Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Salah arah


__ADS_3

Tujuh orang Assassin yang diperintahkan untuk membunuh Edward sudah di singkirkan oleh Askar dan juga Elissa. Meski begitu perasaan Askar terbilang kurang nyaman dengan kejadian kali ini.


Elissa melihat kebingungan di wajah Askar, dimana itu membuatnya tahu, jika ada yang sedang dipikirkan oleh Askar dan itu cukup serius.


"Apa terjadi sesuatu ? Atau mungkin kau salah makan ?." Tanya Elissa bingung.


"Untuk soal makan, aku cukup terbiasa dengan daging Wagyu super A5 atau pun Sembikiya queen strawberries seharga cicilan motor satu bulan... Tapi ini soal pembunuh Edward, kenapa orang itu hanya mengirimkan Assassin kelas teri seperti mereka ?. Bukankah itu aneh, jika memang ingin membunuh orang kaya terkenal dari keluarga Swalldwon, pastinya akan menyewa Assassin yang jauh lebih mumpuni." Ucap Askar untuk sesuatu mengganjal di hatinya.


Namun Elissa tidak berpikir demikian, dia yang notabenenya adalah Assassin kelas atas, harus menerima kalah untuk satu gerakan saat melawan Askar dulu. Sehingga bukan mustahil mengalahkan tujuh Assassin lain seorang diri.


"Kenapa kau berpikir demikian ?, Apa kau hanya merendahkan diri dengan kemampuan mu sehingga beranggapan musuh kita tidak berguna ?." Balas Elissa dengan senyum pahit.


"Tidak bukan seperti itu juga, ya aku akui agak sedikit kerepotan saat bertarung tadi." Tunjuk satu orang yang menjadi lawan sebelumnya.


Lanjut Askar bicara...."Tapi jika memang benar firasat ku, masih ada satu Assassin yang bersembunyi di tempat ini."


Mengingat bahwa Elissa memberi kode jika ada tujuh Assassin yang datang untuk membunuh Edward dan itu dari apa yang dia lihat saja.


Sedangkan bagi Assassin kelas atas, menyembunyikan diri, mengendap-endap dan membunuh target tanpa diketahui oleh siapa pun sudah menjadi keahlian mereka.


Askar segera mengarahkan pandangan kembali ke tempat Edward, dimana Askar jelas mencari sosok lelaki tidak berguna itu, namun dia tidak bisa menemukannya.


"Dimana Edward...."


"Kau benar. Dia sudah tidak ada." Elissa pun terkejut.


Nyatanya memang benar, tujuh Assassin yang di tangkap hanya sebuah umpan untuk Askar dan Elissa fokus menyingkirkan mereka semua. Tentu ini membuat Askar sadar, kalau orang itu tahu bahwa keluarga Swalldwon pun menyewa Assassin demi menjaga Edward.


Dan sekarang, dia sudah mendapatkan targetnya, namun bisa dipastikan, orang itu tidak langsung membunuh Edward karena di tengah keramaian para tamu, tentu akan membuat kepanikan masal.


Askar naik ke lantai dua, mengawasi dari atas untuk memastikan keberadaan Edward yang tidak bisa ditemukan di sekitar tempat sebelumnya.


Turun kembali ke lantai satu, Rea yang ada tidak jauh dari tempat Askar mendekatinya.


Melihat kebingungan di wajah Askar, Rea pun bertanya...."Apa yang kau cari Askar ?."


"Rea, apa kau lihat anak kurang ajar itu lewat." Tanya Askar tiba-tiba.

__ADS_1


Seakan paham Rea untuk istilah yang Askar katakan ..."Maksudmu Edward."


"Ya itu..."


"Sebelumnya dia pergi keluar dengan seseorang aku pikir itu temannya..." Jawab Rea.


"Ah ... Si*al." Askar marah untuk dirinya sendiri.


"Ada apa Askar, kenapa kau begitu kesal."


"Tidak bukan hal penting, tapi terimakasih, aku akan pergi ke toilet sebentar." Segera Askar berlari keluar.


"Askar kau mau kemana, toilet ke arah sana." Tentu Rea menunjuk ke arah berlawanan.


Askar tidak mendengar perkataan dari Rea dan segera saja keluar untuk mengejar Assassin yang membawa Edward pergi. Melihat dari kejauhan, sebuah mobil baru saja meninggalkan tempat parkir, sekilas bayangan Edward memang ada di dalamnya.


"Aku terlambat...." Askar melirik ke kiri dan kanan dia tidak menemukan apa pun untuk mengejar mobil itu.


Hingga tidak berselang lama, mobil Feriarri merah berhenti di sebelah Askar. Elissa cukup tanggap terhadap situasi sekarang, dia sudah mengambil mobilnya dan siap untuk mengejar.


"Askar ayo naik."


"Apa kau punya SIM." Tanya Elissa.


"Apa kita perlu itu sekarang."


Elissa melompat ke kursi penumpang, membiarkan Askar yang mengambil alih kemudi untuk mengejar Edward.


*******


Di sebuah gudang kosong yang terbengkalai, mobil hitam berhenti untuk mengeluarkan seseorang dengan kepala tertutupi kain hitam.


Lelaki itu dengan paksa dan kasar menarik tubuh Edward untuk mengikutinya masuk kedalam gudang.


"Cepat jalan...."


"Apa kau tidak bisa lebih lembut, aku tidak melihat apa pun sekarang." Edward coba menawar.

__ADS_1


Lelaki itu tidak peduli untuk keluhan Edward...."Jangan banyak bicara, aku tidak dibayar lebih untuk menjawab perkataan mu."


"Kalau begitu aku bisa membayarmu lebih untuk melepaskan ku."


"Sayang sekali aku terikat perjanjian, aku hanya diperintah oleh satu orang hingga misiku selesai." Jawabnya.


"Apa itu artinya kau membantah perkataan, jika uang bisa membeli segalanya."


"Tapi tidak dengan nyawa. Aku pun memiliki aturan untuk membawamu ke tempat ini dan juga memastikan agar kau tidak kabur sampai semua berakhir." Balasnya dengan pendirian tegas.


Seorang Assassin tahu peraturan yang mereka junjung tinggi, ketika berada di dalam misi, pengkhianatan adalah suatu tindakan tercela dan juga menyalahi aturan guild. Ketika itu terjadi maka mereka akan diburu oleh para Eksekutor kiriman guild.


Kecuali saat misi yang mereka ambil sudah selesai, Assassin berhak mengambil permintaan orang lain meski pun itu mencampuri misi sebelumnya.


Di dalam gedung itu, sesosok lelaki bertubuh sedikit gemuk sudah menunggu...


Edward terikat di atas kursi, ketika penutup kepalanya terlepas, saat itu juga Edward mengenali siapa orang yang ada dihadapannya sekarang.


Cardness Stanfill..


Seorang teman, lebih tepatnya kenalan dari Edward dimana mereka berada di fakultas yang sama. Namun menjadi seorang kenalan tentu tidak membuat mereka saling akrab.


"Oi, oi, oi.... gendut apa kau lakukan, cepat lepaskan aku, apa kau tahu akibatnya jika bermain-main denganku." Teriak Edward penuh emosi.


Wajah Card terlihat takut, dia pun ragu-ragu ketika harus berhadapan dengan Edward.


"Apa kau tuli, cepat lepaskan aku."


Meski gemetar karena rasa takut Card berusaha tetap yakin dengan tindakannya...."Tidak, aku tidak akan melepaskan mu, kau harus membayar semua yang kau lakukan selama ini."


Lelaki Assassin yang dia sewa sudah menyelesaikan tugasnya membawa Edward dan kini menyerahkan sebuah pistol kepada Cardness.


"Terimakasih banyak sudah membantuku, tuan Shadow." Ucap Cardness menundukkan kepala sopan.


"Ini sudah menjadi tugasku, Aku bahkan tidak peduli soal dendam yang kau miliki, tapi mendengar kau berterima kasih, aku rasa kau cukup bijak dengan menghargai pekerjaan orang lain."


Cardness mengambil pistol yang diberikan oleh lelaki itu dan berjalan ke hadapan Edward.

__ADS_1


"Aku sudah menunggu saat ini... Kau tahu, setiap hari, setiap hari, aku bersabar untuk membayar apa yang sudah kau lakukan, tapi sekarang, tidak peduli kau anak keluarga Swalldwon, nyawamu ada di tanganku." Tegas ucapan Cardness.


Kini antara dia dan Edward hanya memiliki satu tujuan yaitu membunuh Edward dengan tangannya sendiri.


__ADS_2