Janji Dari Masa Lalu

Janji Dari Masa Lalu
Ruang perawatan


__ADS_3

Beberapa hari berselang....


Askar tidak hanya menyelesaikan urusannya soal keluarga Walker yang ingin menculik Rea, tapi dia juga mendapat banyak keuntungan karena menjarah semua harta di dalam brangkas tempat George Walker menyimpan semua kekayaan hasil jual beli manusia.


Ya... Askar bukan orang munafik, dia juga bukan orang baik yang selalu menolong manusia di dalam kesusahan, karena itu, harta milik George Walker dianggap sebagai kompensasi dan akan Askar gunakan demi memperlancar rencananya di perusahaan keluarga Mavendra.


Tapi keseharian Askar berjalan seperti biasa, dia tetap berangkat kerja sebagai cleaning servis dan membersihkan lantai dari pagi hingga sore.


Mencari-cari waktu senggang untuk sedikit mengobrol dengan penjaga kantin, petugas keamanan, atau pun beberapa murid yang mengenal dirinya.


Jika harus dibandingkan dengan bekerja di Indonesia, hampir di dalam semua segi sangat jauh berbeda. Entah soal gaji, kenyamanan dan prospek di masa depan, Askar merasa betah, namun dia hanya menunggu sampai saat Rea lulus dan itu tidak lebih dari dua bulan.


Melihat dari kejauhan, Ryan berjalan mendekati Askar, jika bodyguard itu ada di sini, maka dalam jarak sepuluh meter, bisa di pastikan dia sedang menunggu Rea menyelesaikan kelasnya.


"Aku tidak melihatmu selama dua hari ini, apa yang terjadi ?." Tanya Ryan dengan akrab.


"Bukan hal khusus, hanya kerja sambilan untuk membantu dalam kebersihan lingkungan dari sampah masyarakat yang tidak berguna." Jawab Askar santai.


Ryan paham .... "Oh, aku juga pernah melakukannya. Itu sedikit menyusahkan, apa lagi jika sampahnya memiliki banyak kebiasaan buruk. Terkadang membuatku mual."


"Ya aku mengerti soal itu." Keduanya membicarakan hal yang sama.


Askar tidak membenci sosok Ryan, meski di dalam pekerjaan hubungan antara mereka saling berlawanan, dimana Assassin melakukan tugas untuk membunuh orang-orang dan pasukan khusus adalah untuk menjaga mereka.


Di kehidupan sebelumnya, Askar pernah satu kali berhadapan langsung dengan para pasukan khusus Donahue, mereka menjaga keamanan dari salah satu anggota pemerintah yang dinyatakan bebas tanpa ada sangsi hukum.


Askar mendapat misi untuk menyingkirkan orang itu, namun perlawanan terjadi ketika harus melawan tiga pasukan khusus yang melindunginya. Perkelahian sengit, adu tembak dan juga saling tikam, Askar berhasil menyelesaikan misi, tapi dia juga harus mengalami luka berat, sedangkan pasukan itu kehilangan satu nyawa.


Tapi sekarang sedikit berbeda, dia tidak memiliki urusan dengan pasukan khusus milik pemerintah yang berusaha melindungi sampah masyarakat itu. Sehingga tidak ada alasan untuk Askar membenci percakapan dengan Ryan.


"Aku bertanya-tanya, kenapa kau berhenti dari Militer, bukankah untuk masa depan, status mu itu sangat menjanjikan." Tanya Askar yang memang belum cukup mengenal dengan baik.


Lemas Ryan mengeluh, dia seakan tidak mau bercerita tapi Askar menjadi pengecualian ...."Itu tidak juga, meski aku anggota militer tapi statusku berbeda dengan pasukan militer yang di akui oleh negara. Aku dan orang-orang di pasukan ku, hanya anak-anak buangan yang di asuh oleh pemerintah untuk di jadikan alat, sehingga ketika alat mereka rusak, tentu dengan mudah mereka akan membuangnya.... Dan juga, aku memiliki alasanku sendiri kenapa keluar dari sana."


"Jika aku boleh tahu, apa alasanmu itu." Kembali Askar bertanya.


"Aku telah banyak kehilangan orang-orang yang sudah seperti keluarga ku sendiri, ya aku sadar. Didalam pekerjaan berhubungan dengan nyawa, kematian adalah hal wajar untuk kami hadapi, tapi lambat laun penyesalan, hingga aku putuskan untuk keluar dan menjalani hidup seperti masyarakat pada umumnya." Jawab Ryan menunjukkan ekspresi wajah tersenyum pahit.


"Tapi apa sekarang kau yakin mampu melindungi Rea ?."

__ADS_1


"Tentu saja, ini adalah keputusan ku sendiri dan aku tidak akan ragu." Terdengar tegas jawaban Ryan.


Askar sedikit tersenyum..."Hmmm sepertinya tidak ada yang perlu aku khawatir soal itu."


Kini giliran Ryan yang bertanya kepada Askar. Setelah menyaksikan bagaimana


"Tapi aku bingung, apa kau masih ingin menutupi kenyataan bahwa kau adalah saudara kandung Nona Rea yang hilang." Ucap Ryan atas rahasia Askar.


"Aku akan mengatakannya, tapi tidak sekarang, karena aku masih memiliki tujuan yang harus di selesaikan."


"Tujuan seperti apa."


"Menyingkirkan semua sumber masalah di dalam keluarga Mavendra." Nada suara Askar terasa penuh kekesalan.


Hanya saja Ryan tidak menganggap jawaban Askar itu mudah, dimana keluarga Mavendra adalah lawan yang benar-benar sulit...."Apa kau yakin, kau bisa mendapat masalah besar melawan kekuatan keluarga Mavendra."


"Ya aku sadar dengan tujuanku, tapi selama belasan tahun aku sudah menunggu, aku mengatur rencana yang tidak bisa di tawar lagi, dendam ku kepada orang-orang itu adalah tujuan kenapa aku hidup sampai sekarang." Jawab Askar untuk sorot mata tajam.


Tidak berselang lama, seorang wanita berjalan santai dan mulai mendekat, senyum di wajahnya tidak tertahan itu, dia tunjukan kepada satu orang.


"Sepertinya kau benar-benar di sukai oleh nona Rea." Sindir Ryan.


"Salahmu sendiri karena tidak mengatakan kenyataannya." Ryan memojokkan Askar.


"Asal kau tahu, ini sangat sulit."


Rea pun merasa jika Askar dan Ryan sedang membicarakan dirinya, namun semua berakhir ketika dia berjalan semakin dekat, hanya sebuah senyum kaku sedikit terpaksa untuk membalas sapaan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan." Tanya Rea.


"Bukan hal penting nona." Balas Ryan.


"Itu benar, bukan hal penting, bisa dipastikan kau tidak akan tertarik. Rea." Askar memberi tambahan.


Hanya saja Rea tidak senang...."Bagaimana bisa kau tahu jika aku tidak tertarik, padahal aku belum tahu apa yang kalian berdua bicarakan."


Askar mencari alasan... "Ya, Ryan bercerita tentang dirinya saat di camp pelatihan, jika dia tidak menyukai ruang perawatan."


"Hmmm bukankah itu hal biasa, aku pun tidak masalah dengan ruang perawatan."

__ADS_1


Ryan tahu jika perkataan Askar hanya sebuah alasan untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya. Tapi Ryan cukup paham agar bisa melanjutkan cerita dari karangan Askar.


"Ini sedikit berbeda nona, jika dokternya cantik, aku pun akan rela jika harus di suntik lima kali sehari." Balas Ryan.


"Memangnya seperti apa bedanya dengan dokter yang merawat di camp." Balik Rea bertanya.


Ryan membayangkan kembali di masa lalu saat berada di ruang perawatan, sebuah wajah tergambar jelas di ingatannya.


"Dia berjenggot ."


"oh.."


"Berotot ."


"hmmm."


"Ada luka codet di wajahnya."


"Ok, ok."


"Dan menyukai pria. Aku benar-benar trauma ketika harus berhadapan dengan dokter di sana." Balas Ryan lemas.


Mendengar perkataan terakhir Ryan, Askar atau pun Rea terdiam dengan memberi tepukan di pundak Ryan dan berkata .


"Aku mengerti kenapa kau tidak menyukai tempat perawatan di sana, maaf atas pertanyaanku." Ucap Rea dengan tersenyum meski terlihat kaku.


"Tidak masalah, karena aku tidak perlu lagi datang ke tempat itu."...Semua yang Ryan bicarakan memang nyata terjadi.


Rea kini memiliki waktu luang, dia telah menyelesaikan urusan dengan profesor pembimbing laporan Tesis miliknya.


"Baiklah, aku sudah selesai, jadi sekarang kita cari makan." Ucap Rea mengajak Askar.


Dan Ryan yang bersemangat..."Itu ide yang bagus, aku senang nona begitu perhatian."


"Hei, aku melakukan ini untuk Askar, bukan kau."


"Ehhhh, padahal aku sudah bekerja cukup baik."


"Setidaknya kau bisa makan Burger dan kentang goreng." Balas Rea yang berjalan menarik tangan Askar untuk keluar mencari makan siang.

__ADS_1


__ADS_2