
Edward dibawa kembali ke rumahnya dan Elissa memberi tahu soal permasalahan yang terjadi antara Edward dan juga Cardness. Seperti permintaan Askar, dimana sedikit Elissa mengarang cerita untuk mengabarkan bahwa Cardness telah tewas.
Edward yang menjadi pewaris keluarga Swalldwon tentu mendapat perhatian khusus. Jika Edward tahu bahwa Cardness masih hidup, bisa dipastikan lelaki itu akan mendapat masalah besar yang tidak hanya berpengaruh terhadap hidupnya sendiri, begitu juga dengan orang-orang di sekitarnya.
"Seperti yang kau inginkan Askar, keluarga Swalldwon bisa menerima tentang luka dari peluru itu, dan juga Cardness tidak mungkin mendapat masalah." Ucap Elissa sedikit mengeluh.
"Terimakasih Elissa, maaf jika aku merepotkan mu."
"Tidak masalah, semua sudah selesai sekarang."
"Jadi apa kita bisa pulang." Itu yang Askar inginkan.
"Sebenarnya begitu, tapi...." Senyum aneh melengkung di wajah Elissa seperti memiliki niat lain.
Askar tidak nyaman untuk melihat Elissa, karena dia sendiri tahu ada rencana lain yang mungkin membuat Askar sedikit kerepotan.
"Apa ?." Askar bertanya sedikit khawatir.
"Apa kau benar-benar ingin pulang Askar ?." Tanya Elissa.
"Kau tahu, aku masih bekerja besok, jadi aku harus tidur dan tidak boleh terlambat." Askar mencari alasan.
"Ayolah, temani aku sedikit lebih lama."
Seakan tidak bisa menolak ajakan Elissa karena bisa dibilang apa yang terjadi sekarang adalah hutang untuk Askar lunasi.
"Baiklah...hanya kali ini saja."
"Kau harusnya lebih senang, dimana sekarang kau di temani gadis cantik yang mengajakmu minum."
Lemas Askar menjawab...."Maaf tapi minum miras bukan gayaku."
Kembali ke mobil dan mereka pun pergi.
*******
__ADS_1
Di tempat lain....
Rea tidak menemukan Askar hingga acara penggalangan dana berakhir, dia masih khawatir ketika melihat Askar yang mungkin mendapat masalah.
Namun pada akhirnya Rea tidak bisa membantu apa pun dan mengikuti sang ayah untuk pulang ke rumah.
Hingga ketika Rea ingin masuk ke kamar Dirgan memanggil.... "Rea, ayah ingin bicara."
Tanpa perlu berbalik Rea menjawabnya..."Apa ini soal pertunangan dengan Edward, jika memang benar, maka tidak perlu dibicarakan lagi, aku tetap menolaknya. Ayah."
"Tidak bisakah kau mendengarkan apa yang ayah ingin katakan."
Rea merasa enggan namun dia tidak bisa menolak apa dinginkan oleh ayahnya..."Baiklah."
Duduk di ruang tamu dengan minuman hangat yang di sediakan oleh pelayan. Suasana terasa begitu berat, sikap Rea seperti siap berontak jika pembicaraan dengan ayahnya menyangkut soal Edward.
"Ayah tahu jika kau bertanya-tanya soal Ibumu dan juga Noe, kakakmu... Dan ayah sudah cukup lama diam tanpa pernah bercerita apa pun tentang mereka."
"Ya aku tidak tahu bagaimana keluarga kita memiliki banyak masalah yang ayah sembunyikan." Balas Rea .
Rea tidak bisa menjawab apa pun, dia sendiri mengakui bahwa ada banyak hal yang membuatnya bingung.
Dirgan melanjutkan tanpa perlu menunggu jawaban Rea ..."Keluarga Mavendra sudah ada sejak 600 tahun silam, 9 generasi menyimpan banyak sejarah di keluarga kita yang tidak di ketahui oleh publik, itu adalah darimana semua aset kekayaan milik keluarga Mavendra berasal."
Rea tentu tahu bahwa selama ini kekayaan keluarga Mavendra sangatlah banyak, fantastis dan juga tidak ada habisnya. Namun asal dari itu semua, adalah awal cerita ketika keluarga Mavendra berdiri.
"Keruntuhan kerajaan Majapahit memiliki banyak misteri yaitu hilangnya semua harta peninggalan kerajaan Majapahit, tapi kau harus tahu bahwa ada tiga orang yang menyembunyikannya dan salah satunya adalah Weyan Mavendra, leluhur kita."
Di masa lalu, saat terjadinya perang perebutan kekuasaan dan menjadi cikal bakal keruntuhan kerajaan Majapahit, tiga orang yang salah satunya adalah Weyan Mavendra menyembunyikan harta kerajaan.
Selama ratusan tahun menjadi misteri, tiga orang yang kini memiliki keluarga masing-masing itu akhirnya berniat mencari lokasi keberadaan dari harta itu.
Namun karena ketamakan dan kerakusan akan harta, dua keluarga membuat kerjasama untuk menyingkirkan satu keluarga lain, mereka adalah Mavendra dan Sanghinan.
Hubungan antara Mavendra dan Sanghinan berjalan mulus, tanpa adanya konflik selama puluhan tahun, bahkan keduanya berdiri diatas puncak kejayaan bisnis di negara Indonesia di masa orde lama.
__ADS_1
"Hingga ayah bertemu ibu mu yang berasal dari keluarga Sanghinan, tapi pada awalnya ayah tidak tahu apa pun soal rahasia di masa lalu ini...."
Dirgan jatuh cinta kepala Hana Sanghinan dan berjuang keras demi mendapat pengakuan meski harus di tolak berkali-kali. Bertahun-tahun mengejar akhirnya Hana pun menerima Dirgan.
Tapi semua itu dimanfaatkan oleh keluarga Mavendra saat terjadi krisis ekonomi negara Indonesia yang hampir membuat bisnis keluarga hancur. Yaitu mereka ingin mendapat harta kerajaan Majapahit milik keluarga Sanghinan.
Karena dengan semua itu akan mampu mengembalikan keluarga Mavendra ke puncak kejayaan mereka.
Kejanggalan demi kejanggalan pun terjadi di keluarga Sanghinan, satu persatu orang-orang dari keluarga Sanghinan tewas dan hanya menyisakan Hana sebatang kara.
"Disitulah ayah menemukan semua bukti dari keanehan yang terjadi di keluarga Sanghinan."
Dirgan berada di situasi sulit, Hana yang mendapat kesengsaraan atas perbuatan keluarga Mavendra, sedangkan jika Dirgan menyerahkan bukti itu maka keluarga Mavendra benar-benar hancur.
Sebuah pilihan berat, namun Dirgan memutuskan untuk memberi tahu kebenarannya kepada Hana dan siapa yang menyangka jika ada seseorang mengetahui soal bukti-bukti itu di tangan Hana.
Keluarganya Mavendra akhirnya mengambil tindakan dimana mereka pun harus menyingkirkan Hana dan juga semua bukti demi menyelamatkan diri atas jerat hukum.
"Yang mereka inginkan adalah semua keluarga Sanghinan harus di habisi tanpa ada satu pun tersisa."
Dirgan yang sudah menjadi kepala keluarga Mavendra tidak bisa menolak tuntutan keluarganya dan dia pun berpura-pura untuk mengikuti keinginan mereka.
"Ayah berusaha menyembunyikan ibumu dan juga Noe, tapi sebelum ayah melakukannya, mereka di culik, hingga ada kabar tentang kecelakaan yang menewaskan ibumu dan Noe."
Tentu Dirgan berpikir jika memang Keluarga Mavendra sudah berhasil menjalankan rencana mereka dan memanipulasi berita agar orang lain tidak tahu tentang keberadaan itu.
"Saat itulah ... Ayah benar-benar putus asa dan ayah harus bersujud memohon demi keselamatan mu, Rea..."
Kini Rea sadar, kenapa ayahnya ingin menjauhkan dia dari keluarga Mavendra, bahkan merahasiakan segalanya, agar tidak terlibat lagi ke dalam masalah.
".....dua tahun lalu, ayah bertemu dengan Noe, seperti keajaiban, jika ternyata Noe masih hidup. Tapi ayah tidak bisa membawanya kembali sekarang, sampai nanti, ayah cukup kuat memegang semua kekuatan keluarga Mavendra tanpa ada satu orang pun bisa melawan."
Semua keputusasaan yang disimpan oleh Dirgan telah tersampaikan kepada Rea, meski pun Rea masih sulit menerima kenyataan yang dia harus hadapi.
Bahwa musuh yang dia lawan bukanlah orang lain, melainkan keluarganya sendiri.
__ADS_1