
Beberapa saat sebelumnya....
Rea merasa aneh untuk sikap Askar yang tiba-tiba saja pergi dengan alasan barang tertinggal di tempat mereka makan. Tapi Rea memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dia pula orang yang memiliki ingatan tajam.
Jika sebelumnya Askar tidak mengeluarkan satu benda pun dari dalam sakunya, apa lagi dompet, jelas Rea ingat bahwa Askar melupakan dompetnya di rumah.
Meski itu hanya sebuah alasan, tapi bagi Rea dia sadar bahwa Askar menyembunyikan sesuatu dari sikapnya yang tiba-tiba pergi.
Nyatanya memang benar, ketika Rea mengikuti Askar dari belakang, dia sudah membawa seorang wanita untuk pergi ke tempat lain.
Tapi ketika Rea berniat mengikuti kembali Askar yang membawa wanita itu. Rea di hentikan oleh Ryan...
Dia berkata... "Nona Rea, sebaiknya kita tidak mencampuri urusan orang lain, kita kembali saja."
Rea tidak menyukai perkataan Ryan, dimana saat ini rasa marah karena mengetahui Askar rela berbohong untuk bertemu wanita lain membuat Rea tidak senang.
"Kau dilarang mengurusi masalahku, jangan ikut campur, kau hanya perlu menjadi bodyguard yang tenang dan tidak banyak bicara." Bentak Rea marah untuk sikap Ryan.
"Baiklah nona." Mendengar hal itu, Ryan hanya bisa menuruti perintah Rea.
Bagi Ryan sendiri, dia sadar ada sesuatu dibalik hubungan Askar dan satu wanita asing yang baru saja dibawa pergi. Ingat bahwa dia masih memiliki hutang kepada Askar, tentu Ryan ingin membantu Askar dan menahan Rea agar tidak mengikuti mereka.
Tapi sayangnya, Ryan tidak bisa melawan perintah Rea, dia sudah menandatangani kontrak sebagai bodyguard yang memenjamin keamanan Rea dan mengikuti apa perintahnya.
Hingga ketika Rea berada tidak jauh dari Askar dan wanita asing itu, suara percakapan keduanya terdengar jelas, dimana mereka mengatakan...
Wanita itu bicara..."Lalu siapa wanita tadi, apa kau selingkuh dengan orang lain selama kau tinggal di sini."
"Tidak, dia bukan selingkuhan atau apa pun, dia Rea, adikku." Jawab Askar.
Sebuah pernyataan langsung dari mulut Askar sendiri, kenyataan yang tidak lagi mampu di tutupi atau pun di rahasiakan kepada Rea.
Berlari Rea melewati Ryan dengan wajah sedih, terkejut dan kebingungan bercampur menjadi satu kemudian Askar pun menyusul. Sedikit Ryan mengeluh karena dia sudah memprediksi bahwa akan terjadi hal seperti sekarang.
Tidak banyak yang bisa Ryan lakukan untuk sekarang, hanya ikut menyusul karena para akhirnya dia bukan siapa-siapa kecuali bodyguard demi menjaga keamanan Rea.
Berjalan sedikit santai, di ikuti oleh satu wanita asing yang sebelumnya bersama dengan Askar kini berjalan saling beriringan.
__ADS_1
Ryan coba tersenyum saat mata Alesa melihat ke arahnya.
"Maaf nona, jika aku boleh tahu, apa hubungan anda dengan Askar." Tanya Ryan kepada Alesa.
"Kenapa kau mau tahu urusan orang lain, pikirkan saja dirimu sendiri." Balas Alesa tidak senang.
Lemas Ryan berjalan ...."Kenapa semua wanita menganggap ku seperti pengganggu di hidup mereka."
Dari tempat lain....
Rea sudah masuk kedalam gedung asrama, namun Askar tidak memiliki ijin karena di sana ada penjaga yang mengawasi setiap orang, bahkan jika itu karyawan di universitas Harvard ini.
Tapi melihat bagaimana saat Rea kembali dengan wajah yang sedih dan Askar datang mendekat seperti sedang kebingungan, penjaga itu memperhatikan cukup serius.
Seorang petugas penjaga keamanan asrama, pak Ergad, lelaki paruh baya 56 tahun, bertubuh buntal hingga offside dari gesper dan juga tongkat keadilan yang selalu dia bawa di pinggang.
"Askar apa yang terjadi ?." Tanya pak Ergad.
"Pak Ergad, ini hanya kesalahpahaman Rea saja, dia melihat ku dengan seorang wanita." Jawab Askar kepada penjaga keamanan asrama.
"Ah begitu... Sungguh masa muda, kisah romantis pasangan yang berliku-liku...." Gumamnya sendiri selagi mengangguk paham atas situasi yang Askar alami.
"Soal itu aku tidak bisa, tanpa kepentingan dan perintah dari kepala asrama, aku tidak bisa membiarkan lelaki masuk kedalam asrama perempuan."
"Ayolah.... Bukankah, aku juga karyawan disini." Askar coba mencari alasan.
Tapi pak Ergad tidak bisa tawar menawar...."Meskipun kau karyawan, tapi urusan ini bersifat pribadi bukan bagian dari pekerjaan."
Askar tidak bisa asal trobos saja masuk kedalam asrama saat siang hari, karena memang ada banyak penghuni asrama masih beraktivitas.
Jika ini adalah malam hari, sangat mudah bagi Askar menyelinap masuk tanpa perlu takut ketahuan oleh siapa pun.
Tidak lama, Ryan dan Alesa pun datang.
Sedangkan Rea dari kamarnya yang berada di lantai atas memperhatikan lewat jendela.
"Askar, Bagiamana Rea." Tanya Alesa.
__ADS_1
"Dia masuk kedalam..." Lemas Askar menjawab.
"Ah jadi begitu, tapi kenapa dia bisa marah, bukankah dia harusnya senang karena tahu jika kau saudaranya."
"Ini rumit Al, aku akan menceritakannya nanti." Balas Askar.
Dari atas kamar tiba-tiba saja Rea keluar dan berteriak keras... "Jangan sampai lelaki itu masuk ke tempat ku, atau kau tidak akan menerima gajimu Minggu ini."
Ryan terkejut, ya untuk sebuah masalah pribadi antara dua saudara ini membuat gajinya menjadi taruhan...."Itu sulit nona, aku bahkan tidak yakin jika bisa menghentikan Askar."
"Bodyguard macam apa kau, lawan cleaning servis saja tidak becus."
'ya... Mau bagaimana lagi, dia bukan cleaning servis biasa.' jawab Ryan dari dalam hati.
"Baiklah, kalau kau bisa melakukannya, aku pastikan gajimu naik dua kali lipat."
"Kalau begitu ok." Tidak ada yang perlu di tolak.
Seakan janji Rea membuat Ryan memiliki motivasi untuk bersemangat menghadapi Askar.
Berdiri saling berhadapan, meregangkan otot di tubuhnya dan mulai mengatur kuda-kuda seperti petinju di atas ring.
"Maafkan aku Askar, ini adalah perintah nona Rea, aku tidak bisa menolaknya." Ryan menunjukkan tekad serius untuk melawan Askar.
"Bukan karena gajimu akan naik." Alesa lah yang mengatakannya.
"Ya itu juga aku tidak bisa menolaknya." Ryan pun tidaklah naif, soal gaji tentu menjadi alasan utama.
Askar menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan panjang seakan harus bersabar menanggapi sikap Rea.
"Tolong jangan buat aku marah, kau tahu akibatnya." Askar menunjukkan ancaman kepada Ryan.
Tapi Ryan tidak bisa membiarkan Askar lewat karena itu perintah dari Rea dan juga soal kenaikan gaji...."Maaf Askar, aku pun tidak ingin mencari masalah denganmu, tapi mau bagaimana lagi, nona Rea memberikan perintah ini kepadaku.... Bisa-bisa gajiku akan di potong olehnya."
"Sepertinya memang aku harus menggunakan cara kasar."
Sebelum Askar bergerak maju, seketika itu juga petugas keamanan mengacungkan sebuah tongkat dan membuat Askar berhenti.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, kalian jangan berkelahi, dilarang ada kekerasan di tempat ini, jika itu terjadi, kalian berdua akan berhadapan denganku." Ucap Ergad serius.
Tentu tidak menganggap bahwa lelaki berbadan Offside itu mampu mengalahkan Askar dan juga Ryan. Tapi sebagai penjaga keamanan asrama, dia bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas mengamankan kondisi.