus kau bayar atas dosa-dosa mu... Dan apa kau ingat bagaimana kau memperlakukan ku seperti binatang."


Melihat senjata yang berada tepat di depan wajah kini Edward ketakutan...."Saat itu aku terbawa emosi, tolong jangan tembak aku."


Satu pukulan Cardness melayang di kepala Edward hingga membuat terjatuh, dan sudah siap pistol terpasang untuk menghabisi nyawanya.


"Wanita yang aku cintai, harus menahan depresi karena perbuatan mu... Padahal dia sangat baik kepadaku, berbicara seperti seorang teman, tapi kau manusia tidak pantas untuk mendapatkan maaf. Melinda kini sudah mati dan itu adalah salahmu." Kuat emosi Cardness mengingat banyak hal tentang sosok wanita bernama Melinda.


"Aku akan bertanggung jawab, aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan, tapi tolong lepaskan aku...." Edward memohon.


"Sungguh sangat di sayangkan, pertanggung jawaban yang harus kau terima adalah kematian." Tidak ada keraguan lagi di wajah Cardness.


Cardness ketakutan, dia mundur karena tahu jika tidak ada manusia yang bisa turun dari atas atap gudang di ketinggian lima meter.


"Si....siapa kalian.." Gemetar suara Cardness melihat ke arah dua orang yang datang.


"Tenanglah kawan, kami di sini bukan untuk membunuhmu, kami hanya ingin membawa kembali Edward." Jawab Askar coba menjelaskan situasi.


"Itu...itu tidak bisa."


Askar tidak pantas mengatakan jika perbuatan balas dendam adalah hal buruk, dia bukan pahlawan, bukan pula orang suci yang memaafkan segala perbuatan salah dari dosa-dosa manusia.


Bagaimana pun antara Askar dan Cardness memiliki kesamaan, yaitu mengorbankan segalanya demi menyelesaikan semua dendam di dalam hidup mereka.


"Hmmm aku sudah mendengar semua yang kau katakan tentang pembalasan dendam, tapi sayangnya, aku sudah di perintahkan untuk menyelamatkan lelaki tidak berguna ini apa pun yang terjadi." Balas Askar tanpa ada niat membunuh Cardness.


Elissa sudah membuka ikatan tali yang menahan tubuh Edward di atas kursi dan dia pun mulai tertawa keras.


"Bunuh Ba*bi itu, dia sudah membuatku seperti ini." Ucap Edward yang tentu ingin membayar kembali perbuatannya.

__ADS_1


Askar sudah tahu jika orang ini pasti berkata seperti itu...."Maaf tapi permintaan mu tidak bisa aku penuhi."


"Bukankah kau sudah dibayar oleh keluargaku, jadi ..."


"Ini jelas berbeda, aku hanya diminta untuk menjagamu dan menyelamatkan mu saja, bukan menuruti apa yang kau ingin." Balas Askar dengan tatapan tajam.


Apa yang Askar katakan, lebih seperti.... Seseorang mengantarkan sebuah paket, selama paket sudah di antarkan kepada pemesan, maka mereka tidak peduli paket itu akan di gunakan untuk apa.


Jadi apa pun keinginan Edward itu tidak ada dalam jobstreet untuk kontrak mereka.


"Si*al...." Edward coba mengambil sebuah pistol yang jatuh di lantai dan diarahkan ke depan Cardness.


Tapi sebelum dia menarik pelatuk untuk menembak Cardness, Askar sudah berada di samping Edward dan menghantamkan satu pukulan ke kepala.


Seketika itu juga Edward jatuh pingsan, sedangkan Askar merasa puas dan tidak merasa bersalah karena memukul Edward. Bagaimana pun juga, dia sendiri paham seberapa banyak penderitaan dari Cardness.


"Aku selalu ingin melakukannya kepadamu."


Elissa terkejut..."Apa yang kau lakukan...."


"Dia benar-benar membuatku muak." Santai Askar memberi jawaban.


"Tapi tetap saja, jika keluarga Swalldwon tahu kau memukulnya kita akan mendapat masalah."


"Sudahlah jangan khawatirkan hal sekecil itu."


Tapi satu Assassin yang di sewa Cardness tidak tinggal diam ketika melihat Askar, dia mengeluarkan sebuah pisau dan siap menyerang.


Seperti perjanjian kontrak dengan Cardness bahwa, dia harus menjaga Edward agar tidak kabur. Dan saat ini Askar serta Elissa berniat menyelamatkan targetnya, sehingga siapa pun yang mencoba membebaskan Edward adalah musuh.


"Askar hati-hati dia bukan lawan sembarangan. Mr. shadow, Assassin kelas atas dari guild Golden darkness."


"Aku tidak kenal." Jawab Askar dengan santai.


Perkelahian tidak bisa di hentikan, dimana sebilah pisau bergerak lurus dengan kecepatan tinggi dan hampir menembus kepala Askar jika dia terlambat menghindar.


Pisau berayun kembali, Askar tepat menghentikan pergelangan tangan Shadow dan memberi tendangan keras yang melempar tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2