
Setelah 12 penuh Dirgan berusaha menghubungi semua kontak dari para pemegang saham dan mencoba meyakinkan mereka untuk percaya, bahwa dia akan mampu menyetabilkan kembali perusahaan.
Sebagian besar mereka masih bertahan dan percaya kepadanya, sedangkan untuk beberapa orang, mereka tidak yakin akan kemampuan Dirgan. Sehingga mereka memilih menjual saham sebelum nilainya semakin jatuh ke jurang kebangkrutan.
Tentu ada banyak faktor yang menyebabkan kehancuran perusahaan akibat nilai saham mereka menjadi turun. Itu adalah Persaingan, kurangnya sumber daya, nilai tukar dollar, berita kontroversi, mafia saham dan juga kepercayaan masyarakat.
Apa yang dialami oleh perusahaan keluarga Mavendra adalah munculnya berita tentang keburukan keluarga Mavendra yang tersembunyi dari publik.
Hal itu membuat kepercayaan masyarakat, kepercayaan investor dan juga kepercayaan partner bisnis berubah, sehingga mereka memilih untuk mundur.
Tapi rentetan peristiwa belum berakhir, karena perubahan kepercayaan itu membuat satu demi satu menjual saham yang mereka miliki dan berakibat turunnya nilai saham di perusahaan Mavendra.
Jika persentase penurunan nilai saham mencapai angka 40% maka saat itulah kebangkrutan perusahaan Mavendra benar-benar terjadi, karena tidak ada lagi investor yang mempercayakan uang mereka kepada perusahaan ini.
Dirgan duduk lelah dengan hembusan nafas berat setelah menutup panggilan telepon terakhir.
"Permisi Bos..." Suara seorang wanita cantik mengetuk pintu.
"Masuk saja, Ernie." Jawab Dirgan.
Itu adalah sekertaris pribadi Dirgan yang selalu bertugas menyiapkan segala sesuatu dari perintahnya. Dia membawa beberapa lembar kertas dokumen dengan banyaknya gambar garis dan angka.
"Bos, aku membawakan hasil laporan terakhir dari bursa saham yang kita miliki, penurunan nilai di perusahaan Mavendra di titik terendah mencapai 18% dan sekarang kembali naik sebanyak 13%, sudah lebih dari 34 investor melepas saham mereka dan ada 3 investor baru datang." Ucap Ernie menaruh kertas di atas meja.
"Ah begitukah..." Jawab Dirgan dengan santai.
Tapi itu membuat Ernie bingung..."Kenapa bos terlihat begitu tenang."
"Aku pikir ini akan menjadi lebih buruk, tapi hasilnya masih lebih baik, karena nilai saham 18% adalah yang terburuk dalam lima belas tahun terakhir dan kita masih bisa mengembalikan kondisi." Sedikit Dirgan tersenyum sendiri.
Ernie tidak merasa jika sikap bosnya itu aneh, karena dia sudah bekerja menjadi asisten pribadi Dirgan selama lima tahun sejak awal lulus kuliah.
Penggambaran watak yang santai namun tegas, baik kepada karyawan tapi konsisten di dalam pekerjaan, bahkan sesekali marah tapi dengan alasan yang tepat.
"Tapi ada yang aneh bos." Ucap Ernie.
"Aneh seperti apa maksud mu ?."
"Dalam laporan terakhir, satu jam ini, ada tiga perusahaan yang membeli saham kita, dan salah satunya dengan angka cukup besar, sehingga membuat nilai persentase mulai stabil dan perlahan naik kembali." Jawabnya selagi menunjuk ke satu lembar laporan.
"Siapa perusahaan itu." Tanya Dirgan yang masih malas untuk membaca laporan.
"Terma Lungung grup." Jawabnya.
__ADS_1
"Berapa banyak."
"Saat ini Terma Lungung grup memiliki 12 % saham di perusahaan kita."
"Itu sangat banyak, bahkan jika harus di konversi ke rupiah itu hampir mendekati satu triliun." Balas Dirgan.
Cukup serius Dirgan memikirkan perusahaan Terma Lungung grup, dimana angka saham 12% yang mereka miliki secara tiba-tiba, sama artinya mereka sedang berusaha mendominasi dan coba mengambil alih.
Meski pun untuk mengambil alih perusahaan Mavendra, mereka harus memiliki lebih dari 50% persen saham secara total.
"Tapi jika Terma Lungung grup ingin mengambil alih itu akan sangat sulit, karena mustahil satu orang pun di keluarga Mavendra melepas saham mereka." Ucap Dirgan dengan persepsinya sendiri.
"Apa kita perlu mencari tahu tentang tujuan mereka bos ?."
Tersenyum Dirgan dan menjawab ... "Itu tidak perlu, biar aku sendiri yang akan berbicara langsung kepada CEO Terma Lungung grup.... Kalau tidak salah, itu adalah perusahaan milik keluarga Agra dan mereka berada di ambang kebangkrutan dua tahun lalu."
Ernie membuka tablet PC yang menjadi sarana untuknya bekerja dan mencari informasi tentang Terma Lungung grup.
"Sekarang tidak lagi bos, kepemilikan Terma Lungung grup berada di tangan orang lain."
"Hmmm, siapa mereka ?."
"Keluarga Agra hanya memiliki 30 % saham di Terma Lungung grup, sedangkan lebih dari 60% saham adalah milik keluarga Cortez." Jawab Ernie sesuai data dari dalam tablet PC-nya.
"Pantas saja, mereka yang sudah di ujung jurang kebangkrutan mampu naik kembali dan mulai mendominasi perdagangan properti di beberapa negara, ternyata semua karena kekuatan keluarga Cortez, itu tidak aneh." Tawa Dirgan semakin keras.
"Baiklah, kirimkan saja pesan kepada mereka, jika aku membuat janji untuk bertemu."
"Baik bos."
Setelah semua laporan di sampaikan oleh Ernie, dia pun keluar dari ruangan Dirgan.
Dirgan merasa lelah untuk semua yang terjadi hari ini, dalam tujuh jam, pertarungannya demi menyelamatkan bisnis keluarga Mavendra dari ambang kebangkrutan, tapi Dirgan merasa bahwa dia hanya melakukan sesuatu yang tidak berguna.
Jika memang ingin melihat perusahaan Mavendra bangkrut, tentu akan lebih mudah kalau Dirgan membiarkan para investor itu pergi dan perusahaan kekurangan dana.
Tujuan Dirgan bukan untuk bunuh diri atau pun memperkaya anggota keluarga Mavendra, tapi dia sedang mempertaruhkan sumber penghasilan dari ribuan karyawan yang bekerja di tempatnya.
Panggilan telepon tiba-tiba saja masuk di ponsel Dirgan, seperti yang dia tebak, jika itu berasal dari saudaranya sendiri.
Merasa malas tapi dia tidak bisa mengabaikan..."Halo paman ?."
[Dirgan apa kau sudah menyelesaikan masalah berita tentang keluarga kita.]
__ADS_1
"Aku belum melakukannya, aku terlalu sibuk dengan masalah lain, karena ada banyak investor melepas saham mereka dan aku harus bisa mengendalikan situasi rumit ini."
[Baiklah, tapi kau harus cepat, jika ini terus berlanjut, maka mau taruh dimana muka ku ini.]
'Bukankah kau masih memiliki pan*tat untuk bercermin, jadi untuk apa muka yang sudah keriput itu, buang saja.'
Itu yang ingin Dirgan katakan kepada pamannya, tapi terdengar seperti penghinaan sehingga Dirgan tidak mungkin berbicara tidak sopan.
"Baik paman, aku akan segera menyelesaikannya, karena bagaimanapun berita itu menjadi sumber masalah di perusahaan Mavendra juga."
[Aku tunggu kabar baiknya.]
"Tentu saja paman."
Lepas panggilan telepon berakhir, Dirgan membanting ponsel yang tangan hingga hancur. Dia sudah menahan diri untuk tetap bersikap sopan, tapi dengan tuntutan dari saudara-saudara nya itu, membuat Dirgan terhina.
"Kau hanya menginginkan kabar baiknya saja, sesekali terima kabar buruk yang kalian buat sendiri."
Dari luar ruangan tentu semua karyawan bisa mendengar suara keras Dirgan yang sedang murka.
Tanpa Dirgan ketahui dua karyawan mulai saling berbisik.
"Tidak biasanya, bos marah, padahal selama ini bos selalu bicara sopan kepada siapa pun."
"Kau saja yang tidak tahu, bos Dirgan selalu marah karena satu hal."
"Apa itu..."
"Jika bos mendapat masalah menyangkut soal saudara-saudaranya yang selalu berbuat seenak jidat."
"Ah begitu."
"Aku merasa kasihan dengan bos padahal dia orang baik, tapi kelakuan saudara-saudaranya itu selalu menjadi sumber masalah."
Seketika pintu terbuka, sosok Dirgan muncul dan dua orang yang sedang berbisik-bisik itu diam di tempat.
"Selamat malam bos." Ucap satu orang tersenyum dengan membungkuk hormat.
Dirgan membalas senyuman dari karyawan itu..."Ini sudah lewat jam pulang kantor, kenapa kalian berdua masih disini."
"Hanya menyelesaikan berkas saja, bos... Sedikit lagi beres."
"Kalau begitu, aku duluan, kalian berdua jangan pulang terlalu larut, itu tidak baik untuk kesehatan." Ucap Dirgan pergi.
__ADS_1
"Baik bos."
Bersikap baik kepada bawahan bukan sesuatu yang salah, karena perusahaan tidak akan berjalan tanpa adanya karyawan. Sehingga Dirgan menaruh rasa hormat kepada mereka yang mendedikasikan diri karena sudah membuat bekerja dengan giat.