
Rea merapikan diri untuk berangkat ke kampus...
Melangkah keluar dari dalam kamar dengan baju santai bercelana jeans panjang, musim semi sudah datang, suasana yang hangat membuat Rea tidak lagi menggunakan jaket atau pun syal.
Bahkan setelah ajaran sahabatnya Anna, Rea lebih sering memperhatikan fashionnya, meski terlihat sederhana namun itu cukup efektif menarik perhatian para lelaki.
"Ayah aku berangkat...." Saut Rea ke arah Dirgan yang sedang duduk di teras rumah selagi minum teh hangat.
"Rea tunggu sebentar...." Panggil Dirgan.
"Ada apa ayah." Rea pun menjawab dan berbalik badan.
"Hari ini ayah akan kembali ke Indonesia, kau baik-baiklah di sini dengan pengawalan Ryan. Ayah cukup yakin jika dia bisa di andalkan."
"Hmmm baiklah."
"Ayah juga sudah meminta kepada rektor kampus, agar Ryan bisa tinggal di asrama lelaki sebagai penjagamu, jadi antarkan saja dia untuk bertemu dengan mister Gwennard." Kata Dirgan.
"Ya ayah."
Ryan duduk santai dengan menunggu di sebelah mobil hitam yang disiapkan untuk mengantar Rea pergi. Melihat kehadiran Rea baru keluar dari rumah, sikapnya berubah, berdiri tegak dan tegas.
"Silakan nona Rea." Ryan membukakan pintu.
Sebelum Rea masuk, dia berhenti sejak di samping pintu dengan menatap rumit ke arah Ryan.
"Apa ada yang salah nona." Tanya Ryan bingung.
"Saat nanti kau berada di kampus, jangan seenaknya sendiri untuk mengajakku bicara, jaga jarak sepuluh meter dan jangan bernafas jika ada di dekat ku." Ucap Rea sebagai syarat.
"Untuk yang terakhir sepertinya itu sulit." Balas Ryan lemas.
"Usahakan." Tidak ada tawar menawar lagi.
Ryan merasa sedih...."Sebegitu bencinya kah nona denganku."
"Bukan aku benci denganmu, tapi nafas mu itu bau, apa kau tidak gosok gigi."
Ryan tertawa pahit ... "Aku lupa untuk membawa sikat gigi."
Mengeluarkan sebuah masker dari dalam tasnya dan diberikan kepada Ryan... "Paling tidak gunakan ini, agar kau bisa merasakan nafasmu sendiri."
__ADS_1
"Baik nona." Ryan hanya bisa menuruti perintah Rea.
Jika awalnya Ryan diperintahkan untuk antar jemput Rea dari universitas Harvard ke rumah di Millis, kini perubahan rencana, dimana Ryan pun akan tinggal di bangunan luar asrama lelaki yang memang menjadi tempat tidur bagi para pekerja di kampus.
Dirgan memiliki banyak kenalan salah satunya adalah kepala rektor universitas Harvard. Sehingga bukan hal sulit meminta bantuan kepada Tuan Gwennard agar bisa menjaga Rea.
Di dalam perjalanan dari millis ke universitas Harvard di pusat kota Boston. Rea sedikit memperhatikan sikap Ryan yang memandang ke luar kaca mobil.
"Apa sebegitu menariknya pemandangan di tempat ini." Tanya Rea yang duduk di belakang.
"Untukku yang baru pertama kali datang ke Amerika, tentu sangat menarik nona, apa lagi jika harus di bandingkan dengan jalanan di kota Jakarta, aku merasa mataku perih melihat sampah di sana berserakan." Balas Ryan tersenyum sendiri.
"Ya aku harus akui jika pendapat mu memang ada benarnya." Rea pun setuju.
Namun melihat sikap Ryan tidak meyakinkan seperti bodyguard pada umumnya yang terkesan tegas, berwibawa, sangar dan juga bukan pelawak.
"Jadi apa yang kau lakukan sebelum bekerja menjadi bodyguard ku." Kembali Rea bertanya.
"Hmmm jika ini menyangkut soal basic kemampuan untuk menjadi bodyguard, aku adalah lulusan akademi militer dan pernah bergabung menjadi unit pasukan khusus, kurang lebih seperti itulah.... Tapi jika pekerjaan sebelum datang kemari, aku pernah menjadi salles kuaci, tukang angkut speaker, tukang bobok tembok, tukang sedot WC dan banyak lagi." Jawab Ryan apa adanya.
Rea bingung...."Bagaimana mungkin mantan anggota militer pindah jalur menjadi tukang sedot WC."
"Itu bisa terjadi karena aku tidak memiliki pengalaman lain kecuali bertarung melawan penjahat."
Ryan kini cukup serius untuk menjawab pertanyaan Rea..."Berbeda dari anggota militer pada umumnya. Kami hanya anak-anak buangan yang di asuh oleh pemerintah dan di masukkan kedalam akademi militer khusus, sebagai wujud dari rasa terima kasih karena sudah mendapatkan tempat untuk hidup. Jadi saat kami tidak diperlukan lagi, mereka akan mudah membuang kami."
"Siapa sangka kau memiliki kisah hidup yang cukup rumit." Rea memberi tanggapan.
Tidak berselang lama, mobil keluar dari pintu tol dan terus melaju ke jalan Cambridge. Suasana jalan yang ramai lancar, ada banyak pejalan kaki dimana sebagian besar dari mereka adalah para mahasiswa universitas.
Mobil kini berhenti di depan seorang wanita saat sedang berdiri sebelah gerbang masuk kampus, dia adalah Annastasia yang menunggu Rea datang, karena sudah berjanji untuk bertemu.
Rea yang turun segera memeluk Anna, ya ini hanya salam akrab untuk dua orang sahabat tidak lebih dari itu.
"Ohhhh sahabat terbaikku, akhirnya kau datang juga, aku disini sudah menunggu lebih dari tiga jam." Ucap Anna.
Datar Rea melihat Anna..."Jangan berlebihan Anna, aku tahu kau tidak mungkin melakukan itu."
"Tapi soal kau sahabat terbaikku, aku tidak berbohong."
"Ya... Ya .. ya terimakasih."
__ADS_1
Tidak berselang lama, Anna melihat seorang lelaki yang mengikuti Rea untuk keluar dari mobil...."Siapa dia Rea ?, Apa kau memiliki lelaki baru ?."
"Dia pengawal pribadi yang di perintahkan oleh ayahku." Jawab Rea malas.
"Waaahh menjadi putri dari keluarga kaya memang beda."
"Apa kau tidak malu mengatakannya, padahal kau sendiri putri pemilik Ressot di san Fransisco." Balas Rea kesal.
"Jelas aku tidak mau jika harus di jaga oleh bodyguard, seperti aku diawasi dalam hal apa pun." Anna pun menjelaskan.
"Asal kau tahu, posisiku sekarang sama seperti yang kau pikirkan."
Sebenarnya bukan hal aneh untuk putri konglomerat memiliki pengawal pribadi, bahkan keluarga Vilova pernah mengirimkan orang sebagai bodyguard Anna, namun secara tegas dia menolaknya.
"So, what's your name Mr Bodyguard?" Tanya Anna kepada Ryan.
(Jadi, siapa namamu tuan bodyguard.)
Ryan gugup, dia masih belum lancar untuk memahami perkataan bahasa Inggris...."Name, name, oh ..ya ya, my name is Ryan."
"Ryan, I think keeping Rea is troublesome."
(Ryan, Aku pikir menjaga Rea itu merepotkan.)
Entah apa yang di katakan oleh Anna, Ryan hanya menganggukan kepalanya dengan senyum polos dan menjawab... "Yes."
Merasa kesal Rea menendang kaki Ryan cukup keras.
"Apa aku salah bicara nona ?." Tanya Ryan karena memang tidak tahu ucapan Anna.
"Pikir saja sendiri. " Balas Rea yang berjalan pergi meninggalkan Ryan dan Anna.
Anna tersenyum senang... "Tolong jaga Rea, ok ."
Ryan penuh kesombongan menjawab..."Yes, yes.it's my job."
Anna tersenyum sendiri mendengar jawaban Ryan, dia berbisik ke telinga Rea dan berkata... "Dia lucu."
"Aku lebih menganggap dia menyusahkan dari pada lucu."
"Kau saja yang terlalu serius Rea." Jawab Anna tertawa kecil.
__ADS_1
Ryan mengikuti dari belakang Rea dan Anna, mulai saat ini, dia harus menjaga Rea untuk segala hal yang mungkin akan membuatnya dalam bahaya.