
"Paket ..... "
Suara ketukan pintu terdengar keras menggebu-gebu, sedangkan lelaki yang hanya menggunakan celana kolor, baru saja terbangun dan melangkahkan kaki malas dengan mulut menguap lebar.
"Ya sebentar...." saut Askar .
Membuka pintu, Askar melihat wajah kusut dari pengantar paket yang mungkin sudah membuatnya menunggu cukup lama.
Kurir menyerahkan selembar kertas kepada Askar ..."Silahkan tuan, tanda tangan disini."
"Baiklah."
"Terimakasih." Segera saja kurir menyerahkan satu kotak kemudian pergi.
Askar sedikit bingung, dia jelas tidak pernah membeli apa pun secara online atau memesan kiriman barang dari orang lain, terlebih lagi, tidak ada orang yang tahu alamat apartemennya sekarang.
Tapi ketika Askar melihat alamat si pengirim, itu jelas berasal dari Indonesia dan satu-satunya orang yang tahu hanyalah Salma. Namun tetap saja, tidak ada kabar apa pun soal tujuan Salma mengirimkan paket, sedangkan kondisi Askar di Amerika adalah untuk bersembunyi.
"Apa itu Askar...." Suara seorang wanita tiba-tiba saja terdengar dari belakang ketika Askar begitu serius membaca keterangan di atas paket.
Hingga langkah wanita itu semakin dekat yang hanya menggunakan selimut tipis, tanpa ada sehelai pakaian pun untuk menutupi aset pribadinya.
Itu adalah Elissa, dimana dia cukup dekat untuk memeluk Askar dari belakang selagi bertanya tentang benda yang dibawa.
"Hmmm hanya kiriman paket dari .... Tunggu, kenapa kau disini." Askar benar-benar bertanya untuk kehadiran Elissa.
"Bukankah semalam kau sendiri yang membawaku ke apartemen mu."
"Dan juga\, kenapa kau Te*Lan*jang\, lalu bagaimana bisa ruangan ku begitu berantakan." Askar baru menyadarinya dan itu sangat terlambat.
"Hei kau sendiri yang membuka paksa pakaianku hingga sobek, jadi inilah yang aku dapatkan."
"Apa benar begitu, aku benar-benar tidak ingat apa pun." Jawab Askar.
"Kau memaksaku untuk melakukan banyak hal, meski aku bilang untuk berhenti kah tetap saja bersemangat hingga aku lemas."
Askar segera menutup rapat tubuh Elissa dan mengalihkan perhatian untuk tidak menatapnya. walau harus Askar akui, jika apa yang dia lihat itu sangatlah menakjubkan dan juga banyak pernak-pernik menggantung di aset pribadi Elissa.
"Padahal aku selalu menghindari minum miras, inilah yang terjadi. Jangan katakan aku melakukan sesuatu kepada mu." Penuh penyesalan dari wajah Askar.
"Ya begitulah, aku baru pertama kali melakukan ini hingga merasa lelah, kau bahkan tidak membiarkanku beristirahat." Ucap Elissa tersenyum dengan wajah merah merona.
Memang benar, Askar tidak ingat tentang kejadian terakhir saat mereka lakukan, hanya setelah dia minum air putih yang di tawarkan oleh Elissa dan itu membuat lupa tentang segalanya.
Wajah murung dari Elissa seakan menjadi jawaban, tapi Askar merasa was-was, dia pernah sekali mencicipi miras dan setelah itu sekumpulan preman di dalam Club di hajarnya sendirian hingga masuk rumah sakit.
Rasa khawatir jika Askar hilang kendali dan membuat Elissa celaka.
__ADS_1
"Apa kau marah, Elissa ?."
"Kenapa kau berpikir seperti itu."
"Ya ... Aku selalu menjadi orang lain saat mabuk. Bahkan aku tidak bisa mengendalikan diri untuk menghajar siapa pun yang aku temui." Askar semakin tidak nyaman melihat kondisi sekitarnya.
"Hmmmm tapi aku senang saat kau memukul ku, itu terasa nikmat sekali."
"Tunggu, kau tidak terluka kan ?." Tanya Askar khawatir.
"Pan*tatku terasa sakit sampai sekarang."
"Maaf sekali, aku benar-benar menyesal."
Merasa ada yang salah dari pembicaraan mereka, satu pukulan melayang dan menghantam tepat di perut Askar, itu seperti Elissa sedang menumpahkan kekesalannya agar dia sadar.
"Memang apa yang sedang kau pikirkan ?."
"Kita berkelahi karena aku mabuk."
"Ah sudahlah, terserah kau mau beranggapan seperti apa. Biarkan aku pinjam bajumu."
"Itu ada di lemari, kau ambil saja." Tunjuk Askar.
Lepas dari kepergian Elissa, Askar kini membuka paket yang di kirimkan oleh Salma. Itu adalah sebuah flashdisk seperti surat sebelumnya, jika dikatakan ada banyak data penting mengenai Keluarga Mavendra.
"Baiklah, untuk sekarang, aku harus berangkat kerja."
Bandara Internasional Jenderal Edward Lawrence Logan....
Seorang lelaki berjalan keluar dari dalam bandara dengan satu tas ransel besar yang dia bawa di pundak. Dari tangan lelaki itu secarik kertas berisi tulisan sebuah alamat untuk tujuannya.
Namun ketika dia melihat sekeliling, semua tampak menakjubkan dari matanya, gedung-gedung bertingkat pencakar langit, jalanan ramai dengan wajah-wajah manusia asing yang hanya dia lihat melalui layar televisi.
"Jadi ini Amerika, semua terlihat luar biasa...." Penuh kekaguman dari wajah lelaki itu.
Sedangkan jika dilihat soal penampilan, dia hanya menggunakan kaos hitam, celana jeans biru, sobek-sobek dan juga arloji lama murahan yang harganya tidak lebih dari seratus ribu rupiah di toko.
Lepas dari kekagumannya, dia segera mendekati sebuah taksi yang terparkir di luar bandara.
"Excuse me sir, can you take me to this address." Meski ucapannya terbata-bata tapi semua yang harus dia katakan sudah tercatat lengkap di buku saku.
"Ok sir, please come in."
(Baik tuan, silakan masuk.)
Sang supir yang sangat paham untuk mengetahui para pendatang baru di kota ini, karena juga wajah lelaki itu terlihat seperti orang Asia.
__ADS_1
"Thank you." Singkat saja jawabannya.
"Is this your first time coming to Boston ?."
(Apakah ini pertama kalinya Anda datang ke Boston?.)
Mendengar ucapan dari sang Supir taksi yang berbicara kepadanya, lelaki itu kebingungan, coba membuka kamus besar bahasa Inggris Indonesia, tapi semua percuma.
Entah apa yang dia supir itu, dia hanya senyum dan mengangguk selagi menjawab ..."Yes."
"What's your name."
"Oh name, name, my name is Ryan."
"Mr Ryan, What are you here for, work?, vacation?, or visit ?."
(Tuan Ryan, untuk apa kau disini, bekerja?, Liburan? Atau berkunjung?.)
Lelaki itu sedikit mengerti, karena di ucapan sang supir ada kata Work, yang dimana dia tahu artinya bekerja.
"Work, work, work." Jawabnya singkat.
Supir itu tertawa kecil, dan tetap saja Lelaki itu masih kebingungan.
'Apa aku salah bicara, apa mungkin dia merasa cara ku bicara terdengar lucu.'
Tapi seperti yang dituliskan dalam buku catatannya, jika dia harus berhati-hati, jangan sekali-kali menunjukkan diri sebagai orang norak atau pun kebingungan, dimana saat ada orang jahat tahu, dia akan menjadi sasaran empuk tindak penipuan.
Cukup lama taksi pergi, hingga lebih dari satu jam dan berhenti di sekitaran apartment yang di tuju.
"Ok sir you have reached your destination"
(Ok tuan anda sudah sampai tujuan)
"How much do I have to pay."
(Berapa harga yang harus aku bayar)
"123 dollar."
Ryan terkejut mendengar harga yang diucapkan oleh supir, dia memang memiliki uang untuk membayarnya, Tapi jika di konversi ke rupiah itu sudah lebih dari satu juta tujuh ratus ribu.
Menyadari uang sakunya terbatas tentu Ryan pun kebingungan... "Tu... tunggu, wait, wait... Itu terlalu mahal."
Supir pun paham jika dia tidak memiliki uang cukup, tapi harga yang tercantum di dalam argo memang seperti itu.
"If you don't pay, I'll send you to the police.."
__ADS_1
(Jika kau tidak mau membayarnya, aku akan kirim kau ke polisi.)
Secara jelas suara marah dan ancaman dari kata police membuat Ryan semakin panik, mau tidak mau dia pun memberi sejumlah uang seperti yang diminta oleh supir.