Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Sistem kerja


__ADS_3

Ryan kembali membicarakan sistem kerja yang di setujui oleh Dirgan Mavendra.


Dimana pekerjaan utamanya adalah menjadi pengawal pribadi untuk Rea, tapi dia juga bertindak sebagai supir yang membawa Rea kemana pun dia pergi.


Hari Minggu dia akan libur, namun jika ada sesuatu atau kejadian mendadak yang mungkin membahayakan Rea, Ryan diwajibkan untuk tetap menjalankan tugasnya. Namun itu akan terhitung sebagai lembur.


"Jadi Rea, mulai sekarang, kau akan tinggal di rumah, urusan kuliah lakukan seperti biasa dan Ryan akan mengantarkan mu setiap hari." Ucap Dirgan kepada Rea.


"Kecuali hari Minggu." Lanjut Ryan memberi tambahan.


"Ya... Kecuali hari Minggu....Kenapa kau yang mengaturnya."


Ryan tersenyum pahit sebelum menjawabnya..."Tidak pak, aku hanya mengingatkan saja, hari Minggu adalah hari libur, jadi untuk apa berangkat kuliah."


Namun dari makna di wajah Rea itu menunjukan bahwa dia tidak setuju... "Tapi ini sangat mendadak ayah, aku pikir, aku hanya tinggal di sini untuk beberapa hari, jadi aku tidak bisa keluar dari asrama begitu saja."


"Jika kau ada di asrama, Ryan tidak mungkin menjagamu, peraturan di sana jelas, lelaki di karang masuk."


"Kalau begitu, buat dia untuk mengubah kelaminnya." Kata Rea.


Berbalik Dirgan menatap ke Ryan..."Apa kau bisa melakukan itu."


Gelengan kepala jelas menjawabnya..."Tolong jangan meminta hal yang menakutkan tuan, aku masih nyaman menjadi lelaki."


"Lihat Rea, dia tidak bisa, jadi tidak ada pilihan lain."


"Dasar pengawal tidak berguna." Keluh Rea.


"Aku hanya pengawal, bukan manusia ajaib yang bisa mengubah kelamin." Balas Ryan merasa murung sendiri.


Rea memiliki alasan untuknya tidak pergi dari asrama, pertama karena dia mencari efisiensi jarak antara tempat tidurnya dan juga kampus, sehingga meminimalisir terjadinya keterlambatan kelas.


Kedua, di asrama dia memiliki beberapa teman yang bisa diajak bicara santai, sedangkan di rumah, hanya ada pembantu dan penjaga.


Ketiga, Rea menyukai sesuatu yang manis, sehingga dia bisa bebas membeli makanan tanpa perlu mengukur kadar nutrisi dan gizi seperti di rumah.

__ADS_1


Rea masih mencari alasan untuk menolak pindah ke rumah.... "Selama dua tahun aku tinggal di asrama, tidak ada hal-hal berbahaya datang, jadi kekhawatiran ayah terlalu berlebihan."


"Mungkin kau benar. Tapi...."


Satu persatu argumen di ucapkan oleh Dirgan, dan Rea membalasnya dengan fakta-fakta yang ada. Sang ayah memaksa, Rea tetap menolak.


"Kalau begitu, bukankah lebih baik jika aku ikut masuk ke tempat Nona Rea bersekolah saja, meski tidak selalu di dekatnya, namun ini lebih baik, karena aku cukup dekat saat nona Rea ada di dalam bahaya."


Dirgan terdiam, dia memikirkan usul dari Ryan yang sepertinya cukup meyakinkan.


"Baiklah, besok aku akan meminta kepada rektor universitas Harvard agar kau bisa tinggal di dalam sekolah sebagai pengawal pribadi Rea." Ucap Dirgan meyakinkan Ryan.


Hanya saja dari usul yang di setujui oleh Dirgan membuat Rea menatap marah kepada Ryan. Saat itu juga Ryan sadar bahwa dia merasakan sorot mata dengan aura membunuh ditunjukan kepadanya.


"Aaaahhh aku tidak sabar menantikan esok hari." Ucap Rea seperti sebuah keluhan dan pergi begitu saja.


"Tuan sepertinya nona Rea membenciku." Itu yang Ryan bisa rasakan dari cara Rea bicara.


"Tidak perlu khawatir, dia memang seperti itu, sama dengan sifat ibunya." Dirgan benar-benar paham, karena sesosok Rea mengingatkan dirinya kepada Hana.


Di tempat lain....


Lelaki paruh baya duduk santai di atas kursinya, mengambil sebuah cerutu yang sudah terpotong di kedua ujung dan satu wanita berdiri di sebelah menyalakan korek. Satu tarikan nafas panjang menghisap dan mengeluarkan asap putih pekat dari mulutnya penuh rasa nikmat.


"Cerutu Cuba memang yang terbaik." Ungkapnya selagi penuh kekaguman.


Kembali lelaki paruh baya itu melihat ke arah tumpukan dokumen yang tergeletak di atas mejanya dan beberapa orang pun memasang wajah serius.


"Jadi bagaimana dengan penyelidikan kalian soal siapa yang membunuh tiga orang penyalur barang kita." Ucapnya kepada tiga orang di depan meja.


"Hampir tidak ada bukti di sekitar tempat mereka tinggal, tuan George. Tapi kami menemukan rekaman cctv di bar kecil yang mereka kunjungi sebelum tewas." Jawabnya.


"Apa yang kau temukan di sana Aldfet."


Perjelas orang-orang bawahan George patuh ... "Pukul sepuluh malam, tiga orang kita keluar dari bar itu dengan membawa tiga wanita. Aku pikir jika mereka berhasil membawa barang untuk di jual kepada kita, tapi siapa sangka kalau mereka berakhir mengenaskan."

__ADS_1


"Perlihatkan rekaman itu kepadaku."


Sebuah video dari laptop salah satu bawahannya memutar gambar yang menunjukkan lokasi Cctv di halaman parkiran luar sebuah bar.


Datang tiga pria dan tiga wanita dalam keadaan tidak sadarkan diri di bawa masuk kedalam mobil hitam yang sudah di persiapkan.


Serius mata George melihat detik demi detik putaran video, hampir tidak ada yang aneh tentang itu dan durasi lima menit pun berakhir tanpa ada kepastian untuk di telusuri.


"Apa kau bisa mencari tahu siapa tiga wanita yang mereka bawa."


"Dua wanita berhasil kami identifikasi, mereka adalah Annastasia dari universitas Harvard dan Rea teman karibnya, mereka berdua sengaja datang ke bar atas janji pertemuan lewat Media sosial." Jawabnya dengan membuka dua foto dari dua wanita itu.


"Dan satu wanita yang lain.." lanjut George bertanya.


"Kami tidak bisa mengetahui asal usulnya."


"Hmmm aku ingin kalian bisa menangkap mereka bertiga, karena ada kemungkinan saat itu, kita akan tahu siapa orang yang membunuh pemasok dagangan di bisnis kita." Ucap George memberi perintah langsung kepada mereka.


"Ya tentu kami bisa tuan George, tapi bukankah lebih baik kita mencari orang baru untuk mencari wanita yang bisa kita jual." Balas bawahannya.


"Apa yang kau katakan memang benar, tapi apa kau tahu, jika kita tidak menyingkirkan sebuah masalah hingga tuntas, maka itu akan menimbulkan masalah lain di masa depan."


"Baiklah tuan, aku akan mengirim orang untuk membawa mereka."


"Aku nantikan hasilnya."


"Kami lakukan yang terbaik." Jawab mereka tidak membantah sedikit pun.


Lepas mereka pergi, George kembali menghisap cerutu di tangannya dan terhembus lah asap putih tebal menyelimuti ruangan.


Setiap negara, setiap wilayah dan setiap kota memiliki sisi gelap yang tidak diketahui oleh masyarakat pada umumnya. Namun dari pada tidak diketahui, masyarakat lebih memilih untuk tidak peduli, karena mereka tahu jika berhubungan dengan dunia gelap, itu sama artinya mengikuti kejahatan.


George Walker adalah ketua dari salah satu mafia besar di dunia gelap di negara bagian Amerika, Massachusetts.


Kehadiran mafia memang menjadi biang keladi akan semua kejahatan kota, seperti penjualan narkoba, orang hilang, perdagangan manusia, jual beli narkoba, penyelundupan hasil curian, Perjudian dan penipuan berkedok undian Lottery.

__ADS_1


Dari semua kegiatan mereka itu lah para kelompok mafia memiliki kekayaan yang terbilang cukup luar biasa, bisnis ilegal dan menyalahi aturan hukum tidak membuat mereka takut. dimana dengan kekuatan uang semua urusan akan menjadi lancar.


__ADS_2