
Ryan atau pun Rea tentu merasa bingung atas kehadiran Askar yang tiba-tiba saja muncul di depan hotel, bahkan penampilannya sekarang tidak mencerminkan seorang cleaning servis.
Karena tidak mungkin orang yang hanya menjabat sebagai petugas kebersihan di sebuah kampus kini membawa mereka berdua ke suatu tempat dengan super car Bung Gati V8 super limited edition empat kursi.
Berbeda dengan Rea yang hanya duduk diam dan menunjukkan wajah bingung untuk sekedar bicara. Ryan penuh semangat melihat ke setiap sudut mobil mewah, dia benar-benar sangat senang dan terkagum-kagum.
Bahkan hanya karena kursi yang bisa naik turun sendiri, itu membuat Ryan bahagia seperti anak kecil sedang bermain-main.
"Aku penasaran bagaimana bisa kau memiliki mobil semewah ini, aku yakin ini sangat mahal, kau menang togel kah ? Atau mungkin sebenarnya kau adalah orang kaya yang menyamar sebagai cleaning servis." Ucap Ryan penasaran.
"Aku tidak perlu menang togel untuk mendapatkan mobil ini." Balas Askar dengan santai.
"Tapi memang benar juga, jika kau kakak dari nona Rea, itu sama artinya kalau kau adalah orang kaya yang sedang menyamar sebagai cleaning servis. Tentu mobil ini tentu hanya menjadi uang receh untukmu." Balas Ryan tersenyum mengejek.
Askar tertawa mendengar ucapan Ryan, karena apa yang dia bayangkan sangat jauh berbeda...."Kau harus tahu Ryan, meski aku adalah saudara dari Rea, tapi hidupku berbanding terbalik dengan keluarga Mavendra, aku juga termasuk masyarakat penerima bantuan PKH asal kau tahu. Tapi jika soal menyamar, memang aku melakukannya."
Tidak ada bantahan dari Askar perihal tindakannya menyembunyikan identitas asli sebagai Noe Mavendra. Namun hal ini tidak bisa dianggap tindak penipuan.
"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan mobil semahal ini. Katakan padaku, rahasia dari kiat sukses yang kau miliki." Ryan memaksa.
"Kau ingin tahu ?."
"Tentu saja, aku tidak ingin selamanya menjadi bodyguard yang bergaji kecil, sedangkan resiko pekerjaan berurusan dengan malaikat maut." Ryan mengeluh dan tentu di dengar oleh Rea di belakangnya.
Askar kembali tertawa, memang benar apa yang Ryan katakan, menjadi bodyguard atau juga menjaga keselamatan seseorang tentu memiliki resiko yang harus dia tanggung.
Sedangkan tidak semua bodyguard memiliki asuransi jiwa atau BPJS ketenagakerjaan yang menjamin nyawa. Terlebih lagi, jika hal buruk terjadi dan Ryan tewas uang tunjangan dari asuransi itu tidak bisa dia nikmati.
"Kalau begitu kau hanya perlu mengencani seorang gadis kaya dan aku pastikan kau bisa meminjam mobil mewah seperti yang aku lakukan." Jawab Askar seperti keinginan Ryan.
Lemas saat dia tahu kenyataannya...."Jadi mobil ini hanya pinjaman ..."
"Memang kau pikir aku ingin menghabiskan uang untuk membeli mobil seperti ini. Untuk membeli bensinnya saja itu sudah membuatku miskin." Balas Askar.
"Tapi pada akhirnya, yang jadi masalah utama adalah aku tidak ahli dalam mencari wanita, apa lagi yang kaya dan cantik. Jika ada gadis suka padaku, aku sendiri akan terkejut." Balas Ryan tersenyum pahit menggambarkan nasibnya sendiri.
Askar memiliki jawaban untuk Ryan..."Karena itu, menjadi tokoh utama di dalam sebuah cerita adalah hal menguntungkan."
"Apa maksudmu." Ryan balik bertanya karena bingung.
"Tidak lupakan saja."
Tapi Ryan memiliki pertanyaan lain dan itu membuatnya penasaran untuk semua kebetulan yang terjadi. Askar selalu saja muncul kapan pun dan dimana pun di tempat Rea berada.
__ADS_1
"Jadi.... Bagaimana bisa kau tahu kalau aku dan nona Rea ada di hotel." Tanya kembali Ryan.
"Sama seperti jam yang kau miliki, aku juga selalu mengawasi Rea untuk menjamin keselamatannya." Jawab Askar.
Mengangguk kepala Ryan...."Ah begitu, kini aku paham, kenapa kau bisa muncul secara tiba-tiba ketika nona Rea dalam masalah."
Rea sadar ketika mengingat sesuatu yang membuatnya penasaran untuk waktu lama. Semua kembali di saat kejadian tentang tiga orang dari sindikat perdagangan manusia tewas di sebuah losmen.
"Apa artinya kau juga yang membawaku pulang bersama Anna di malam itu." Tanya Rea.
Askar paham apa yang Rea tanyakan, dimana saat dia dan juga Anna bertemu dengan tiga orang untuk acara kopi darat.
Tapi keesokan paginya, sebuah berita tentang pembunuhan tiga orang dari sindikat perdagangan manusia di temukan di dalam losmen tempat mereka bertransaksi.
Memang sebelumnya, Rea hanya melihat samar-samar satu bayangan lelaki ketika membuka mata, namun karena kondisi masih separuh sadar, Rea tidak bisa memastikan siapa sosok itu.
"Ya, benar Rea, akulah orangnya." Singkat jawaban Askar.
Semua sudah jelas sekarang, bahwa Rea yang secara ajaib kembali tanpa terlibat dalam masalah ketiga orang itu bukan kebetulan semata.
Mobil pun berhenti....
Askar membawa mereka berdua ke satu tempat yaitu Club 'Alba Dorata'. Banyak pertanyaan di wajah mereka yang mungkin kebingungan karena berhenti ke sebuah Club malam sedangkan hari masih siang.
"Memang kenapa ?."
"Kok menang kenapa ?, Di sana tertulis masih tutup, kita tidak mungkin menunggu sampai tempat ini buka kan." Itu yang Ryan tidak mengerti.
"Kenapa harus menunggu, kita tinggal masuk saja." Jawab Askar santai.
Mengikuti Askar ketika membuka pintu untuk masuk kedalam Club yang tutup, nyatanya di sana sudah ada beberapa orang yang duduk santai di kursi.
Mereka-mereka memiliki tubuh besar dengan penampilan formal berjas dan dasi, bahkan Ryan bisa melihat di balik jas yang mereka gunakan terdapat sebuah senjata api.
"Samuel, aku pinjam tempat ini." Kata Ryan selagi menyapa satu orang diantara mereka.
"Tentu saja tuan Askar. Apa perlu aku bawakan beberapa minuman ?." Jawabnya dengan sopan.
"Ya itu terdengar bagus, tolong." Askar tidak menolak.
"Baik tuan Askar. Silakan nikmati waktu anda."
Askar terlihat begitu santai untuk berbicara dengan lelaki bertubuh besar itu. Ditambah lagi Ryan melihat jelas ada sebuah senjata di dalam jas, tentu kehadiran mereka di tempat ini bukanlah pelayan atau semacamnya.
__ADS_1
Tapi mereka dengan sopan dan menunjukkan rasa hormat kepada Askar, bahkan menawarinya minuman meski Club ini masih tutup.
Secara khusus Ryan duduk di kursi pojok sendirian, dia memberi waktu untuk dua bersaudara yang sudah lama terpisah itu bicara satu sama lain, meluruskan semua masalah mereka.
Rea mengambil satu kursi dan Askar duduk tepat di depannya, suasana canggung bisa di rasakan oleh mereka berdua, dimana semua sudah berbeda untuk sekarang, sehingga Rea tidak nyaman jika harus bicara seperti biasa.
Kini Askar memulai pembicaraan ...
"Rea ... Tentu kau sudah mendengar dari ayah, jika dua belas tahun lalu, aku dan juga ibu tewas karena kecelakaan."
Anggukan kepala Rea menjawab perkataan Askar.
"Berita itu tidaklah benar, kejadian yang sebenarnya adalah aku dan ibu menjadi target dari orang-orang suruhan keluarga Mavendra yang ingin melenyapkan bukti kejahatan mereka terhadap Keluarga Sanghinan, dimana semua dokumennya ada pada ibu."
"Ayah juga sudah menjelaskan tentang tujuan keluarga Mavendra yang sebenarnya. Ka.... Ka... K." Ucap Rea dengan suara lirih di bagian akhir.
"Tidak perlu di paksakan itu terdengar aneh, jadi panggil saja aku seperti biasa Rea."
"Baiklah." Jawab Rea sedikit menundukkan wajahnya.
Kembali Askar lanjut bercerita...."Selama bertahun-tahun aku dan ibu bersembunyi dari keluarga Mavendra, namun karena perubahan yang terjadi dalam hidup kami. Membuat ibu harus bekerja keras demi mencukupi semua kebutuhan dan biaya sekolah ku. Lambat laun, berbagai macam masalah dagang, ibu tidak bisa menerima tekanan batin hingga mengalami depresi berat."
"Jadi sebenarnya ibu masih hidup." Tanya Rea terkejut.
"Tidak, ibu sudah meninggal dua tahun lalu dan itu adalah salahku." Jawab Askar merasa marah kepada dirinya sendiri.
Rea bingung harus mengekpresikan diri seperti apa, dia tidak bersedih, marah atau pun terkejut ketika mendengar kematian sang ibu. Dimana sejak kecil Rea sudah menganggap bahwa ibunya telah tiada, bahkan Rea tidak tahu wajah wanita yang sudah melahirkan dirinya.
Tapi ketika melihat kemarahan di wajah Askar, Rea bisa mengerti bagaimana perasaan kakaknya itu kepada sang ibu adalah ikatan yang sangat kuat.
"Apa yang terjadi ?."
Senyum Askar begitu pahit...."Jika saja aku tidak membuat satu kesalahan, ibu mungkin masih hidup sampai sekarang. Tapi takdir seperti sedang bercanda dan itu membuatku ingin menertawakan diriku sendiri."
"Apa ini ada hubungannya dengan keluarga Mavendra." Rea cukup cerdas untuk menyusun semua peristiwa itu dan menemukan penyebab dari masalah utama.
"Ya, Orang-orang di keluarga Mavendra tahu bahwa kami berdua masih hidup dan mereka mengirim pembunuh bayaran untuk menyingkirkan kami."
Askar tidak bisa melupakan semua kejadian yang dia alami selama ini, dendam kepada orang-orang dari keluarga Mavendra sudah mendarah daging dan tidak ada satu pun alasan untuk memaafkan perbuatan mereka.
"Tidak mungkin...." Rea terkejut.
Rea memang sudah mendengar dari ayahnya, jika ada banyak keburukan di balik keluarga Mavendra, namun semua tertutupi secara sempurna. Hingga sekarang dia mendengar langsung dari Askar, bahwa keluarga Mavendra tidak segan-segan membunuh keluarganya sendiri untuk menyembunyikan kebusukan mereka.
__ADS_1